Senin, 02 Februari 2009

DIMULAI DARI MENABUNG

Saya tergila-gila menabung. Dari awal mulai mengenal uang, saya sudah terbiasa menabung. Dulunya mungkin karena diajari orang tua. Tapi lama-lama saya jadi kecanduan, jadi nggak tenang kalau nggak punya tabungan hehe..

Salah seorang kenalan saya pernah bilang, dia nggak percaya orang bisa kaya karena menabung. Awalnya saya menabung memang bukan untuk menjadi kaya, tapi sekadar untuk berjaga-jaga. Hidup kan seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah. Nggak setiap saat kita bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Belum lagi kalau ada kebutuhan mendadak. Dengan selalu mempunyai tabungan, kita jadi nggak kelabakan kalau suatu saat menghadapi situasi darurat. Kena PHK, misalnya. Atau tiba-tiba harus dirawat di RS. Ya, mungkin tabungan kita nggak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan yang tiba-tiba muncul itu. Tapi kan lumayan daripada nggak ada sama sekali?

Karena itu, dalam keadaan semiskin apapun, saya selalu berusaha menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Jaman SMA saya sudah bisa cari uang sendiri dengan cara menulis cerpen dan mengirimkannya ke majalah. Honornya nggak pernah saya habiskan semua, sebagian pasti saya tabung di bank. Makanya nggak ada sejarahnya saya kehabisan uang, meskipun uang saku dari orang tua cuma cukup untuk naik angkot pulang pergi ke sekolah. Mau tanggal muda atau tanggal tua buat saya nggak ada pengaruhnya. Uang di kantong boleh pas-pasan, tapi di tabungan selalu ada.

Buat saya, punya tabungan itu seperti punya payung. Kita nggak tahu kapan akan hujan atau panas terik, tapi kalau kita selalu membawa payung kita sudah mengurangi resiko kehujanan dan kepanasan (kecuali kalau hujan angin, lalu air hujan menampar-nampar kita dari arah samping sehingga payung pun nggak mampu melindungi kita... Nah, itu sih udah lain ceritanya.. :p)

Tahun 1998 saya pernah kerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku di Medan, Sumatera Utara. Gaji saya waktu itu cuma Rp 250 ribu, tapi setiap bulan dengan tekun saya menyisihkan Rp 50 ribu untuk ditabung. Saya nggak betah kerja di tempat itu, tapi saya pasang target baru akan berhenti kerja setelah tabungan saya sudah Rp 1 juta. Setelah tabungan saya mencapai 1 juta, saya langsung minggat ke Jakarta dan kerja di sebuah perusahaan yang menangani bermacam-macam bidang, di antaranya majalah, IT, dan EO yang berkantor di Jakarta Selatan.

Di tempat kerja yang baru, saya punya bos -sebut saja namanya Pak JH. Bos saya ini cerita kalau dia memulai bisnisnya dengan modal Rp 50 juta, lalu setahun kemudian dia sudah berhasil menggandakan kekayaannya menjadi Rp 100 juta. Kurang lebih 5 tahun kemudian bisnis Pak JH sudah berkembang pesat dan mempunyai banyak karyawan. Ia berhasil membangun rumah mewah senilai lebih dari Rp 1 milyar (tahun 1998), punya beberapa mobil dan aset-aset lain.

Satu hal yang selalu saya ingat, dia pernah mengajari saya bagaimana mengelola uang yang saya miliki. "Kalau kamu punya gaji Rp 1 juta, kamu harus bisa hidup hanya dengan Rp 700 ribu. Sisanya ditabung. Nah, kalau gajimu naik jadi Rp 1,5 juta, jangan buru-buru menaikkan standar hidupmu. Kamu harus tetap bisa hidup dengan Rp 700 ribu itu dan menabung sisanya."

Masih menurut Pak JH, kesalahan banyak orang pada umumnya adalah menghabiskan seluruh gaji setiap bulan. Dan pada saat gajinya meningkat, standar hidupnya pun naik. Akibatnya gaji dan biaya hidup kejar-kejaran terus nggak tamat-tamat hehe... Orang seringkali terjebak dalam kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Belum lagi yang namanya gengsi, waduh... ini nih yang paling cepat bikin keuangan kita morat-marit.

Contoh sederhananya begini, untuk bekerja kita membutuhkan -katakanlah- baju yang layak untuk ke kantor. Harga baju bervariasi dari mulai puluhan ribu sampai jutaan. Kalau sekadar memenuhi kebutuhan, kita seharusnya membeli baju dengan harga yang biasa-biasa saja. Tapi kadang keinginan membuat kita membeli baju dengan harga di atas yang biasa-biasa. Nah, kalau yang namanya gengsi sudah ikutan bicara, maunya beli baju bermerk terkenal yang bisa mengangkat gengsi, tapi sekaligus sanggup mengempeskan kantong dalam sekejap. Kalau udah kelebihan duit sih nggak masalah. Tapi kalau tiap bulan masih harus berakrobat memutar uang gaji agar cukup sampai gajian berikutnya, itu namanya bunuh diri... :D

Saya akui, nggak gampang untuk mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Pak J. Kecenderungannya, kita ingin membeli apa-apa yang kita inginkan selagi masih ada uang di tangan. Kenyataan bahwa saya harus belajar mengerem hasrat untuk belanja dan menekan gengsi terus terang membuat saya merasa nggak nyaman pada awalnya. Pada tahap itu, saya akrab dengan satu kata bernama prihatin.

Untuk bisa disiplin menabung, awalnya kita memang harus berani hidup prihatin dan hemat. Ya, kalau kata pepatah sih 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian' gitu deh... Lupakan dulu segala gengsi kalau memang kita belum cukup punya uang untuk bergaya hidup mewah. Lagipula apa enaknya punya barang-barang mahal dan berpenampilan bak orang kaya kalau pada kenyataannya kita masih ngos-ngosan dalam hal keuangan, apalagi sampai dikejar-kejar hutang?

Intinya, untuk menabung memang diperlukan niat dan pengorbanan. Jadi malas menabung? Ya terserah. Itu kan pilihan masing-masing orang...

1 komentar:

  1. 😎 Bergaya Sambil Mencari Pahala, Kenapa Tidak 😎
    .
    Dengan Kaos Dakwah dari Gootick Apparel yang akan membuat penampilan teman-teman pasti berbeda dari yang lain 😍😍😍
    .
    Dengan bahan Material dari Catton Bamboo yang memiliki kualitas tidak perlu di ragukan dan Sablon yang Rapih dan Kuat. Baca Terlebih dahulu kelebihan dari Cotton Bamboo

    Tersedia 5 tulisan bermakna Islami dan pilihan warna yang pastinya cocok di pakai untuk kegiatan sehari-hari yang akan terlihat Elegan dan Simple, Rapih dan Pastinya Keren.
    .
    "Promo HEMAT" Harga Normal Rp.100 K dan dapatkan potongan diskon harga sebesar Rp. 30 K.
    .
    Untuk informasi pemesanan silahkan klik link dibawah ini:

    Jual Kaos Dakwah
    Testimoni di >>>Instagram<<<:
    .
    Tunggu apalagi Langsung Ambil Promonya selagi masih Tersedia


    Mau Cari Bacaan Cinta Generasi Milenia Indonesia mengasikkan, disini tempatnya:
    Fashion

    BalasHapus