Tampilkan postingan dengan label mengeloa uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengeloa uang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Oktober 2010

PENTINGNYA PUNYA ASET

Beberapa waktu lalu nggak sengaja saya ketemu salah seorang teman masa kecil saya. Kondisinya cukup ‘mengharukan’; ia sedang menenteng keranjang plastik berukuran sedang, berjualan makanan dengan cara berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain.

Saya sering melihat orang berjualan makanan dengan cara seperti itu, tapi nggak pernah seterharu ini. Soalnya, seingat saya –sebut saja namanya Alex- berasal dari keluarga yang cukup berada. Bapak ibunya adalah pengusaha restoran yang cukup sukses. Keluarga ini juga buka toko pakaian di beberapa tempat, yang masing-masing terbilang cukup laris dikunjungi pembeli. Dari kecil Alex dan adik-adiknya sudah dillibatkan dalam usaha milik orang tua mereka. Semua anggota keluarga itu ikut terjun langsung di tempat usaha, mulai dari melayani pembeli sampai mengontrol makanan yang disajikan untuk pelanggan. Dan setelah dewasa, masing-masing anak diberi jatah untuk melanjutkan usaha, seorang satu. Ada yang kebagian mengelola toko dan ada yang mewarisi usaha rumah makan yang semuanya sudah berjalan. Tinggal nerusin doang. Enak banget kan?

Tapi entah bagaimana ceritanya, usaha yang susah payah dirintis oleh orang tua Alex tersebut rontok satu per satu saat dipegang oleh generasi kedua (Alex dan adik-adiknya). Dan jadilah Alex –bekas pengusaha rumah makan dengan banyak karyawan- sekarang luntang-lantung keluar masuk perumahan menjajakan makanan untuk mencari sesuap nasi demi menghidupi keluarganya. Yang lebih tragis, salah satu adik Alex sekarang bekerja jadi tukang masak di salah satu restoran yang dulu milik keluarganya sendiri.

Pertemuan dengan Alex mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya, ternyata punya orang tua pengusaha bukan jaminan seseorang bakal sukses jadi pengusaha juga. Soalnya untuk jadi pengusaha dibutuhkan naluri, bakat, jiwa dan keahlian tersendiri yang nggak selalu bisa diwariskan -meskipun pada kenyataannya nggak sedikit juga pengusaha yang sukses mendidik generasi penerusnya menjadi pengusaha yang lebih hebat daripada dirinya.

Pelajaran kedua yang saya dapat –dan ini yang penting menurut saya- jadi pengusaha ternyata harus punya aset. Dari cerita Alex saya baru tahu kalau orang tuanya sama sekali tidak memiliki sendiri bangunan toko atau rumah makan yang dijadikan tempat usaha. Semuanya nyewa, bahkan ketika usaha itu berkembang semakin besar. Saat memperoleh keuntungan, si bapak sibuk membuka cabang baru tapi nggak pernah menginvestasikan uangnya dalam bentuk rumah, toko, kendaraan, dan sejenisnya. Anak-anaknya pun nggak pernah kepikiran ke situ karena selama ini usaha mereka aman-aman saja meskipun tempatnya cuma nyewa. Tapi namanya usaha kan nggak selamanya untung dan menghasilkan. Ada saatnya pasang, ada saatnya surut, dan ada kalanya badai datang mengombang-ambingkan ‘perahu usaha’ yang sedang tenang-tenang dijalankan. Badai ini bisa berupa krismon, trend pasar yang berubah, atau kondisi-kondisi yang terjadi di luar kuasa kita.

Saya pun pernah mengalaminya. Untungnya, di saat usaha lagi terang benderang menguntungkan, saya selalu ingat untuk menabung dan berivestasi –menyiapkan ‘bekal’ untuk bertahan saat cuaca tiba-tiba berubah buruk. Jadi, ketika badai datang dan hampir menenggelamkan ‘perahu usaha’, saya bisa buru-buru melakukan upaya penyelamatan. Menggadaikan atau bahkan menjual aset yang saya punya, misalnya. Bayangkan kalau sama sekali nggak punya simpanan. Pasti lebih sulit menata ulang usaha yang lagi ancur-ancuran tanpa aset yang bisa digadaikan, tanpa uang tunai di tangan.

Mungkin sebagian orang menganggap nggak penting punya aset. Daripada jadi harta tak bergerak dalam bentuk rumah, lebih baik uang diputar untuk mengembangkan usaha, toh tempat dan mobil untuk menjalankan usaha bisa disewa. Sempat juga tuh saya tergoda pengen menerapkan ilmu itu. Tapi pertemuan dengan Alex mengingatkan saya agar tetap mempertahankan aset yang saya punya, sebagai tabungan agar di masa-masa sulit saya masih mampu bertahan.

Punya aset juga berguna waktu saya mau cari pinjaman ke bank, entah untuk beli rumah lagi atau untuk mengembangkan usaha. Karena punya beberapa aset yang bernilai investasi, saya jadi nggak keliatan miskin-miskin amat. Ada harta yang bisa dijadikan jaminan. Bank pun lebih yakin untuk ngasih pinjaman. Maklum, saya kelasnya masih pengusaha kecil-kecilan. Jadi, mau ngutang pun harus kelihatan cukup meyakinkan biar bank percaya ngasih pinjaman hahaha…

Sabtu, 25 September 2010

DARI DULU JUGA SAYA SUDAH KAYA! ^_^

Mungkin banyak yang menuduh saya sombong waktu baca judul di atas. Hehe… saya nggak bermaksud begitu lho.. Makanya baca dulu sampai selesai biar nggak ketipu judulnya doang.. :-D

Beberapa waktu lalu saya ketemu seorang teman yang sudah lamaaa banget hilang dari peredaran. Nggak jelas juga sih yang hilang dari peredaran sebetulnya saya atau dia. Yang pasti kami lama nggak ketemu, nggak saling berhubungan, meskipun ternyata sama-sama tinggal di satu kota.

“Sekarang kamu udah kaya ya,” komentarnya saat main ke kantor saya.

“Kaya diukur dari apanya dulu nih?” Saya balik bertanya.

Dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, dilihat secara kasat mata hidup saya sekarang mungkin bisa dibilang lebih mapan. Punya beberapa rumah (biarpun kecil-kecil), beberapa mobil (meskipun bukan mobil mewah keluaran tahun terbaru), dan beberapa usaha (walaupun masih jatuh bangun kayak judul lagu dangdut :p). Beda banget sama sepuluh tahun lalu, jaman saya masih tinggal di rumah mungil di sebuah gank sempit di daerah Mampang, Jakarta Selatan. Waktu itu rumah aja masih ngontrak, kerja masih serabutan dan kemana-mana masih naik sepeda motor butut.

Tapi sejujurnya, bahkan pada saat itu pun saya sudah merasa kaya. Soalnya saya selalu mensyukuri segala sesuatu yang saya punya, apa pun bentuknya. Saya percaya, sekecil apa pun sesuatu yang kita miliki, kalau kita syukuri pasti membuat kita puas memilikinya, Tapi sebesar apa pun, kalau nggak disyukuri ya tetap saja rasanya kurang dan nggak bikin kita bahagia.. Satu hal lagi, dari dulu sampai sekarang yang membuat saya merasa kaya bukanlah berapa banyak uang yang saya punya, tapi bagaimana uang tersebut –berapa pun jumlahnya- cukup untuk saya. Dan untungnya dari dulu saya sadar, itu tergantung dari bagaimana saya memaknai dan mengelolanya (teteeep.. baliknya ke situ-situ lagi.. :-p). Saya menyebut kegiatan mengelola dan memutar uang itu bermain; bermain dengan uang.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat banyak orang berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Nggak salah sih, karena untuk hidup kita memang butuh uang. Tapi sayangnya banyak orang sering terjebak dalam pemikiran bahwa seseorang bisa disebut kaya kalau ia punya cukup banyak uang, banyak harta. Padahal menurut saya, orang yang banyak uang belum tentu kaya. Kok bisa?

Iya dong. Contoh aja nih, seseorang dengan penghasilan Rp 15 juta sebulan, mana bisa dibilang kaya kalau pengeluaran bulanannya Rp 17 juta, misalnya. Yang ada tiap bulan dia harus nombok 2 juta. Sebaliknya, seseorang yang cuma berpenghasilan 3 juta tapi pengeluarannya 2,5 juta dan bisa menabung sisanya, menurut saya lebih bisa dibilang kaya. Hidupnya pasti lebih aman-tentram-damai-sejahtera dibandingkan dengan orang berpenghasilan besar yang selalu nombok setiap bulannya.

Kaya menurut saya adalah apabila pengeluaran saya tidak lebih besar daripada pemasukkan. Sekali lagi, bukan besarnya uang yang membuat saya kaya, tapi bagaimana saya memaknai dan mengelolanya. Kalau uang yang saya punya cuma sedikit, berarti saya harus pintar-pintar mengatur pengeluaran sedemikian rupa biar cukup buat biaya hidup sehari-hari dan menambah tabungan. Kalau kebetulan uangnya banyak, justru seharusnya ada lebih banyak juga yang bisa disisihkan untuk ditabung, bukan malah habis semua untuk biaya hidup sehari-hari, bahkan kurang. Nah, saat semua kebutuhan hidup bisa tercukupi dari uang yang saya punya, saya merasa diri saya kaya dan sejahtera meskipun mungkin tercukupi dalam artian sederhana, nggak berlebihan. Di sinilah saya harus mampu menentukan prioritas secara benar, mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Saya bersyukur atas apa yang saya miliki dan selalu berusaha mencukup-cukupkan kebutuhan hidup dengan uang yang saya punya. Tapi bukan berarti saya cepat puas dan jadi nggak berambisi untuk mengumpulkan uang lebih dan lebih banyak lagi lho. Sepanjang ada peluang dan kesempatan untuk membuat uang berkembang, nggak usah ditanya deh.. semangat saya tetap menyala-nyala untuk mencoba bermain dengan segala resikonya. Belakangan saya sadar, tujuan utama saya bermain dengan uang ternyata bukan untuk mempunyai uang sebanyak-banyaknya. Saya menikmati permainannya, menyukai proses bermainnya. Kalau kegiatan tersebut ternyata membuat uang saya beranak pinak, ya saya menganggapnya sebagai bonus. Kalau ternyata malah bikin uang saya berkurang? Tetap bersyukur dong. Setidaknya saya sudah merasakan kesenangan saat bermain-main dengan uang. Nggak semua orang punya keberanian dan kesempatan seperti saya kan? ^_^

Kombinasi antara selalu bersyukur serta menikmati setiap proses dalam bermain dan mengelola uang itulah yang membuat saya merasa kaya, bahkan sebelum saya punya apa-apa yang bagi sebagian orang merupakan simbol kekayaan dan kemapanan. Kembali ke percakapan dengan teman lama saya, makna kaya buat tiap-tiap orang tentu beda-beda ukurannya. Buktinya, ada juga tuh kenalan saya yang belum juga merasa kaya meskipun di mata saya mereka sebetulnya sudah berkecukupan secara materi. Rumah punya, mobil ada, pekerjaan dan jabatan yang mapan juga sudah di dalam genggaman. Tapi kenapa masih merasa belum kaya?

“Punya rumah tapi kecil, punya mobil juga masih nyicil, jabatan tinggi tapi kan masih kerja sama orang. Padahal gue udah kerja keras banting tulang, dapetnya cuma segitu-segitu aja,” keluh kenalan saya itu.

Walah, itu sih namanya kurang bersyukur.. :-D