Jumat, 30 April 2010

MAIN CANTIK DENGAN KARTU KREDIT

Sudah lama sebetulnya saya pengen bikin tulisan ini. Idenya udah ada di kepala, tapi belum sempat-sempat menuangkannya dalam bentuk tulisan karena sibuk ngurusin segala macem. Tadi pagi, SMS seorang teman bikin saya semangat untuk buru-buru nulis mumpung lagi nggak sibuk dan lagi mood untuk nulis..

Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol sama seorang teman tentang kartu kredit. Teman saya ini, sebut saja namanya EM, mengaku kalau ia dan suaminya sama-sama nggak pernah punya kartu kredit. Bukan karena nggak memenuhi persyaratan untuk itu, tapi lebih pada alasan takut.

“Takut kenapa?” tanya saya heran.

“Takut diuber-uber dept collector,” sahut teman saya ini lugu. “Mungkin karena aku nggak terlalu ngerti tentang kartu kredit ya, Mbak. Aku cuma sering denger orang kelilit utang kartu kedit juta-jutaan, nggak mampu bayar, terus diuber-uber dept collector. Makanya aku dan suami nggak mau punya kartu kredit.”

Sebagian orang memang beranggapan kalau punya kartu kredit bukanlah ide yang menarik, bahkan kalau bisa dihindari sejauh-jauhnya. Soalnya kalau sudah terjerat hutang kartu kredit memang mengerikan. Hutang kita dikenai bunga berbunga yang membuatnya bertambah besar setiap bulannya, meskipun kita rutin membayar sebagian tagihan (tapi nggak sampai lunas). Yang paling nyebelin tentu saja berurusan dengan tukang tagih alias dept collector yang nggak kenal sopan santun waktu meneror nasabah yang pembayarannya bermasalah. (Kebayang nggak kalau dept collector sopan dan mesra ke nasabah yang bandel nggak bayar-bayar tagihan? Kayak gini, misalnya,
‘Say, tagihan kartu kreditnya tolong dibayar dooong.. Sorry ya, bukan maksudnya saya ngejar-ngejar atau bikin kamu tersinggung.. Saya sih seneng-seneng aja nelpon kamu tiap hari, abis kamu suaranya lembut banget.. Pasti orangnya juga manis.. Tapi kalau kamu nggak bayar-bayar, nanti saya ditegur atasan.. Masa sih kamu tega? Bantuin saya ya, Cin.. Pliiisss…’ :-D)

Dulu saya juga termasuk salah seorang yang anti kartu kredit. Nggak usah deh kartu kredit, ngutang aja saya paling ogah. Prinsip saya, kalau pengen sesuatu dan kebetulan punya uang ya dibeli. Kalau nggak punya uang ya udah, diem aja jangan nakal ^_^ Untung saya bukan orang yang gampang ‘panas’. Lihat teman, tetangga, saudara beli ini itu, saya bisa menahan diri untuk nggak ikut-ikutan beli –meskipun kadang-kadang sebetulnya pengen juga punya barang itu.. Untunglah saya gadis jujur yang teguh beriman.. ^_^

Balik lagi ke soal kartu kredit yaaa.. Saya mulai berpikir ulang untuk memakai kartu kredit setelah punya usaha sendiri. Itu juga saya nggak mengajukan permohonan untuk dibuatkan kartu kredit ke bank lho.. Suatu hari, tiba-tiba saya dikirimi 2 buah kartu gold -1 Visa dan 1 lagi Mastercard- oleh salah satu bank penerbit kartu kredit setelah sekian lama saya menjadi nasabah di sana. Suami awalnya kurang setuju saya punya kartu kredit –alasannya kurang lebih sama dengan teman saya EM- tapi akhirnya membiarkan saja karena tahu saya bukan tipe orang yang hobi belanja tak terkendali. Kan udah saya bilang, saya gadis jujur yang teguh beriman.. *huueeeek…* :-D

Kalau tahu cara memanfaatkannya, punya kartu kredit itu sebetulnya menguntungkan. Tapi kalau nggak dipakai dengan bijak memang bisa-bisa malah menyesatkan. Nggak sedikit orang terlena lalu kebablasan karena cara pakainya gampang banget. Tinggal gesek dan diminta tanda tangan, barang idaman bisa langsung berpindah tangan. Tapi begitu tagihan datang, baru deh keliyengan liat jumlah yang harus dibayar..

Makanya, pertama-tama pakai kartu kredit dulu saya masih agak malu-malu karena masih mempelajari celahnya. Paling-paling kartu saya gesek untuk belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket atau membayar sesuatu yang memang menjadi kewajiban saya, misalnya tagihan listrik, telepon, HP, iuran member di gym dan sejenisnya. Dulu saya mikirnya sederhana aja, mau sekarang atau bulan depan, toh saya memang harus mengeluarkan uang untuk membayar atau membeli kebutuhan yang tadi saya sebutkan. Saya cuma memundurkan waktu pembayaran untuk mengawet-awet uang tunai yang saya punya agar di rekening tabungan saya selalu ada uang untuk kebutuhan mendadak yang pembayarannya nggak bisa menggunakan kartu kredit. Selain itu, malas juga kan kalau kemana-mana saya harus bawa-bawa uang tunai? Menjelang jatuh tempo pembayaran kartu kredit, saya selalu melunasi semua tagihan tanpa sisa. Nggak kena bunga deh!

Setelah beberapa bulan semua berjalan lancar dan aman, saya mulai lebih berani memakai kartu kredit. Waktu ruangan kerja saya di kantor butuh AC baru, saya melipir ke salah satu hypermarket yang sedang menawarkan promo bunga 0% untuk cicilan 6 bulan. Dibayar tunai atau dicicil saya tetap harus beli AC kan? Daripada harus seketika membayar tunai AC yang harganya Rp 3-4 jutaan, mendingan dicicil 6 kali dong kalau bunganya 0%. Uang tunai bisa diawet-awet untuk kebutuhan lain. Begitu juga kalau lagi ada urusan pekerjaan ke luar kota. Kartu kredit kan suka tuh kerja sama dengan hotel, rumah makan, toko, travel atau merchant lain untuk memberikan promo diskon atau penawaran special bagi nasabahnya. Saya manfaatin deh kartu kredit untuk menginap di hotel-hotel yang lagi promo kalau pembayarannya menggunakan kartu kredit yang saya punya. Lumayan lho, saya pernah nginep di hotel dengan harga special, makan di resto dengan diskon 50%, dan masih dapat diskon lagi waktu beli baju di sebuah toko yang semuanya menggelar promo bareng kartu kredit yang saya punya. Habis itu saya mash dapat reward dari kartu kredit yang bisa ditukarkan dengan hadiah pilihan atau kesempatan memenangkan undian berhadiah mobil atau rumah, eh bayar tagihannya masih bulan depan lagi! Enak banget kaaan…

Belakangan saya mendapat ide kalau punya kartu kredit ternyata sangat tepat dikombinasikan dengan asuransi kesehatan pribadi. Saya sudah pernah cerita kan kalau saya sekeluarga ikut asuransi kesehatan? Kalau satu anggota keluarga saya sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, perpaduan asuransi kesehatan dan kartu kredit ini sungguh amat menguntungkan buat saya. Kalau diikutkan asuransi oleh perusahaan kan enak, begitu harus opname tinggal menunjukkan kartu anggota dan bisa langsung masuk kamar perawatan. Tapi asuransi kesehatan perorangan seperti saya harus bayar di muka, baru kemudian bisa mengajukan klaim ke asuransi dengan menunjukkan kwitansi asli dan data-data yang diminta. Kalau lagi megang duit sih nggak masalah. Lah, kalau nggak? Udah pusing ngurusin penyakit, masih harus ngotot-ngototan sama pihak RS karena uang yang kita punya nggak cukup untuk membayar deposit yang harus dibayar dimuka. Kalau punya kartu kredit kan tinggal gesek aja. Setelah uang penggantian dari asuransi cair (asuransi saya kurang lebih 2 mingguan), langsung bayarin deh tuh tagihan kartu kredit. Nggak kena bunga deh!

Makin ke sini, saya makin pintar dan berani menggunakan kartu kredit. Saya rajin menggesek kartu kredit hampir di semua transaksi yang bisa saya bayar dengan kartu kredit pasti. Pedoman saya cuma satu; yang penting pembayaran atau pembelian menggunakan kartu kredit itu memang benar-benar wajib saya lakukan, nggak bisa nggak dan sebelum jatuh tempo sudah harus dilunasi sepenuhnya. Makanya biar hobi gesek sana gesek sini, saya tetap mengontrol penggunaan kartu kredit supaya jangan sampai bulan depannya saya melet-melet melunasi tagihannya. Dan hasilnya, sudah empat tahun pakai kartu kredit saya belum pernah tuh berurusan sama dept collector. Yang ada malah saya dikejar-kejar marketing kartu kredit yang berebut menawari saya untuk memakai kartu kredit keluaran bank lain dengan berbagai tawaran seperti bebas iuran tahunan seumur hidup, langsung disetujui untuk dapat kartu platinum, dapet hadiah langsung berupa VCD Player, HP, dll. Tapi saya nggak tergoda punya kartu kredit banyak-banyak. Belum lupa kan, saya gadis jujur yang teguh beriman? Pletak! *aduh! siapa yang ngelempar sendal nih?* :-D

3 komentar:

  1. Halo Intan, seneng baca jurnal jurnalnya. Saya baca maraton tanpa jeda. Asik, seperti baca buku harian walaupun judulnya pengelolaan keuangan. Gak njelimet bacanya.

    O iya, beberapa istilah diatas mungkin yang dimaksud adalah debt collector, bukan dept collector.
    Debt = utang.
    Dept = departemen (seperti toko baju)
    Collector= penagih.

    Makasih ya sudah berbagi.

    BalasHapus
  2. manthab bagus masukannya makasih ya....

    BalasHapus
  3. thanks bgt ya buat mba intan , aku awalnya bener" takut dan sampai ngga bisa tidur krna aku sedang dalam tahap pembuatan kartu kredit, walapun belum tau disetujui atau tidak oleh pihak bank,tp saya sudah gelisah duluan.
    dengan saya membaca ini saya termotivasi bahwa kartu kredit jika digunakan dengan bijak itu tidak seseram yang saya bayangkan . terima kasih bnyak .. :)

    BalasHapus