Akhir 2004, ada sebuah grup band yang menggebrak blantika musik tanah air. Bukan saja lantaran vokalisnya kebetulan berwajah tampan, tapi lagu-lagu yang dinyanyikannya memang enak didengar dan gampang diingat. Perlu nggak saya sebutin nama band itu? Nggak usah lah ya… Pokoknya, waktu itu Hugo yang umurnya 3 tahun aja belum genap udah hafal mati syair salah satu lagu band ini yang ngetop banget...
Sukakah saya sama band ini? Suka sih… Tapi kalau saya kepikiran menerbitkan Majalah Mr. G Spesial, bukan semata-mata saya ngefans banget sama lagunya, tapi terlebih karena saya melhat peluang besar untuk meraup keuntungan. Iyalah, secara ini band lagi ngetop banget di seluruh pelosok Indonesia… segala sesuatu yang berhubungan dengannya pasti laku dijual, termasuk majalah yang khusus berisi semua lagu band ini dari awal berkarir sampai album terakhir. Di edisi khusus itu, saya juga menampilkan profil masing-masing personil, cerita seputar perjalanan karir dan album mereka, dengan tambahan bonus berupa sticker. Harga jualnya Rp 4.000,- per majalah.
Februari 2005 saya melempar Majalah Mr. G Spesial ini ke pasaran dan reaksi pasar sunguh luar biasa. Nggak sampai seminggu, majalah sudah habis sampai agen dari seluruh Indonesia nelepon-nelepon ke kantor untuk minta tambahan jatah. Sayangnya waktu itu saya nggak mencetak dalam jumlah yang sangat banyak, cuma mencetak sesuai jatah yang biasa diminta agen. Retur hampir nggak ada (sampai-sampai saya sendiri nggak punya majalah edisi itu saking lakunya ^_^). Dalam waktu sekejap saya berhasil meraup keuntungan besar dari penjualan majalah ini.
Keuntungan dari penjualan majalah itu lalu saya pakai untuk membayar DP sebuah rumah mungil di Bintaro –masih satu cluster dengan rumah pertama yang saya jadikan kantor. Saya memang sudah memutuskan untuk selamanya memisahkan tempat tinggal dengan kantor. Karena rumah pertama sudah terlanjur menjadi kantor, saya perlu satu rumah lagi untuk ditinggali mengingat rumah yang saya tempati saat itu adalah rumah kontrakkan yang hampir habis masa kontraknya.
Proses saya dan suami mendapatkan rumah kedua ini cukup unik. Dari awal melihat model bangunannya, saya dan suami langsung tertarik ingin memiliki rumah tersebut. Tapi waktu mencari informasi ke kantor pemasaran, ternyata rumah dengan tipe seperti yang kami inginkan sudah terjual semua. Habis sama sekali, nggak ada sisa satu unit pun. Dengan kecewa saya meninggalkan kantor pemasaran, tapi belum sampai mobil kami keluar dari pelataran parkir, tiba-tiba marketing yang membantu kami saat itu menelepon, memberi tahu kalau ada seorang pembeli yang batal membeli salah satu rumah dengan tipe yang kami taksir karena pengajuan KPR-nya ditolak oleh bank.
“Kalau Mbak Intan serius, sekarang langsung bayar tanda jadi saja. Nanti setelah proses pembatalannya beres, tinggal bayar DP-nya kalau memang mau pakai fasilitas KPR,” kata mbak marketing waktu itu Waduh, memang bener ya, yang namanya beli rumah itu jodoh-jodohan. Kalau memang sudah jodoh, nggak bakal lari kemana hehe…
Saat itu April 2005. Harga rumah saya masih sekitar Rp 178 juta-an, LB/LT 41/72 m2. Waktu itu DP-nya 20%, jadi sekitar Rp 35 juta-an dan saya mengajukan KPR dengan plafon 60 bulan dengan cicilan kurang lebih Rp 3 juta. Ditambah biaya akad kredit, biaya bank dan lain-lain, saya harus menyiapkan uang sekitar Rp 50 juta di proses awal pembelian rumah ini. Setelah dibangun menjadi 2 lantai dan direnovasi di sana sini dengan biaya minim (kurang lebih cuma Rp 60 juta, karena saya dan suami rajin berburu material yang murah meriah tapi nggak murahan), saat ini rumah yang saya tempati sudah bernilai lebih dari dua kali lipat dari saat pertama saya beli dulu. Biarpun mungil, saya cinta banget sama rumah ini karena selain sudah direnovasi sesuai selera saya dan suami, rumah ini dekeeet banget sama rumah pertama yang saya jadikan kantor. Nggak sampai sepuluh menit jalan kaki, bahkan Hugo bisa sewaktu-waktu nyusul saya ke kantor naik sepeda.
Wah, kalau nggak jeli melihat peluang dan nekat menerbitkan Mr. G Spesial ini, saya pasti nggak bakal sanggup menyiapkan uang sebanyak itu (untuk bayar DP dan renovasi rumah) dalam waktu singkat. Kayaknya saya harus berterima kasih sama band ini deh.. :-D
Tampilkan postingan dengan label majalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Maret 2009
Rabu, 11 Maret 2009
KECANDUAN BIKIN MAJALAH
Belum ada setahun menempati rumah di Bintaro, Desember 2003 saya sekeluarga sudah pindah rumah lagi. Soalnya, sejak menerbitkan GitarPlus saya menambah jumlah karyawan dan rumah merangkap kantor yang mungil itu pun jadi makin terasa sempit. Lagipula saya ingin mulai membenahi perusahaan dengan menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman dan sehat. Nggak seru banget kan lagi enak-enak kerja, tiba-tiba di ruang sebelah ada suara anak kecil nangis menjerit-jerit? Belum lagi gangguan lain, misalnya lagi serius ngetik tahu-tahu komputer mati karena Hugo iseng mencet-mencet tombol.. :D Buat saya sekeluarga juga nggak sehat karena kami jadi nggak punya privasi. Tengah malam telepon berdering, saat diangkat ternyata cuma dari pembaca yang iseng nanya majalah baru sudah terbit atau belum. Rumah dan kantor jadi satu kalau dilihat dari sisi keuangan memang hemat. Tapi demi kenyamanan bersama, saya memutuskan untuk memisahkannya.
Kalau kantor yang dipindahkan, bakal ribet urusannya karena selain harus memindahkan barang-barang kantor yang lumayan banyak, saya juga harus memberi pengumuman ke agen dan pihak-pihak terkait soal kepindahan kantor, membuat kop surat, amplop, faktur, kwitansi, dan lain-lain dengan alamat baru. Akhirnya diputuskan kalau saya sekeluarga saja yang pindah rumah. Saya mengontrak rumah mungil di sebuah komplek yang bertetanggaan dengan komplek tempat kantor saya berada. Jadi ‘kontraktor’ lagi deh… ;)
Kantor dan rumah dipisah otomatis membuat pengeluaran rutin saya bertambah. Kalau dulu cukup membayar 1 tagihan telepon, 1 tagihan listrik, 1 iuran satpam komplek, dan 1 iuran kebersihan, sejak rumah pisah sama kantor semuanya jadi dobel. Makanya saya berharap dengan dipisahkannya rumah dengan kantor, omzet usaha saya naik dan keuntungan perusahaan juga meningkat. Tapi apa mau dikata, ternyata Majalah GitarPlus kurang menguntungkan. Seperti yang sudah saya ceritakan, penjualannya jeblok di pasaran, membuat keuangan perusahaan jadi megap-megap nggak karuan.
Bukannya kapok, saya dan suami malah nekat bikin majalah musik baru di tahun yang sama, tepatnya di Juni 2004. Namanya Mr. G, dibaca Mister G, tapi kalau dipanjangkan bisa berarti Musik, Rileks, dan Gaul. Norak? Ya, memang sengaja, soalnya kami membidik pangsa pasar dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Bukan cuma namanya yang ‘ajaib’, isi majalahnya pun norak-norak bergembira. Selain memuat teks-teks lagu yang lagi ngetop dilengkapi dengan kord untuk memudahkan pembaca memainkan lagu tersebut dengan gitar, Mr. G juga berisi ramalan bintang, humor, trik bermain sulap, cerita-cerita lucu, TTS (Teka-Teki Silang), TTA (Teka-Teki Angka)… pokoknya campur-campur deh! Mr. G berbentuk majalah saku (ukurannya setengah majalah biasa) dengan harga jual murah meriah; Rp 3.000 untuk P. Jawa, dan Rp 3.500 untuk luar P. Jawa.
Dari mana modalnya? Kebetulan saat itu saya punya sedikit tabungan pribadi. Inget dong, saya selalu memisahkan uang kantor dan uang pribadi. Karena terbiasa hidup sederhana, meskipun penghasilan meningkat saya nggak pernah belanja macam-macam di luar kebutuhan. Sisa uang selalu saya tabung. Nah, di saat-saat seperti ini saya baru ngerasaain banget manfaat menabung. Pas butuh uang untuk mengembangkan usaha, nggak usah pusing-pusing deh! Kan ada tabungan… :-)
Ternyata Mr. G laris manis di pasaran. Baru beberapa hari terbit, Mr. G sudah nggak ada di pasaran saking lakunya. Awalnya saya cuma mencetak sebanyak 10.000 eksemplar, tapi tiap bulan permintaan bertambah terus. Karena keterbatasan modal, saya cuma bisa menambah oplah sedikit, nggak menjawab permintaan pasar yang semakin lama semakin besar. Saya butuh modal tambahan. Tapi dari mana? Mau ngutak-atik uang G-Magz nggak mungkin, soalnya G-Magz sudah mensubsidi GitarPlus yang masih terus menerus terpuruk.
Lagi pusing cari tambahan modal, tiba-tiba baca iklan di koran kalau Bank Mandiri memberi penawaran kepada nasabah KPR untuk memindahkan KPR dari Bank lain ke KPR Bank Mandiri dengan membebaskan biaya provisi dan biaya apraisal. Karena lagi promo, suku bunga KPR di Bank Mandiri juga lebih rendah 2% dibandingkan bank-bank lain, termasuk bank tempat saya mengambil fasilitas KPR rumah pertama (yang jadi kantor). Yang lebih menarik, Bank Mandiri juga menawarkan untuk memberi pinjaman yang lebih besar daripada sisa hutang KPR. Maksudnya, kalau hutang KPR saya di KPR Bank lain –katakanlah- Rp 50 juta, kalau dipindahkan ke KPR Bank Mandiri, saya bisa memperoleh tambahan pinjaman sampai Rp 200 juta, yang besarnya disesuaikan dengan nilai agunan saya. Langsung deh ‘alarm’ di kepala saya bunyi, memberi sinyal untuk menangkap peluang ini. Saya buru-buru ambil kalkulator, menghitung-hitung untung ruginya. Dengan hasil akhir, saya memutuskan memindahkan KPR saya ke Bank Mandiri. Agak repot sih, saya harus menyiapkan dokumen-dokumen seperti waktu pertama kali mengajukan KPR, lalu ada orang dari pihak bank datang ke rumah untuk memperkirakan nilai rumah yang saya jadikan agunan, dan setelah disetujui saya harus melewati proses akad kredit lagi. Tapi nggak apa-apalah, namanya juga usaha… :D
Saat itu Oktober 2004. Sisa hutang KPR saya di bank pertama ternyata masih Rp 60 juta-an. Waktu saya pindahkan ke Bank Mandiri, saya mendapat pinjaman Rp 100 juta kurang sedikit (saya lupa jumlah tepatnya, tapi kurang lebih Rp 96 juta-an). Setelah menutup hutang KPR di bank lain sebesar Rp 60 juta, saya masih punya dana segar Rp 36 juta-an. Lumayan untuk memperpanjang nafas usaha kan? Dengan uang Rp 36 juta-an itu, saya menambah oplah Mr. G (sampai pernah mencapai 50.000 eksemplar setiap edisi) sekaligus menambah karyawan. Saat itu total karyawan tetap saya ada 7 orang, belum termasuk karyawan lepas yang bertugas mengepak majalah (hanya bekerja saat majalah datang dari percetakan, jumlahnya 8 orang).
Nggak terasa, saya sudah punya 3 majalah –semuanya majalah musik. Tapi hidup saya nggak jauh berubah dari waktu pertama kali punya usaha. Bedanya, kemana-mana saya naik mobil pribadi (nggak sepeda motor butut lagi), tingal di komplek perumahan (bukan di gank sempit lagi, meskipun judulnya sama-sama ngontrak :p), dalam setahun bisa berkali-kali liburan ke luar kota naik pesawat dan menginap di hotel berbintang, bisa makan di resto mahal tanpa deg-degan (takut uangnya nggak cukup untuk bayar makanan yang dipesan :D) saat pelayan menyerahkan tagihan, dan bisa belanja kapan saja saya mau. Saya menikmati hidup saya, menikmati hasil kerja keras dan segala sesuatu yang sudah saya raih. Tapi saya nggak lupa diri. Saya tetap membiasakan menabung sebagian uang yang saya punya. Saat tabungan menumpuk, saya nggak tergoda memakainya untuk belanja berlebihan. Saya malah lebih tergoda untuk bikin majalah baru lagi. Kayaknya saya sudah kecanduan bikin majalah deh hehehe…
Kalau kantor yang dipindahkan, bakal ribet urusannya karena selain harus memindahkan barang-barang kantor yang lumayan banyak, saya juga harus memberi pengumuman ke agen dan pihak-pihak terkait soal kepindahan kantor, membuat kop surat, amplop, faktur, kwitansi, dan lain-lain dengan alamat baru. Akhirnya diputuskan kalau saya sekeluarga saja yang pindah rumah. Saya mengontrak rumah mungil di sebuah komplek yang bertetanggaan dengan komplek tempat kantor saya berada. Jadi ‘kontraktor’ lagi deh… ;)
Kantor dan rumah dipisah otomatis membuat pengeluaran rutin saya bertambah. Kalau dulu cukup membayar 1 tagihan telepon, 1 tagihan listrik, 1 iuran satpam komplek, dan 1 iuran kebersihan, sejak rumah pisah sama kantor semuanya jadi dobel. Makanya saya berharap dengan dipisahkannya rumah dengan kantor, omzet usaha saya naik dan keuntungan perusahaan juga meningkat. Tapi apa mau dikata, ternyata Majalah GitarPlus kurang menguntungkan. Seperti yang sudah saya ceritakan, penjualannya jeblok di pasaran, membuat keuangan perusahaan jadi megap-megap nggak karuan.
Bukannya kapok, saya dan suami malah nekat bikin majalah musik baru di tahun yang sama, tepatnya di Juni 2004. Namanya Mr. G, dibaca Mister G, tapi kalau dipanjangkan bisa berarti Musik, Rileks, dan Gaul. Norak? Ya, memang sengaja, soalnya kami membidik pangsa pasar dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Bukan cuma namanya yang ‘ajaib’, isi majalahnya pun norak-norak bergembira. Selain memuat teks-teks lagu yang lagi ngetop dilengkapi dengan kord untuk memudahkan pembaca memainkan lagu tersebut dengan gitar, Mr. G juga berisi ramalan bintang, humor, trik bermain sulap, cerita-cerita lucu, TTS (Teka-Teki Silang), TTA (Teka-Teki Angka)… pokoknya campur-campur deh! Mr. G berbentuk majalah saku (ukurannya setengah majalah biasa) dengan harga jual murah meriah; Rp 3.000 untuk P. Jawa, dan Rp 3.500 untuk luar P. Jawa.
Dari mana modalnya? Kebetulan saat itu saya punya sedikit tabungan pribadi. Inget dong, saya selalu memisahkan uang kantor dan uang pribadi. Karena terbiasa hidup sederhana, meskipun penghasilan meningkat saya nggak pernah belanja macam-macam di luar kebutuhan. Sisa uang selalu saya tabung. Nah, di saat-saat seperti ini saya baru ngerasaain banget manfaat menabung. Pas butuh uang untuk mengembangkan usaha, nggak usah pusing-pusing deh! Kan ada tabungan… :-)
Ternyata Mr. G laris manis di pasaran. Baru beberapa hari terbit, Mr. G sudah nggak ada di pasaran saking lakunya. Awalnya saya cuma mencetak sebanyak 10.000 eksemplar, tapi tiap bulan permintaan bertambah terus. Karena keterbatasan modal, saya cuma bisa menambah oplah sedikit, nggak menjawab permintaan pasar yang semakin lama semakin besar. Saya butuh modal tambahan. Tapi dari mana? Mau ngutak-atik uang G-Magz nggak mungkin, soalnya G-Magz sudah mensubsidi GitarPlus yang masih terus menerus terpuruk.
Lagi pusing cari tambahan modal, tiba-tiba baca iklan di koran kalau Bank Mandiri memberi penawaran kepada nasabah KPR untuk memindahkan KPR dari Bank lain ke KPR Bank Mandiri dengan membebaskan biaya provisi dan biaya apraisal. Karena lagi promo, suku bunga KPR di Bank Mandiri juga lebih rendah 2% dibandingkan bank-bank lain, termasuk bank tempat saya mengambil fasilitas KPR rumah pertama (yang jadi kantor). Yang lebih menarik, Bank Mandiri juga menawarkan untuk memberi pinjaman yang lebih besar daripada sisa hutang KPR. Maksudnya, kalau hutang KPR saya di KPR Bank lain –katakanlah- Rp 50 juta, kalau dipindahkan ke KPR Bank Mandiri, saya bisa memperoleh tambahan pinjaman sampai Rp 200 juta, yang besarnya disesuaikan dengan nilai agunan saya. Langsung deh ‘alarm’ di kepala saya bunyi, memberi sinyal untuk menangkap peluang ini. Saya buru-buru ambil kalkulator, menghitung-hitung untung ruginya. Dengan hasil akhir, saya memutuskan memindahkan KPR saya ke Bank Mandiri. Agak repot sih, saya harus menyiapkan dokumen-dokumen seperti waktu pertama kali mengajukan KPR, lalu ada orang dari pihak bank datang ke rumah untuk memperkirakan nilai rumah yang saya jadikan agunan, dan setelah disetujui saya harus melewati proses akad kredit lagi. Tapi nggak apa-apalah, namanya juga usaha… :D
Saat itu Oktober 2004. Sisa hutang KPR saya di bank pertama ternyata masih Rp 60 juta-an. Waktu saya pindahkan ke Bank Mandiri, saya mendapat pinjaman Rp 100 juta kurang sedikit (saya lupa jumlah tepatnya, tapi kurang lebih Rp 96 juta-an). Setelah menutup hutang KPR di bank lain sebesar Rp 60 juta, saya masih punya dana segar Rp 36 juta-an. Lumayan untuk memperpanjang nafas usaha kan? Dengan uang Rp 36 juta-an itu, saya menambah oplah Mr. G (sampai pernah mencapai 50.000 eksemplar setiap edisi) sekaligus menambah karyawan. Saat itu total karyawan tetap saya ada 7 orang, belum termasuk karyawan lepas yang bertugas mengepak majalah (hanya bekerja saat majalah datang dari percetakan, jumlahnya 8 orang).
Nggak terasa, saya sudah punya 3 majalah –semuanya majalah musik. Tapi hidup saya nggak jauh berubah dari waktu pertama kali punya usaha. Bedanya, kemana-mana saya naik mobil pribadi (nggak sepeda motor butut lagi), tingal di komplek perumahan (bukan di gank sempit lagi, meskipun judulnya sama-sama ngontrak :p), dalam setahun bisa berkali-kali liburan ke luar kota naik pesawat dan menginap di hotel berbintang, bisa makan di resto mahal tanpa deg-degan (takut uangnya nggak cukup untuk bayar makanan yang dipesan :D) saat pelayan menyerahkan tagihan, dan bisa belanja kapan saja saya mau. Saya menikmati hidup saya, menikmati hasil kerja keras dan segala sesuatu yang sudah saya raih. Tapi saya nggak lupa diri. Saya tetap membiasakan menabung sebagian uang yang saya punya. Saat tabungan menumpuk, saya nggak tergoda memakainya untuk belanja berlebihan. Saya malah lebih tergoda untuk bikin majalah baru lagi. Kayaknya saya sudah kecanduan bikin majalah deh hehehe…
Kamis, 05 Februari 2009
BIKIN USAHA SENDIRI
Saya cerita dulu tentang awal mula saya bisa punya usaha sendiri yaaa...
Setelah Hugo -jagoan kecil saya- lahir, saya memutuskan berhenti kerja kantoran. Dari awal nikah saya dan suami memang hidup mandiri. Ngontrak rumah petak mungil di sebuah gank sempit di daerah Mampang Jakarta Selatan, jauh dari orang tua maupun mertua (orang tua saya tinggal di Bandung, sementara mertua di Medan). Jadi, nggak ada ceritanya bisa nitip-nitipin anak ke orang tua, apalagi mertua. Dan saya ngerasa nggak rela banget ninggalin Hugo yang baru berumur beberapa bulan cuma berdua ART di rumah.
Waktu saya pamit untuk berhenti kerja, bos saya (Pak JH yang pernah saya ceritain itu lho...) keliatan agak keberatan karena -kata dia nih- susah cari orang kayak saya. Perasaan sih saya nggak melakukan hal yang istimewa selama kerja sama dia. Tapi memang kalau dikasih tanggung jawab saya selalu berusaha mengerjakan sebaik-baiknya dan sesegera mungkin. Saya juga nggak itung-itungan soal kerjaan. Padahal kerjaan saya campur aduk segala rupa.
Kalau Pak JH dapat order bikin majalah untuk kalangan terbatas, saya yang menangani semua dari mulai presentasi ke klien sampai mewujudkannya jadi sebuah majalah(ada yang bantuin sih, tapi ide dan konsepnya dari saya). Kalau Pak JH lagi punya proyek ngerjain sebuah event, ritme saya tambah ancur-ancuran. Baru pulang kerja jam 7 malam, tiba-tiba jam 9 malam sopirnya Pak JH nongol di depan rumah untuk jemput saya balik ke kantor karena si bos butuh bantuan, dengan senang hati saya berangkat lagi.
Ibaratnya, Pak JH tinggal bilang ke saya kalau dia -contoh aja nih- pengen bikin toko roti. Nanti saya deh yang jumpalitan mikirin itu toko mau dibikin di daerah mana, bentuk tokonya kayak apa, roti apa aja yang dijual, ngerekrut tukang bikin rotinya, dan gimana caranya biar roti yang dijual di toko itu laku. Pak JH tinggal tahu beres dan terima laporan aja, atau sekali-sekali ngasih saran dan masukkan kalau saya lagi mentok kehabisan ide. Saya juga nggak pernah ribut soal gaji meskipun gaji saya nggak besar-besar amat. Saya senang kerja sama Pak JH karena di tempatnya saya bisa belajar banyak hal dan Pak JH juga nggak pernah pelit bagi-bagi ilmu ke saya.
Waktu akhirnya saya beneran resign, Pak JH bilang saya boleh balik kerja lagi kapan aja saya mau. Saya bilang, "Tapi sekarang prioritas saya udah berubah, Pak. Saya udah punya anak, nggak mau lagi kerja siang malam nggak kenal waktu kayak kemaren karena pengen kasih banyak perhatian buat anak."
Kata Pak JH, "Jadi kamu mau di rumah terus? Wah, sayang lho orang kayak kamu kalau nggak kerja. Kamu tuh pinter..." (Saya lupa, waktu itu hidung saya kembang kempis karena GR apa nggak ya pas si bos bilang begitu... :p)
"Saya sama suami pengen coba bikin usaha sendiri, Pak," jawab saya. Pak JH kenal juga sama suami saya karena dulunya suami juga kerja di kantor Pak JH. Dan meskipun sekarang udah kerja di tempat lain, tapi suami masih suka diminta bantu ngerjain proyek-proyek desain.
Pak JH nanya saya pengen bikin usaha apa, dan saya langsung cerita kalau udah lama saya sama suami pengen banget punya majalah sendiri. Kami bahkan udah punya konsep majalahnya, udah ngitung-ngitung cash flow, apa-apa aja yang dibutuhkan, bagaimana memulai dan menjalankan usaha itu... pokoknya udah siap semua kecuali MODAL. Iya, tragis sekali... Impian indah kami untuk bikin majalah sendiri selama ini kandas gara-gara terbentur modal!
"Emang kalau bikin majalah modalnya berapa sih?" tanya Pak JH.
Saya jawab kurang lebih Rp 100 jutaan. Dan, OMG, tanpa ba bi bu Pak JH langsung setuju untuk memodali usaha saya. Mungkin buat Pak JH yang kaya raya, uang segitu nggak ada apa-apanya. Tapi buat saya? Duh, sampai di rumah saya langsung jingkrak-jingkrak sambil peluk-pelukkan sama suami saking senangnya. Horeeee... akhirnya kami punya modal untuk bikin usaha!
Akhirnya total uang tunai yang dikasih Pak JH untuk modal awal usaha saya nggak sampai Rp 100 juta, cuma kurang lebih Rp 80 juta. Tapi buat saya itu juga udah banyak dan luar biasa banget.
Suatu hari, waktu main ke rumah Pak JH saya sempat tanya, "Kok Bapak percaya amat ngasih modal segitu besar untuk saya?"
Dengan santainya Pak JH jawab, "Saya cuma pengen kasih kesempatan kamu untuk maju. Kalau kamu sukses saya ikut senang, tapi kalau nggak berhasil ya udah. Setidaknya kamu sudah pernah diberi kesempatan untuk mencoba. Tapi kalau gagal, saya nggak akan pernah memberi kamu kesempatan kedua. Makanya, kamu harus berusaha gimana caranya biar jangan sampai gagal."
Duh, saya sampai mau nangis saking terharunya. Sampai detik ini saya nggak pernah bisa melupakan kebaikan Pak JH sama saya. Saya hutang budi sama dia. Kalau bukan karena diberi kesempatan oleh Pak JH, barangkali saya nggak akan pernah melangkah sampai sejauh ini.
Setelah Hugo -jagoan kecil saya- lahir, saya memutuskan berhenti kerja kantoran. Dari awal nikah saya dan suami memang hidup mandiri. Ngontrak rumah petak mungil di sebuah gank sempit di daerah Mampang Jakarta Selatan, jauh dari orang tua maupun mertua (orang tua saya tinggal di Bandung, sementara mertua di Medan). Jadi, nggak ada ceritanya bisa nitip-nitipin anak ke orang tua, apalagi mertua. Dan saya ngerasa nggak rela banget ninggalin Hugo yang baru berumur beberapa bulan cuma berdua ART di rumah.
Waktu saya pamit untuk berhenti kerja, bos saya (Pak JH yang pernah saya ceritain itu lho...) keliatan agak keberatan karena -kata dia nih- susah cari orang kayak saya. Perasaan sih saya nggak melakukan hal yang istimewa selama kerja sama dia. Tapi memang kalau dikasih tanggung jawab saya selalu berusaha mengerjakan sebaik-baiknya dan sesegera mungkin. Saya juga nggak itung-itungan soal kerjaan. Padahal kerjaan saya campur aduk segala rupa.
Kalau Pak JH dapat order bikin majalah untuk kalangan terbatas, saya yang menangani semua dari mulai presentasi ke klien sampai mewujudkannya jadi sebuah majalah(ada yang bantuin sih, tapi ide dan konsepnya dari saya). Kalau Pak JH lagi punya proyek ngerjain sebuah event, ritme saya tambah ancur-ancuran. Baru pulang kerja jam 7 malam, tiba-tiba jam 9 malam sopirnya Pak JH nongol di depan rumah untuk jemput saya balik ke kantor karena si bos butuh bantuan, dengan senang hati saya berangkat lagi.
Ibaratnya, Pak JH tinggal bilang ke saya kalau dia -contoh aja nih- pengen bikin toko roti. Nanti saya deh yang jumpalitan mikirin itu toko mau dibikin di daerah mana, bentuk tokonya kayak apa, roti apa aja yang dijual, ngerekrut tukang bikin rotinya, dan gimana caranya biar roti yang dijual di toko itu laku. Pak JH tinggal tahu beres dan terima laporan aja, atau sekali-sekali ngasih saran dan masukkan kalau saya lagi mentok kehabisan ide. Saya juga nggak pernah ribut soal gaji meskipun gaji saya nggak besar-besar amat. Saya senang kerja sama Pak JH karena di tempatnya saya bisa belajar banyak hal dan Pak JH juga nggak pernah pelit bagi-bagi ilmu ke saya.
Waktu akhirnya saya beneran resign, Pak JH bilang saya boleh balik kerja lagi kapan aja saya mau. Saya bilang, "Tapi sekarang prioritas saya udah berubah, Pak. Saya udah punya anak, nggak mau lagi kerja siang malam nggak kenal waktu kayak kemaren karena pengen kasih banyak perhatian buat anak."
Kata Pak JH, "Jadi kamu mau di rumah terus? Wah, sayang lho orang kayak kamu kalau nggak kerja. Kamu tuh pinter..." (Saya lupa, waktu itu hidung saya kembang kempis karena GR apa nggak ya pas si bos bilang begitu... :p)
"Saya sama suami pengen coba bikin usaha sendiri, Pak," jawab saya. Pak JH kenal juga sama suami saya karena dulunya suami juga kerja di kantor Pak JH. Dan meskipun sekarang udah kerja di tempat lain, tapi suami masih suka diminta bantu ngerjain proyek-proyek desain.
Pak JH nanya saya pengen bikin usaha apa, dan saya langsung cerita kalau udah lama saya sama suami pengen banget punya majalah sendiri. Kami bahkan udah punya konsep majalahnya, udah ngitung-ngitung cash flow, apa-apa aja yang dibutuhkan, bagaimana memulai dan menjalankan usaha itu... pokoknya udah siap semua kecuali MODAL. Iya, tragis sekali... Impian indah kami untuk bikin majalah sendiri selama ini kandas gara-gara terbentur modal!
"Emang kalau bikin majalah modalnya berapa sih?" tanya Pak JH.
Saya jawab kurang lebih Rp 100 jutaan. Dan, OMG, tanpa ba bi bu Pak JH langsung setuju untuk memodali usaha saya. Mungkin buat Pak JH yang kaya raya, uang segitu nggak ada apa-apanya. Tapi buat saya? Duh, sampai di rumah saya langsung jingkrak-jingkrak sambil peluk-pelukkan sama suami saking senangnya. Horeeee... akhirnya kami punya modal untuk bikin usaha!
Akhirnya total uang tunai yang dikasih Pak JH untuk modal awal usaha saya nggak sampai Rp 100 juta, cuma kurang lebih Rp 80 juta. Tapi buat saya itu juga udah banyak dan luar biasa banget.
Suatu hari, waktu main ke rumah Pak JH saya sempat tanya, "Kok Bapak percaya amat ngasih modal segitu besar untuk saya?"
Dengan santainya Pak JH jawab, "Saya cuma pengen kasih kesempatan kamu untuk maju. Kalau kamu sukses saya ikut senang, tapi kalau nggak berhasil ya udah. Setidaknya kamu sudah pernah diberi kesempatan untuk mencoba. Tapi kalau gagal, saya nggak akan pernah memberi kamu kesempatan kedua. Makanya, kamu harus berusaha gimana caranya biar jangan sampai gagal."
Duh, saya sampai mau nangis saking terharunya. Sampai detik ini saya nggak pernah bisa melupakan kebaikan Pak JH sama saya. Saya hutang budi sama dia. Kalau bukan karena diberi kesempatan oleh Pak JH, barangkali saya nggak akan pernah melangkah sampai sejauh ini.
Langganan:
Komentar (Atom)