Selasa, 13 Oktober 2009

SIAPA BILANG BIKIN USAHA HARUS MODAL BANYAK UANG?

Kemaren sore, ada teman main ke toko saya dan terheran-heran ngeliat barang dagangan saya yang memang lumayan banyak.. "Kamu serius banget ya jualannya. Pasti modalnya gede."

Saya cuma nyengir aja.

Banyak orang berpikir untuk buka usaha pasti butuh modal uang dalam jumlah besar. Tapi kalau buat saya, uang bukan segala-galanya, cuma salah satu faktor yang dibutuhkan untuk membuka usaha. Orang bisa saja punya banyak sekali uang tapi belum tentu kepikiran, bisa atau berani buka usaha. Sebaliknya orang yang cuma punya uang pas-pasan atau bahkan nggak punya sama sekali, justru mungkin bisa bikin usaha dengan modal lain; kreatif, punya kemampuan, jeli melihat peluang, berani mengambil resiko, dan punya hubungan baik dengan banyak orang.

Awal bikin majalah, bisa dibilang saya sama sekali nggak punya modal uang. Saya cuma punya ide, sedikit-sedikit tau cara menjalankan usaha majalah, yakin kalau saya mampu, dan berani mencoba. Saya menceritakan ide saya ke bekas bos saya, dia percaya dan tertarik untuk memodali tapi sama sekali nggak campur tangan dalam menjalankan usaha. Akhirnya, sepeser pun saya nggak keluar uang. Waktu usaha berjalan dan uang berputar, saya memakai hasil keuntungan usaha itu untuk membuat majalah baru, lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya punya 4 majalah. Sebagian uang saya investasikan dalam bentuk rumah karena saya 'penggemar berat' rumah dan yakin banget menabung dalam bentuk rumah nggak ada rugi-ruginya sama sekali (harga naik terus, bisa dijadikan tempat tinggal/tempat usaha, dan kalau lagi butuh uang bisa dijadikan agunan untuk pinjam uang ke bank).

Selama menjalankan usaha penerbitan dan distribusi majalah, saya berteman dengan banyak orang (kebanyakan musisi, distributor alat musik, pemilik toko alat musik, pemilik pabrik alat musik, atau kerja di tempat yang berhubungan dengan alat musik). Awalnya kami kenal memang karena pekerjaan, tapi di luar itu saya berusaha tetap menjaga hubungan baik. Makan siang bareng, saling mengunjungi, ledek2an di facebook, berbagi cerita yang saling memberi inspirasi, atau membantu sebisa mungkin kalau mereka butuh bantuan. Malah ada teman yang kenal gara-gara ia saya tawari pasang iklan di majalah tapi nggak pernah mau. Biarpun nggak ada hubungan kerja sama, tapi secara pribadi saya tetap berteman baik sama orang tersebut. Saya waktu itu nggak berpikir macam-macam, cuma senang punya banyak teman. Ternyata teman-teman itulah yang kemudian membuka jalan saya untuk bikin usaha baru.

Merekalah yang mendorong saya membuka toko alat musik. Dengan suka rela mereka mengirimkan barang-barang untuk didisplay di toko saya tanpa jaminan apa-apa selain kepercayaan antar teman. Saya diberi kemudahan dalam hal pembayaran dan diajari banyak hal tentang seluk beluk berjualan alat musik. Bukan itu saja, mereka juga membantu saya mengenali pasar dan produk-produk yang saya jual; mana barang yang laku dan banyak dicari orang, mana barang yang kurang laku supaya uang saya bisa terus berputar, nggak mandek di barang yang nggak laku-laku..

Untuk usaha toko ini, akhirnya saya memang harus modal uang, tapi nggak banyak banget karena terbantu banyak hal. Tempat usaha sementara saya pakai salah satu rumah saya yang kosong (jadi nggak perlu bayar sewa ruko), barang-barang dagangan sebagian titipan teman, promosinya pasang iklan di majalah musik yang saya punya (di majalah komunitas Bintaro Jaya juga sih, tapi ambil paket yang murah2), teman-teman musisi bantu promosi dari mulut ke mulut, dan sisanya saya kerja keras lagi dari awal. Mulai dari belanja barang, ngangkat2 barang dari mobil ke toko, nyusun display, jaga toko, ngelap2in barang dagangan semua saya lakukan berdua suami. Belom mampu menggaji karyawan sih.. :D (Saya memang selalu memisahkan uang di usaha yang satu dengan yang lain. Jadi, biarpun majalah punya cukup banyak uang, saya nggak mau mengutak-atik untuk memodali usaha toko musik ini)

Saya sama sekali nggak bermaksud pamer atau menyombongkan diri. Saya cuma ingin berbagi pengalaman kalau untuk bikin usaha sendiri nggak selalu harus modal uang dalam jumlah besar. Uang memang penting, tapi banyak faktor lain yang jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha.

Senin, 12 Oktober 2009

MEMBUKA TOKO ALAT MUSIK



Setelah 7 tahun mengelola 4 majalah musik, sekarang saya membuat lompatan kecil dengan melebarkan sayap usaha ke penjualan alat-alat musik. Nggak jauh-jauh dari musik, sebetulnya. Tapi tantangannya beda. Dan karena masih baru, saya jadi masih harus banyak belajar dan 'meraba-raba'. Justru di situ serunya.

Saya mengawali usaha baru ini dengan cara yang unik. Tanggal 15-16 Agustus 2009 lalu saya iseng-iseng sewa stand di bazzar 17 Agustusan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Nah, kalau ibu-ibu lain pada jualan kue-kue, tas, baju, kerudung, somay, bakso, es jus, dan sejenisnya, saya dengan nekatnya jualan ALAT MUSIK! Iya, alat musik beneran, bukan main-mainan. Ada gitar akustik, gitar elektrik, bass, ampli gitar, ampli bass, ampli keyboard, drum, dll.

Padahal awalnya suami ragu jualan alat musik di bazzar komplek.
"Itu kan cuma bazzar komplek, yang dateng paling juga cuma orang-orang komplek sini," katanya.
"Ya biarin aja. Kan nggak ada ruginya. Bayar stand cuma Rp 125 ribu untuk 2 hari ini. Kalau nggak laku ya udah. Paling nggak kan kita udah nyoba dan orang2 jadi tahu kalo kita jualan alat musik," sahut saya.

Kebetulan di kantor ada beberapa gitar, bass, efek gitar, dan ampli berbagai merk yang dipinjamkan oleh distributor2 alat musik rekanan saya untuk ditulis di majalah. Sebelumnya saya minta ijin dulu ke mereka, boleh nggak barangnya saya jualin dan kalau boleh berapa diskon yang saya dapat? Jawaban mereka seragam, "Boleh dong... Kalau mau, besok dikirimin barang lagi biar dagangannya banyak..." Tak lupa, 1 set drum milik Hugo di rumah juga ikut saya display di stand kami yang mungil banget, ukurannya cuma 1,5 x 3 m.

Sayangnya, moment 17-an kali ini jatuh di long weekend, jadi banyak warga komplek yang keluar kota. Jadi bazzar relatif sepi, nggak seramai tahun kemaren. Tapi ternyata dagangan saya ada yang laku juga lho.. Nggak banyak sih, cuma 1 gitar elektrik, 1 ampli gitar, 1 set drum (berhubung yang didisplay punya Hugo, saya pesan dulu ke distributornya dan baru 3 hari kemudian barang diantar ke pembeli), 2 stick drum, dan 5 majalah. Tapi buat saya itu lumayan banget dan nambah semangat untuk serius terjun ke bisnis ini.


Bersyukur banget, setelah sekian lama cuma bisa bermimpi pengen punya toko alat musik, akhirnya saya dibukakan jalan untuk merintis usaha ini. Ajaib memang, setelah sekian lama berpikir kalau jualan alat musik harus punya toko dan modal uang yang cukup, hari itu saya dapat pencerahan kalau sebetulnya modal terpenting bukan toko atau uang dalam jumlah banyak. Saya punya jaringan, punya banyak kenalan, pengalaman, dan sedikit-sedikit tahu seluk beluk berjualan (selama ini kan juga jualan majalah). Tunggu apa lagi?

Saya juga merasa sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang hebat yang memberi banyak inspirasi. Orang-orang baik yang nggak pelit berbagi ilmu dan pengalaman, juga tanpa ragu membukakan jalan. Saya nggak terlalu peduli seperti apapun hasil dari usaha yang saya rintis sekarang ini karena jauh sebelum saya tahu hasilnya, saya sudah sangat menikmati proses yang harus saya jalani.