Beberapa minggu terakhir ini adalah hari-hari super sibuk buat saya. Sibuk ngapain? Ehm, saya lagi sibuk 'buang-buang' uang! :-D
Mungkin ada yang langsung komentar, 'sombong amat uang dibuang-buang!'. Ups, tunggu dulu! Saya nggak sembarangan buang uang untuk hal-hal yang nggak penting. Sebaliknya, saya justru lagi banyak membuang uang untuk bikin mesin uang. Ya, saya lagi bikin usaha baru lagi.
Saya memang banyak maunya. Punya 4 majalah musik dan toko alat musik nggak membuat saya cepat puas. Saya masih menyimpan keinginan untuk buka rental studio dan kursus musik. (Sebuah keinginan yang agak aneh mengingat sampai saat ini saya belum juga bisa memainkan alat musik ^_^) Banyak orang punya usaha rental studio, majalah musik, kursus musik atau toko alat musik. Tapi kayaknya masih jarang (atau malah belum ada?) yang sekaligus menggabungkan empat-empatnya. Saya sudah punya majalah musik dan toko alat musik, kalau sekalian buka studio rental dan kursus musik pasti sip markusip. Promonya bisa bareng dan saling mendukung. Event majalah bisa melibatkan toko, studio dan orang-orang yang kursus musik di tempat saya. Sebaliknya, promo toko, studio, dan tempat kursus bisa dimuat di majalah. Cihuy banget kan?
Nah, proses membangun usaha baru inilah yang membuat saya banyak 'buang-buang uang'. Soalnya jenis usaha yang saya pilih saat ini memang membutuhkan modal uang, meskipun dengan berbagai cara saya sudah berusaha banget untuk menekan pengeluaran. Ya, beginilah kalau pengusaha banyak maunya tapi modal pas-pasan.. :-p
Bikin studio rental, yang saya butuhkan pertama kali tentu saja ruangan untuk disulap jadi studio. Ternyata semua ruangan di rumah yang saya sewa untuk dijadikan toko sekaligus kantor majalah sudah penuh sesak. Terpaksa deh saya nyewa satu rumah lagi di dekat-dekat toko untuk mengungsikan kantor majalah. Bayar sewanya pake apa? Ya, pake duit dooong.. *buang duit jilid satu*
Rumah baru yang saya sewa ternyata nggak ada AC dan sambungan internetnya. Padahal kalau nggak ada AC dan sambungan internet, karyawan majalah saya nggak bisa kerja dengan maksimal. Nggak mungkin kan mereka dimodalin kipas satu-satu plus duit lima rebu perak buat ngenet di warnet? Mau nggak mau saya harus beli AC, pasang sambungan internet, dan belakangan nambah beli dispenser juga untuk kantor baru.. *buang duit jilid dua*
Kantor redaksi udah aman. Gimana dengan studio impian? Setelah ada ruangannya, saya harus pasang peredam ruangan biar nggak dipelototin tetangga sekitar. Tentunya juga biar yang nyewa studio saya merasa nyaman. Mulailah saya mencari tukang untuk membuat peredam ruangan dan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan seperti triplek, glass wool, gypsum, karpet, dan kawan-kawannya. Bayar tukang dan beli alat-alat pake apaaaa? Yak, pinter.. pake duit! *buang duit jilid tiga*
Urusan peredam ruangan sudah beres, sekarang waktunya mengisi studio dengan alat-alat band seperti gitar, bass, ampli, drum, mike, mixer dll. Oh ya, jangan lupa penjaga studionya! Saya merekrut seorang karyawan lagi, khusus untuk menjaga studio. Pengeluaran yang lumayan besar. Apanya yang dikeluarin? Duit, tentu saja! *buang duit jilid empat*
Kalau toko dan studio jalan, pasti bakalan banyak orang datang ke tempat saya dong. saya langsung kepikiran buka kantin kecil-kecilan di halaman toko dan studio. Rencananya sih pengen jualan makanan dan minuman ringan buat tambah-tambahan pemasukan. Modalnya nggak gede kok. Tinggal siapin meja, kursi, etalase dan pernak-pernik lainnya. Tapi sekecil-kecilnya modal yang harus dikeluarkan, tetep aja namanya duit.. *buang duit jilid lima*
Baru beres ngurusin studio rental, saya sudah ngos-ngosan nggak punya uang. Gimana kursus musiknya? Kayaknya saya harus bersabar nih. Sekarang saatnya membuat mesin uang saya nyetak uang dulu, baru nanti 'buang-buang uang' lagi. Nggak ada ruginya kok buang uang kalau untuk bikin mesin uang. Soalnya, mesin uang yang saya bikin -seharusnya- bisa menghasilkan uang lebih banyak lagi daripada yang sudah saya buang untuk membuatnya. Itulah asyiknya bermain dengan uang yang selalu bikin saya ketagihan. Wah, jadi nggak sabar deh nunggu mesin uangnya menghasilkan uang... :-D
Tampilkan postingan dengan label bikin usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bikin usaha. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 Juli 2010
Selasa, 18 Agustus 2009
JALAN AJA DULU..
Seorang kenalan saya bilang, dia baru berani memulai suatu usaha kalau semua fasilitas pendukung untuk usahanya sudah tersedia. Modal cukup, kantor tempat usaha ada, karyawan yang menangani pekerjaan di setiap bagian tersedia, kendaraan operasional punya, alat-alat penunjang usaha sudah di depan mata... Pokoknya semua lengkap dan tinggal jalan deh. Ya, kalau gitu semua orang juga bisa hehe..
Idealnya, sebelum memulai suatu usaha kita memang harus mempersiapkan semua fasilitas dan peratalan penunjang agar usaha kita berjalan lancar. Kalau modal banyak sih bagusnya memang begitu. Tapi kalau modal pas-pasan, bisa nggak mulai-mulai usaha kalau nunggu semua tersedia dulu. Kelamaan! :-p
Menurut saya, untuk jualan, contoh aja nih; pakaian, kita nggak harus punya butik dulu. Belum punya butik atau toko untuk memajang dagangan kita, kan masih ada internet. Banyak kok orang yang sukses jualan lewat cara online. Nah, mau jualan di internet juga nggak harus punya komputer dan internet di rumah dulu. Kalau punya memang lebih bagus, tapi kalau belum punya kan masih ada warnet? Kalau kurang sreg jualan di internet, bisa juga titip jual barang ke toko baju yang sudah ada. Intinya, pertama-tama kita harus niat dulu. Kalau niat sudah kuat, tekad sudah bulat, hambatan atau kesulitan apa pun pasti bisa diatasi.
Waktu pertama kali membuat usaha penerbitan majalah, saya sama sekali nggak punya modal yang kuat. Boro-boro kantor redaksi yang representatif atau kendaraan operasional yang layak, komputer aja cuma punya 1 unit, sudah tua lagi! Ruang tamu rumah petak kontrakan saya yang mungil saya sulap menjadi ‘kantor’ yang sangat sederhana; cuma berisi sebuah meja kerja, sebuah kursi, sebuah komputer butut, dan sebuah kipas angin yang nggak bisa dibilang bagus. Karyawannya cuma 2 orang, 1 orang desainer grafis dan 1 orang redaksi. Jangan tanya kendaraan operasionalnya. Saat itu saya cuma punya sebuah sepeda motor butut. Tapi dengan segala keterbatasan itu, saya berani memulai usaha penerbitan majalah berskala nasional. Barulah waktu usaha saya berkembang, pelan-pelan saya bisa punya kantor, mobil, sepeda motor, dan melengkapi peralatan di kantor.
Bersyukurlah kalau kamu yang punya cukup modal untuk memulai suatu usaha. Lebih menyenangkan lagi kalau sudah dibukakan jalan sebelumnya, sehingga lebih mudah melangkah ke depan. .Artinya kamu nggak perlu susah payah mulai dari nol. Tinggal meneruskan jalan yang sudah ada, nggak harus menerabas ‘hutan belantara’ dan kesandung-sandung dulu untuk membuat jalanmu sendiri. Tapi nggak semua orang seberuntung itu. Lebih banyak yang harus memulai usaha dari nol. Saya salah satunya.
Memang dibutuhkan kesabaran lebih untuk memulai usaha dengan segala sesuatu yang serba terbatas. Tapi kalau memang mampunya baru segitu, buat apa mimpi muluk-muluk? Buat saya, yang penting usaha dimulai dulu. Yang lain-lainnya bisa menyusul belakangan. Untuk apa punya toko keren dengan desain interior luar biasa bagus kalau barang dagangan yang dipajang di dalamnya nggak laku? Untuk apa punya kantor megah dengan peratalan super canggih kalau sepi order? Atau untuk apa punya karyawan banyak tapi ngos-ngosan bayar gajinya karena pemasukkan nggak sebanding? Saya sih mendingan kantor kecil, peralatan terbatas, tapi mampu menghasilkan produk bagus yang bisa diterima pasar. Atau berjualan dari rumah, tapi dagangannya dibeli oleh banyak orang di seluruh penjuru negeri.
Saya percaya proses. Kalau kita mau bekerja keras, berani bangkit setiap kali terjatuh, dan fokus dengan usaha kita, saya yakin nggak selamanya kita tetap berada di titik nol. Akan ada saatnya kita bisa menikmati semua usaha dan kerja keras kita. Tapi semua itu memang perlu waktu, tenaga, kesabaran, dan ketekunan. Nggak bisa terjadi seketika itu juga. Emangnya sulapan? ^_^
Idealnya, sebelum memulai suatu usaha kita memang harus mempersiapkan semua fasilitas dan peratalan penunjang agar usaha kita berjalan lancar. Kalau modal banyak sih bagusnya memang begitu. Tapi kalau modal pas-pasan, bisa nggak mulai-mulai usaha kalau nunggu semua tersedia dulu. Kelamaan! :-p
Menurut saya, untuk jualan, contoh aja nih; pakaian, kita nggak harus punya butik dulu. Belum punya butik atau toko untuk memajang dagangan kita, kan masih ada internet. Banyak kok orang yang sukses jualan lewat cara online. Nah, mau jualan di internet juga nggak harus punya komputer dan internet di rumah dulu. Kalau punya memang lebih bagus, tapi kalau belum punya kan masih ada warnet? Kalau kurang sreg jualan di internet, bisa juga titip jual barang ke toko baju yang sudah ada. Intinya, pertama-tama kita harus niat dulu. Kalau niat sudah kuat, tekad sudah bulat, hambatan atau kesulitan apa pun pasti bisa diatasi.
Waktu pertama kali membuat usaha penerbitan majalah, saya sama sekali nggak punya modal yang kuat. Boro-boro kantor redaksi yang representatif atau kendaraan operasional yang layak, komputer aja cuma punya 1 unit, sudah tua lagi! Ruang tamu rumah petak kontrakan saya yang mungil saya sulap menjadi ‘kantor’ yang sangat sederhana; cuma berisi sebuah meja kerja, sebuah kursi, sebuah komputer butut, dan sebuah kipas angin yang nggak bisa dibilang bagus. Karyawannya cuma 2 orang, 1 orang desainer grafis dan 1 orang redaksi. Jangan tanya kendaraan operasionalnya. Saat itu saya cuma punya sebuah sepeda motor butut. Tapi dengan segala keterbatasan itu, saya berani memulai usaha penerbitan majalah berskala nasional. Barulah waktu usaha saya berkembang, pelan-pelan saya bisa punya kantor, mobil, sepeda motor, dan melengkapi peralatan di kantor.
Bersyukurlah kalau kamu yang punya cukup modal untuk memulai suatu usaha. Lebih menyenangkan lagi kalau sudah dibukakan jalan sebelumnya, sehingga lebih mudah melangkah ke depan. .Artinya kamu nggak perlu susah payah mulai dari nol. Tinggal meneruskan jalan yang sudah ada, nggak harus menerabas ‘hutan belantara’ dan kesandung-sandung dulu untuk membuat jalanmu sendiri. Tapi nggak semua orang seberuntung itu. Lebih banyak yang harus memulai usaha dari nol. Saya salah satunya.
Memang dibutuhkan kesabaran lebih untuk memulai usaha dengan segala sesuatu yang serba terbatas. Tapi kalau memang mampunya baru segitu, buat apa mimpi muluk-muluk? Buat saya, yang penting usaha dimulai dulu. Yang lain-lainnya bisa menyusul belakangan. Untuk apa punya toko keren dengan desain interior luar biasa bagus kalau barang dagangan yang dipajang di dalamnya nggak laku? Untuk apa punya kantor megah dengan peratalan super canggih kalau sepi order? Atau untuk apa punya karyawan banyak tapi ngos-ngosan bayar gajinya karena pemasukkan nggak sebanding? Saya sih mendingan kantor kecil, peralatan terbatas, tapi mampu menghasilkan produk bagus yang bisa diterima pasar. Atau berjualan dari rumah, tapi dagangannya dibeli oleh banyak orang di seluruh penjuru negeri.
Saya percaya proses. Kalau kita mau bekerja keras, berani bangkit setiap kali terjatuh, dan fokus dengan usaha kita, saya yakin nggak selamanya kita tetap berada di titik nol. Akan ada saatnya kita bisa menikmati semua usaha dan kerja keras kita. Tapi semua itu memang perlu waktu, tenaga, kesabaran, dan ketekunan. Nggak bisa terjadi seketika itu juga. Emangnya sulapan? ^_^
Label:
bikin usaha,
mengelola uang
Kamis, 05 Februari 2009
BIKIN USAHA SENDIRI
Saya cerita dulu tentang awal mula saya bisa punya usaha sendiri yaaa...
Setelah Hugo -jagoan kecil saya- lahir, saya memutuskan berhenti kerja kantoran. Dari awal nikah saya dan suami memang hidup mandiri. Ngontrak rumah petak mungil di sebuah gank sempit di daerah Mampang Jakarta Selatan, jauh dari orang tua maupun mertua (orang tua saya tinggal di Bandung, sementara mertua di Medan). Jadi, nggak ada ceritanya bisa nitip-nitipin anak ke orang tua, apalagi mertua. Dan saya ngerasa nggak rela banget ninggalin Hugo yang baru berumur beberapa bulan cuma berdua ART di rumah.
Waktu saya pamit untuk berhenti kerja, bos saya (Pak JH yang pernah saya ceritain itu lho...) keliatan agak keberatan karena -kata dia nih- susah cari orang kayak saya. Perasaan sih saya nggak melakukan hal yang istimewa selama kerja sama dia. Tapi memang kalau dikasih tanggung jawab saya selalu berusaha mengerjakan sebaik-baiknya dan sesegera mungkin. Saya juga nggak itung-itungan soal kerjaan. Padahal kerjaan saya campur aduk segala rupa.
Kalau Pak JH dapat order bikin majalah untuk kalangan terbatas, saya yang menangani semua dari mulai presentasi ke klien sampai mewujudkannya jadi sebuah majalah(ada yang bantuin sih, tapi ide dan konsepnya dari saya). Kalau Pak JH lagi punya proyek ngerjain sebuah event, ritme saya tambah ancur-ancuran. Baru pulang kerja jam 7 malam, tiba-tiba jam 9 malam sopirnya Pak JH nongol di depan rumah untuk jemput saya balik ke kantor karena si bos butuh bantuan, dengan senang hati saya berangkat lagi.
Ibaratnya, Pak JH tinggal bilang ke saya kalau dia -contoh aja nih- pengen bikin toko roti. Nanti saya deh yang jumpalitan mikirin itu toko mau dibikin di daerah mana, bentuk tokonya kayak apa, roti apa aja yang dijual, ngerekrut tukang bikin rotinya, dan gimana caranya biar roti yang dijual di toko itu laku. Pak JH tinggal tahu beres dan terima laporan aja, atau sekali-sekali ngasih saran dan masukkan kalau saya lagi mentok kehabisan ide. Saya juga nggak pernah ribut soal gaji meskipun gaji saya nggak besar-besar amat. Saya senang kerja sama Pak JH karena di tempatnya saya bisa belajar banyak hal dan Pak JH juga nggak pernah pelit bagi-bagi ilmu ke saya.
Waktu akhirnya saya beneran resign, Pak JH bilang saya boleh balik kerja lagi kapan aja saya mau. Saya bilang, "Tapi sekarang prioritas saya udah berubah, Pak. Saya udah punya anak, nggak mau lagi kerja siang malam nggak kenal waktu kayak kemaren karena pengen kasih banyak perhatian buat anak."
Kata Pak JH, "Jadi kamu mau di rumah terus? Wah, sayang lho orang kayak kamu kalau nggak kerja. Kamu tuh pinter..." (Saya lupa, waktu itu hidung saya kembang kempis karena GR apa nggak ya pas si bos bilang begitu... :p)
"Saya sama suami pengen coba bikin usaha sendiri, Pak," jawab saya. Pak JH kenal juga sama suami saya karena dulunya suami juga kerja di kantor Pak JH. Dan meskipun sekarang udah kerja di tempat lain, tapi suami masih suka diminta bantu ngerjain proyek-proyek desain.
Pak JH nanya saya pengen bikin usaha apa, dan saya langsung cerita kalau udah lama saya sama suami pengen banget punya majalah sendiri. Kami bahkan udah punya konsep majalahnya, udah ngitung-ngitung cash flow, apa-apa aja yang dibutuhkan, bagaimana memulai dan menjalankan usaha itu... pokoknya udah siap semua kecuali MODAL. Iya, tragis sekali... Impian indah kami untuk bikin majalah sendiri selama ini kandas gara-gara terbentur modal!
"Emang kalau bikin majalah modalnya berapa sih?" tanya Pak JH.
Saya jawab kurang lebih Rp 100 jutaan. Dan, OMG, tanpa ba bi bu Pak JH langsung setuju untuk memodali usaha saya. Mungkin buat Pak JH yang kaya raya, uang segitu nggak ada apa-apanya. Tapi buat saya? Duh, sampai di rumah saya langsung jingkrak-jingkrak sambil peluk-pelukkan sama suami saking senangnya. Horeeee... akhirnya kami punya modal untuk bikin usaha!
Akhirnya total uang tunai yang dikasih Pak JH untuk modal awal usaha saya nggak sampai Rp 100 juta, cuma kurang lebih Rp 80 juta. Tapi buat saya itu juga udah banyak dan luar biasa banget.
Suatu hari, waktu main ke rumah Pak JH saya sempat tanya, "Kok Bapak percaya amat ngasih modal segitu besar untuk saya?"
Dengan santainya Pak JH jawab, "Saya cuma pengen kasih kesempatan kamu untuk maju. Kalau kamu sukses saya ikut senang, tapi kalau nggak berhasil ya udah. Setidaknya kamu sudah pernah diberi kesempatan untuk mencoba. Tapi kalau gagal, saya nggak akan pernah memberi kamu kesempatan kedua. Makanya, kamu harus berusaha gimana caranya biar jangan sampai gagal."
Duh, saya sampai mau nangis saking terharunya. Sampai detik ini saya nggak pernah bisa melupakan kebaikan Pak JH sama saya. Saya hutang budi sama dia. Kalau bukan karena diberi kesempatan oleh Pak JH, barangkali saya nggak akan pernah melangkah sampai sejauh ini.
Setelah Hugo -jagoan kecil saya- lahir, saya memutuskan berhenti kerja kantoran. Dari awal nikah saya dan suami memang hidup mandiri. Ngontrak rumah petak mungil di sebuah gank sempit di daerah Mampang Jakarta Selatan, jauh dari orang tua maupun mertua (orang tua saya tinggal di Bandung, sementara mertua di Medan). Jadi, nggak ada ceritanya bisa nitip-nitipin anak ke orang tua, apalagi mertua. Dan saya ngerasa nggak rela banget ninggalin Hugo yang baru berumur beberapa bulan cuma berdua ART di rumah.
Waktu saya pamit untuk berhenti kerja, bos saya (Pak JH yang pernah saya ceritain itu lho...) keliatan agak keberatan karena -kata dia nih- susah cari orang kayak saya. Perasaan sih saya nggak melakukan hal yang istimewa selama kerja sama dia. Tapi memang kalau dikasih tanggung jawab saya selalu berusaha mengerjakan sebaik-baiknya dan sesegera mungkin. Saya juga nggak itung-itungan soal kerjaan. Padahal kerjaan saya campur aduk segala rupa.
Kalau Pak JH dapat order bikin majalah untuk kalangan terbatas, saya yang menangani semua dari mulai presentasi ke klien sampai mewujudkannya jadi sebuah majalah(ada yang bantuin sih, tapi ide dan konsepnya dari saya). Kalau Pak JH lagi punya proyek ngerjain sebuah event, ritme saya tambah ancur-ancuran. Baru pulang kerja jam 7 malam, tiba-tiba jam 9 malam sopirnya Pak JH nongol di depan rumah untuk jemput saya balik ke kantor karena si bos butuh bantuan, dengan senang hati saya berangkat lagi.
Ibaratnya, Pak JH tinggal bilang ke saya kalau dia -contoh aja nih- pengen bikin toko roti. Nanti saya deh yang jumpalitan mikirin itu toko mau dibikin di daerah mana, bentuk tokonya kayak apa, roti apa aja yang dijual, ngerekrut tukang bikin rotinya, dan gimana caranya biar roti yang dijual di toko itu laku. Pak JH tinggal tahu beres dan terima laporan aja, atau sekali-sekali ngasih saran dan masukkan kalau saya lagi mentok kehabisan ide. Saya juga nggak pernah ribut soal gaji meskipun gaji saya nggak besar-besar amat. Saya senang kerja sama Pak JH karena di tempatnya saya bisa belajar banyak hal dan Pak JH juga nggak pernah pelit bagi-bagi ilmu ke saya.
Waktu akhirnya saya beneran resign, Pak JH bilang saya boleh balik kerja lagi kapan aja saya mau. Saya bilang, "Tapi sekarang prioritas saya udah berubah, Pak. Saya udah punya anak, nggak mau lagi kerja siang malam nggak kenal waktu kayak kemaren karena pengen kasih banyak perhatian buat anak."
Kata Pak JH, "Jadi kamu mau di rumah terus? Wah, sayang lho orang kayak kamu kalau nggak kerja. Kamu tuh pinter..." (Saya lupa, waktu itu hidung saya kembang kempis karena GR apa nggak ya pas si bos bilang begitu... :p)
"Saya sama suami pengen coba bikin usaha sendiri, Pak," jawab saya. Pak JH kenal juga sama suami saya karena dulunya suami juga kerja di kantor Pak JH. Dan meskipun sekarang udah kerja di tempat lain, tapi suami masih suka diminta bantu ngerjain proyek-proyek desain.
Pak JH nanya saya pengen bikin usaha apa, dan saya langsung cerita kalau udah lama saya sama suami pengen banget punya majalah sendiri. Kami bahkan udah punya konsep majalahnya, udah ngitung-ngitung cash flow, apa-apa aja yang dibutuhkan, bagaimana memulai dan menjalankan usaha itu... pokoknya udah siap semua kecuali MODAL. Iya, tragis sekali... Impian indah kami untuk bikin majalah sendiri selama ini kandas gara-gara terbentur modal!
"Emang kalau bikin majalah modalnya berapa sih?" tanya Pak JH.
Saya jawab kurang lebih Rp 100 jutaan. Dan, OMG, tanpa ba bi bu Pak JH langsung setuju untuk memodali usaha saya. Mungkin buat Pak JH yang kaya raya, uang segitu nggak ada apa-apanya. Tapi buat saya? Duh, sampai di rumah saya langsung jingkrak-jingkrak sambil peluk-pelukkan sama suami saking senangnya. Horeeee... akhirnya kami punya modal untuk bikin usaha!
Akhirnya total uang tunai yang dikasih Pak JH untuk modal awal usaha saya nggak sampai Rp 100 juta, cuma kurang lebih Rp 80 juta. Tapi buat saya itu juga udah banyak dan luar biasa banget.
Suatu hari, waktu main ke rumah Pak JH saya sempat tanya, "Kok Bapak percaya amat ngasih modal segitu besar untuk saya?"
Dengan santainya Pak JH jawab, "Saya cuma pengen kasih kesempatan kamu untuk maju. Kalau kamu sukses saya ikut senang, tapi kalau nggak berhasil ya udah. Setidaknya kamu sudah pernah diberi kesempatan untuk mencoba. Tapi kalau gagal, saya nggak akan pernah memberi kamu kesempatan kedua. Makanya, kamu harus berusaha gimana caranya biar jangan sampai gagal."
Duh, saya sampai mau nangis saking terharunya. Sampai detik ini saya nggak pernah bisa melupakan kebaikan Pak JH sama saya. Saya hutang budi sama dia. Kalau bukan karena diberi kesempatan oleh Pak JH, barangkali saya nggak akan pernah melangkah sampai sejauh ini.
Langganan:
Komentar (Atom)