Tampilkan postingan dengan label toko musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label toko musik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Oktober 2010

JANGAN PERNAH MEREMEHKAN UANG KECIL

Suami saya ngomel-ngomel waktu saya memenuhi teras toko dan studio musik saya dengan dagangan yang menurutnya ‘nggak nyambung’. Ih, di sebelah mana nggak nyambungnya? Biasa aja kali kalau di studio musik jualan makanan ringan, minuman dingin, kopi, mie instan, dan sejenisnya.

“Ini toko dan studio musik, bukan warung sembako,” protesnya waktu melihat saya memberi instruksi ke pegawai toko untuk membersihkan etalase kecil yang kami beli di awal-awal buka toko alat musik dulu. Berhubung pernak-pernik alat musik yang kami jual sudah makin banyak dan nggak muat lagi di etalase itu, suami memutuskan membeli etalase baru yang lebih besar. Akibatnya etalase kecil itu sudah beberapa hari dibiarkan menganggur. Sayang kan udah dibeli mahal-mahal?

Saya diam saja, sibuk mengeluarkan aneka snack yang baru saya beli sambil lewat waktu mau berangkat kerja. “Yang kayak gini dijual Rp 3.000-an ya. Kalau yang gini-gini Rp 1.000. Nah, kalau yang ini dijual Rp 500 aja,” ujar saya, menjelaskan harga-harga barang dagangan ke pegawai.

“Tuh, apalagi harganya cuma gopek. Ngeribet-ribetin, bikin capek yang jualan aja. Untungnya pasti nggak seberapa, orang harganya aja cuma lima ratus perak,” Suami mulai protes lagi. Saya cuek aja. Cuma senyum-senyum doang, tapi tetap melanjutkan perjuangan dibantu pegawai yang kayaknya mulai bingung menentukan arah dan tujuan –mau memihak bos yang mana nih, saya atau suami?…^_^

Buat orang lain (bahkan buat suami yang sudah mendampingi saya hampir 10 tahun :p) mungkin apa yang saya lakukan kelihatan kurang kerjaan banget. Ngapain capek-capek jualan snack harga Rp 500, padahal saya punya usaha penerbitan majalah, toko alat musik, dan rental studio yang keuntungannya sudah pasti jauuuh di atas harga snack dan minuman? Apa masih kurang penghasilan dari jual majalah, alat musik, dan menyewakan studio musik? Hehe.. masalahnya bukan di situ. Saya cuma paling nggak bisa menyia-nyiakan peluang, sekecil apa pun itu.

Sejak buka studio rental, saya memang sudah bercita-cita pengen bikin warung kecil-kecilan di halaman studio dan toko yang kebetulan bertempat di satu lokasi (baca; di satu rumah). Saya mikirnya sederhana aja; orang kalau habis latihan atau nunggu giliran main di studio pasti ada aja yang haus, lapar, atau minimal pengen ngemil. Sementara di sekitar studio dan toko saya -yang letaknya di dalam komplek- sama sekali nggak ada warung. Harus jalan dulu kira-kira 100 meter, baru deh nemu mini market. Kalau udah keburu haus, orang pasti malas dong harus jalan jauh dulu cuma untuk beli sebotol minuman dingin. Bawa bekal dari rumah sebelum berangkat latihan band? Ah, kayaknya itu bukan tipikal anak band banget deh.

Tadinya sempat mau beli kulkas sendiri untuk diisiin minuman dingin. Tapi waktu lagi ngantri di dokter gigi, saya ngeliat di tempat praktek dokter gigi langganan saya itu ada kulkas besar bergambar salah satu produk soft drink ternama, sebut saja merknya ‘Colak-Colek’. Iseng-iseng saya nanya ke mbak asisten dokter gigi, gimana sih caranya biar bisa dapat kulkas kayak gitu. Saya lalu dikasih nomer telepon sales ‘Colak-Colek’, dan bukan saya namanya kalau nggak langsung menelepon si sales begitu sampai di rumah..:-p

Ternyata kerja sama yang ditawarkan pihak ‘Colak-Colek’ cukup menguntungkan. Mereka akan meletakkan kulkas di tempat usaha saya, lalu secara berkala akan mengisinya dengan berbagai minuman ringan yang masih satu pabrik sama si ‘Colak-Colek’ itu. Tentunya saya dapat keuntungan dari setiap botol minuman yang berhasil saya jual. Kalau kulkas rusak, bermasalah, atau perlu di-service, tinggal telepon aja, teknisi ‘Colak-Colek’ yang akan mengurusnya. Kulkas hilang juga bukan tanggung jawab saya –sepanjang nggak dengan sengaja saya jual :p- padahal itu kulkas bakal saya taruh di teras rumah (bukan di dalam rumah) biar lebih menggoda iman orang yang datang ke toko saya untuk membeli minuman dingin di dalamnya (kalau diumpetin di dalam rumah, siapa yang tahu saya jualan minuman?).

“Nggak ada, Bu, yang mau iseng nyolong kulkas 2 pintu ini. Berat banget.. lagian bisa keburu kepergok satpam kalau nekat gotong-gotong barang segede ini..” ujar sales ‘Colak-Colek’ yang kebetulan namanya sama dengan salah seorang pegawai toko saya *informasi nggak penting * :-D.

Enak kaaan… nggak perlu beli kulkas? Keuntungan lain, saya nggak perlu repot-repot belanja minuman setiap kali stock menipis. Kan sales ‘Colak-Colek’ akan rutin berkunjung untuk mengecek dan mengisi kulkas titipannya itu. Memang sih harus bayar di muka untuk setiap minuman yang diisikan ke kulkas. Tapi kan sama aja, punya kulkas sendiri juga saya harus modalin isinya duluan. Plus modalin buat beli kulkasnya lagi!

Minuman udah ada, saya mulai celamitan jualan snack dan teman-temannya. Mungkin ada yang mikir, ‘Semangat amat jualan gitu doang. Emang berapa sih untungnya?’ Jangan salah. Untungnya mungkin memang nggak seberapa. Tapi saya berprinsip jangan pernah meremehkan uang kecil. Keuntungan jual minuman 1 botolnya kurang lebih Rp 1.000, misalnya. Kalau sehari rata-rata laku 15 botol, kan sudah dapat keuntungan Rp 15.000 tuh. Sebulan total keuntungan jadi Rp 450.000. Lumayan kan buat tambah-tambah bayar listrik atau telepon? Padahal kalau toko dan studio rame, pasti penjualannya bisa lebih dari 15 botol. Kalo nggak rame? Idih, kok belom-belom udah mikir jeleknya duluan sih… Harus yakin dan optimis dong kalau mau usaha! ^_^

Begitu juga jual snack. Mungkin saya cuma dapat keuntungan beberapa ratus rupiah untuk 1 bungkus snack yang terjual (kalau yang harganya Rp 500, keuntungannya malah cuma beberapa puluh rupiah). Tapi kalau sehari bisa laku banyak kan tetep aja judulnya uang masuk. Saya percaya, sesedikit apa pun uang, kalau dikumpulkan dengan tekun pasti lama-lama jadi banyak. Saya sudah membuktikannya kok.

Di awal-awal terbit, dua majalah saya, Mr. G dan G2 saya jual seharga Rp 3.000. Rabat yang saya kasih ke agen rata-rata 30%, berarti saya tinggal mengantongi Rp 2.100 per majalah. Itu belum dipotong biaya produksi, operasional kantor, gaji karyawan, dan masih menanggung resiko barang retur kalau nggak laku. Bersih-bersihnya, keuntungan saya nggak nyampe lima ratus rupiah per majalah yang laku terjual. Tipis banget kan? Tapi dengan tekun mengumpulkan keuntungan yang nggak seberapa itu, ternyata saya bisa juga tuh beli beberapa rumah dan mobil. Jadi sekali lagi, jangan pernah meremehkan uang kecil karena kalau dikumpul-kumpulkan uang kecil bisa juga jadi besar.

Lagipula terlepas dari berapa pun keuntungannya, jualan snack dan minuman itu sebetulnya cuma nilai tambah untuk toko dan studio musik saya. Pelanggan yang datang ke toko dan studio nggak perlu repot-repot lari ke mini market terdekat cuma untuk beli minum (begitu balik lagi ke studio untuk nerusin latihan, keburu udah haus lagi :-D). Untuk itu toh saya juga nggak harus mengeluarkan usaha ekstra keras. Pembeli warung bisa dilayani oleh pegawai toko atau studio karena nggak setiap saat mereka melayani pembeli alat musik atau penyewa studio. Belanja barang dagangan juga bisa saya lakukan sambil lewat waktu mau berangkat ke toko.

Kalau yang beli makin rame bisa keteteran dong warungnya? Ya, kalau memang nantinya warung saya ramenya nggak karuan, sampai nggak tertangani lagi sama pegawai toko dan studio, berarti keuntungannya juga udah lebih banyak lagi dong.. Tinggal tambah aja pegawai khusus untuk melayani warung, beres deh.. :-)

Lama-lama, setelah melihat ada juga orang yang tergoda beli dagangan saya, suami mulai bisa menerima kenyataan dan pasrah membiarkan saya jualan barang yang menurutnya ‘nggak nyambung’ itu. “Nggak sekalian jualan sabun sama shampoo? Kali-kali aja ada orang abis beli gitar jadi pengen keramas.” Dia mulai bisa ngeledekin saya. “Asal jangan nekat jualan pembalut wanita lho!” ancamnya. Hahaha..

Senin, 25 Januari 2010

SAAT YANG TEPAT

Satu hal besar yang saya lakukan di penghujung tahun 2009 adalah memutuskan memindahkan kantor dan toko saya ke tempat baru. Selama ini kantor redaksi Majalah GitarPlus, BandMagz, Mr. G dan G2 kan misah sama toko alat musik (GH MUSIC) yang baru saya rintis. Tokonya di Adora Permata Blok B 3 No. 9, kantor redaksi di Jl. Titihan V HF 12 No. 20 (dua-duanya di Komp. Permata Bintaro sektor 9). Nah, mulai 1 Desember 2009 saya jadiin satu deh di tempat yang lebih besar di Jl. Maleo IV JB 3 No. 1. Masih sama-sama di sektor 9 Bintaro sih. Tapi tempat baru ini lebih gampang dijangkau dan dekat sama pusat keramaian.

Keputusan untuk pindah tempat usaha lumayan menyita perhatian, tenaga dan tentunya kantong saya hehe.. Soalnya di Maleo saya kembali jadi kontraktor alias ngontrak rumah orang untuk dijadiin tempat usaha. Kalo Adora dan Titihan kan rumah sendiri, jadi nggak perlu bayar uang kontrak rumah. Nah, begitu pindah ke Maleo saya harus nyiapin uang kontrak langsung untuk 2 tahun karena pemilik rumah nggak mau rumahnya dikontrak cuma setahun, padahal saya sudah terlanjur jatuh cinta sama rumah itu.

Selain posisinya bagus *dekat jalan raya*, rumah ini juga cukup luas untuk menampung semua kegiatan usaha saya. Jadi, toko sama kantor redaksi bisa dijadiin satu biar saya bisa lebih gampang mengawasi kedua usaha saya. Lagipula juga lebih efisien, untuk sementara nggak perlu menambah karyawan baru khusus untuk jaga toko. Kan tiap hari saya sama suami memang datang ke kantor. Sambil mengurusi majalah, kami bisa gantian melayani pembeli yang datang karena pekerjaan saya dan suami di majalah sudah nggak begitu ribet, sebagian besar sudah dipegang karyawan.

Keputusan untuk pindah tempat usaha ini saya ambil karena di tempat lama (Adora) usaha toko alat musik saya kurang jalan. Pembeli yang datang ke toko sedikit banget, belum tentu semuanya bertransaksi lagi. Strategi 'jemput bola' dengan ikut berbagai pameran untuk lebih meningkatkan penjualan yang saya coba lakukan ternyata kurang berhasil. Daripada uang habis cuma untuk bolak-balik bayar sewa stand seminggu-dua minggu, mendingan sekalian saja saya sewa tempat di tempat ramai. Harus bayar sewa, tapi kan bisa buat 2 tahun sekalian. Terus rumah Adora dan Titihan diapain? Saya sewain dong.. Dan ternyata hasil dari menyewakan rumah Adora dan Titihan cukup untuk membayar sewa rumah di Maleo dan masih ada lebihnya! (Soalnya rumah di Adora dan Titihan terletak di dalam cluster dengan lingkungan lebih bagus dan fasilitas lebih lengkap daripada di Maleo).

Setelah pindah ke Maleo, toko alat musik saya pelan-pelan mulai 'menggeliat'. Nggak tahu karena posisinya yang lebih gampang dijangkau atau promosi gencar yang saya lakukan selama ini mulai kelihatan hasilnya, sekarang ini toko mulai sering kedatangan pembeli. Omzet sih masih naik turun, tapi paling nggak saya sudah nggak pusing melihat toko sunyi senyap kayak waktu masih di Adora. Tahu begitu kenapa nggak dari dulu-dulu saya pindah tempat usaha? Berarti memang sekaranglah saat yang tepat. Dulu-dulu mungkin saya belum siap, belum kepikiran atau jalan ke arah itu memang belum ada.

Saya percaya, setiap usaha pasti ada hasilnya. Kadang memang nggak langsung kelihatan; ada proses yang harus kita lewati sebelum kita memperoleh yang kita harapkan. Dan untuk itu, selain harus tekun berusaha dan selalu siap dengan alternatif strategi baru setiap kali menemukan jalan buntu, kita juga harus yakin kalau apa yang kita impikan pasti akan terwujud pada saat yang tepat.

Jumat, 22 Januari 2010

SENGSARANYA JADI PENGUSAHA :-D

Akhirnya, sampailah saya pada masa-masa perjuangan yang sesungguhnya..

Masa-masa 'bulan madu' toko alat musik saya pelan-pelan mulai lewat. Setelah sukses jualan di bazzar Bank Permata seperti yang saya ceritakan di postingan saya sebelumnya, saya bermaksud mengulang sukses yang sama dengan ikutan bazzar di tempat lain; di Bintaro Plaza dan Balai Kartini. Ternyata bener kata pepatah, 'lain ladang lain belalang', di Permata saya boleh laris manis, di 2 bazzar yang saya ikuti kemudian ternyata penjualan jeblok! Boro-boro untung, yang ada saya malah nombok untuk biaya sewa stand dan biaya operasional selama pameran. Rugi banget2! *untuk menggambarkan betapa ruginya saya.. :p*

Tapi saya nggak kapok. Saya malah ketagihan untuk ikut bazzar lagi dengan strategi baru. Dari hasil evaluasi, pameran di Bintaro Plaza dan Balai Kartini, ternyata posisi menentukan prestasi *emang mau ujian* :-D Maksudnya, posisi stand menentukan penjualan. Kalau stand-nya 'ngumpet' di bagian belakang pameran, pastinya nggak langsung keliatan sama pengunjung. Maka, waktu ikut pameran di tempat lain, saya nekad ambil posisi di depan meski untuk itu saya harus bayar sewa stand jauh lebih mahal. Apakah saya jadi berhasil menjual lebih banyak alat musik? TERNYATA NGGAK JUGA! Lagi-lagi saya nombok. Rugi.. rugi.. dan rugi lagi..

Dari awal saya sadar, orang dagang nggak selalu untung. Tapi kalau terus-terusan rugi, lama-lama bisa bangkrut dong.. Saya harus segera memikirkan strategi baru biar usaha saya jalan, alat musik yang saya jual banyak yang beli, dan uang bisa berputar. Inilah 'sengsaranya' jadi pengusaha. Setiap saat saya 'dipaksa' terus berpikir untuk kelangsungan usaha. Kadang sampai nggak bisa istirahat karena harus membuat keputusan yang nggak cuma tepat, tapi juga harus cepat sebelum bangkrut beneran. Tapi saya sudah mengambil pilihan ini lengkap dengan segala resikonya. Jadi ya dijalani saja.

Saya justru bersyukur karena saya jatuh bangun pada saat usaha saya baru mulai. Pada saat saya masih di bawah. Berbagai pengalaman kebanting-banting ini justru menempa saya untuk lebih kuat, lebih tangguh, lebih siap menghadapi berbagai kondisi terburuk yang bisa setiap saat menghadang di depan mata waktu saya belum terlalu berada di atas. Jatuh juga sakitnya nggak seberapa. Coba kalau sudah terlanjur di atas baru jatuh, kan sakitnya luar biasa..

Kamis, 29 Oktober 2009

MENTAL PENGUSAHA

Waktu memutuskan jadi pengusaha, saya sadar banget kalau salah satu hal penting yang harus saya punya adalah mental sekuat baja. Saya harus tahan banting dan nggak boleh gampang menyerah, harus rada nekat dan juga bermuka tembok. Buat saya jadi pengusaha itu menyenangkan sekaligus menyeramkan, kayak naik Kora-Kora di Dufan. Lagi enak-enak di puncak, tiba-tiba meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi. Belum hilang kagetnya, tahu-tahu udah 'dilempar' ke atas lagi. Deg-degannya bikin saya ngeri-ngeri sedap. Bedanya; kalau naik Kora-Kora ayunannya jelas dan bisa ditebak. Setelah ke atas pasti ke bawah, begitu juga sebaliknya. Sementara kalau menjalankan usaha, kita nggak tahu apa yang bakal terjadi di depan mata. Habis diayun ke atas saya bisa aja naik lebih ke atas lagi. Tapi bisa juga habis diayun ke bawah, bukannya naik saya malah tambah nyungsep. Di situlah mental saya diuji.

Dulu waktu pertama-tama jadi pengusaha, saya suka nangis-nangis bombay kalau usaha saya rugi, ditipu orang, atau terseok-seok karena belom ketemu celahnya Apalagi kalau sampai terancam bangkrut, waduh.. saya bisa cepet kurus gara-gara mendadak nggak doyan makan dan susah tidur. Tapi pengalaman menempa dan mengajari saya untuk lebih tegar dan pasrah menghadapi apa pun yang terjadi. Soalnya ternyata saya cuma bisa berusaha sebaik-baiknya, tapi segala sesuatunya udah diatur sama si Bos penguasa alam.

Peristiwa yang saya alami minggu lalu, misalnya. Pagi-pagi saya ditelepon orang dari sebuah advertising agency. Ia minta dibuatkan penawaran karena kliennya pengen pasang iklan di salah satu majalah saya. Nggak tanggung-tanggung, pasang iklan beberapa halaman sekaligus. Saya langsung semangat. Wah, bakal dapet tangkapan besar nih..

Setelah beberapa kali telepon dan email-emailan, akhirnya saya dapet kabar kalau penawaran saya udah di-approve sama kliennya. Malam-malam waktu saya udah pulang, orang advertising itu ngefaks surat persetujuan pemasangan iklan ke kantor saya dan minta saya tanda tangan lalu ngefaks balik ke kantornya malam itu juga. Saya langsung joged-joged india saking senengnya. Malam itu juga saya bela-belain balik ke kantor dengan riang gembira. Nilai iklannya memang 'cuma' beberapa puluh juta rupiah *nggak sampe miliaran* tapi buat saya luar biasa.

Paginya saya berangkat ke kantor dengan hati berbunga-bunga. Sampai di kantor, saya disambut berita duka; pemasangan iklan dibatalkan dengan semena-mena. Alasannya, klien mendadak memutuskan untuk memangkas budget promo di media. Tragis banget kan? Cuma dalam beberapa jam saya 'kehilangan' puluhan juta rupiah yang udah hampiiiir... banget jadi milik saya. Tadinya saya masih ngotot mengusahakan biar kerja sama itu nggak batal, tapi ternyata percuma. Ya udah, akhirnya saya cuma bisa pasrah. Berarti bukan rejeki saya.

Kecewakah saya? Sejujurnya, iya. Mana ada sih orang yang malah sorak-sorak bergembira waktu uang yang udah di depan mata tiba-tiba lepas gitu aja? Tapi saya nggak kecewa berlama-lama. Sebentar kemudian saya udah ketawa-ketawa dan kerja lagi seperti biasa. Yang udah lewat ya udah biarin aja. Dipikirin terus juga nggak ada gunanya. Bisa-bisa malah bikin saya gila.. :p

Pengalaman lain, masih baru banget nih, waktu jualan alat musik di bazzar Bank Permata seperti yang saya ceritain di tulisan saya sebelumnya. Hari pertama sampai kelima, dagangan saya laris manis diserbu pembeli. Saya udah ge-er setengah mati, di hari terakhir bazzar (Sabtu, 24 Okt '09) yang merupakan acara puncak, pasti penjualan meningkat pesat. Hari sebelumnya suami sampe bela-belain belanja banyak barang lagi karena takut kehabisan stock. Beneran deh, hari Sabtunya, pagi-pagi gitar dagangan saya udah laku 2 biji. Pengunjung lagi seru-serunya ngerubutin stand saya, eh tiba-tiba turun hujan angin dereeees banget. Sialnya, panitia acara ternyata nggak mengantisipasi kondisi ini. Atap tenda saya bocor merata, sementara dari arah samping air mengalir membanjiri lantai stand Saya, suami dan karyawan kami langsung kalang kabut menyelamatkan barang dagangan. Gitar, bass, ampli, drum.. itu kan barang-barang yang nggak bisa kena air semua! Saya bisa rugi besar kalo barang dagangan saya sampe kebasahan. Dibantu seorang pembeli yang baik hati dan mas-mas penjaga stand sebelah, saya akhirnya berhasil memindahkan barang dagangan ke tempat yang aman. Tapi ada satu ampli -kebetulan yang mahal lagi- terlanjur basah karena nggak keburu diselamatkan. Bukannya untung, saya malah terancam rugi. Apalagi bazzar mendadak sepi karena pengunjung langsung bubar.

Tapi saya dan suami nggak lama-lama 'meratapi nasib'. Waktu hujan berhenti, pelan-pelan dibantu karyawan kami mengelap satu per satu barang dagangan yang basah lalu memajangnya lagi di stand yang porak poranda. Pengunjung belum bubar semua kok. Masih ada satu dua yang mondar-mandir. Siapa tahu ada yang 'khilaf' mampir ke stand kami.. :)

Bener aja, dalam kondisi serba darurat ternyata masih ada beberapa transaksi terjadi. Padahal pembeli udah nggak bisa nyobain gitar, bass, dan ampli yang mau mereka beli karena waktu hujan tadi listrik diputus sama panitia. Yang ajaib, ada seorang pengunjung awalnya cuma iseng-iseng nyobain gitar akustik seharga Rp 600 ribu. Dia nawar nggak saya kasih karena keuntungannya memang tipis banget. Tau-tau dia ngelirik gitar listrik seharga Rp 2,5 juta, eh nggak pake nawar, nggak pake nyobain langsung beli tuh gitar. Penjualan hari itu memang nggak sebesar yang saya perkirakan, tapi lumayanlah.. Saya masih beruntung dibandingkan beberapa stand lain yang cuma bisa gigit jari karena hampir nggak ada pembeli.

Menjelang pulang, tiba-tiba saya didatangi bapak-bapak dari koperasi karyawan Bank Permata. Rupanya si bapak memperhatikan pengunjung yang antusias ngerubutin stand saya lalu menawarkan kerja sama. Saya boleh memajang barang dagangan atau sekedar meletakkan brosur di koperasi, nanti kalau ada karyawan yang tertarik bisa membeli dengan memanfaatkan fasilitas cicilan yang disediakan koperasi. Senin (26 Okt '09) ini saya ditunggu di kantor si bapak untuk ngomongin kontraknya.

Wah, saya seneng banget! Kemaren-kemaren salah satu kendala di toko saya adalah orang nggak bisa beli barang dengan cara kredit. Padahal nggak semua orang siap bayar tunai waktu mau beli barang berharga jutaan. Dengan adanya kerja sama ini, paling nggak karyawan Bank Permata yang naksir barang dagangan saya bisa bayar dengan cara kredit.

Ini nih yang namanya ada anugerah di balik musibah... :-D

Minggu, 25 Oktober 2009

AYO, BIKIN USAHA SENDIRI!

Judulnya udah kayak seminar wirausaha aja nih.. :-D

Kalo belakangan ini saya sering posting tulisan-tulisan tentang usaha saya, suwer sekewer-kewer bukan maksud saya pengen pamer apalagi sombong. Saya cuma sekedar bikin catatan biar setelah tua nanti bisa mengingat cerita-cerita jatuh bangunnya saya merintis usaha. Syukur-syukur ada temen yang terinspirasi & ketularan berani memulai usaha sendiri juga gara-gara baca cerita saya.. :D

Soalnya saya juga gitu. Saya nggak berasal dari keluarga pengusaha. Papa, kakak, adik, ipar, dan sodara-sodara saya orang kantoran semua. Awalnya saya cuma suka merhatiin orang-orang yang mengelola usaha sendiri & kagum denger cerita-cerita tentang perjuangan mereka memulai usaha. Banyak usaha besar yang dimulai dari sesuatu yang sederhana. Jual makanan pake gerobak di pinggir jalan, akhirnya bisa punya beberapa restoran. Cuma modal 4 lusin kaos anak-anak yang disablon lucu-lucu & rajin ikut bazzar dimana2-mana, sekarang pesenan dateng dari seluruh Indonesia. Rajin 'mempengaruhi' orang untuk gabung & ikut menjalankan sistem di jaringan usahanya, ia jadi punya penghasilan besar, mobil bagus, dan kesempatan jalan-jalan gratis keluar negeri *halooo.. temen2 oriflame! saya kagum loh sama perjuangan kalian.. :)* Dan masih banyak contoh lain yang nggak mungkin saya sebutin satu per satu di sini. Nggak semua punya modal besar. Tapi mereka bisa sukses menjalankan usahanya, meskipun ukuran sukses untuk tiap orang tentunya berbeda-beda.

Saya sering prihatin ngeliat orang-orang di sekitar saya yang pusing tujuh keliling dua belas putaran gara-gara nggak punya pekerjaan tetap. Bolak-balik ngelamar kerja belum diterima2-terima, padahal ia sarjana lulusan perguruan tinggi terkemuka. Kesalahannya, dari kecil mind set kita udah dibentuk sedemikian rupa bahwa kita harus sekolah setinggi-tingginya biar setelah lulus bisa diterima bekerja. Kita nggak pernah dididik dan diarahkan untuk berwirausaha. Jadi kalo setamat kuliah nggak dapet-dapet kerja (atau pernah kerja tapi kena PHK) bingung deh mau ngapain. Yang lebih 'mengharukan', masih banyak orang tua yang lebih tenang kalau ngeliat anaknya kerja kantoran daripada tersuruk-suruk merintis usaha sendiri. Berasanya kerja kantoran tuh lebih aman, lebih mapan, dan lebih membanggakan. Begitu usaha berhasil biasanya sih orang tua ikut senang dan bangga juga. Tapi nggak sedikit orang (terutama yang nggak teguh pendiriannya) udah ragu duluan memulai usaha karena kurang didukung keluarga.

Padahal orang justru bisa punya penghasilan nggak terbatas dengan menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri. Syaratnya memang gampang-gampang susah; harus kreatif, mau bersusah payah, membuang gengsi jauh-jauh, dan sedikit nekat. Masalahnya nggak semua orang mau dan mampu untuk melakukan itu. Yang mau belum tentu mampu, sebaliknya yang mampu belum tentu mau. Tapi kalau menurut saya sebetulnya yang penting mau dulu. Kalau kita mau, kita pasti mampu. Asal kita punya kemauan keras, saya yakin nggak ada pekerjaan yang nggak mampu kita atasi. Yuk, rame2 bikin usaha sendiri! :-)

Jumat, 23 Oktober 2009

SELANGKAH LEBIH MAJU

Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Itu pepatah bener banget loh.. Saya mau bersusah payah & panas-panasan dagang alat musik di bazzar yang digelar di pelataran parkir kantor pusat Bank Permata di Bintaro sektor 7, ternyata dari situ saya dapet jalan untuk melancarkan usaha..

Padahal keputusan saya untuk jualan alat musik di bazzar itu sempet bikin beberapa kenalan 'terharu'. Hari pertama jualan, teman kuliah suami yang ternyata kerja di bank itu (dan tahu kalau kami punya majalah) sampe mengira bisnis majalah kami bangkrut waktu ngeliat kami berdua jualan gitar. "Majalah lu nggak jalan ya? Nggak terbit lagi?" tanyanya dengan wajah iba. Kami cengar-cengir aja. Kalo ada peluang yang menguntungkan, kenapa nggak dicoba? Nggak harus nunggu usaha yang lama bangkrut dulu dong untuk melirik peluang baru... Saya sama sekali nggak mikirin gengsi. Yang penting apa yang saya lakukan nggak ngerugiin orang lain. Perkara orang jadi punya penilaian lain tentang saya, itu mah urusan mereka.

Nggak terasa udah 4 hari saya jadi 'pedagang asongan'. Hasilnya menggembirakan. dan bikin semangat makin membara (kayak mau perang aja.. :D). Hari pertama aja keuntungan hasil penjualan udah bisa buat nutup biaya sewa stand. dan biaya operasional. Hari kedua penjualan meningkat. Suami sampe bela-belain 2 kali pp ke Bandung buat belanja karena kehabisan stock beberapa barang dagangan. Nggak nyangka, jualan alat musik bisa laris manis begini.. :-)

Tiap hari stand saya rame banget dikerubutin karyawan Bank Permata yang ternyata banyak yang hobi ngeband. Saya sampe perlu menurunkan bala bantuan (karyawan majalah saya) untuk ikut jaga stand. Kewalahan banget soalnya. Kalo lagi rame2nya pengunjung, (biasanya pas jam makan siang) saya mau minum aja sampe nggak sempat! Ada aja yang nanya2, pengen nyobain gitar, bass atau ampli, dan melakukan transaksi. Lucunya, kalo ada yang beli biasanya dia bakal ngomporin temen-temennya untuk ikutan beli. Kebanyakan pembelinya bapak-bapak, tapi ada juga ibu-ibu yang ikut nimbrung. Ternyata bapak-bapak kalo lagi kalap belanja 'mengerikan' juga loh. Ada yang nekat borong gitar, bass, ampli gitar, ampli bass & besoknya masih mondar-mandir di stand saya karena naksir drum!

Masih ada sisa 2 hari lagi untuk jualan di bazzar ini. Harus siap-siap nih, kabarnya Sabtu, 24 Okt ini seluruh karyawan Bank Permata se-Jabodetabek beserta keluarganya bakal tumplek semua di situ karena ada acara Fun Day yang ada panggung musiknya. Saya optimis penjualan alat musik saya bakal meningkat pesat di hari itu. Untung kemaren saya mau nyoba dagang di sini. Kalo saya diem2 aja cari aman jualan di toko, yakin banget barang yang laku nggak bakal sedahsyat ini. Saya juga nggak akan pernah tau kalo bazzar seperti ini bisa mendongkrak penjualan sekaligus membuka jalan saya untuk selangkah lebih maju dalam menekuni usaha yang masih relatif baru. Dikit-dikit mulai ketemu celahnya nih..

Saya kebantu banget karena acara ini di-support penuh sama koperasi karyawan bank permata. Jadi, karyawan bank yg tertarik beli alat musik saya nggak perlu bayar tunai Cukup ngisi formulir yg disedian koperasi, mereka bisa nyicil alat musik sampe 12x dengan sistem potong gaji. Sama pihak koperasi, barang-barang yang dibeli karyawan langsung dibayar lunas ke saya. Bener kan, kalo ada kemauan pasti deh adaaa aja jalannya..

Kamis, 22 Oktober 2009

TANTANGAN PERTAMA

Di postingan sebelumnya, saya sudah perna cerita kalau sekarang saya nyoba bikin usaha baru; buka toko alat musik. Dulu saya pikir tantangan terberat buka usaha baru adalah keberanian memulainya. Berdasarkan pengalaman, untuk mulai usaha sendiri kita memang harus rada nekat dan berani keluar dari pakem-pakem standar, tapi tentunya tetap harus penuh perhitungan. Saya sudah pernah mengalami tahapan itu, jadi seharusnya nggak ada masalah dong. Dengan penuh percaya diri, saya pun terjun memulai bisnis baru ini. Hajaaar! :D

Tapi bisnis majalah sama bisnis toko alat musik ternyata beda banget. Tempat usaha sudah ada, barang yang dijual sudah tersedia, brosur promosi sudah disebar, iklan pun sudah dipasang di beberapa majalah yang saya anggap tepat sasaran. Semua beres kan? Seharusnya, toko saya mulai ramai didatangai pembeli dan penjualan meningkat. Tapi ternyata nggak.

Beberapa hari setelah brosur tersebar & iklan muncul di majalah, memang mulai banyak orang menelepon sekedar nanya merk-merk apa aja yang dijual atau minta petunjuk jalan menuju toko. Ada 1-2 orang yang bertransaksi, tapi kebanyakan datang cuma untuk lihat2 dulu. Tiga minggu berlalu, omzet toko saya masih jauuuh banget di bawah target yang diharapkan. Apakah saya putus asa? Nggaaak.. saya cuma malu aja sama temen2 yang sudah men-support barang habis2an... :p Kan nggak enak juga kalau barang2 yang mereka titipkan di toko saya nggak laku-laku. Ntar saya dikira nggak serius jualannya.. :)

Saya mulai menghadapi tantangan pertama; ternyata buka toko alat musik bukan cuma perkara jualan barang. Ada tokonya & lengkap barangnya, kalau nggak ada yang beli sama juga bohong. Saya harus memikirkan bagaimana caranya membuat toko dikenal orang, terutama biar barang dagagangan laku. Setelah bertapa di bukit kapur, saya jadi kepikiran mungkin faktor tempat yang bikin orang malas atau bingung mau datang ke toko saya (harus ngelewatin 2 pos satpam gitu loh..) Kalau buka toko di mall atau ruko di pinggir jalan, mungkin orang2 lebih cepat tahu ada toko musik baru. Tapi kalo tokonya nyelusup di dalem komplek perumahan, memang perlu usaha ekstra untuk membuatnya dikenal banyak orang.

Peluang muncul waktu saya dateng ke arisan ibu2 komplek. Di situ saya sempat ngobrol-ngobrol sama seorang ibu yang kerja di Bank Permata. Dia cerita kalo kantornya bakal ngadain acara 'Fun Day' untuk seluruh karyawan Bank Permata Jabodetabek. Acara puncaknya tanggal 24 Oktober '09, tapi sebelumnya akan ada bazzar seminggu penuh di pelataran gedung Bank Permata di Bintaro Jaya sektor 7. Saya langsung nanya2 gimana caranya ikut bazzar itu, dan nggak pake mikir lama, Senin (19/10-09) sampe Sabtu (24/10-09) ini saya sudah terdaftar sebagai salah satu penyewa stand di bazzar itu. Selain jualan, tentunya saya akan bagi-bagi brosur biar orang2 'kenal' toko musik saya...

Bakalan sibuk seminggu ini. Tapi saya menjalaninya dengan senang hati dan penuh semangat! Doain moga-moga dagangan saya laris yaa.. Kalo ada teman2 yang tinggal di sekitar Bintaro (yang tinggalnya jauh juga boleh loh..) lagi butuh alat musik, jangan malu-malu mampir. Nanti saya sambut pake umbul2 dan tari2an deh.. D

Selasa, 13 Oktober 2009

SIAPA BILANG BIKIN USAHA HARUS MODAL BANYAK UANG?

Kemaren sore, ada teman main ke toko saya dan terheran-heran ngeliat barang dagangan saya yang memang lumayan banyak.. "Kamu serius banget ya jualannya. Pasti modalnya gede."

Saya cuma nyengir aja.

Banyak orang berpikir untuk buka usaha pasti butuh modal uang dalam jumlah besar. Tapi kalau buat saya, uang bukan segala-galanya, cuma salah satu faktor yang dibutuhkan untuk membuka usaha. Orang bisa saja punya banyak sekali uang tapi belum tentu kepikiran, bisa atau berani buka usaha. Sebaliknya orang yang cuma punya uang pas-pasan atau bahkan nggak punya sama sekali, justru mungkin bisa bikin usaha dengan modal lain; kreatif, punya kemampuan, jeli melihat peluang, berani mengambil resiko, dan punya hubungan baik dengan banyak orang.

Awal bikin majalah, bisa dibilang saya sama sekali nggak punya modal uang. Saya cuma punya ide, sedikit-sedikit tau cara menjalankan usaha majalah, yakin kalau saya mampu, dan berani mencoba. Saya menceritakan ide saya ke bekas bos saya, dia percaya dan tertarik untuk memodali tapi sama sekali nggak campur tangan dalam menjalankan usaha. Akhirnya, sepeser pun saya nggak keluar uang. Waktu usaha berjalan dan uang berputar, saya memakai hasil keuntungan usaha itu untuk membuat majalah baru, lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya punya 4 majalah. Sebagian uang saya investasikan dalam bentuk rumah karena saya 'penggemar berat' rumah dan yakin banget menabung dalam bentuk rumah nggak ada rugi-ruginya sama sekali (harga naik terus, bisa dijadikan tempat tinggal/tempat usaha, dan kalau lagi butuh uang bisa dijadikan agunan untuk pinjam uang ke bank).

Selama menjalankan usaha penerbitan dan distribusi majalah, saya berteman dengan banyak orang (kebanyakan musisi, distributor alat musik, pemilik toko alat musik, pemilik pabrik alat musik, atau kerja di tempat yang berhubungan dengan alat musik). Awalnya kami kenal memang karena pekerjaan, tapi di luar itu saya berusaha tetap menjaga hubungan baik. Makan siang bareng, saling mengunjungi, ledek2an di facebook, berbagi cerita yang saling memberi inspirasi, atau membantu sebisa mungkin kalau mereka butuh bantuan. Malah ada teman yang kenal gara-gara ia saya tawari pasang iklan di majalah tapi nggak pernah mau. Biarpun nggak ada hubungan kerja sama, tapi secara pribadi saya tetap berteman baik sama orang tersebut. Saya waktu itu nggak berpikir macam-macam, cuma senang punya banyak teman. Ternyata teman-teman itulah yang kemudian membuka jalan saya untuk bikin usaha baru.

Merekalah yang mendorong saya membuka toko alat musik. Dengan suka rela mereka mengirimkan barang-barang untuk didisplay di toko saya tanpa jaminan apa-apa selain kepercayaan antar teman. Saya diberi kemudahan dalam hal pembayaran dan diajari banyak hal tentang seluk beluk berjualan alat musik. Bukan itu saja, mereka juga membantu saya mengenali pasar dan produk-produk yang saya jual; mana barang yang laku dan banyak dicari orang, mana barang yang kurang laku supaya uang saya bisa terus berputar, nggak mandek di barang yang nggak laku-laku..

Untuk usaha toko ini, akhirnya saya memang harus modal uang, tapi nggak banyak banget karena terbantu banyak hal. Tempat usaha sementara saya pakai salah satu rumah saya yang kosong (jadi nggak perlu bayar sewa ruko), barang-barang dagangan sebagian titipan teman, promosinya pasang iklan di majalah musik yang saya punya (di majalah komunitas Bintaro Jaya juga sih, tapi ambil paket yang murah2), teman-teman musisi bantu promosi dari mulut ke mulut, dan sisanya saya kerja keras lagi dari awal. Mulai dari belanja barang, ngangkat2 barang dari mobil ke toko, nyusun display, jaga toko, ngelap2in barang dagangan semua saya lakukan berdua suami. Belom mampu menggaji karyawan sih.. :D (Saya memang selalu memisahkan uang di usaha yang satu dengan yang lain. Jadi, biarpun majalah punya cukup banyak uang, saya nggak mau mengutak-atik untuk memodali usaha toko musik ini)

Saya sama sekali nggak bermaksud pamer atau menyombongkan diri. Saya cuma ingin berbagi pengalaman kalau untuk bikin usaha sendiri nggak selalu harus modal uang dalam jumlah besar. Uang memang penting, tapi banyak faktor lain yang jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha.

Senin, 12 Oktober 2009

MEMBUKA TOKO ALAT MUSIK



Setelah 7 tahun mengelola 4 majalah musik, sekarang saya membuat lompatan kecil dengan melebarkan sayap usaha ke penjualan alat-alat musik. Nggak jauh-jauh dari musik, sebetulnya. Tapi tantangannya beda. Dan karena masih baru, saya jadi masih harus banyak belajar dan 'meraba-raba'. Justru di situ serunya.

Saya mengawali usaha baru ini dengan cara yang unik. Tanggal 15-16 Agustus 2009 lalu saya iseng-iseng sewa stand di bazzar 17 Agustusan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Nah, kalau ibu-ibu lain pada jualan kue-kue, tas, baju, kerudung, somay, bakso, es jus, dan sejenisnya, saya dengan nekatnya jualan ALAT MUSIK! Iya, alat musik beneran, bukan main-mainan. Ada gitar akustik, gitar elektrik, bass, ampli gitar, ampli bass, ampli keyboard, drum, dll.

Padahal awalnya suami ragu jualan alat musik di bazzar komplek.
"Itu kan cuma bazzar komplek, yang dateng paling juga cuma orang-orang komplek sini," katanya.
"Ya biarin aja. Kan nggak ada ruginya. Bayar stand cuma Rp 125 ribu untuk 2 hari ini. Kalau nggak laku ya udah. Paling nggak kan kita udah nyoba dan orang2 jadi tahu kalo kita jualan alat musik," sahut saya.

Kebetulan di kantor ada beberapa gitar, bass, efek gitar, dan ampli berbagai merk yang dipinjamkan oleh distributor2 alat musik rekanan saya untuk ditulis di majalah. Sebelumnya saya minta ijin dulu ke mereka, boleh nggak barangnya saya jualin dan kalau boleh berapa diskon yang saya dapat? Jawaban mereka seragam, "Boleh dong... Kalau mau, besok dikirimin barang lagi biar dagangannya banyak..." Tak lupa, 1 set drum milik Hugo di rumah juga ikut saya display di stand kami yang mungil banget, ukurannya cuma 1,5 x 3 m.

Sayangnya, moment 17-an kali ini jatuh di long weekend, jadi banyak warga komplek yang keluar kota. Jadi bazzar relatif sepi, nggak seramai tahun kemaren. Tapi ternyata dagangan saya ada yang laku juga lho.. Nggak banyak sih, cuma 1 gitar elektrik, 1 ampli gitar, 1 set drum (berhubung yang didisplay punya Hugo, saya pesan dulu ke distributornya dan baru 3 hari kemudian barang diantar ke pembeli), 2 stick drum, dan 5 majalah. Tapi buat saya itu lumayan banget dan nambah semangat untuk serius terjun ke bisnis ini.


Bersyukur banget, setelah sekian lama cuma bisa bermimpi pengen punya toko alat musik, akhirnya saya dibukakan jalan untuk merintis usaha ini. Ajaib memang, setelah sekian lama berpikir kalau jualan alat musik harus punya toko dan modal uang yang cukup, hari itu saya dapat pencerahan kalau sebetulnya modal terpenting bukan toko atau uang dalam jumlah banyak. Saya punya jaringan, punya banyak kenalan, pengalaman, dan sedikit-sedikit tahu seluk beluk berjualan (selama ini kan juga jualan majalah). Tunggu apa lagi?

Saya juga merasa sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang hebat yang memberi banyak inspirasi. Orang-orang baik yang nggak pelit berbagi ilmu dan pengalaman, juga tanpa ragu membukakan jalan. Saya nggak terlalu peduli seperti apapun hasil dari usaha yang saya rintis sekarang ini karena jauh sebelum saya tahu hasilnya, saya sudah sangat menikmati proses yang harus saya jalani.