Menyelenggarakan event Guitar For Fun (GFF) buat saya gampang-gampang susah. Susah karena saya bahkan baru tahu yang namanya kabel RCA setelah seorang gitaris ribut kelupaan membawa kabel itu di salah satu acara saya beberapa bulan yang lalu. Tapi jadi gampang ketika saya memandangnya hanya seperti sedang menyusun sebuah puzzle. Ada beberapa pihak yang harus dikumpulkan, ada beberapa kepentingan yang harus disatukan, ada beberapa kondisi yang harus disesuaikan. Dan tugas saya hanyalah merekat-rekatkan semua bagian itu menjadi sebuah bentuk yang utuh. Pekerjaan saya menjadi lebih mudah karena antara bagian satu dengan yang lain sebetulnya memiliki keterkaitan. Segampang itu? Ya, tergantung mind set kita. Kalau dibikin susah ya susah, dianggap gampang ya memang sebetulnya gampang-gampang aja kok! :)
Buktinya, cuma dengan modal nekat dan yakin, saya sudah berhasil 6 kali bikin GFF di 4 kota yang berbeda; Jakarta, Bandung, Yogya (2 kali), Bali, dan Medan. Di setiap penyelenggaraan GFF, saya selalu melibatkan setidaknya 5 gitaris ternama sebagai bintang tamu. Mereka mempunyai kebutuhan alat musik yang berbeda, sifat serta karakter yang berbeda, dan tentunya harus dihadapi dengan pendekatan yang berbeda-beda juga. Gitaris A yang nggak merokok nggak bisa tidur sekamar dengan perokok, gitaris B yang jadwal manggungnya sangat padat baru bisa datang ke venue mepet-mepet waktu tampil, padahal harus sound check juga, gitaris C harus disapa duluan agar bisa memulai pembicaraan dengannya karena terlalu pendiam, gitaris D nggak bisa telat makan karena mempengaruhi mood-nya, dan lain-lain. Saya nggak terlalu mengerti tentang musik, tapi saya sangat paham kalau setiap orang –termasuk para gitaris yang tampil di acara saya- pasti merasa nyaman kalau diperhatikan dan diperlakukan dengan baik.
Rabu, 1 Juni 2011 lalu saya menggelar GFF di Medan. Itu pertama kalinya saya bikin acara di Medan, meskipun sudah beberapa kali berlibur ke kota ini karena suami saya orang Medan. Wilayah jangkauan saya semakin jauh sekarang. Kalau dulu saya main aman dengan bikin GFF di wilayah Jawa, tahun 2011 ini saya memberanikan diri menyeberang ke luar pulau, yaitu ke Bali (Februari ’11) dan Medan (Juni ’11).
Gitaris yang memeriahkan GFF Medan. Sebetulnya ada juga Gebong, gitaris Medan, yang ikut tampil. Tapi saat foto ini diambil, Gebong mendadak hilang dari peredaran..:p
Bikin acara di kota yang berbeda-beda sudah pasti memberi saya pengalaman dan tantangan yang baru pula. Dan di Medan ini, saya banyak banget dapat pelajaran baru yang belum pernah saya dapat di kota-kota sebelumnya. Salah satunya masalah venue. Kalau biasanya saya selalu memilih café sebagai tempat penyelenggaraan GFF, di Medan –karena berbagai pertimbangan- saya memutuskan mengadakan di Hall Garuda Plaza Hotel. Ini nih yang bikin saya dapet pengalaman seru! Kalau di café kan saya tinggal terima beres karena sound system dan lighting sudah disediakan oleh pihak café. Begitu juga dengan ijin keramaian dan pajak porporasi tiket, semua sudah ada yang mengurus. Nah, begitu saya bikin acara di hall hotel, saya dihadapkan pada satu kenyataan kalau yang saya sewa hanyalah ruangan saja tanpa sound system, sound man dan lighting. Di sinilah ‘kursus singkat’ saya dimulai.
Di Medan, untuk pertama kalinya saya harus mengurus sendiri masalah sound system. Untunglah ada toko musik di Medan, Tango & Brothers Musik, yang bersedia mensupport kebutuhan sound system untuk acara GFF kali ini. Masalah dimulai saat pihak Tango Musik mengajukan pertanyaan sederhana buat saya “Mbak Intan butuh sound system yang seperti apa?”
Nah lho! Saya baru sadar kalau saya nggak tahu sound system berapa ribu watt yang saya butuhkan untuk hall berkapasitas 800 orang itu. Kalau cuma ditanya Coki Netral atau Azis Jamrud pakai ampli apa sih saya tahu. Tapi kebutuhan sound system untuk tempat penyelenggaraan acara? Mixer berapa channel yang harus disediakan? Wah, gelap tuh buat saya!
Firman Alhakim, Inne Tango, & Azis Jamrud di depan stand Brothers Music di GFF Medan
Urusan sound belum beres, saya ketemu masalah baru lagi; lighting. Saat menghubungi rental lighting, lagi-lagi saya ditanya lighting seperti apa yang saya butuhkan untuk acara ini.
“Memang biasanya orang sewa lighting kayak apa, Bang?” Saya malah balik nanya karena, jujur aja, saya nggak bisa membayangkan sama sekali. Saya belum pernah sewa lighting sebelumnya dan bukan orang yang suka memperhatikan tata lampu di acara-acara yang saya buat atau hadiri. Jadi, nggak kebayang sama sekali harus sewa lighting kayak apa untuk acara GFF ini.
“Tergantung tempat dan kebutuhannya, Mbak. Mbak pengennya lighting di venue nanti seperti apa? Pakai moving head dan follow spot nggak? Par-nya mau berapa bar?” Bukannya memberi solusi, si bapak tukang sewa lighting ini malah bikin saya tambah puyeng, Sumpah, yang namanya follow spot kayak apa aja saya nggak ngeh!
Giliran mengurus ijin keramaian, lagi-lagi saya kepentok masalah. Maksud hati pengen cepat beres urusan. Maka, saat pihak security hotel menawarkan untuk membantu mengurus ijin keramaian, saya langsung oke aja. Ada biaya yang harus dikeluarkan, saya bayarkan. Harus ada surat permohonan yang diajukan, ya segera saya siapkan. Ternyata menjelang hari pelaksanaan acara, ijin keramaian belum juga keluar dan ujung-ujungnya saya selaku penanggung jawab acara malah dipanggil ke Poltabes untuk ditanya-tanya tentang acara. Ampun deh, mana diinterogasinya di ruang Kasat Intel pula! Berasa kayak maling ayam ketangkep aja tuh hehe..
Belum lagi masalah pajak tiket. Untuk pertama kalinya, saya mengurus sendiri pajak porporasi ke Dispenda setempat. Saya sempat bingung-bingung pada awalnya karena terus terang ini pengalaman baru buat saya. Tapi semua saya hadapi dengan tenang dan saya anggap sebagai proses belajar yang nggak mungkin bisa saya perolah di sekolah mana pun. Saya selalu yakin, nggak ada masalah yang nggak ada jalan keluarnya. Dan saya bersyukur karena di saat-saat sulit itu biasanya saya justru bertemu dengan orang-orang baik dan kemudahan-kemudahan tak terduga yang membuat saya bisa lolos dengan selamat dari masalah seberat apa pun. Orang menyebutnya keberuntungan, tapi saya melihatnya sebagai rencana Tuhan.
Dengan segala keterbatasan saya, akhirnya GFF Medan bisa terselenggara dengan baik. Sukses dan lancar jaya. Penonton rame, bintang tamunya senang, acara berlangsung aman dan meriah.. Buat saya, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua kelelahan akibat pontang-panting selama persiapan acara. Tuh kan, ternyata masalah dan hambatan sebesar apa pun bisa teratasi asal kita nggak gampang menyerah dan tetap semangat mencapai tujuan yang sudah kita tetapkan di awal? Buktinya saya yang nggak bisa main musik, nggak ngerti soal sound system, lighting, masalah perijinan, pajak dan lain-lain ternyata mampu menyelenggarakan acara yang buat sebagian orang dianggap besar seperti Guitar For Fun. Kepentok-pentok masalah nggak pernah bikin saya kapok, justru bikin saya tambah pinter dan berani mencoba tantangan baru yang lain lagi.
Nah, tantangan berikutnya yang udah nunggu di depan mata adalah bikin GFF di Makassar. Makassar, I’m coming! ^^
(Thanks to Pak Apin, Mbak Inne, dan Bang Flores dari Tango & Brothers Music yang sudah sangat membantu saya di GFF Medan)
Jumat, 01 Juli 2011
Rabu, 29 Juni 2011
SAYA BISA KARENA SAYA BERANI MENCOBA
Hidup saya penuh dengan coba-coba. Dalam keseharian saya, saya senang mencoba melakukan banyak hal baru yang membuat hidup saya berwarna. Hal-hal yang bagi sebagian orang dianggap nekat, ajaib, atau terkesan kurang kerjaan. Hal-hal yang orang lain mungkin nggak ingin atau mungkin nggak kepikiran untuk mencobanya. Saya memang suka mencoba, nggak perduli seperti apa pun hasil dari coba-coba saya. Kalau berhasil saya senang. Kalau gagal? Ya dicoba lagi aja. Saya nggak takut gagal sepanjang masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Saya pernah mencoba membuat acara di sebuah cafe besar dan sangat terkenal. Sebelum bertemu dengan manager cafe itu, beberapa teman sudah mengingatkan saya dengan kalimat yang hampir seragam, "Bikin acara di tempat itu bagus, tapi sewa venue-nya mahal."
Semahal apa? Saya berusaha cari tahu dengan mencoba menemui manager cafe. Saya ingat, waktu itu saya belum membuat janji dan belum pernah mengenal si manager sebelumnya. Kira-kira dia ada di tempat nggak ya? Coba aja ditanya dulu, toh saya sudah berdiri di depan pintu cafe-nya. Kalau ada syukur, nggak ada ya besok coba ditemui lagi. Nggak ada ruginya kok buat saya.
Ternyata manager cafe itu ada di tempat dan bersedia menemui saya meskipun belum ada janji. Dan ternyata, setelah saya menyampaikan maksud saya sambil sedikit bernegosiasi, si manager malah mengijinkan saya mengadakan acara di tempatnya tanpa saya harus mengeluarkan uang untuk sewa tempat. Saya hanya menawarkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak dan tawaran saya sepertinya cukup masuk akal sehingga langsung disambut baik oleh manager cafe. Padahal beberapa teman saya sebelumnya sudah nakut-nakutin duluan kalau pakai tempat di cafe ini mahal. Untung saya berani mencoba!
Saya juga pakai jurus coba-coba waktu akan menerbitkan buku 'Bermain Dengan Uang'. Coba-coba menawarkan naskah ke penerbit, ternyata ditanggapi dengan positif. Waktu buku sudah dalam proses terbit, saya kembali coba-coba meminta endorsement dari beberapa orang yang sudah punya nama, yang sebetulnya nggak saya kenal secara pribadi sebelumnya. Sebagian menolak, bahkan mengangkat telpon dan membalas SMS saya pun nggak mau. Tapi ternyata ada juga tuh yang bersedia mampir ke blog saya dan memberikan komentar positif, seperti yang akhirnya dimuat di buku saya. Untung saya berani mencoba. Kalau nggak dicoba, mana saya tahu bisa apa nggak?
Saya bikin Majalah GitarPlus, GH Music & Studio, Guitar For Fun serta acara-acara yang berhubungan dengan gitar, kursus gitar dan banyak hal lagi, mulainya juga dengan coba-coba. Awalnya saya jelas nggak tahu apakah coba-coba saya akan berhasil atau nggak. Tapi saya memilih untuk mencobanya daripada penasaran setengah mati kalau nggak dicoba sama sekali. Saya nggak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan saya dan apakah saya bisa melakukan sesuatu atau nggak, sebelum saya mencobanya kan?
Saya bisa buka toko alat musik karena coba-coba
Sudah pasti saya nggak selalu berhasil waktu mencoba. Saya pernah, bahkan berkali-kali gagal, ditolak, atau dicuekin. Coba-coba nawarin ke calon klien untuk pasang iklan di majalah saya, ternyata ditolak. Coba-coba merencanakan bikin acara, ternyata gagal. Coba-coba bikin usaha sampingan, ternyata hitung-hitungannya meleset sehingga saya jadi rugi. Coba-coba mengajukan proposal ke sebuah perusahaan, minta sponsor untuk acara yang saya buat, ternyata dicuekin.. Masih banyak kegagalan lain yang pernah saya alami, yang pasti bakal menuh-menuhin tempat kalau saya tulis semuanya di sini. Tapi toh saya nggak kapok. Saya masih berani mencoba meskipun saya tahu nggak selalu berhasil.
Saat mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, saya cuma akan dihadapkan pada 2 kemungkinan; berhasil atau gagal. Kalau berhasil, saya bersyukur karena sudah berani mencoba sehingga saya jadi tahu ternyata saya mampu. Tapi kalau nggak berhasil, ya tinggal dicoba lagi. Semua orang pernah gagal, jadi jangan takut dan malu kalau kita pun sesekali mengalami kegagalan. Banyak temennya gitu loh. Coba, coba, coba dan coba terus melakukan lagi hal yang sama sambil dievaluasi apa penyebab kegagalannya, kalau perlu dengan cara yang berbeda sampai akhirnya kita ketemu celahnya. Kalau masih gagal terus, kita bisa coba belajar dari orang lain yang sudah pernah berhasil melakukannya. Jangan malu bertanya dan meniru ilmunya. Saya percaya, kalau kita terus mencoba melakukan hal yang pernah gagal kita lakukan, suatu saat akan ada jalannya kita bisa berhasil. Tapi kalau nggak pernah dicoba, kita akan tetap di situ-situ aja, nggak akan pernah sampai kemana-mana. Berani mencoba? ^^d
Saya pernah mencoba membuat acara di sebuah cafe besar dan sangat terkenal. Sebelum bertemu dengan manager cafe itu, beberapa teman sudah mengingatkan saya dengan kalimat yang hampir seragam, "Bikin acara di tempat itu bagus, tapi sewa venue-nya mahal."
Semahal apa? Saya berusaha cari tahu dengan mencoba menemui manager cafe. Saya ingat, waktu itu saya belum membuat janji dan belum pernah mengenal si manager sebelumnya. Kira-kira dia ada di tempat nggak ya? Coba aja ditanya dulu, toh saya sudah berdiri di depan pintu cafe-nya. Kalau ada syukur, nggak ada ya besok coba ditemui lagi. Nggak ada ruginya kok buat saya.
Ternyata manager cafe itu ada di tempat dan bersedia menemui saya meskipun belum ada janji. Dan ternyata, setelah saya menyampaikan maksud saya sambil sedikit bernegosiasi, si manager malah mengijinkan saya mengadakan acara di tempatnya tanpa saya harus mengeluarkan uang untuk sewa tempat. Saya hanya menawarkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak dan tawaran saya sepertinya cukup masuk akal sehingga langsung disambut baik oleh manager cafe. Padahal beberapa teman saya sebelumnya sudah nakut-nakutin duluan kalau pakai tempat di cafe ini mahal. Untung saya berani mencoba!
Saya juga pakai jurus coba-coba waktu akan menerbitkan buku 'Bermain Dengan Uang'. Coba-coba menawarkan naskah ke penerbit, ternyata ditanggapi dengan positif. Waktu buku sudah dalam proses terbit, saya kembali coba-coba meminta endorsement dari beberapa orang yang sudah punya nama, yang sebetulnya nggak saya kenal secara pribadi sebelumnya. Sebagian menolak, bahkan mengangkat telpon dan membalas SMS saya pun nggak mau. Tapi ternyata ada juga tuh yang bersedia mampir ke blog saya dan memberikan komentar positif, seperti yang akhirnya dimuat di buku saya. Untung saya berani mencoba. Kalau nggak dicoba, mana saya tahu bisa apa nggak?
Saya bikin Majalah GitarPlus, GH Music & Studio, Guitar For Fun serta acara-acara yang berhubungan dengan gitar, kursus gitar dan banyak hal lagi, mulainya juga dengan coba-coba. Awalnya saya jelas nggak tahu apakah coba-coba saya akan berhasil atau nggak. Tapi saya memilih untuk mencobanya daripada penasaran setengah mati kalau nggak dicoba sama sekali. Saya nggak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan saya dan apakah saya bisa melakukan sesuatu atau nggak, sebelum saya mencobanya kan?
Saya bisa buka toko alat musik karena coba-coba
Sudah pasti saya nggak selalu berhasil waktu mencoba. Saya pernah, bahkan berkali-kali gagal, ditolak, atau dicuekin. Coba-coba nawarin ke calon klien untuk pasang iklan di majalah saya, ternyata ditolak. Coba-coba merencanakan bikin acara, ternyata gagal. Coba-coba bikin usaha sampingan, ternyata hitung-hitungannya meleset sehingga saya jadi rugi. Coba-coba mengajukan proposal ke sebuah perusahaan, minta sponsor untuk acara yang saya buat, ternyata dicuekin.. Masih banyak kegagalan lain yang pernah saya alami, yang pasti bakal menuh-menuhin tempat kalau saya tulis semuanya di sini. Tapi toh saya nggak kapok. Saya masih berani mencoba meskipun saya tahu nggak selalu berhasil.
Saat mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, saya cuma akan dihadapkan pada 2 kemungkinan; berhasil atau gagal. Kalau berhasil, saya bersyukur karena sudah berani mencoba sehingga saya jadi tahu ternyata saya mampu. Tapi kalau nggak berhasil, ya tinggal dicoba lagi. Semua orang pernah gagal, jadi jangan takut dan malu kalau kita pun sesekali mengalami kegagalan. Banyak temennya gitu loh. Coba, coba, coba dan coba terus melakukan lagi hal yang sama sambil dievaluasi apa penyebab kegagalannya, kalau perlu dengan cara yang berbeda sampai akhirnya kita ketemu celahnya. Kalau masih gagal terus, kita bisa coba belajar dari orang lain yang sudah pernah berhasil melakukannya. Jangan malu bertanya dan meniru ilmunya. Saya percaya, kalau kita terus mencoba melakukan hal yang pernah gagal kita lakukan, suatu saat akan ada jalannya kita bisa berhasil. Tapi kalau nggak pernah dicoba, kita akan tetap di situ-situ aja, nggak akan pernah sampai kemana-mana. Berani mencoba? ^^d
Langganan:
Komentar (Atom)