Belakangan ini saya mengamati ada EO (Event Organizer) yang mulai ikutan bikin event gitar di berbagai kota di Indonesia, seperti yang sudah saya mulai dari beberapa tahun lalu. Saya memang kurang kerjaan, belum ada orang bikin event khusus gitar berskala besar yang nggak sekadar menghibur tapi sekaligus mengedukasi (dan belakangan melibatkan komunitas gitar), saya sudah bikin duluan. :p
EO-EO itu sekarang menyelenggarakan event yang lebih besar, dengan kemasan yang lebih bagus daripada yang pernah saya buat. Seorang teman saya bilang, saya jadi punya banyak saingan. Ah, masa kayak gitu dianggap saingan? Waktu saya mulai bikin event gitar tahun 2007 lalu, memang belum ada event khusus gitar dengan konsep seperti yang saya buat. Saya nekat memulainya karena saya ingin gitaris-gitaris Indonesia punya panggung. Saya senang melihat gitaris berkumpul dan saling terhubung.
Waktu ada pihak lain yang ikut bikin event gitar, saya sama sekali nggak menganggap mereka saingan. Saya malah berterima kasih sekali karena dibantu mewujudkan impian. Soalnya, kalau ada semakin banyak event gitar yang dibuat, berarti akan semakin banyak juga panggung untuk para gitaris. Itu sekaligus pasti akan memberi motivasi bagi mereka yang baru mulai tertarik main gitar; capek-capek belajar gitar, ada panggungnya kok untuk mengekspresikan diri. Syukur-syukur jadi profesi. Dan kalau semakin banyak orang yang tertarik main gitar, pasti dunia gitar Indonesia juga akan menjadi lebih hidup dan semarak.
Makanya, kalau EO-EO membuat eventnya lebih bagus dan menarik, saya justru ikut senang karena pasti itu akan membuat dunia gitar Indonesia lebih berwarna. Saya akui, saat ini saya belum mampu bikin event gitar dengan kemasan yang rapi. Event saya rock n roll banget! :D Soalnya saya memang bukan EO, nggak punya pengalaman jadi EO. Beda dengan EO yang sehari-hari kerjaannya memang bikin event. Bisnis saya majalah dan toko musik. Saya bikin event gitar cuma karena tergerak berbuat sesuatu untuk dunia gitar Indonesia. Kebetulan saya mampu bikin event, meskipun kemampuan saya pas-pasan :p
Saya hanya memulai. Yang saya lakukan cuma membuat riak-riak kecil agar komunitas gitar di berbagai kota menggeliat dan punya kegiatan. Tapi saya juga sadar, saya nggak bisa terus-terusaan bikin event di satu kota yang sama karena impian saya menyentuh komunitas gitar di semua kota, semampu saya. Jadi, kalau ada pihak lain -dalam hal ini EO- yang mau ikut peduli menyelenggarakan event gitar di Indonesia, saya senang dan mendukung banget. Saya terbuka diajak berdiskusi dan siap bekerja sama kapan saja. Karena -sekali lagi- tujuan saya bikin event-event gitar adalah untuk memajukan dunia gitar Indonesia. Itu saja.
Tampilkan postingan dengan label pengusaha rock n roll. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengusaha rock n roll. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Mei 2012
Minggu, 06 Mei 2012
APRIL YANG SERU
April 2012 adalah bulan yang luar biasa buat saya. Selama sebulan itu, saya mengalami banyak kejadian seru yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam menjalani hidup, saya memang nggak pernah punya pikiran macam-macam. Dinikmati dan dibiarkan mengalir aja, tapi tentunya tetap punya semangat dan kemauan untuk berusaha menjadi lebih baik, lebih maju.
Kejadian seru di bulan April itu diawali di 1 April 2012. Hari itu, profil saya dimuat 1 halaman penuh di Koran Jakarta, bertepatan dengan ulang tahun suami tercinta. Wawancara dengan wartawan Koran Jakarta sudah dilakukan minggu sebelumnya, pas saya lagi kena flu berat. Tapi untunglah, di foto saya keliatan baik-baik aja. Nggak ketauan kan kalau pas diwawancara dan difoto, saya dalam kondisi nggak sehat? Ini penampakannya..
Dan inilah foto karya Mas Wachyu Ariestya, fotografer Koran Jakarta yang paling saya suka dan saya jadikan foto profil di FB saya :D
Pas lagi mau tidur, 9 April 2012 sekitar jam 10 malam saya ditelepon seseorang yang mengaku dari program Radio Show TV One. Ngapain? Saya diundang jadi nara sumber di program tersebut besok malamnya. Wah, surprise banget! Selama ini saya tahu teman-teman musisi banyak yang memimpikan untuk tampil di Radio Show karena program ini memang berbeda dari program-program musik yang lain.
Radio Show berani membuat terobosan baru dan memberi ruang bagi musik-musik yang selama ini nggak bisa muncul di program musik lain di TV. Kehadirannya membawa angin segar bagi dunia musik tanah air. Tampil di Radio Show tentu membanggakan bagi banyak teman-teman musisi, dan secara ajaib, saya yang bukan musisi juga mendapat kesempatan tampil di program itu. Surprise banget kan?
Mas Ardian, pihak Radio Show yang menelpon saya malam itu, berjanji akan mengabari saya besok siangnya (Rabu, 10 April 2012) untuk memastikan apakah saya betul jadi tampil malamnya. Karena saya pikir belum pasti, saya diem-diem aja seharian itu. Baru ketika Rabu siang Mas Ardian menelpon, memastikan kalau saya memang jadi tampil malamnya, saya mulai memberi tahu teman-teman lewat BBM, twitter dan facebook.
Inilah serunya punya ‘tim hore’ yang tersebar di seluruh Indonesia. Berita yang saya sebar di bbm, twitter dan facebook menjadi semacam pesan berantai yang disebarluaskan ulang oleh teman-teman dari berbagai komunitas gitaris di Indonesia. Hasilnya, dalam perjalanan ke Pasar Festival Kuningan, tempat syuting program Radio Show, dukungan dan perhatian bermunculan tak henti-henti di twitter, facebook, dan BBM.
Yang lucu sekaligus mengharukan, beberapa teman dari komunitas gitaris di berbagai kota bahkan sempat-sempatnya mengabari kalau mereka akan nonton bareng Radio Show malam itu di kota masing-masing. Komunitas gitaris yang ‘lapor’ ke saya kalau mereka bakal nonton bareng di antaranya adalah Paguyuban Gitaris Jogja (PGJ), Persatuan Gitaris Makassar (PeGM), Solo Guitar Community (SGC), Indonesian Guitar Community (IGC), Pasundan Guitar Community (PGC), dan lain-lain *yang nggak kesebut maap yaa.. saya Cuma inget yg pada mention di twitter aja :D
Saya tampil nggak sampai sejam di Radio Show, cuma sharing seputar pengalaman berwirausaha di bidang musik, padahal sama sekali nggak bisa main musik. Tapi ternyata efeknya sungguh luar biasa. Dalam semalam, follower saya di twitter bertambah hampir 100 orang, dan yang ngajak temenan di facebook pun bertubi-tubi banyaknya. Waaah, sampai nggak tau harus bilang apa..
Yang lucu, waktu mau tampil di Radio Show itu, seperti biasa saya tampil seadanya. Saya memang bukan tipe perempuan yang punya koleksi baju seabrek dan nggak hobi dandan. Ngeliat penampilan saya yang biasa-biasa banget, make up artist di Radio Show mendadak ‘gatel’ pengen memperbaiki penampilan saya dengan alasan, “Kalau muncul di tv, apalagi acara malam begini, harus dimake up sedikit biar nggak pucat, Mbak.”
Saya yang memang nggak berpengalaman di bidang ini pasrah aja waktu disuruh duduk dan dibedakin. Nggak nyangka kalau ternyata yang dimaksud dengan ‘dimake up sedikit’ oleh si make up artist adalah merombak total wajah saya. Dan beginilah hasilnya setelah saya didandani oleh make up artist Radio Show.
Foto bareng Gugun, salah satu bintang tamu Radio Show malam itu, sebelum acara
Teman-teman saya yang usil sempat-sempatnya ngeledek, penampilan saya malam itu mirip penyanyi dangdutlah, meniru dandanan Ratu Pantai Selatan-lah, kayak vokalis band gothic-lah.. Halaah, saya juga nggak nyangka kalau bakal dibedakin setebel itu! Seumur-umur, saya dandan kayak gini baru 2 kali lho; pertama waktu mau nikah dan kedua ya mau tampil di Radio Show ini.. Hahahaa..
Efek muncul-nggak-sampai-sejam di Radio Show ternyata berlanjut. Setelah acara itu, saya ditelpon oleh beberapa wartawan surat kabar yang tertarik mewawancarai saya karena saya dianggap unik, nggak bisa main musik kok berani-beraninya terjun berbisnis di bidang musik dan punya relasi yang luas di kalangan musisi, khususnya gitar. Kombinasi juga karena saya baru meluncurkan buku berjudul ‘Pengusaha Rock n Roll’ yang berisi cerita sepak terjang saya sebagai pengusaha di bidang musik plus mulai makin maraknya julukan sebagai ‘ibunya gitaris Indonesia’ yang entah siapa yang memulai, belakangan ini memang disematkan ke sosok saya. Jadilah profil saya bertebaran di Koran Republika (25 April 2012)
dan di halaman depan Jawa Pos (26 April 2012)
Cuma dua koran gitu doang kok bilangnya bertebaran? Iya, soalnya ternyata Jawa Pos juga memuat profil saya di semua jaringan media yang masih satu grup dengannya di seluruh Indonesia, baik cetak maupun online. Maka, tulisan yang sama tentang saya beredar di Batam Pos, Ambon Ekspres, Sumut Pos, Padang Ekspres, Cenderawasih Pos, Radar Sukabumi, Radar Garut, Radar Bogor, dan lain-lain. Coba deh googling nama saya (Caesilia Intan Pratiwi), banyak banget tuh bertebaran di internet hehe..
O ya, gara-gara nongol di Radio Show saya mulai dipercaya untuk jadi pembicara di kampus-kampus, di antaranya kampus UNPAS (17 April 2012) Ini fotonya :
Membuka wawasan dan menyebar virus wirausaha
Dan di Kampus UPI Bandung (1 Mei 2012). Ini penampakannya :
Wah, yang terakhir udah masuk bulan Mei ternyata.. Kalau gitu ceritanya udahan dulu deh. Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya yaaa.. :)
Kejadian seru di bulan April itu diawali di 1 April 2012. Hari itu, profil saya dimuat 1 halaman penuh di Koran Jakarta, bertepatan dengan ulang tahun suami tercinta. Wawancara dengan wartawan Koran Jakarta sudah dilakukan minggu sebelumnya, pas saya lagi kena flu berat. Tapi untunglah, di foto saya keliatan baik-baik aja. Nggak ketauan kan kalau pas diwawancara dan difoto, saya dalam kondisi nggak sehat? Ini penampakannya..
Dan inilah foto karya Mas Wachyu Ariestya, fotografer Koran Jakarta yang paling saya suka dan saya jadikan foto profil di FB saya :D
Pas lagi mau tidur, 9 April 2012 sekitar jam 10 malam saya ditelepon seseorang yang mengaku dari program Radio Show TV One. Ngapain? Saya diundang jadi nara sumber di program tersebut besok malamnya. Wah, surprise banget! Selama ini saya tahu teman-teman musisi banyak yang memimpikan untuk tampil di Radio Show karena program ini memang berbeda dari program-program musik yang lain.
Radio Show berani membuat terobosan baru dan memberi ruang bagi musik-musik yang selama ini nggak bisa muncul di program musik lain di TV. Kehadirannya membawa angin segar bagi dunia musik tanah air. Tampil di Radio Show tentu membanggakan bagi banyak teman-teman musisi, dan secara ajaib, saya yang bukan musisi juga mendapat kesempatan tampil di program itu. Surprise banget kan?
Mas Ardian, pihak Radio Show yang menelpon saya malam itu, berjanji akan mengabari saya besok siangnya (Rabu, 10 April 2012) untuk memastikan apakah saya betul jadi tampil malamnya. Karena saya pikir belum pasti, saya diem-diem aja seharian itu. Baru ketika Rabu siang Mas Ardian menelpon, memastikan kalau saya memang jadi tampil malamnya, saya mulai memberi tahu teman-teman lewat BBM, twitter dan facebook.
Inilah serunya punya ‘tim hore’ yang tersebar di seluruh Indonesia. Berita yang saya sebar di bbm, twitter dan facebook menjadi semacam pesan berantai yang disebarluaskan ulang oleh teman-teman dari berbagai komunitas gitaris di Indonesia. Hasilnya, dalam perjalanan ke Pasar Festival Kuningan, tempat syuting program Radio Show, dukungan dan perhatian bermunculan tak henti-henti di twitter, facebook, dan BBM.
Yang lucu sekaligus mengharukan, beberapa teman dari komunitas gitaris di berbagai kota bahkan sempat-sempatnya mengabari kalau mereka akan nonton bareng Radio Show malam itu di kota masing-masing. Komunitas gitaris yang ‘lapor’ ke saya kalau mereka bakal nonton bareng di antaranya adalah Paguyuban Gitaris Jogja (PGJ), Persatuan Gitaris Makassar (PeGM), Solo Guitar Community (SGC), Indonesian Guitar Community (IGC), Pasundan Guitar Community (PGC), dan lain-lain *yang nggak kesebut maap yaa.. saya Cuma inget yg pada mention di twitter aja :D
Saya tampil nggak sampai sejam di Radio Show, cuma sharing seputar pengalaman berwirausaha di bidang musik, padahal sama sekali nggak bisa main musik. Tapi ternyata efeknya sungguh luar biasa. Dalam semalam, follower saya di twitter bertambah hampir 100 orang, dan yang ngajak temenan di facebook pun bertubi-tubi banyaknya. Waaah, sampai nggak tau harus bilang apa..
Yang lucu, waktu mau tampil di Radio Show itu, seperti biasa saya tampil seadanya. Saya memang bukan tipe perempuan yang punya koleksi baju seabrek dan nggak hobi dandan. Ngeliat penampilan saya yang biasa-biasa banget, make up artist di Radio Show mendadak ‘gatel’ pengen memperbaiki penampilan saya dengan alasan, “Kalau muncul di tv, apalagi acara malam begini, harus dimake up sedikit biar nggak pucat, Mbak.”
Saya yang memang nggak berpengalaman di bidang ini pasrah aja waktu disuruh duduk dan dibedakin. Nggak nyangka kalau ternyata yang dimaksud dengan ‘dimake up sedikit’ oleh si make up artist adalah merombak total wajah saya. Dan beginilah hasilnya setelah saya didandani oleh make up artist Radio Show.
Foto bareng Gugun, salah satu bintang tamu Radio Show malam itu, sebelum acara
Teman-teman saya yang usil sempat-sempatnya ngeledek, penampilan saya malam itu mirip penyanyi dangdutlah, meniru dandanan Ratu Pantai Selatan-lah, kayak vokalis band gothic-lah.. Halaah, saya juga nggak nyangka kalau bakal dibedakin setebel itu! Seumur-umur, saya dandan kayak gini baru 2 kali lho; pertama waktu mau nikah dan kedua ya mau tampil di Radio Show ini.. Hahahaa..
Efek muncul-nggak-sampai-sejam di Radio Show ternyata berlanjut. Setelah acara itu, saya ditelpon oleh beberapa wartawan surat kabar yang tertarik mewawancarai saya karena saya dianggap unik, nggak bisa main musik kok berani-beraninya terjun berbisnis di bidang musik dan punya relasi yang luas di kalangan musisi, khususnya gitar. Kombinasi juga karena saya baru meluncurkan buku berjudul ‘Pengusaha Rock n Roll’ yang berisi cerita sepak terjang saya sebagai pengusaha di bidang musik plus mulai makin maraknya julukan sebagai ‘ibunya gitaris Indonesia’ yang entah siapa yang memulai, belakangan ini memang disematkan ke sosok saya. Jadilah profil saya bertebaran di Koran Republika (25 April 2012)
dan di halaman depan Jawa Pos (26 April 2012)
Cuma dua koran gitu doang kok bilangnya bertebaran? Iya, soalnya ternyata Jawa Pos juga memuat profil saya di semua jaringan media yang masih satu grup dengannya di seluruh Indonesia, baik cetak maupun online. Maka, tulisan yang sama tentang saya beredar di Batam Pos, Ambon Ekspres, Sumut Pos, Padang Ekspres, Cenderawasih Pos, Radar Sukabumi, Radar Garut, Radar Bogor, dan lain-lain. Coba deh googling nama saya (Caesilia Intan Pratiwi), banyak banget tuh bertebaran di internet hehe..
O ya, gara-gara nongol di Radio Show saya mulai dipercaya untuk jadi pembicara di kampus-kampus, di antaranya kampus UNPAS (17 April 2012) Ini fotonya :
Membuka wawasan dan menyebar virus wirausaha
Dan di Kampus UPI Bandung (1 Mei 2012). Ini penampakannya :
Wah, yang terakhir udah masuk bulan Mei ternyata.. Kalau gitu ceritanya udahan dulu deh. Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya yaaa.. :)
Minggu, 25 Maret 2012
PROMO BUKU SAMBIL KETEMU KOMUNITAS GITARIS DI JOGJA & SOLO
Gimana rasanya kalau tukang bikin acara dibikinin acara sama orang lain? Itulah yang saya alami Maret 2012 lalu. Untuk mempromosikan buku saya ‘Pengusaha Rock n Roll’, penerbit Tangga Pustaka mebuat jadwal promo ke Jogjakarta dan Solo untuk saya, tepatnya pada tanggal 19-20 Maret 2012.
Rencana semula, saya hanya akan diinterview beberapa radio di Jogjakarta dan Solo, lalu talkshow di Gramedia Sudirman Jogja dan Gramedia Solo. Tapi waktu rencana kedatangan saya ke Jogja diketahui oleh teman-teman dari Paguyuban Gitaris Jogja (komunitas gitaris di Jogja), mereka berinisiatif membuat satu acara lagi untuk saya di tanggal 18 Maret. Jadilah jadwal kedatangan saya di Jogja dimajukan sehari dari jadwal sebelumnya.
Kebetulan setiap bulan PGJ memang rutin menyelenggarakan gathering untuk ajang kumpul anggotanya. Gathering tersebut biasanya diisi penampilan para anggota dan workshop membedah suatu produk. Untuk gathering di bulan Maret ini, saya jadi pembicara yang membuka wawasan mereka tentang peluang usaha di bidang musik.
Inilah foto-foto kegiatan saya selama di Jogja :
Narsis dulu setelah talkshow di Gramedia Jogja :D
Foto bareng anggota PGJ dan Mas Piyu selesai gathering
Dan ini yang di Solo :
Foto bareng teman-teman Solo Guitar Community
Talkshow buku Pengusaha Rock n Roll di Gramedia Solo, dipandu oleh Mas TePe
Talkshow di Solo Radio
Lho, kok ada Mas Piyu? Kebetulan tanggal 18 Maret Mas Piyu sedang berada di Jogja untuk tampil di sebuah acara yang ditayangkan di SCTV. Waktu tahu Mas Piyu sedang berada di Jogja juga, saya coba-coba meminta kesediaan Mas Piyu untuk datang ke acara gathering PGJ karena saya tahu, kedatangan Mas Piyu pasti akan sangat berkesan bagi teman-teman gitaris di PGJ. Nggak disangka-sangka, di sela kesibukannya ternyata Mas Piyu mau meluangkan waktu untuk mampir dan ikut berbagi cerita seputar gitar dan kisah suksesnya. Kedatangan Mas Piyu tentu saja membuat acara jadi semakin meriah.
Selama di Jogja, ternyata kegiatan saya diliput oleh beberapa media. Ini contohnya di Harian Suara Merdeka :
dan ini di Radar Jogja :
Mungkin ada media lain yang meliput, tapi saya nggak tahu karena saya nggak sempat ngecek soalnya harus buru-buru balik ke Jakarta. Thanks buat Mas TePe dari Buka Buku Production, Mas Alpris dan Mas Albert dari AgroMedia Jogja, teman-teman di Paguyuban Gitaris Jogja, Solo Guitar Community, Radio Buku, Radio Masdha, Radio PTPN, Solo Radio, Suara Merdeka, Radar Jogja, dan semua media yang nggak bisa saya sebutkan satu per satu atas dukungan dan perhatiannya selama saya berada di Jogja. Sampai ketemu lain waktu ya!
Rencana semula, saya hanya akan diinterview beberapa radio di Jogjakarta dan Solo, lalu talkshow di Gramedia Sudirman Jogja dan Gramedia Solo. Tapi waktu rencana kedatangan saya ke Jogja diketahui oleh teman-teman dari Paguyuban Gitaris Jogja (komunitas gitaris di Jogja), mereka berinisiatif membuat satu acara lagi untuk saya di tanggal 18 Maret. Jadilah jadwal kedatangan saya di Jogja dimajukan sehari dari jadwal sebelumnya.
Kebetulan setiap bulan PGJ memang rutin menyelenggarakan gathering untuk ajang kumpul anggotanya. Gathering tersebut biasanya diisi penampilan para anggota dan workshop membedah suatu produk. Untuk gathering di bulan Maret ini, saya jadi pembicara yang membuka wawasan mereka tentang peluang usaha di bidang musik.
Inilah foto-foto kegiatan saya selama di Jogja :
Narsis dulu setelah talkshow di Gramedia Jogja :D
Foto bareng anggota PGJ dan Mas Piyu selesai gathering
Dan ini yang di Solo :
Foto bareng teman-teman Solo Guitar Community
Talkshow buku Pengusaha Rock n Roll di Gramedia Solo, dipandu oleh Mas TePe
Talkshow di Solo Radio
Lho, kok ada Mas Piyu? Kebetulan tanggal 18 Maret Mas Piyu sedang berada di Jogja untuk tampil di sebuah acara yang ditayangkan di SCTV. Waktu tahu Mas Piyu sedang berada di Jogja juga, saya coba-coba meminta kesediaan Mas Piyu untuk datang ke acara gathering PGJ karena saya tahu, kedatangan Mas Piyu pasti akan sangat berkesan bagi teman-teman gitaris di PGJ. Nggak disangka-sangka, di sela kesibukannya ternyata Mas Piyu mau meluangkan waktu untuk mampir dan ikut berbagi cerita seputar gitar dan kisah suksesnya. Kedatangan Mas Piyu tentu saja membuat acara jadi semakin meriah.
Selama di Jogja, ternyata kegiatan saya diliput oleh beberapa media. Ini contohnya di Harian Suara Merdeka :
dan ini di Radar Jogja :
Mungkin ada media lain yang meliput, tapi saya nggak tahu karena saya nggak sempat ngecek soalnya harus buru-buru balik ke Jakarta. Thanks buat Mas TePe dari Buka Buku Production, Mas Alpris dan Mas Albert dari AgroMedia Jogja, teman-teman di Paguyuban Gitaris Jogja, Solo Guitar Community, Radio Buku, Radio Masdha, Radio PTPN, Solo Radio, Suara Merdeka, Radar Jogja, dan semua media yang nggak bisa saya sebutkan satu per satu atas dukungan dan perhatiannya selama saya berada di Jogja. Sampai ketemu lain waktu ya!
Minggu, 04 Maret 2012
KOMENTAR MEREKA TENTANG BUKU PENGUSAHA ROCK N ROLL
Salut dengan Mbak Intan, dengan semangatnya yang luar biasa memajukan dunia gitar Indonesia lewat majalah dan event-event gitar yang khas... Dan itu bisa meningkatkan minat anak muda untuk membentuk komunitas gitar di tiap-tiap daerah di Indonesia. (I Wayan Balawan)
Pengusaha Rock n Roll, judul yang menarik.. dengan idealismenya membuat GitarPlus, Guitar For Fun, dan yang lainnya pasti bisa menjadi contoh untuk memotivasi yang baca (Dewa Budjana)
GH Music & Studio Bintaro, GH Music Graha Raya, dan Majalah GitarPlus yang sudah melibatkan gitaris-gitaris seperti Balawan (Trisum), Ezra Simanjuntak (ZiFactor) & the young generation guitarist Pupun (RoR) just to name a few, sudah berbicara banyak akan kiprah yang dilakukan wanita pengusaha ini. Sama sekali tidak bisa main musik, tapi kecintaannya terhadap musik dan dunia gitar di Indonesia tidak usah diragukan lagi, bisa dikatakan ‘Ibunya para gitaris di Indonesia”, pengusaha rock n roll indeed.. Yeah! \m/ (Eet Sjahranie)
Mbak Intan memang rock n roller (Azis Jamrud)
Sukses menjadi pengusaha jelas tidak cukup hanya bermodal materi, tenaga dan nyali. Diperlukan pula kecerdasan nalar dan kecerdasan emosional yang tinggi. Intan –penulis buku ini- menampilkan pengalaman konkret, menerapkan dua macam kecerdasan tersebut dalam perjuangannya sebagai pengusaha. Ditulis dengan bahasa ringan dan jenaka, buku ini menjai bacaan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi siapa pun yang hendak merintis usaha. (Jubing Kristianto)
Menakjubkan... Ternyata kemauan, kerja keras, dan mau menempuh resiko bisa sukses di bidang musik, sesuatu yang bukan bidangnya. Ga pernah lupa, pertama kali ketemu Intan ama Eka, gw ngobrol gitar panjang lebar. Pas gw tanya pake gitar apa, mereka bilang gak bisa main gitar, gak bisa main musik... Sekarang hampir semua gitaris di Indonesia tau mereka. Saluuuuut (Bengbeng Pas Band)
The story continues, sebuah sepak terjang yang sangat inspiratif dari seorang Ibu Intan untuk terus eksis sebagai pengusaha di dunia musik. Let’s rock n roll! Sukses terus and never stop untuk mewujudkan ide-ide gilanya! (John Paul Ivan)
‘Mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia’. Ternyata benar banget terjadi pada Bu Intan.. dengan modal keyakinan dan percaya diri berhasil mewujudkan usahanya, bener-bener ‘pengusaha rock n roll’. Salutee! (Rama Nidji)
Jarang saya menemui pengusaha yang berani melakukan manuver-manuver dan terobosan yang sulit diprediksi oleh orang lain. Salah satunya Mbak Intan ini. Pokoknya buku ini recommended banget deh buat para pengusaha start up yang mau menekuni bisnis dengan modal nekat (Deni-Marvell Amps)
Nekat dan Rock n Roll-nya Mbak Intan telah sukses membuat dunia pergitaran Indonesia sangat maju dan berkembang pesat. Buku ini menunjukkan bahwa pengusahanya nggak kalah rock n roll dengan gitarisnya. (Andy Owen)
Wah, baru ini nih, lihat ketertarikan seseorang akan dunia gitar dan ia bukan musisi. 3 thumbs up! *pinjem jempol temen (Pepe Wong Pitoe)
Keberanian dan kegigihan untuk berproses itulah kesuksesan. Mbak Intan Sudah membuktikannya. (Joelsalaka, Stephallen)
Bundanya para gitaris yang berpikir sederhana dan berkarya besar (Lily Rahayu, owner Shredder Guitar & Amplifier)
Buku yang bagus! Bahasanya gaul! Agak gila! Hahaha... Wajib beli dan baca! Rock n Roll..! (Zaoen)
Nggak harus pake kaos hitam atau ber-tattoo untuk jadi rock n roll, sosok ‘gila’ yang nekat ini bukan rock n roll di penampilan, tetapi di bisnisnya yang penuh distorsi, tegas, fokus, dan kreatif. Tulisannya yang down to earth, simple, serta realistis sudah banyak membakar sumbu semangat orang untuk menjadi wirausaha ataupun mulai bermimpi. Keep on rockin’ (Andri Indrawan)
Intan membuktikan bahwa untuk menjadi sukses di suatu bidang tidak perlu harus expert dulu. Jalanin saja! Tekad yang kuat dan ambisi yang terarah sangat dibutuhkan di sini. Kenekatannya membuakan keberhasilan. Menurut saya, Intan tidak perlu mengeri akan filosofi Rock n Roll karena Rock n Roll sudah melekat pada hati dan jiwanya (Stanley Tulung)
Yang bisa saya katakan hanya; sungguh-sungguh menginspirasi dan memotivasi! Bukan basa-basi, tapi usaha saya benar-benar berkembang berkat banyak wejangan dari Mbak Intan (Mahendra Yogaswara)
Mbak Intan itu buat saya adalah wanita super yang inspiratif. Dia bisa mengubah hal-hal yang dianggap orang nggak mungkin menjadi sesuatu yang sangat berhasil. Kita bisa banyak belajar dari sepak terjang beliau selama ini (Dony Priyarso)
Isi buku ini sangat inspiratif dan seru! (Mahesa, ketua Komunitas Gitaris Surabaya)
Awesome! Semoga kisah hidup Mbak Intan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kunci sukses adalah ‘kenekadan yang terukur’ dan kejelian merengkuh peluang di depan mata (Martanto)
Keistimewaan buku ini terletak pada cara pandang Mbak Intan yang belajar sambil menjalankan kenekatan itu, sekaligus menikmati prosesnya.. Sungguh ajaib! (Hasyim Achim, anggota IGC Makassar)
Pengusaha Rock n Roll, judul yang menarik.. dengan idealismenya membuat GitarPlus, Guitar For Fun, dan yang lainnya pasti bisa menjadi contoh untuk memotivasi yang baca (Dewa Budjana)
GH Music & Studio Bintaro, GH Music Graha Raya, dan Majalah GitarPlus yang sudah melibatkan gitaris-gitaris seperti Balawan (Trisum), Ezra Simanjuntak (ZiFactor) & the young generation guitarist Pupun (RoR) just to name a few, sudah berbicara banyak akan kiprah yang dilakukan wanita pengusaha ini. Sama sekali tidak bisa main musik, tapi kecintaannya terhadap musik dan dunia gitar di Indonesia tidak usah diragukan lagi, bisa dikatakan ‘Ibunya para gitaris di Indonesia”, pengusaha rock n roll indeed.. Yeah! \m/ (Eet Sjahranie)
Mbak Intan memang rock n roller (Azis Jamrud)
Sukses menjadi pengusaha jelas tidak cukup hanya bermodal materi, tenaga dan nyali. Diperlukan pula kecerdasan nalar dan kecerdasan emosional yang tinggi. Intan –penulis buku ini- menampilkan pengalaman konkret, menerapkan dua macam kecerdasan tersebut dalam perjuangannya sebagai pengusaha. Ditulis dengan bahasa ringan dan jenaka, buku ini menjai bacaan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi siapa pun yang hendak merintis usaha. (Jubing Kristianto)
Menakjubkan... Ternyata kemauan, kerja keras, dan mau menempuh resiko bisa sukses di bidang musik, sesuatu yang bukan bidangnya. Ga pernah lupa, pertama kali ketemu Intan ama Eka, gw ngobrol gitar panjang lebar. Pas gw tanya pake gitar apa, mereka bilang gak bisa main gitar, gak bisa main musik... Sekarang hampir semua gitaris di Indonesia tau mereka. Saluuuuut (Bengbeng Pas Band)
The story continues, sebuah sepak terjang yang sangat inspiratif dari seorang Ibu Intan untuk terus eksis sebagai pengusaha di dunia musik. Let’s rock n roll! Sukses terus and never stop untuk mewujudkan ide-ide gilanya! (John Paul Ivan)
‘Mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia’. Ternyata benar banget terjadi pada Bu Intan.. dengan modal keyakinan dan percaya diri berhasil mewujudkan usahanya, bener-bener ‘pengusaha rock n roll’. Salutee! (Rama Nidji)
Jarang saya menemui pengusaha yang berani melakukan manuver-manuver dan terobosan yang sulit diprediksi oleh orang lain. Salah satunya Mbak Intan ini. Pokoknya buku ini recommended banget deh buat para pengusaha start up yang mau menekuni bisnis dengan modal nekat (Deni-Marvell Amps)
Nekat dan Rock n Roll-nya Mbak Intan telah sukses membuat dunia pergitaran Indonesia sangat maju dan berkembang pesat. Buku ini menunjukkan bahwa pengusahanya nggak kalah rock n roll dengan gitarisnya. (Andy Owen)
Wah, baru ini nih, lihat ketertarikan seseorang akan dunia gitar dan ia bukan musisi. 3 thumbs up! *pinjem jempol temen (Pepe Wong Pitoe)
Keberanian dan kegigihan untuk berproses itulah kesuksesan. Mbak Intan Sudah membuktikannya. (Joelsalaka, Stephallen)
Bundanya para gitaris yang berpikir sederhana dan berkarya besar (Lily Rahayu, owner Shredder Guitar & Amplifier)
Buku yang bagus! Bahasanya gaul! Agak gila! Hahaha... Wajib beli dan baca! Rock n Roll..! (Zaoen)
Nggak harus pake kaos hitam atau ber-tattoo untuk jadi rock n roll, sosok ‘gila’ yang nekat ini bukan rock n roll di penampilan, tetapi di bisnisnya yang penuh distorsi, tegas, fokus, dan kreatif. Tulisannya yang down to earth, simple, serta realistis sudah banyak membakar sumbu semangat orang untuk menjadi wirausaha ataupun mulai bermimpi. Keep on rockin’ (Andri Indrawan)
Intan membuktikan bahwa untuk menjadi sukses di suatu bidang tidak perlu harus expert dulu. Jalanin saja! Tekad yang kuat dan ambisi yang terarah sangat dibutuhkan di sini. Kenekatannya membuakan keberhasilan. Menurut saya, Intan tidak perlu mengeri akan filosofi Rock n Roll karena Rock n Roll sudah melekat pada hati dan jiwanya (Stanley Tulung)
Yang bisa saya katakan hanya; sungguh-sungguh menginspirasi dan memotivasi! Bukan basa-basi, tapi usaha saya benar-benar berkembang berkat banyak wejangan dari Mbak Intan (Mahendra Yogaswara)
Mbak Intan itu buat saya adalah wanita super yang inspiratif. Dia bisa mengubah hal-hal yang dianggap orang nggak mungkin menjadi sesuatu yang sangat berhasil. Kita bisa banyak belajar dari sepak terjang beliau selama ini (Dony Priyarso)
Isi buku ini sangat inspiratif dan seru! (Mahesa, ketua Komunitas Gitaris Surabaya)
Awesome! Semoga kisah hidup Mbak Intan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kunci sukses adalah ‘kenekadan yang terukur’ dan kejelian merengkuh peluang di depan mata (Martanto)
Keistimewaan buku ini terletak pada cara pandang Mbak Intan yang belajar sambil menjalankan kenekatan itu, sekaligus menikmati prosesnya.. Sungguh ajaib! (Hasyim Achim, anggota IGC Makassar)
Rabu, 29 Februari 2012
CERITA BUKU KEDUA; PENGUSAHA ROCK N ROLL
Saya lagi produktif nih. Di tengah kesibukan menyiapkan HUT ke 8 GitarPlus, saya masih sempet-sempetnya ngebut menyelesaikan naskah untuk calon buku kedua saya yang berjudul ‘Pengusaha Rock n Roll’. Kenapa ‘Pengusaha Rock n Roll’? Soalnya isinya memang cerita-cerita pengalaman saya menjadi pengusaha yang menjalankan usaha dengan gaya rock n roll.
Sejak awal jadi pengusaha, saya sadar kalau cara saya berbisnis berbeda dengan orang kebanyakan. Saya nggak ragu menabrak pakem-pakem standar, mendobrak hal-hal yang dianggap normal, dan melakukan sesuatu yang nggak biasa. Selama nggak melanggar hukum negara dan hukum agama, biarin aja. Soalnya sejak awal saya sudah memulai usaha dengan cara yang nggak standar sih. Nggak punya modal besar, nggak punya latar belakang sebagai pengusaha, eh masih ditambah nggak memahami bidang usaha yang akan saya tekuni. Sungguh perpaduan yang sip markusip kan? :D
Dalam perjalanan jadi pengusaha, saya juga mengalami banyak tantangan, sering harus melewati jalan yang terjal berliku, dan nggak terhitung berapa kali jatuh bangun sampai babak belur. Tapi seburuk apa pun situasi yang saya hadapi, saya nggak pernah putus asa dan patah semangat. Kalau gagal ya diulangi lagi, kalau jatuh ya tinggal bangkit lagi. Saya menjalankan bisnis saya dengan serius, nekat, tapi santai. Seperti kutipan di sampul buku pertama saya, ‘Bermain Dengan Uang’, saya meyakini bahwa ‘ketika uang berputar, ada banyak faktor yang ikut berperan. Uang datang dan hilang tak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Jadi, santai dan mainkan saja’. Iya, ngapain pusing-pusing amat mikirin segala masalah yang dihadapi sebagai pengusaha? Santai, mainkan dan nikmati aja!
Kembali ke buku ‘Pengusaha Rock n Roll’, di akhir Januari, naskah calon buku itu sudah selesai saya tulis. Saya berharap ‘Pengusaha Rock n Roll’ bisa terbit bertepatan dengan perayaan HUT ke 8 GitarPlus yang akan saya rayakan pada 22 Februari, tapi ternyata penerbit yang menerbitkan buku pertama saya nggak bisa memenuhi keinginan saya.
Nggak diduga-duga, hanya 2 minggu menjelang perayaan HUT ke 8 GitarPlus yang saya tetapkan di Mario’s Place Menteng, ada penerbit lain –Tangga Pustaka- yang tiba-tiba menghubungi saya dan menawarkan diri untuk menerbitkan naskah saya, dan sanggup menyelesaikannya sebelum tanggal 22 Februari. Ya sudah, hajar! Saya langsung pindah penerbit karena pasti lebih seru kalau buku ‘Pengusaha Rock n Roll’ yang berisi cerita-cerita pengalaman saya mengelola usaha di bidang musik, termasuk Majalah GitarPlus dan event-event-nya, bisa diluncurkan bertepatan dengan perayaan HUT ke 8 Majalah GitarPlus.
Naskah bukunya memang sudah jadi semua. Tapi pelengkap buku seperti foto-foto pendukung, Kata Pengantar, Ucapan Terima Kasih, Endorsement dari pembaca, profil penulis dan lain-lain sama sekali belum saya siapkan. Belum lagi cover-nya, sama sekali belum siap konsepnya. Jadilah, saya pontang-panting menyelesaikan semua itu di sela-sela waktu menyiapkan acara HUT GitarPlus. Beberapa hari saya mendadak kurang tidur tuh gara-gara diuber-uber Mas Andiek, editor Tangga Pustaka, yang semangat banget ingin mewujudkan impian saya menerbitkan buku sebelum tanggal 22 Februari.
Dalam hal ini saya beruntung banget punya banyak teman baik yang rela membantu saya. Mas Cahyo Baskoro, teman kuliah suami saya berbaik hati membuatkan gambar karikatur untuk cover buku. Pengen tau kayak apa cover buku saya nantinya? Nih, keren kan? :p
Mas Adi Wirantoko, fotografer GitarPlus, ikutan repot memotret saya untuk melengkapi foto-foto pendukung di dalam buku. Ini nih salah satu foto karya Mas Adi :
Mudya, Editor in Chief GitarPlus, menyumbang endorsement untuk buku saya. Mau tau komentar Mudya tentang buku saya? Nih, saya kasih bocorannya :
'Sejak pertama kali mengenal Mbak Intan -begitu saya memanggilnya- saat kami memulai penggarapan Majalah GitarPlus delapan tahun lalu, di mata saya beliau sudah menunjukkan semangat tempur yang tinggi sebagai pengusaha muda, walaupun dengan 'nafas' finansial yang bisa dibilang sangat tidak lentur. Saya menyaksikan sendiri bagaimana usaha yang dijalankannya terlihat fluktuaktif dan cukup 'menegangkan' dari tahun ke tahun. Gayanya memang rock n roll, kerap tanpa sungkan mendobrak prosedur, tapi banyak hal yang dilakukannya dilatari perhitungan matang serta kejelian melihat peluang. Itulah kelebihannya. Saya bangga menjadi bagian kesuksesannya (SA Pralim Mudya, Pemimpin Redaksi GitarPlus'
Karena waktu yang sangat mepet, saya juga sempat bikin pusing beberapa teman gitaris yang saya ‘todong’ untuk memberi endorsement untuk calon buku saya.
“Iya, nanti saya pikir-pikir dulu ya. Memang kapan deadline-nya?” tanya salah seorang gitaris ternama yang saya minta endorsement-nya.
“Dua hari yang lalu, Mas. Makanya, buruan sekarang aja ngasih endorsement-nya,” jawab saya setengah memaksa. Saya memang bener-bener teman yang nggak sopan. Udah minta tolong, maksa pula! Hahahaha..
Untung temen saya baik-baik. Dalam waktu sehari semalam, saya berhasil mengumpulkan 35 komentar, sebagian besar di antaranya adalah dari gitaris. Beberapa gitaris yang ikut memberi endorsement untuk buku saya di antaranya I Wayan Balawan, Rama Nidji, Pepe 'Wong Pitoe', Bengbeng 'Pas Band', Eet Sjahranie, Dewa Budjana, Jubing Kristianto, John Paul Ivan, Pupun RoR-D'Bandhits, Andry Muhammad, Andy Owen, Aji Broken Bones, Stanley Tulung, Toto Pirngadi, Sidi DeLV, dan masih banyak lagi. Dalam waktu kurang lebih 10 hari, proses penerbitan buku kedua saya pun selesai. Ayo, tepuk tangan semua! Hehe..
Launching buku yang saya rencanakan berbarengan dengan perayaan HUT ke 8 GitarPlus pun akhirnya bisa terlaksana. Pada hari itu, di tengah kemeriahan pesta HUT ke 8 GitarPlus, Direktur AgroMedia Pustaka, Hikmat Kurnia, memberikan cinderamata berupa buku ‘Pengusaha Rock n Roll’ yang dipigura untuk menandai launching buku kedua saya.
Teman-teman yang pengen tahu lebih banyak tentang isi buku saya, silakan langsung merapat ke Gramedia atau toko buku terdekat yaa..
Sejak awal jadi pengusaha, saya sadar kalau cara saya berbisnis berbeda dengan orang kebanyakan. Saya nggak ragu menabrak pakem-pakem standar, mendobrak hal-hal yang dianggap normal, dan melakukan sesuatu yang nggak biasa. Selama nggak melanggar hukum negara dan hukum agama, biarin aja. Soalnya sejak awal saya sudah memulai usaha dengan cara yang nggak standar sih. Nggak punya modal besar, nggak punya latar belakang sebagai pengusaha, eh masih ditambah nggak memahami bidang usaha yang akan saya tekuni. Sungguh perpaduan yang sip markusip kan? :D
Dalam perjalanan jadi pengusaha, saya juga mengalami banyak tantangan, sering harus melewati jalan yang terjal berliku, dan nggak terhitung berapa kali jatuh bangun sampai babak belur. Tapi seburuk apa pun situasi yang saya hadapi, saya nggak pernah putus asa dan patah semangat. Kalau gagal ya diulangi lagi, kalau jatuh ya tinggal bangkit lagi. Saya menjalankan bisnis saya dengan serius, nekat, tapi santai. Seperti kutipan di sampul buku pertama saya, ‘Bermain Dengan Uang’, saya meyakini bahwa ‘ketika uang berputar, ada banyak faktor yang ikut berperan. Uang datang dan hilang tak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Jadi, santai dan mainkan saja’. Iya, ngapain pusing-pusing amat mikirin segala masalah yang dihadapi sebagai pengusaha? Santai, mainkan dan nikmati aja!
Kembali ke buku ‘Pengusaha Rock n Roll’, di akhir Januari, naskah calon buku itu sudah selesai saya tulis. Saya berharap ‘Pengusaha Rock n Roll’ bisa terbit bertepatan dengan perayaan HUT ke 8 GitarPlus yang akan saya rayakan pada 22 Februari, tapi ternyata penerbit yang menerbitkan buku pertama saya nggak bisa memenuhi keinginan saya.
Nggak diduga-duga, hanya 2 minggu menjelang perayaan HUT ke 8 GitarPlus yang saya tetapkan di Mario’s Place Menteng, ada penerbit lain –Tangga Pustaka- yang tiba-tiba menghubungi saya dan menawarkan diri untuk menerbitkan naskah saya, dan sanggup menyelesaikannya sebelum tanggal 22 Februari. Ya sudah, hajar! Saya langsung pindah penerbit karena pasti lebih seru kalau buku ‘Pengusaha Rock n Roll’ yang berisi cerita-cerita pengalaman saya mengelola usaha di bidang musik, termasuk Majalah GitarPlus dan event-event-nya, bisa diluncurkan bertepatan dengan perayaan HUT ke 8 Majalah GitarPlus.
Naskah bukunya memang sudah jadi semua. Tapi pelengkap buku seperti foto-foto pendukung, Kata Pengantar, Ucapan Terima Kasih, Endorsement dari pembaca, profil penulis dan lain-lain sama sekali belum saya siapkan. Belum lagi cover-nya, sama sekali belum siap konsepnya. Jadilah, saya pontang-panting menyelesaikan semua itu di sela-sela waktu menyiapkan acara HUT GitarPlus. Beberapa hari saya mendadak kurang tidur tuh gara-gara diuber-uber Mas Andiek, editor Tangga Pustaka, yang semangat banget ingin mewujudkan impian saya menerbitkan buku sebelum tanggal 22 Februari.
Dalam hal ini saya beruntung banget punya banyak teman baik yang rela membantu saya. Mas Cahyo Baskoro, teman kuliah suami saya berbaik hati membuatkan gambar karikatur untuk cover buku. Pengen tau kayak apa cover buku saya nantinya? Nih, keren kan? :p
Mas Adi Wirantoko, fotografer GitarPlus, ikutan repot memotret saya untuk melengkapi foto-foto pendukung di dalam buku. Ini nih salah satu foto karya Mas Adi :
Mudya, Editor in Chief GitarPlus, menyumbang endorsement untuk buku saya. Mau tau komentar Mudya tentang buku saya? Nih, saya kasih bocorannya :
'Sejak pertama kali mengenal Mbak Intan -begitu saya memanggilnya- saat kami memulai penggarapan Majalah GitarPlus delapan tahun lalu, di mata saya beliau sudah menunjukkan semangat tempur yang tinggi sebagai pengusaha muda, walaupun dengan 'nafas' finansial yang bisa dibilang sangat tidak lentur. Saya menyaksikan sendiri bagaimana usaha yang dijalankannya terlihat fluktuaktif dan cukup 'menegangkan' dari tahun ke tahun. Gayanya memang rock n roll, kerap tanpa sungkan mendobrak prosedur, tapi banyak hal yang dilakukannya dilatari perhitungan matang serta kejelian melihat peluang. Itulah kelebihannya. Saya bangga menjadi bagian kesuksesannya (SA Pralim Mudya, Pemimpin Redaksi GitarPlus'
Karena waktu yang sangat mepet, saya juga sempat bikin pusing beberapa teman gitaris yang saya ‘todong’ untuk memberi endorsement untuk calon buku saya.
“Iya, nanti saya pikir-pikir dulu ya. Memang kapan deadline-nya?” tanya salah seorang gitaris ternama yang saya minta endorsement-nya.
“Dua hari yang lalu, Mas. Makanya, buruan sekarang aja ngasih endorsement-nya,” jawab saya setengah memaksa. Saya memang bener-bener teman yang nggak sopan. Udah minta tolong, maksa pula! Hahahaha..
Untung temen saya baik-baik. Dalam waktu sehari semalam, saya berhasil mengumpulkan 35 komentar, sebagian besar di antaranya adalah dari gitaris. Beberapa gitaris yang ikut memberi endorsement untuk buku saya di antaranya I Wayan Balawan, Rama Nidji, Pepe 'Wong Pitoe', Bengbeng 'Pas Band', Eet Sjahranie, Dewa Budjana, Jubing Kristianto, John Paul Ivan, Pupun RoR-D'Bandhits, Andry Muhammad, Andy Owen, Aji Broken Bones, Stanley Tulung, Toto Pirngadi, Sidi DeLV, dan masih banyak lagi. Dalam waktu kurang lebih 10 hari, proses penerbitan buku kedua saya pun selesai. Ayo, tepuk tangan semua! Hehe..
Launching buku yang saya rencanakan berbarengan dengan perayaan HUT ke 8 GitarPlus pun akhirnya bisa terlaksana. Pada hari itu, di tengah kemeriahan pesta HUT ke 8 GitarPlus, Direktur AgroMedia Pustaka, Hikmat Kurnia, memberikan cinderamata berupa buku ‘Pengusaha Rock n Roll’ yang dipigura untuk menandai launching buku kedua saya.
Teman-teman yang pengen tahu lebih banyak tentang isi buku saya, silakan langsung merapat ke Gramedia atau toko buku terdekat yaa..
Sabtu, 25 Februari 2012
FEBRUARI CERIA
Belakangan ini, hidup saya penuh kejutan yang menyenangkan. Di bulan Februari ini, misalnya. Terlepas tanggal 14 Februari sebagian orang merayakan Valentine’s Day, buat saya pribadi bulan Februari memang bulan penuh cinta. Kenapa? Karena saya jadian sama suami tercinta (dulu masih pacar) 20 Februari 1999, menikah 11 Februari 2001, dan melahirkan Hugo 16 Februari 2002. Jadi, di bulan Februari 2012 ini saya merayakan banyak peristiwa penting dalam hidup saya. Betul-betul bulan yang sip markusip kaaan...
Nah, Februari 2012 ini juga menjadi penting buat saya karena untuk pertama kalinya saya berencana merayakan HUT ke 8 GitarPlus. Pertama kali? Iya, seumur-umur menerbitkan GitarPlus, saya memang belum pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya dalam pesta beneran. Biasanya dirayakan sederhana antar karyawan aja dengan makan bersama dan tiup lilin. Tapi tahun ini kan GitarPlus 8 tahun. Pengen dong sekali-sekali dirayakan dengan lebih meriah. Apalagi mengingat GitarPlus berhasil eksis dan bahkan makin berkibar, di saat banyak majalah musik lain yang justru berguguran.
Saya memilih tanggal 22 Februari sebagai waktu untuk perayaan HUT GitarPlus. O ya, ulang tahun GitarPlus sendiri sebetulnya jatuh pada tanggal 15 Januari lalu. Tapi karena berbagai pertimbangan, perayaannya baru akan diadakan 22 Februari. Setelah ketemu tanggal yang pas, mulailah saya sibuk mempersiapkan acara mulai dari menggandeng sponsor, mengatur jadwal dengan bintang tamu yang akan mengisi acara, tempat penyelenggaraan acara, undangan, mengurus konsumsi dan sebagainya.
Tim redaksi yang dikomandani oleh Mudya pun mempersiapkan Majalah GitarPlus edisi ulang tahun secara khusus. Untuk cover, misalnya, di edisi ini Mudya menetapkan gitaris-gitaris yang pernah menjadi kontributor di Majalah GitarPlus yang akan dimunculkan. Sebetulnya banyak gitaris yang pernah mengisi rubrik di GitarPlus, tapi karena sulit mempertemukan semuanya dalam satu jadwal, akhirnya pada tanggal yang ditentukan hanya ada 5 gitaris yang berhasil dikumpulkan; Eet Sjahranie, Andy Owen, Jubing Kristianto, Ezra Simanjuntak, dan John Paul Ivan. Buat yang belom tau, inilah tim kecil Majalah GitarPlus :
Pemotretan cover rencananya dilakukan di redaksi GitarPlus, Jl. Maleo IV JB 3 No. 1 Bintaro Sektor 9 pada hari Minggu, 5 Februari 2012. Sehari sebelum hari pelaksanaan foto cover itu, saya mendadak teringat kalau 3 Februari-nya Mas Eet berulang tahun yang ke 50. Saya langsung kepikiran untuk memberi kejutan buat Mas Eet dan langsung mengabari Mudya soal ide itu. Mudya setuju, lalu segera mengabari teman-teman yang lain. Yang sempat, silakan datang ke Redaksi GitarPlus untuk ikut meramaikan suasana. Ternyata yang datang lumayan banyak. Selain 5 gitaris yang akan difoto untuk cover, juga ada Pupun RoR dan Rara istrinya, Tyo Zi Factor, Medi Suckerhead, Puguh Kribo, Iwan Cummie, Fajar dan Rizal perwakilan dari Paguyuban Gitaris Jogja yang kebetulan lagi beredar di Jakarta, Eben Andreas dan Lucky dari Bekasi, dan masih banyak lagi. Saya memang senang mengumpulkan gitaris dan sepertinya saya berbakat ‘ngomporin’ gitaris untuk ngumpul. Seru aja hehe..
Inilah suasana perayaan HUT Mas Eet yang disiapkan hanya dalam waktu sehari
Dan inilah hasil foto cover untuk majalah edisi HUT ke 8 GitarPlus :
Di tengah persiapan perayaan HUT GitarPlus, saya ditelepon oleh Mbak Inez dari program Coffe Break TV One. diundang menjadi nara sumber di acara yang ditayangkan setiap hari Senin-Jumat jam 10.00 – 11.00. Ini pengalaman pertama saya tampil di TV nasional. Ketika ditelpon oleh Mbak Inez, saya langsung kepikiran untuk membagi kebahagiaan dengan mengajak teman-teman yang lain ikut tampil di program ini. Atas persetujuan pihak TV One, akhirnya saya mengajak Mudya (Editor In Chief Majalah GitarPlus) dan Aji Broken Bones (Ketua Indonesian Guitar Community) untuk menemani tampil sebagai narasumber (soalnya pengetahuan musik saya pas-pasan banget. Nanti kalau ditanya yang susah-susah kan jadi ada yang bantuin jawab ;p).
Saya juga mengajak 2 gitaris, yaitu Pupun RoR-D’Bandhits dan Andy Owen untuk ikut tampil bermain solo gitar. Tujuannya, saya ingin menunjukkan pada masyarakat umum kalau penampilan solo gitar saja bisa menjadi tontonan yang asyik dan menghibur. Ya, siapa tau aja setelah Pupun dan Owen main solo gitar di TV, nantinya bakal ada program-program TV lain yang berminat mengundang gitaris untuk tampil di TV.
Pupun memainkan lagu 'Playing with the money' yang khusus diciptakannya untuk launching buku saya 'Bermain Dengan Uang' di acara Coffe Break TV One
Dan beginilah suasana live interview di program Coffe Break TV One yang diambil di Epicentrum Walk Kuningan.
Kembali ke HUT GitarPlus, akhirnya perayaan ulang tahun dengan tema ‘8 Years of Dedication’ itu berjalan dengan lancar dan meriah. Gitaris yang tampil sebagai bintang tamu malam itu adalah I Wayan Balawan, Bengbeng Pas Band, Aria Baron, Piyu, Coki Netral, Adrian Adioetomo, Jubing Kristianto, Pupun RoR, Ezra Simanjuntak, John Paul Ivan, Andy Owen. Pemain bass yang ikut tampil adalah Ahmad Sebastio, drummer Anton Canga, dan ada 3 band berorientasi pada gitar yang ikut tampil, yaitu RoR, Zi Factor dan Noxa.
Teman-teman dari Indonesian Guitar Community yang dikomandani Aji Broken Bones ikut hadir meramaikan suasana.
Berita tentang acara HUT GitarPlus muncul di berbagai media, baik cetak maupun online. Di antaranya Koran Republika, Antara News, Rollingstone.com, Femina online, centroone.com dan lain-lain.
Liputan acara Specta Guitar 8 Years of Dedication di Koran Republika
O ya, gara-gara bikin acara ini saya jadi kepikiran untuk mulai aktif di twitter. Sebetulnya saya punya akun twitter udah lama, sejak 16 Mei 2011. Tapi selama ini saya diemin aja tanpa follower dan saya hampir nggak pernah ngetwitt. Sejak 23 Februari 2012, saya mulai aktif ngetwitt di twitter. Yang mau follow saya boleh loooh.. Akun twitter saya @intangitarplus yaaa... :)
Nah, Februari 2012 ini juga menjadi penting buat saya karena untuk pertama kalinya saya berencana merayakan HUT ke 8 GitarPlus. Pertama kali? Iya, seumur-umur menerbitkan GitarPlus, saya memang belum pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya dalam pesta beneran. Biasanya dirayakan sederhana antar karyawan aja dengan makan bersama dan tiup lilin. Tapi tahun ini kan GitarPlus 8 tahun. Pengen dong sekali-sekali dirayakan dengan lebih meriah. Apalagi mengingat GitarPlus berhasil eksis dan bahkan makin berkibar, di saat banyak majalah musik lain yang justru berguguran.
Saya memilih tanggal 22 Februari sebagai waktu untuk perayaan HUT GitarPlus. O ya, ulang tahun GitarPlus sendiri sebetulnya jatuh pada tanggal 15 Januari lalu. Tapi karena berbagai pertimbangan, perayaannya baru akan diadakan 22 Februari. Setelah ketemu tanggal yang pas, mulailah saya sibuk mempersiapkan acara mulai dari menggandeng sponsor, mengatur jadwal dengan bintang tamu yang akan mengisi acara, tempat penyelenggaraan acara, undangan, mengurus konsumsi dan sebagainya.
Tim redaksi yang dikomandani oleh Mudya pun mempersiapkan Majalah GitarPlus edisi ulang tahun secara khusus. Untuk cover, misalnya, di edisi ini Mudya menetapkan gitaris-gitaris yang pernah menjadi kontributor di Majalah GitarPlus yang akan dimunculkan. Sebetulnya banyak gitaris yang pernah mengisi rubrik di GitarPlus, tapi karena sulit mempertemukan semuanya dalam satu jadwal, akhirnya pada tanggal yang ditentukan hanya ada 5 gitaris yang berhasil dikumpulkan; Eet Sjahranie, Andy Owen, Jubing Kristianto, Ezra Simanjuntak, dan John Paul Ivan. Buat yang belom tau, inilah tim kecil Majalah GitarPlus :
Pemotretan cover rencananya dilakukan di redaksi GitarPlus, Jl. Maleo IV JB 3 No. 1 Bintaro Sektor 9 pada hari Minggu, 5 Februari 2012. Sehari sebelum hari pelaksanaan foto cover itu, saya mendadak teringat kalau 3 Februari-nya Mas Eet berulang tahun yang ke 50. Saya langsung kepikiran untuk memberi kejutan buat Mas Eet dan langsung mengabari Mudya soal ide itu. Mudya setuju, lalu segera mengabari teman-teman yang lain. Yang sempat, silakan datang ke Redaksi GitarPlus untuk ikut meramaikan suasana. Ternyata yang datang lumayan banyak. Selain 5 gitaris yang akan difoto untuk cover, juga ada Pupun RoR dan Rara istrinya, Tyo Zi Factor, Medi Suckerhead, Puguh Kribo, Iwan Cummie, Fajar dan Rizal perwakilan dari Paguyuban Gitaris Jogja yang kebetulan lagi beredar di Jakarta, Eben Andreas dan Lucky dari Bekasi, dan masih banyak lagi. Saya memang senang mengumpulkan gitaris dan sepertinya saya berbakat ‘ngomporin’ gitaris untuk ngumpul. Seru aja hehe..
Inilah suasana perayaan HUT Mas Eet yang disiapkan hanya dalam waktu sehari
Dan inilah hasil foto cover untuk majalah edisi HUT ke 8 GitarPlus :
Di tengah persiapan perayaan HUT GitarPlus, saya ditelepon oleh Mbak Inez dari program Coffe Break TV One. diundang menjadi nara sumber di acara yang ditayangkan setiap hari Senin-Jumat jam 10.00 – 11.00. Ini pengalaman pertama saya tampil di TV nasional. Ketika ditelpon oleh Mbak Inez, saya langsung kepikiran untuk membagi kebahagiaan dengan mengajak teman-teman yang lain ikut tampil di program ini. Atas persetujuan pihak TV One, akhirnya saya mengajak Mudya (Editor In Chief Majalah GitarPlus) dan Aji Broken Bones (Ketua Indonesian Guitar Community) untuk menemani tampil sebagai narasumber (soalnya pengetahuan musik saya pas-pasan banget. Nanti kalau ditanya yang susah-susah kan jadi ada yang bantuin jawab ;p).
Saya juga mengajak 2 gitaris, yaitu Pupun RoR-D’Bandhits dan Andy Owen untuk ikut tampil bermain solo gitar. Tujuannya, saya ingin menunjukkan pada masyarakat umum kalau penampilan solo gitar saja bisa menjadi tontonan yang asyik dan menghibur. Ya, siapa tau aja setelah Pupun dan Owen main solo gitar di TV, nantinya bakal ada program-program TV lain yang berminat mengundang gitaris untuk tampil di TV.
Pupun memainkan lagu 'Playing with the money' yang khusus diciptakannya untuk launching buku saya 'Bermain Dengan Uang' di acara Coffe Break TV One
Dan beginilah suasana live interview di program Coffe Break TV One yang diambil di Epicentrum Walk Kuningan.
Kembali ke HUT GitarPlus, akhirnya perayaan ulang tahun dengan tema ‘8 Years of Dedication’ itu berjalan dengan lancar dan meriah. Gitaris yang tampil sebagai bintang tamu malam itu adalah I Wayan Balawan, Bengbeng Pas Band, Aria Baron, Piyu, Coki Netral, Adrian Adioetomo, Jubing Kristianto, Pupun RoR, Ezra Simanjuntak, John Paul Ivan, Andy Owen. Pemain bass yang ikut tampil adalah Ahmad Sebastio, drummer Anton Canga, dan ada 3 band berorientasi pada gitar yang ikut tampil, yaitu RoR, Zi Factor dan Noxa.
Teman-teman dari Indonesian Guitar Community yang dikomandani Aji Broken Bones ikut hadir meramaikan suasana.
Berita tentang acara HUT GitarPlus muncul di berbagai media, baik cetak maupun online. Di antaranya Koran Republika, Antara News, Rollingstone.com, Femina online, centroone.com dan lain-lain.
Liputan acara Specta Guitar 8 Years of Dedication di Koran Republika
O ya, gara-gara bikin acara ini saya jadi kepikiran untuk mulai aktif di twitter. Sebetulnya saya punya akun twitter udah lama, sejak 16 Mei 2011. Tapi selama ini saya diemin aja tanpa follower dan saya hampir nggak pernah ngetwitt. Sejak 23 Februari 2012, saya mulai aktif ngetwitt di twitter. Yang mau follow saya boleh loooh.. Akun twitter saya @intangitarplus yaaa... :)
Selasa, 31 Januari 2012
DIMULAI DI JANUARI
Nggak terasa udah awal tahun lagi. Belakangan ini, blog saya agak terbengkalai karena yang punya blog sibuk terus lari-larian ke sana kemari Saya sendiri juga bingung kenapa saya bisa jadi sesibuk ini yak? Padahal bisnis utama saya cuma menerbitkan Majalah GitarPlus lho. Hmmm... nggak cuma itu sih, selain menerbitkan GitarPlus, saya juga buka toko alat musik dan studio rental musik (GH Music & Studio Bintaro dan GH Music Graha Raya), buka kursus gitar, rajin bikin event-event gitar di seluruh Indonesia, hobi menuliskan pengalaman di blog, mengurus anak dan suami di rumah, rutin nge-gym seminggu tiga kali, liburan, jalan-jalan keluar kota, dan masih suka meluangkain waktu untuk menyapa teman-teman saya, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.. Wah, ternyata aktifitas saya memang padat merayap kayak jalanan menuju Puncak saat long weekend.. Hahahaaa..
Akhir Januari ini, saya sekeluarga menyempatkan diri liburan ke Puncak untuk refreshing. Pulang dari Puncak, kami sampai di Jakarta sore hari. Belum juga masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saya di-SMS Mbak Mawar, wartawan Kompas Minggu, yang minta waktu untuk mewawancarai saya. Janjian Rabu, 25 Januari 2012 siang, Mbak Mawar SMS saya Selasa, 24 Januari 2012 jam 17.30-an sore. Kalau yang mau diwawancara saya doang sih nggak masalah, tapi Mbak Mawar pengen mewawancarai saya dengan beberapa gitaris sesuai dengan tema tulisannya.
Jadilah sepanjang sore itu saya langsung sibuk menghubungi teman-teman gitaris siapa aja yang kira-kira bisa datang besok paginya. Nggak lupa saya kabarin Mudya juga biar siap-siap diwawancara karena Mudya salah seorang sosok penting di balik penerbitan Majalah GitarPlus. Dia tuh yang wawasan musiknya, khususnya yang berkaitan dengan dunia pergitaran, luas banget. Makanya, saya yang nggak bisa main gitar dan nggak ngerti gitar bisa bikin majalah GitarPlus, ya karena ada Mudya yang mengurus redaksinya.. :D
Dan karena mengundang teman-teman gitaris untuk datang, saya pun lalu sibuk menyiapkan konsumsi. Aduh, saya ini memang emak-emak banget yak? Mau diwawancara, bukannya dandan ke salon atau pilih-pilih baju yang bagus buat difoto, malah ngurusin konsumsi. Ya habis gimana lagi, justru di situlah letak kebahagiaan saya. Bisa bikin gitaris-gitaris ngumpul dan bersenang-senang bareng lebih membahagiakan buat saya daripada sibuk dandan biar keliatan cantik jelita pas difoto nanti, karena memang dasarnya tampang saya begini-begini, diapa-apain juga udah mentok hahahaa...
Hari itu, saya berhasil membuat tukang soto yang biasa mangkal di dekat kantor GitarPlus ngungsi ke garasi kantor untuk makan siang para tamu yang bakal datang. Nggak disangka-sangka, undangan yang saya –dibantu Mudya- sebar di bbm dan facebook dalam waktu semalam saja ternyata mendapat respon luar biasa. Rabu, 25 Januari 2012, sekitar 30 gitaris nongol di kantor redaksi GitarPlus, tempat saya janjian wawancara dengan Mbak Mawar. Gitaris antar kota antar provinsi nongol di acara itu, di antara Eben Andreas, Bonych dan Amri Jm dari Bekasi, Lucky dari Tegal, Ilham dari Makassar, Iwan Cummie, Irvan Askobar, Andy Owen, Ezra Simanjuntak, Beben Jazz, Bengbeng PAS Band, Adrian Adioetomo, Stevie Item dan lain-lain semua datang dengan ceria. Inilah sebagian foto-fotonya :
Gitaris antar kota antar provinsi ngumpul semua di redaksi GitarPlus
Owen, Mudya, dan Stevi Item. Semuanya pake kaos item padahal nggak janjian :p
Dan inilah hasil wawancaranya setelah dimuat di Kompas Minggu, 29 Januari 2012.
Ayo, ada lagikah media yang tertarik mewawancarai gitaris-gitaris Indonesia? Komunitas gitaris di Indonesia adalah komunitas yang besar lho, cuma mungkin belom banyak yang tahu aja hehe..
Akhir Januari ini, saya sekeluarga menyempatkan diri liburan ke Puncak untuk refreshing. Pulang dari Puncak, kami sampai di Jakarta sore hari. Belum juga masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saya di-SMS Mbak Mawar, wartawan Kompas Minggu, yang minta waktu untuk mewawancarai saya. Janjian Rabu, 25 Januari 2012 siang, Mbak Mawar SMS saya Selasa, 24 Januari 2012 jam 17.30-an sore. Kalau yang mau diwawancara saya doang sih nggak masalah, tapi Mbak Mawar pengen mewawancarai saya dengan beberapa gitaris sesuai dengan tema tulisannya.
Jadilah sepanjang sore itu saya langsung sibuk menghubungi teman-teman gitaris siapa aja yang kira-kira bisa datang besok paginya. Nggak lupa saya kabarin Mudya juga biar siap-siap diwawancara karena Mudya salah seorang sosok penting di balik penerbitan Majalah GitarPlus. Dia tuh yang wawasan musiknya, khususnya yang berkaitan dengan dunia pergitaran, luas banget. Makanya, saya yang nggak bisa main gitar dan nggak ngerti gitar bisa bikin majalah GitarPlus, ya karena ada Mudya yang mengurus redaksinya.. :D
Dan karena mengundang teman-teman gitaris untuk datang, saya pun lalu sibuk menyiapkan konsumsi. Aduh, saya ini memang emak-emak banget yak? Mau diwawancara, bukannya dandan ke salon atau pilih-pilih baju yang bagus buat difoto, malah ngurusin konsumsi. Ya habis gimana lagi, justru di situlah letak kebahagiaan saya. Bisa bikin gitaris-gitaris ngumpul dan bersenang-senang bareng lebih membahagiakan buat saya daripada sibuk dandan biar keliatan cantik jelita pas difoto nanti, karena memang dasarnya tampang saya begini-begini, diapa-apain juga udah mentok hahahaa...
Hari itu, saya berhasil membuat tukang soto yang biasa mangkal di dekat kantor GitarPlus ngungsi ke garasi kantor untuk makan siang para tamu yang bakal datang. Nggak disangka-sangka, undangan yang saya –dibantu Mudya- sebar di bbm dan facebook dalam waktu semalam saja ternyata mendapat respon luar biasa. Rabu, 25 Januari 2012, sekitar 30 gitaris nongol di kantor redaksi GitarPlus, tempat saya janjian wawancara dengan Mbak Mawar. Gitaris antar kota antar provinsi nongol di acara itu, di antara Eben Andreas, Bonych dan Amri Jm dari Bekasi, Lucky dari Tegal, Ilham dari Makassar, Iwan Cummie, Irvan Askobar, Andy Owen, Ezra Simanjuntak, Beben Jazz, Bengbeng PAS Band, Adrian Adioetomo, Stevie Item dan lain-lain semua datang dengan ceria. Inilah sebagian foto-fotonya :
Gitaris antar kota antar provinsi ngumpul semua di redaksi GitarPlus
Owen, Mudya, dan Stevi Item. Semuanya pake kaos item padahal nggak janjian :p
Dan inilah hasil wawancaranya setelah dimuat di Kompas Minggu, 29 Januari 2012.
Ayo, ada lagikah media yang tertarik mewawancarai gitaris-gitaris Indonesia? Komunitas gitaris di Indonesia adalah komunitas yang besar lho, cuma mungkin belom banyak yang tahu aja hehe..
Kamis, 05 Januari 2012
UNTUNG KAMI SAMA GILANYA
Saya memang hobi gila-gilaan. Salah satu hal gila (lagi) yang saya lakukan beberapa waktu lalu adalah nekat menggelar acara tanpa dukungan dari sponsor. Iya sih, dulu awalnya saya juga sering bikin acara nggak ada sponsornya. Tapi belakangan ini saya selaluberusaha menggandeng sponsor biar saya sering-sering bikin acara. Soalnya tanpa sponsor saya bakal babak belur kalau harus membiayai sendiri semua biaya acara.
Di tulisan sebelumnya, saya cerita kalau saya berencana bikin acara Guitar Party with Mattias Eklundh & Friend gara-gara mendengar kabar Mattias Eklundh, gitaris asal Swedia, akan berada di Jakarta pada tanggal 27 - 30 Oktober '11. Dari awal saya yakin banget acara ini bakal disponsori oleh perusahaan rokok yang selama ini rajin mensupport acara saya. Tapi ternyata pelaksanaan acara saya yang satu ini timing-nya nggak pas. Di bulan yang sama, perusahaan rokok tersebut sedang mempersiapkan launching brand baru dan sudah punya segudang jadwal acara sampai akhir bulan. Tapi saya tetap nekat mengajukan proposal. Kira-kira seminggu menjelang acara, barulah saya dapat kabar memilukan; perusahaan rokok 'langganan' itu nggak bisa mensupport acara saya kali ini. Huaaaa!
Biaya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan acara ini jelas nggak sedikit. Bawa bintang tamu gitaris kaliber dunia gitu loh. Meskipun orangnya asyik dan rock n roll, tetap saja ada beberapa standar yang harus dipenuhi untuk mendatangkannya ke Bandung. Dan itu semua berhubungan dengan biaya. Untunglah untuk penyelenggaraan acara ini saya bekerja sama dengan distributor alat musik yang mendatangkan Mattias Eklundh ke Indonesia dalam rangka tour clinic. Jadi, kami bisa berbagi beban untuk beberapa komponen biaya, meskipun tetap saja seluruh biaya produksi acara menjadi tanggung jawab saya.
"Gimana ini, Mbak? Kalau nggak ada sponsornya acara tetap jalan atau nggak?" tanya beberapa teman dari komunitas gitaris di Bandung yang rencananya akan ikut tampil memeriahkan acara itu.
Dari awal saya sudah bertekad untuk tetap menyelenggarakan acara ini, dengan atau tanpa sponsor. Saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Kalau nggak ada sponsor yang bersedia men-support, berarti saya harus rela membongkar celengan ayam untuk membiayai seluruh kebutuhan acara. Anggap saja lagi belajar biar lebih pinter. Selama ini saya sudah mulai fasih bikin acara gitar-gitaran dengan bintang tamu gitaris lokal. Sekarang, untuk pertama kalinya saya akan mengadakan acara dengan bintang tamu gitaris bule. Pengalaman baru buat saya tuh! Nah, kalau ada biaya yang harus saya keluarkan untuk mendapat pengalaman baru ini, anggap saja itu untuk membayar uang sekolahnya. Orang sekolah juga kan harus bayar SPP. Nggak ada ruginya kok kita keluar biaya kalau memang itu bakal bikin kita tambah pintar. Lagian nggak semua orang kan bisa punya kesempatan belajar hal-hal seperti ini? Jadi.. Hajar bleeeeh!
Di saat-saat seperti ini saya sungguh bersyukur punya suami yang selalu mendukung ide-ide gila saya. Eh, sebetulnya kami berdua sama gilanya sih. Mungkin itulah yang bikin kami nggak sembuh-sembuh, soalnya kalau salah satu dari kami udah mau sembuh, yang lain sering kumat dan menulari.. hahahahaa.. Yang jelas, suami sama sekali nggak keberatan ketika akhirnya saya betul-betul harus membiayai seluruh produksi acara dengan dana pribadi. Iyalah, masa sudah repot-repot mempersiapkan acara sekeren ini saya harus mundur cuma gara-gara nggak ada sponsor? Sayang amat!
Ayo, dengan atau tanpa sponsor harus tetep semangaaaat!
Belakangan, ternyata semangat saya menular ke banyak teman gitaris di berbagai kota. Menjelang acara saya berhasil ngomporin teman-teman dari Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta untuk ikut datang untuk tampil atau sekedar memeriahkan acara dengan suka rela. Saya lalu menghubungi teman-teman gitaris di Bandung, meminta kesediaan mereka untuk menjadi tuan rumah untuk teman-teman gitaris yang datang dari kota lain. Pesan saya, “Tolong kasih tumpangan untuk teman-teman gitaris dari luar kota. Suatu saat, kalau saya bikin acara juga di Yogya, Jakarta, atau Surabaya, mereka akan gantian ngasih tumpangan ke kalian.” Dengan begitu, saya berharap gitaris-gitaris dari berbagai kota bisa saling mengenal dan saling memupuk solidaritas.
Sesama gitaris harus kompak dong! ^_^
Dan jadilah Jumat, 28 Oktober 2011 lalu sebagai salah satu hari yang istimewa buat saya. Hari itu untuk pertama kalinya saya menyelenggarakan acara dengan bintang tamu gitaris kaliber dunia. Tapi yang lebih penting, di acara itu saya berhasil membuat gitaris dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Swedia tampil bersama dalam satu panggung. Selain Mattias Eklundh sebagai bintang tamu utama, ada 20 gitaris Indonesia, 1 orang bassist dan 1 orang drummer yang beraksi di panggung malam itu.
Saya sangat menghargai usaha teman-teman gitaris yang jauh-jauh dari luar kota untuk datang ke acara ini; Arie Pablo dan Aditya Rahman dari Surabaya; Ardi Ardian, Mahendra Yogaswara (drummer), Sidi, Abi Sulaksono, Karakinda Krisna, Fajar Sukendra, Muhamad Rizal, Chandra, dan Rudi dari Yogyakarta, Eben Andreas, dan Amri Jm dari Bekasi; Bolga, Balum, Adrian Adioetomo, Pupun Dudiyawan dan Rara dari Jakarta. Juga buat teman-teman gitaris di Bandung; Aji Brokenbones, Billy Mujizat, Trian Nugraha, Mamat Skill, Art Win, Febrian Novanto, Ivan Fabian Devota, Sangkuy, Yqin Bee, Gilang, Cevi, dan Andi MF, Albert Islami dan Mas Aam dari Guitartaintment, Pasundan Guitar Community, dan Indonesian Guitar Community yang ikut pontang-panting membantu persiapan serta kelancaran acara. Nggak lupa MC malam itu, Duta dan Budy Kurnia -yang sekaligus menjadi bassist yang memeriahkan sesi ngejam di acara ini. Juga semua teman yang bela-belain menembus hujan lebat untuk datang menyaksikan acara bersejarah ini.
Bersejarah? Iyalah. Belum tentu setahun atau dua tahun sekali bisa kejadian lagi nih acara kayak begini. Selama ini aja, setau saya belum pernah ada acara yang membuat gitaris junior sekaligus senior di Indonesia bisa tampil satu panggung dengan gitaris dunia, ngejam bareng pula! Ide saya memang suka aneh-aneh dan gila. Tapi justru itu yang membuat acara saya berbeda. Betul kan? :D
*tulisan ini sebetulnya udah lama saya bikin, tapi baru sempat diupload sekarang karena akhir-akhir ini saya sibuk melayani permintaan penggemar yang pada maksa foto bareng + minta tanda tangan :p
Di tulisan sebelumnya, saya cerita kalau saya berencana bikin acara Guitar Party with Mattias Eklundh & Friend gara-gara mendengar kabar Mattias Eklundh, gitaris asal Swedia, akan berada di Jakarta pada tanggal 27 - 30 Oktober '11. Dari awal saya yakin banget acara ini bakal disponsori oleh perusahaan rokok yang selama ini rajin mensupport acara saya. Tapi ternyata pelaksanaan acara saya yang satu ini timing-nya nggak pas. Di bulan yang sama, perusahaan rokok tersebut sedang mempersiapkan launching brand baru dan sudah punya segudang jadwal acara sampai akhir bulan. Tapi saya tetap nekat mengajukan proposal. Kira-kira seminggu menjelang acara, barulah saya dapat kabar memilukan; perusahaan rokok 'langganan' itu nggak bisa mensupport acara saya kali ini. Huaaaa!
Biaya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan acara ini jelas nggak sedikit. Bawa bintang tamu gitaris kaliber dunia gitu loh. Meskipun orangnya asyik dan rock n roll, tetap saja ada beberapa standar yang harus dipenuhi untuk mendatangkannya ke Bandung. Dan itu semua berhubungan dengan biaya. Untunglah untuk penyelenggaraan acara ini saya bekerja sama dengan distributor alat musik yang mendatangkan Mattias Eklundh ke Indonesia dalam rangka tour clinic. Jadi, kami bisa berbagi beban untuk beberapa komponen biaya, meskipun tetap saja seluruh biaya produksi acara menjadi tanggung jawab saya.
"Gimana ini, Mbak? Kalau nggak ada sponsornya acara tetap jalan atau nggak?" tanya beberapa teman dari komunitas gitaris di Bandung yang rencananya akan ikut tampil memeriahkan acara itu.
Dari awal saya sudah bertekad untuk tetap menyelenggarakan acara ini, dengan atau tanpa sponsor. Saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Kalau nggak ada sponsor yang bersedia men-support, berarti saya harus rela membongkar celengan ayam untuk membiayai seluruh kebutuhan acara. Anggap saja lagi belajar biar lebih pinter. Selama ini saya sudah mulai fasih bikin acara gitar-gitaran dengan bintang tamu gitaris lokal. Sekarang, untuk pertama kalinya saya akan mengadakan acara dengan bintang tamu gitaris bule. Pengalaman baru buat saya tuh! Nah, kalau ada biaya yang harus saya keluarkan untuk mendapat pengalaman baru ini, anggap saja itu untuk membayar uang sekolahnya. Orang sekolah juga kan harus bayar SPP. Nggak ada ruginya kok kita keluar biaya kalau memang itu bakal bikin kita tambah pintar. Lagian nggak semua orang kan bisa punya kesempatan belajar hal-hal seperti ini? Jadi.. Hajar bleeeeh!
Di saat-saat seperti ini saya sungguh bersyukur punya suami yang selalu mendukung ide-ide gila saya. Eh, sebetulnya kami berdua sama gilanya sih. Mungkin itulah yang bikin kami nggak sembuh-sembuh, soalnya kalau salah satu dari kami udah mau sembuh, yang lain sering kumat dan menulari.. hahahahaa.. Yang jelas, suami sama sekali nggak keberatan ketika akhirnya saya betul-betul harus membiayai seluruh produksi acara dengan dana pribadi. Iyalah, masa sudah repot-repot mempersiapkan acara sekeren ini saya harus mundur cuma gara-gara nggak ada sponsor? Sayang amat!
Ayo, dengan atau tanpa sponsor harus tetep semangaaaat!
Belakangan, ternyata semangat saya menular ke banyak teman gitaris di berbagai kota. Menjelang acara saya berhasil ngomporin teman-teman dari Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta untuk ikut datang untuk tampil atau sekedar memeriahkan acara dengan suka rela. Saya lalu menghubungi teman-teman gitaris di Bandung, meminta kesediaan mereka untuk menjadi tuan rumah untuk teman-teman gitaris yang datang dari kota lain. Pesan saya, “Tolong kasih tumpangan untuk teman-teman gitaris dari luar kota. Suatu saat, kalau saya bikin acara juga di Yogya, Jakarta, atau Surabaya, mereka akan gantian ngasih tumpangan ke kalian.” Dengan begitu, saya berharap gitaris-gitaris dari berbagai kota bisa saling mengenal dan saling memupuk solidaritas.
Sesama gitaris harus kompak dong! ^_^
Dan jadilah Jumat, 28 Oktober 2011 lalu sebagai salah satu hari yang istimewa buat saya. Hari itu untuk pertama kalinya saya menyelenggarakan acara dengan bintang tamu gitaris kaliber dunia. Tapi yang lebih penting, di acara itu saya berhasil membuat gitaris dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Swedia tampil bersama dalam satu panggung. Selain Mattias Eklundh sebagai bintang tamu utama, ada 20 gitaris Indonesia, 1 orang bassist dan 1 orang drummer yang beraksi di panggung malam itu.
Saya sangat menghargai usaha teman-teman gitaris yang jauh-jauh dari luar kota untuk datang ke acara ini; Arie Pablo dan Aditya Rahman dari Surabaya; Ardi Ardian, Mahendra Yogaswara (drummer), Sidi, Abi Sulaksono, Karakinda Krisna, Fajar Sukendra, Muhamad Rizal, Chandra, dan Rudi dari Yogyakarta, Eben Andreas, dan Amri Jm dari Bekasi; Bolga, Balum, Adrian Adioetomo, Pupun Dudiyawan dan Rara dari Jakarta. Juga buat teman-teman gitaris di Bandung; Aji Brokenbones, Billy Mujizat, Trian Nugraha, Mamat Skill, Art Win, Febrian Novanto, Ivan Fabian Devota, Sangkuy, Yqin Bee, Gilang, Cevi, dan Andi MF, Albert Islami dan Mas Aam dari Guitartaintment, Pasundan Guitar Community, dan Indonesian Guitar Community yang ikut pontang-panting membantu persiapan serta kelancaran acara. Nggak lupa MC malam itu, Duta dan Budy Kurnia -yang sekaligus menjadi bassist yang memeriahkan sesi ngejam di acara ini. Juga semua teman yang bela-belain menembus hujan lebat untuk datang menyaksikan acara bersejarah ini.
Bersejarah? Iyalah. Belum tentu setahun atau dua tahun sekali bisa kejadian lagi nih acara kayak begini. Selama ini aja, setau saya belum pernah ada acara yang membuat gitaris junior sekaligus senior di Indonesia bisa tampil satu panggung dengan gitaris dunia, ngejam bareng pula! Ide saya memang suka aneh-aneh dan gila. Tapi justru itu yang membuat acara saya berbeda. Betul kan? :D
*tulisan ini sebetulnya udah lama saya bikin, tapi baru sempat diupload sekarang karena akhir-akhir ini saya sibuk melayani permintaan penggemar yang pada maksa foto bareng + minta tanda tangan :p
Selasa, 06 September 2011
SAYA MENIKMATI APA YANG SAYA KERJAKAN
Seorang gitaris dari sebuah komunitas di salah satu kota yang saya kunjungi pernah nanya begini ke saya, “Kenapa sih Mbak Intan mau bikin acara gitar-gitaran, padahal Mbak Intan kan bukan gitaris? Main gitar aja nggak bisa.”
Saya cuma nyengir aja.
Beberapa tahun terakhir ini saya memang rajin bikin acara gitar-gitaran. Nama acaranya macem-macem, ada ‘Guitar Goes to School’, ‘Guitar Goes to Campus’, ‘Guitar For Fun’, ‘Gitaran Sore’.. semuanya spesifik acara gitar. Selama Juni-Agustus ini saja saya sudah menggelar 5 acara di berbagai kota; Guitar For Fun Medan, konser gitar klasik Jubing Kristianto, Bandung Lautan Gitar, Guitar For Fun Makassar, dan Gitaran Sore Bandung. Itu baru acara yang sepenuhnya saya tangani sendiri mulai dari persiapan sampai akhir. Di Rookies Guitar Battle Medan dan Makassar yang merupakan pre-event Guitar For Fun yang diselenggarakan Juni dan Juli 2011 lalu, saya ikut terlibat meskipun tidak terlalu jauh karena sebagian besar pekerjaan sudah dihandle oleh EO yang ditunjuk oleh sponsor. Padahal saya sendiri malah nggak bisa main gitar. Nggak heran, orang jadi bertanya-tanya, kenapa saya mau repot-repot bikin acara seperti ini. Hehee..
Saya memang bukan gitaris, tapi pekerjaan dan keseharian saya sangat dekat dengan dunia gitar. Sudah pada tahu dong, hampir 8 tahun ini saya menerbitkan Majalah GitarPlus, majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia? Kalau beberapa tahun terakhir ini saya rajin bikin event-event gitar di berbagai daerah di Indonesia, awalnya niat saya cuma untuk promosi Majalah GitarPlus agar lebih dikenal di kalangan gitaris dan pecinta gitar. Tapi belakangan, setelah berinteraksi langsung dengan para gitaris dan terlibat lebih dalam dengan dunia mereka, baru saya menyadari satu hal; saya jatuh cinta pada dunia ini. Saya menikmati apa yang saya kerjakan dan menemukan kebahagiaan di sini.
Saya senang melihat gitaris-gitaris berkumpul karena saya tahu Itulah kesempatan mereka untuk mengaktualisasikan diri, saling berbagi cerita dan pengalaman, bercanda tawa, bertukar ilmu, dan saling mendukung dalam berkarya sekaligus mempererat tali silaturahmi, atau sekedar narsis-narsisan berfoto bareng. Saya bahagia melihat wajah-wajah ceria dan suasana kekeluargaan yang tercipta setiap kali gitaris-gitaris dari berbagai aliran musik itu berkumpul bersama dalam satu acara. Nggak ada sekat pembatas antara gitaris yang sudah ngetop dengan yang baru belajar. Semua berbaur dan saling memberi arti dalam kebersamaan.
Sejujurnya, hal itu yang membuat saya ketagihan bikin acara gitar-gitaran. Kalau dulu saya bikin acara gitar tujuannya untuk promosi majalah, belakangan niat saya berubah. Saya ingin memberi wadah bagi para gitaris untuk berkumpul dan saling berkomunikasi, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Di mana gitaris-gitaris bisa begitu dihargai dan dipuja-puja? Di tengah-tengah mereka yang sama-sama punya minat khusus pada dunia gitar pastinya! Pada saat tampil dengan band-nya di panggung, seorang gitaris –kecuali yang sekaligus menjadi vokalis di band tersebut- biasanya berdiri di samping, atau di belakang. Nggak banyak yang memperhatikan mereka karena perhatian penonton umum biasanya lebih tertuju pada sang vokalis. Mau memainkan skill sesulit apa pun, jarang penonton yang memperhatikan, apalagi khusus bertepuk tangan untuk sang gitaris.
Menyadari hal itu, saya memutuskan membuat acara yang berbeda dari yang sudah pernah ada sebelumnya; acara gitar-gitaran untuk para gitaris. Di acara yang saya selenggarakan, gitarislah yang menjadi bintang utama. Gitarislah yang menjadi idola di mata penonton yang sebagian besar di antaranya adalah gitaris juga. Penonton yang sama-sama gitaris tentu bisa mengapresiasi dengan lebih baik, atau sebaliknya memberi komentar dengan lebih kritis saat seorang gitaris tampil di panggung. Dengan demikian, saya berharap gitaris-gitaris –baik yang tampil di panggung maupun duduk sebagai penonton- terpacu untuk berkarya lebih dan lebih baik lagi.
Saya juga jadi belajar banyak tentang cara menyelenggarakan event setelah terjun langsung mengurusi event-event gitar. Wawasan dan pengalaman saya bertambah. Relasi pun menjadi semakin luas. Dan saya menikmatinya karena pada dasarnya saya senang berteman dengan banyak orang. Punya banyak teman membuat hidup saya kaya dan berwarna. Terbukti, saya sering sekali terbantu dalam banyak hal karena punya teman dimana-mana. Salah satu yang paling mengharukan, banyak teman gitaris yang menyadari keterbatasan saya (nggak ngerti musik, nggak paham sound, lighting dan sejenisnya) tapi saat persiapan sampai acara berlangsung mau turun tangan membantu menutupi kelemahan saya. Saya merasakan kebersamaan di sini. Dan menurut saya, itu adalah langkah yang baik untuk membuat gitaris-gitaris saling mendukung dan memupuk solidaritas.
Iya, saya memang bukan gitaris. Tapi entah kenapa saya merasa punya kedekatan emosi dengan para gitaris di berbagai komunitas yang saya jumpai. Saya menemukan kebahagiaan saat berada di tengah-tengah mereka dan bisa membuat mereka bahagia juga seperti yang saya rasakan. Melihat mereka tertawa, berkumpul dan bercanda tawa dengan teman-temannya, semua itu seperti memberi suntikan semangat dan energi yang tak putus-putus bagi saya untuk lagi dan lagi mengadakan berbagai acara untuk gitaris di kota yang berbeda-beda. Sesederhana itu.
“Mbak Intan punya majalah gitar dan sering bikin acara gitar-gitaran, apa nggak pengen belajar main gitar?” Beberapa kali pertanyaan semacam ini muncul dari teman-teman gitaris yang lain.
Saya cuma bisa menjawab sambil tertawa, “Nggak deh. Kalau saya ikut-ikutan main gitar, nanti waktu saya habis buat latihan dan ngutak-atik gitar. Nanti saya malah nggak sempat ngurusin majalah dan event-event gitar buat kalian.”
Ya, saya memilih untuk berada di belakang layar. Menyiapkan acara, mengetuk hati para sponsor agar bersedia mengucurkan dana, mengurus tetek bengek mulai dari mencari venue, memesan konsumsi sampai mempromosikan acara, mengundang gitaris-gitaris untuk ikut hadir serta hal-hal lain yang dibutuhkan untuk membuat sebuah event berjalan lancar, dengan tujuan agar gitaris Indonesia lebih maju dan diakui keberadaannya. Nggak perlu bisa main gitar. Begini saja saya sudah senang kok. :)
Saya cuma nyengir aja.
Beberapa tahun terakhir ini saya memang rajin bikin acara gitar-gitaran. Nama acaranya macem-macem, ada ‘Guitar Goes to School’, ‘Guitar Goes to Campus’, ‘Guitar For Fun’, ‘Gitaran Sore’.. semuanya spesifik acara gitar. Selama Juni-Agustus ini saja saya sudah menggelar 5 acara di berbagai kota; Guitar For Fun Medan, konser gitar klasik Jubing Kristianto, Bandung Lautan Gitar, Guitar For Fun Makassar, dan Gitaran Sore Bandung. Itu baru acara yang sepenuhnya saya tangani sendiri mulai dari persiapan sampai akhir. Di Rookies Guitar Battle Medan dan Makassar yang merupakan pre-event Guitar For Fun yang diselenggarakan Juni dan Juli 2011 lalu, saya ikut terlibat meskipun tidak terlalu jauh karena sebagian besar pekerjaan sudah dihandle oleh EO yang ditunjuk oleh sponsor. Padahal saya sendiri malah nggak bisa main gitar. Nggak heran, orang jadi bertanya-tanya, kenapa saya mau repot-repot bikin acara seperti ini. Hehee..
Saya memang bukan gitaris, tapi pekerjaan dan keseharian saya sangat dekat dengan dunia gitar. Sudah pada tahu dong, hampir 8 tahun ini saya menerbitkan Majalah GitarPlus, majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia? Kalau beberapa tahun terakhir ini saya rajin bikin event-event gitar di berbagai daerah di Indonesia, awalnya niat saya cuma untuk promosi Majalah GitarPlus agar lebih dikenal di kalangan gitaris dan pecinta gitar. Tapi belakangan, setelah berinteraksi langsung dengan para gitaris dan terlibat lebih dalam dengan dunia mereka, baru saya menyadari satu hal; saya jatuh cinta pada dunia ini. Saya menikmati apa yang saya kerjakan dan menemukan kebahagiaan di sini.
Saya senang melihat gitaris-gitaris berkumpul karena saya tahu Itulah kesempatan mereka untuk mengaktualisasikan diri, saling berbagi cerita dan pengalaman, bercanda tawa, bertukar ilmu, dan saling mendukung dalam berkarya sekaligus mempererat tali silaturahmi, atau sekedar narsis-narsisan berfoto bareng. Saya bahagia melihat wajah-wajah ceria dan suasana kekeluargaan yang tercipta setiap kali gitaris-gitaris dari berbagai aliran musik itu berkumpul bersama dalam satu acara. Nggak ada sekat pembatas antara gitaris yang sudah ngetop dengan yang baru belajar. Semua berbaur dan saling memberi arti dalam kebersamaan.
Sejujurnya, hal itu yang membuat saya ketagihan bikin acara gitar-gitaran. Kalau dulu saya bikin acara gitar tujuannya untuk promosi majalah, belakangan niat saya berubah. Saya ingin memberi wadah bagi para gitaris untuk berkumpul dan saling berkomunikasi, seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Di mana gitaris-gitaris bisa begitu dihargai dan dipuja-puja? Di tengah-tengah mereka yang sama-sama punya minat khusus pada dunia gitar pastinya! Pada saat tampil dengan band-nya di panggung, seorang gitaris –kecuali yang sekaligus menjadi vokalis di band tersebut- biasanya berdiri di samping, atau di belakang. Nggak banyak yang memperhatikan mereka karena perhatian penonton umum biasanya lebih tertuju pada sang vokalis. Mau memainkan skill sesulit apa pun, jarang penonton yang memperhatikan, apalagi khusus bertepuk tangan untuk sang gitaris.
Menyadari hal itu, saya memutuskan membuat acara yang berbeda dari yang sudah pernah ada sebelumnya; acara gitar-gitaran untuk para gitaris. Di acara yang saya selenggarakan, gitarislah yang menjadi bintang utama. Gitarislah yang menjadi idola di mata penonton yang sebagian besar di antaranya adalah gitaris juga. Penonton yang sama-sama gitaris tentu bisa mengapresiasi dengan lebih baik, atau sebaliknya memberi komentar dengan lebih kritis saat seorang gitaris tampil di panggung. Dengan demikian, saya berharap gitaris-gitaris –baik yang tampil di panggung maupun duduk sebagai penonton- terpacu untuk berkarya lebih dan lebih baik lagi.
Saya juga jadi belajar banyak tentang cara menyelenggarakan event setelah terjun langsung mengurusi event-event gitar. Wawasan dan pengalaman saya bertambah. Relasi pun menjadi semakin luas. Dan saya menikmatinya karena pada dasarnya saya senang berteman dengan banyak orang. Punya banyak teman membuat hidup saya kaya dan berwarna. Terbukti, saya sering sekali terbantu dalam banyak hal karena punya teman dimana-mana. Salah satu yang paling mengharukan, banyak teman gitaris yang menyadari keterbatasan saya (nggak ngerti musik, nggak paham sound, lighting dan sejenisnya) tapi saat persiapan sampai acara berlangsung mau turun tangan membantu menutupi kelemahan saya. Saya merasakan kebersamaan di sini. Dan menurut saya, itu adalah langkah yang baik untuk membuat gitaris-gitaris saling mendukung dan memupuk solidaritas.
Iya, saya memang bukan gitaris. Tapi entah kenapa saya merasa punya kedekatan emosi dengan para gitaris di berbagai komunitas yang saya jumpai. Saya menemukan kebahagiaan saat berada di tengah-tengah mereka dan bisa membuat mereka bahagia juga seperti yang saya rasakan. Melihat mereka tertawa, berkumpul dan bercanda tawa dengan teman-temannya, semua itu seperti memberi suntikan semangat dan energi yang tak putus-putus bagi saya untuk lagi dan lagi mengadakan berbagai acara untuk gitaris di kota yang berbeda-beda. Sesederhana itu.
“Mbak Intan punya majalah gitar dan sering bikin acara gitar-gitaran, apa nggak pengen belajar main gitar?” Beberapa kali pertanyaan semacam ini muncul dari teman-teman gitaris yang lain.
Saya cuma bisa menjawab sambil tertawa, “Nggak deh. Kalau saya ikut-ikutan main gitar, nanti waktu saya habis buat latihan dan ngutak-atik gitar. Nanti saya malah nggak sempat ngurusin majalah dan event-event gitar buat kalian.”
Ya, saya memilih untuk berada di belakang layar. Menyiapkan acara, mengetuk hati para sponsor agar bersedia mengucurkan dana, mengurus tetek bengek mulai dari mencari venue, memesan konsumsi sampai mempromosikan acara, mengundang gitaris-gitaris untuk ikut hadir serta hal-hal lain yang dibutuhkan untuk membuat sebuah event berjalan lancar, dengan tujuan agar gitaris Indonesia lebih maju dan diakui keberadaannya. Nggak perlu bisa main gitar. Begini saja saya sudah senang kok. :)
Jumat, 19 Agustus 2011
SAYA SENANG MEMBUAT GITARIS BERKUMPUL DAN SALING TERHUBUNG
Banyak orang bilang saya hebat karena di acara ‘Gitaran Sore’ yang saya selenggarakan di Ciwalk, Bandung, 14 Agustus 2011 lalu saya berhasil mengumpulkan banyak gitaris, baik junior maupun senior. Di acara itu, lebih dari 20 gitaris dari berbagai komunitas di Bandung ikut tampil memeriahkan acara, di antaranya Aji Brokenbones (Ketua Indonesian Guitar Community), Febrian Novanto (Ketua Pasundan Guitar Community) yang tampil berdua dengan Ivan Fabian Devota di bawah bendera Cap Nony, Aam (Ketua Guitartaintment), Balum (perwakilan dari Agung Guitar Course, kursus gitar yang dikomandani oleh Agung Burgerkill), Art Win, Trian Nugraha, Mamat Skill, Eben Andreas –anggota IGC yang datang jauh-jauh dari Jakarta-, Trio Sungsang, dan masih banyak lagi. Sementara gitaris yang namanya sudah dikenal secara nasional –bahkan internasional- yang tampil di acara itu adalah I Wayan Balawan, Pupun RoR, Bengbeng PAS Band, Ezra Simanjuntak, serta seorang bassist dari band Topeng, Budy Kurnia. Hmmm… itu sih belum seberapa. Gitaris yang tampil di acara Bandung Lautan Gitar –yang juga saya adakan di Bandung, 18 Juni 2011 lalu- jauh lebih banyak jumlahnya; semuanya ada 54 gitaris!
Selain yang tampil di panggung, saya juga mengundang teman-teman gitaris lain untuk datang agar bisa bersilaturahmi dan ngabuburit bareng di Ciwalk. Undangan yang saya sebar lewat SMS dan bbm itu ternyata mendapat respon yang baik. Beberapa gitaris dari berbagai aliran musik seperti Eet Sjahranie, Ace J, Syarif ‘Aksara’, Agung dan Eben Burgerkill, Akew Beside, Bona Dcinammons, Diat ‘Yovie n Nuno’ dan lain-lain ternyata mau meluangkan waktu untuk datang. Juga ada Pia ‘Utopia’ dan Yukie Pas Band yang ikut datang meramaikan acara. Beberapa perwakilan distributor alat musik juga tampak berbaur di tengah penonton Gitaran Sore, di antaranya dari Shredder Guitar and Amplifier, Cora Amplifier, Blackstar Amplifier, Secco Guitar, Rockwell Guitar, Russel Amplifier, GNA Music, dan lain-lain (yang nggak kesebut namanya, maaf yaaa.. Saya nggak bisa mengingat satu per satu saking banyaknya yang datang.:-D). Acara sore itu menjadi ajang berkumpulnya gitaris-gitaris serta pihak-pihak yang berkecimpung di dunia gitar, nggak cuma yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Ada juga penonton yang tinggal di Riau, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Kuningan. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar seribu orang penonton yang memadati Union Square Cihampelas Walk hari itu, dan saya yakin lebih setengah di antaranya adalah gitaris dan penggemar gitar. Lumayan banyak kan?
Tapi kalau begitu banyak gitaris ngumpul di Ciwalk sore itu, menurut saya sih bukan karena saya hebat. Gitaris-gitaris itu kan datang bukan untuk ketemu saya hehe.. Mereka butuh berkumpul dengan komunitasnya, butuh berinteraksi dan sharing dengan teman-teman yang mempunyai minat yang sama, butuh menunjukkan eksistensinya. Saya hanya memberi wadah melalui acara yang saya buat. Dan menggerakkan mereka untuk datang karena saya tahu, sebagian orang merasa kurang nyaman datang ke suatu acara kalau nggak merasa diundang. Sudah, cuma itu doang peran saya. Apa hebatnya? ^_^
Ngomong-ngomong soal komunitas, sudah lama saya mengamati kalau setiap orang yang punya ketertarikan khusus pada sesuatu hal tertentu butuh punya komunitas. Gitaris juga begitu. Hanya bersama teman-teman sesama gitarislah mereka bisa ngobrol dengan ‘bahasa’ yang sama. Gitaris atau penggemar gitar baru bisa ngobrol seru kalau lawan ngobrolnya sama-sama orang yang tertarik pada gitar, atau minimal musik secara keseluruhan. Ngobrolin gitar dengan orang yang tergila-gila sepak bola mungkin sedikit-sedikit nyambung, tapi pasti lebih asyik dengan sesama gitaris. Dengan sesama penggemar gitar, seorang gitaris bisa saling bercerita detail tentang gitar yang mereka miliki. Hanya dengan sesama gitaris, mereka bisa bertukar pikiran tentang effect atau equipment apa saja yang dibutuhkan untuk menghasilkan sound tertentu. Coba aja ngobrol soal itu dengan penggemar motor gede, yang sama sekali nggak ngerti gitar, pasti sebentar aja udah kehabisan bahan atau salah satu pihak kabur duluan karena bosan. Hahahaa..
Karena itulah mempunyai komunitas menjadi penting bagi seorang gitaris. Dan setelah keliling ke berbagai kota di Indonesia, saya melihat di masing-masingkota ternyata sudah banyak terbentuk komunitas gitaris. Di Bandung ada Guitartaintment, Indonesian Guitar Community (IGC), dan Pasundan Guitar Community. Di Surabaya ada Komunitas Gitaris Surabaya. Di Jember ada Komunitas Gitaris Jember. Di Bali ada Bali Guitar Club. Di Makassar ada Persatuan Gitaris Makassar (PeGM), di Jakarta ada Guitar Community of Indonesia yang buka cabang di Surabaya, Yogyakarta, Bogor, Bali dan kota-kota lain (udah kayak bank aja banyak cabangnya :p), di Medan ada Medan Guitar Family, dan masih banyak lagi yang nggak bisa saya sebutkan satu per satu. Ada komunitas yang aktif, hampir setiap bulan rutin bikin acara. Ada yang adem ayem, sesekali doang bikin acara tapi nggak dipublikasikan keluar sehingga nggak banyak orang yang tahu. Tapi ada juga yang cuma aktif berinteraksi lewat facebook sehingga sesama anggotanya nggak pernah ketemu secara langsung, meskipun tinggal di satu kota. Nah, kalau yang tinggal satu kota pun belum tentu saling kenal atau pernah saling ketemu, bagaimana dengan yang beda kota?
Kenyataan itu membuat saya tergerak untuk berbuat sesuatu agar para gitaris Indonesia bisa saling mengenal, saling terhubung. Salah satu caranya adalah dengan rutin bikin acara di berbagai kota dan memuat liputan acara-acara tersebut di Majalah GitarPlus, majalahnya para gitaris. Saya juga memberi ruang bagi komunitas gitaris dari berbagai pelosok di Indonesia untuk menampilkan kegiatan komunitasnya di Majalah GitarPlus. Dengan begitu gitaris-gitaris dari kota-kota lain tahu kalau teman-temannya sesama gitaris di satu kota mengadakan kegiatan tertentu. Saya berharap itu akan memicu gitaris dari kota-kota lain untuk ikut membuat kegiatan positif yang berhubungan dengan dunia mereka sebagai gitaris, dengan caranya masing-masing.
Makanya, satu hal yang selalu membuat saya senang dan puas setiap selesai menyelenggarakan suatu acara bukanlah berapa besar keuntungan materi yang saya peroleh dari hasil penyelenggaraan acara itu. Saya nggak mencari untung di sini. Saya bukan EO. Saya cuma senang kalau setelah acara selesai banyak gitaris meng-upload foto-foto acara di facebook masing-masing dan saling memberi komentar. Saya senang menyadari beberapa teman saya di facebook yang sama-sama gitaris jadi berteman satu sama lain gara-gara mengomentari foto saya, padahal yang satu tinggal di Makassar dan satunya lagi di Medan. Saya senang waktu gitaris yang bertemu saat jadi bintang tamu di acara saya bilang kalau mereka sudah saling menyimpan nomer hp atau pin Blackberry dan jadi rajin kontak-kontakan. Saya senang bisa membuat distributor dan toko alat musik bisa kenal akrab dengan para gitaris, tidak sekadar berhubungan sebagai pembeli dan penjual. Dan saya bahagia luar biasa kalau setiap selesai acara semua pihak yang terlibat -baik sebagai pengisi acara, sponsor maupun penonton- dengan semangat bertanya, “Kapan bikin acara seperti ini lagi? Jangan lupa ajak-ajak saya ya!”
Singkatnya, saya senang membuat gitaris serta semua orang yang punya kepentingan dan kepedulian pada dunia gitar berkumpul dan saling terhubung. Karena saya yakin, hal itu sedikit banyak pasti akan memberi dampak positif bagi kemajuan dunia gitar dan gitaris Indonesia. :)
Selain yang tampil di panggung, saya juga mengundang teman-teman gitaris lain untuk datang agar bisa bersilaturahmi dan ngabuburit bareng di Ciwalk. Undangan yang saya sebar lewat SMS dan bbm itu ternyata mendapat respon yang baik. Beberapa gitaris dari berbagai aliran musik seperti Eet Sjahranie, Ace J, Syarif ‘Aksara’, Agung dan Eben Burgerkill, Akew Beside, Bona Dcinammons, Diat ‘Yovie n Nuno’ dan lain-lain ternyata mau meluangkan waktu untuk datang. Juga ada Pia ‘Utopia’ dan Yukie Pas Band yang ikut datang meramaikan acara. Beberapa perwakilan distributor alat musik juga tampak berbaur di tengah penonton Gitaran Sore, di antaranya dari Shredder Guitar and Amplifier, Cora Amplifier, Blackstar Amplifier, Secco Guitar, Rockwell Guitar, Russel Amplifier, GNA Music, dan lain-lain (yang nggak kesebut namanya, maaf yaaa.. Saya nggak bisa mengingat satu per satu saking banyaknya yang datang.:-D). Acara sore itu menjadi ajang berkumpulnya gitaris-gitaris serta pihak-pihak yang berkecimpung di dunia gitar, nggak cuma yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Ada juga penonton yang tinggal di Riau, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Kuningan. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar seribu orang penonton yang memadati Union Square Cihampelas Walk hari itu, dan saya yakin lebih setengah di antaranya adalah gitaris dan penggemar gitar. Lumayan banyak kan?
Tapi kalau begitu banyak gitaris ngumpul di Ciwalk sore itu, menurut saya sih bukan karena saya hebat. Gitaris-gitaris itu kan datang bukan untuk ketemu saya hehe.. Mereka butuh berkumpul dengan komunitasnya, butuh berinteraksi dan sharing dengan teman-teman yang mempunyai minat yang sama, butuh menunjukkan eksistensinya. Saya hanya memberi wadah melalui acara yang saya buat. Dan menggerakkan mereka untuk datang karena saya tahu, sebagian orang merasa kurang nyaman datang ke suatu acara kalau nggak merasa diundang. Sudah, cuma itu doang peran saya. Apa hebatnya? ^_^
Ngomong-ngomong soal komunitas, sudah lama saya mengamati kalau setiap orang yang punya ketertarikan khusus pada sesuatu hal tertentu butuh punya komunitas. Gitaris juga begitu. Hanya bersama teman-teman sesama gitarislah mereka bisa ngobrol dengan ‘bahasa’ yang sama. Gitaris atau penggemar gitar baru bisa ngobrol seru kalau lawan ngobrolnya sama-sama orang yang tertarik pada gitar, atau minimal musik secara keseluruhan. Ngobrolin gitar dengan orang yang tergila-gila sepak bola mungkin sedikit-sedikit nyambung, tapi pasti lebih asyik dengan sesama gitaris. Dengan sesama penggemar gitar, seorang gitaris bisa saling bercerita detail tentang gitar yang mereka miliki. Hanya dengan sesama gitaris, mereka bisa bertukar pikiran tentang effect atau equipment apa saja yang dibutuhkan untuk menghasilkan sound tertentu. Coba aja ngobrol soal itu dengan penggemar motor gede, yang sama sekali nggak ngerti gitar, pasti sebentar aja udah kehabisan bahan atau salah satu pihak kabur duluan karena bosan. Hahahaa..
Karena itulah mempunyai komunitas menjadi penting bagi seorang gitaris. Dan setelah keliling ke berbagai kota di Indonesia, saya melihat di masing-masingkota ternyata sudah banyak terbentuk komunitas gitaris. Di Bandung ada Guitartaintment, Indonesian Guitar Community (IGC), dan Pasundan Guitar Community. Di Surabaya ada Komunitas Gitaris Surabaya. Di Jember ada Komunitas Gitaris Jember. Di Bali ada Bali Guitar Club. Di Makassar ada Persatuan Gitaris Makassar (PeGM), di Jakarta ada Guitar Community of Indonesia yang buka cabang di Surabaya, Yogyakarta, Bogor, Bali dan kota-kota lain (udah kayak bank aja banyak cabangnya :p), di Medan ada Medan Guitar Family, dan masih banyak lagi yang nggak bisa saya sebutkan satu per satu. Ada komunitas yang aktif, hampir setiap bulan rutin bikin acara. Ada yang adem ayem, sesekali doang bikin acara tapi nggak dipublikasikan keluar sehingga nggak banyak orang yang tahu. Tapi ada juga yang cuma aktif berinteraksi lewat facebook sehingga sesama anggotanya nggak pernah ketemu secara langsung, meskipun tinggal di satu kota. Nah, kalau yang tinggal satu kota pun belum tentu saling kenal atau pernah saling ketemu, bagaimana dengan yang beda kota?
Kenyataan itu membuat saya tergerak untuk berbuat sesuatu agar para gitaris Indonesia bisa saling mengenal, saling terhubung. Salah satu caranya adalah dengan rutin bikin acara di berbagai kota dan memuat liputan acara-acara tersebut di Majalah GitarPlus, majalahnya para gitaris. Saya juga memberi ruang bagi komunitas gitaris dari berbagai pelosok di Indonesia untuk menampilkan kegiatan komunitasnya di Majalah GitarPlus. Dengan begitu gitaris-gitaris dari kota-kota lain tahu kalau teman-temannya sesama gitaris di satu kota mengadakan kegiatan tertentu. Saya berharap itu akan memicu gitaris dari kota-kota lain untuk ikut membuat kegiatan positif yang berhubungan dengan dunia mereka sebagai gitaris, dengan caranya masing-masing.
Makanya, satu hal yang selalu membuat saya senang dan puas setiap selesai menyelenggarakan suatu acara bukanlah berapa besar keuntungan materi yang saya peroleh dari hasil penyelenggaraan acara itu. Saya nggak mencari untung di sini. Saya bukan EO. Saya cuma senang kalau setelah acara selesai banyak gitaris meng-upload foto-foto acara di facebook masing-masing dan saling memberi komentar. Saya senang menyadari beberapa teman saya di facebook yang sama-sama gitaris jadi berteman satu sama lain gara-gara mengomentari foto saya, padahal yang satu tinggal di Makassar dan satunya lagi di Medan. Saya senang waktu gitaris yang bertemu saat jadi bintang tamu di acara saya bilang kalau mereka sudah saling menyimpan nomer hp atau pin Blackberry dan jadi rajin kontak-kontakan. Saya senang bisa membuat distributor dan toko alat musik bisa kenal akrab dengan para gitaris, tidak sekadar berhubungan sebagai pembeli dan penjual. Dan saya bahagia luar biasa kalau setiap selesai acara semua pihak yang terlibat -baik sebagai pengisi acara, sponsor maupun penonton- dengan semangat bertanya, “Kapan bikin acara seperti ini lagi? Jangan lupa ajak-ajak saya ya!”
Singkatnya, saya senang membuat gitaris serta semua orang yang punya kepentingan dan kepedulian pada dunia gitar berkumpul dan saling terhubung. Karena saya yakin, hal itu sedikit banyak pasti akan memberi dampak positif bagi kemajuan dunia gitar dan gitaris Indonesia. :)
Rabu, 17 Agustus 2011
STRATEGI GILA AGAR ACARA LANCAR JAYA
Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya, Cerita Konser Jubing Kristianto di Medan. Karena kepanjangan, saya bikin jadi dua tulisan biar kayak sinetron. :p
Karena di konser Jubing ini saya sama sekali nggak dapat sponsor dana, maka untuk persiapan acaranya pun saya memakai pendekatan yang berbeda. Waktu menyebarluaskan informasi tentang acara ‘Guitar For Fun’ ke toko-toko dan sekolah musik di Medan, saya sambil sounding sekalian kalau saya juga akan bikin acara lain dalam waktu berdekatan. Berhubung persiapan acaranya mepet banget, saya tentu nggak bisa berharap banyak mereka akan mau memberi support dalam bentuk dana. Tapi bukan berarti nggak bisa diajak kerja sama dalam bentuk lain kan?
Buktinya ada juga tuh beberapa toko dan sekolah musik yang bersedia diajak kerja sama untuk penyelenggaraan acara ini. Ada yang men-support sound system, menjadi tiket box, membantu menyebarluaskan informasi dan lain-lain. Nah, kunci utama keberhasilan acara ini terletak pada kerja sama saya dengan sekolah-sekolah musik. Kok bisa?
Iya dong, untuk konser ini saya melibatkan siswa-siswa berbagai sekolah musik dan kampus jurusan musik di Medan untuk tampil satu panggung bersama Mas Jubing, di antaranya Farabi, Purwacaraka, Medan Musik, Vivo Musik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen, Fakultas Seni Musik Unimed, SMM Negeri Medan, dan lain-lain. Satu per satu saya kunjungi sekolah dan kampus musik tersebut untuk menawarkan kerja sama. Ada yang langsung menyambut baik tawaran saya, tapi ada juga yang ogah-ogahan, memasang tampang judes, bahkan ada juga yang bahkan ketemu saya pun nggak mau. Ya udah, nggak apa-apa, saya ngajak kerja sama yang mau doang kok. Untung saya udah biasa ditolak dan nggak gampang sakit hati dijudesin orang. Jadi ya cuek dan hajar bleh teruuuss! :-D
Ada beberapa kejadian lucu waktu saya menelepon salah satu sekolah musin untuk saya ajak bekerja sama menyukseskan acara ini.
"Saya mau bikin konser gitar klasik di Medan dan mau menawarkan siswa di sekolah musik ini untuk tampil sepanggung dengan Mas Jubing di acara itu," ujar saya baik-baik.
Eh, malah dijawab dengan ketus, "Maaf, saya lagi sibuk! Coba kalau mau minta sumbangan proposalnya diajukan dulu."
"Saya bukan mau minta sumbangan, saya justru menawarkan peluang. Saya kasih kesempatan siswa di sekolah ini untuk tampil sepanggung dengan salah satu maestro gitar klasik Indonesia dan saya sudah siapkan semuanya. Venue, panggung, lighting, sound system, publiasi, artis.. semuanya gratis! Siswa sekolah ini tinggal datang, main, dan pulangnya saya kasih sertifikat yang menyatakan kalau siswa tersebut sudah pernah tampil sepanggung dengan Mas Jubing. Kapan lagi mereka punya kesempatan seperti ini? Acaranya diliput media nasional lagi!" balas saya tegas. Enak aja saya dikira minta sumbangan! :p
Belakangan, orang dari sekolah musik itu berubah jadi ramah dan baik sekali sama saya, dan nggak putus-putus mengucapkan terima kasih karena saya sudah bersedia melibatkan siswa-siswanya.
Ada lagi guru sekolah musik yang awalnya ogah-ogahan menanggapi tawaran saya. "Tempat kursus kami sudah sering bikin konser siswa sendiri, Bu," tolaknya dengan tampang judes.
"Ok, sekolah musik ini mungkin bisa setiap minggu bikin konser siswa sendiri. Tapi yang mendatangkan bintang tamu Jubing Kristianto dan acaranya diliput di majalah nasional? Kesempatan seperti ini belum tentu datang setahun sekali. Sekolah musik lain berebutan ingin memanfaatkan kesempatan ini, masa sekolah musik ini justru melewatkannya? Tapi terserah Anda sih, saya nggak maksa. Permisi ya, saya masih banyak urusan." Lalu saya tinggalin guru yang masih bengong-bengong kaget karena saya galakin. Emang situ doang yang bisa judes hahahaa.. Nggak disangka, sorenya beliau menelpon saya dan menyatakan kesediaan untuk mengirim siswanya tampil di acara saya.
"Saya harus bayar berapa untuk setiap siswa yang ikut tampil?" tanyanya.
"Gratis! Kan tadi saya udah bilang, saya nggak minta dana sepeser pun dari sekolah maupun siswa yang tampil.." sahut saya sabar. Hmmm.. kadang-kadang orang memang harus dibantu untuk mengubah cara pandangnya biar bisa melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Ini jelas bikin pekerjaan saya tambah banyak; bukan sekadar menawarkan kerja sama dan menyiapkan acara, tapi sekaligus 'mencuci otak' orang yang akan saya ajak bekerja sama agar bisa lebih jernih melihat niat baik saya hahahahaa..
Nah, kalau yang tampil gratis, dari mana saya dapat dana untuk sewa venue, lighting, honor artis dan lain-lain? Dari tiket yang saya jual ke penonton dong! Memangnya kalau anaknya (yang siswa di salah satu sekolah musik yang saya ajak bekerja sama) tampil di panggung, orang tuanya bakal cuek-cuek aja? Pasti papa-mama-kakak-adek-kakek-nenek-oom dan tante rame-rame pengen nonton semua. Yang main gratis, yang nonton bayar, fair kan? :p
Di acara ini saya berhasil mengumpulkan 45 orang siswa dari berbagai sekolah musik dan kampus jurusan musik di Medan untuk ikut tampil satu panggung bersama Mas Jubing. Nah, tinggal dihitung saja tuh berapa banyak keluarga atau teman yang pengen ikut menyaksikan mereka tampil.
Di sini lagi-lagi saya mengalami kejadian ajaib yang belum pernah saya alami di acara-acara yang lain. Kalau di acara Guitar For Fun, jual tiket harga Rp 30.000 aja susah, di konser Mas Jubing ini lain lagi ceritanya. Saya bahkan sudah berhasil menjual 100 lembar tiket –sebagian besar tiket kelas termahal- sebelum poster acaranya dibuat! Kok bisa? Ya, bisalah. Begitu dapat nama siswa sekolah musik yang akan tampil, langsung saya –dibantu pihak sekolah musik yang bersangkutan- konfirmasi ke keluarganya berapa orang yang mau beli tiket untuk nonton. Rata-rata anak yang ikut kursus musik berasal dari keluarga mampu, jadi biasanya mereka dengan senang hati akan menonton dan kalau bisa duduk di kursi paling depan, nggak perduli berapa pun harga tiketnya. Beda pasar memang harus beda cara menanganinya kan? Hehehe..
Konser gitar klasik yang pertama kali saya selenggarakan ini akhirnya menjadi konser gotong royong. Kenapa saya sebut begitu? Soalnya biaya acara akhirnya ditanggung rame-rame oleh berbagai pihak. Untuk tiket pesawat Mas Jubing Jakarta-Medan pp, saya mendapat support dari IMC Records selaku perusahaan rekaman yang merilis album solo gitar Mas Jubing dari album pertama sampai yang keempat. Akomodasi Mas Jubing disupport oleh Farabi Music School Medan, sound system disupport oleh Tango dan Brothers Musik Medan, publikasi dibantu oleh Dunia Musik dan radio Trijaya FM, dan sisa biaya saya tutup dari penjualan tiket yang saya jual dalam tiga kelas; Rp 30.000, Rp 50.000 dan Rp 100.000. Lumayan lho, penonton yang memadati Royall Room Hotel Danau Toba malam itu mencapai 300 orang, termasuk siswa-siswi yang ikut tampil satu panggung dengan Mas Jubing. Nggak kalah rame dari acara ‘Guitar For Fun’ Medan yang saya persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya!
Konser gitar klasik ini saya buat nyaris tanpa media publikasi. Untuk menghemat biaya, saya cuma bikin poster dan flyer sekadarnya yang saya sebar ke sekolah-sekolah musik, kampus-kampus, serta beberapa SMP SMA swasta di Medan. Selebihnya, saya gencar berpromosi lewat internet dan langsung gerilya ke pasar penonton yang tepat; sekolah-sekolah dan kampus-kampus jurusan musik. Bikin acara kan juga harus pakai strategi. Dan dengan pendekatan yang berbeda, acara yang persiapannya mepet banget serta cuma dikerjakan oleh dua orang ternyata bisa terselenggara dengan sukses dan lancar jaya. Hidup nekat! ^_^
Karena di konser Jubing ini saya sama sekali nggak dapat sponsor dana, maka untuk persiapan acaranya pun saya memakai pendekatan yang berbeda. Waktu menyebarluaskan informasi tentang acara ‘Guitar For Fun’ ke toko-toko dan sekolah musik di Medan, saya sambil sounding sekalian kalau saya juga akan bikin acara lain dalam waktu berdekatan. Berhubung persiapan acaranya mepet banget, saya tentu nggak bisa berharap banyak mereka akan mau memberi support dalam bentuk dana. Tapi bukan berarti nggak bisa diajak kerja sama dalam bentuk lain kan?
Buktinya ada juga tuh beberapa toko dan sekolah musik yang bersedia diajak kerja sama untuk penyelenggaraan acara ini. Ada yang men-support sound system, menjadi tiket box, membantu menyebarluaskan informasi dan lain-lain. Nah, kunci utama keberhasilan acara ini terletak pada kerja sama saya dengan sekolah-sekolah musik. Kok bisa?
Iya dong, untuk konser ini saya melibatkan siswa-siswa berbagai sekolah musik dan kampus jurusan musik di Medan untuk tampil satu panggung bersama Mas Jubing, di antaranya Farabi, Purwacaraka, Medan Musik, Vivo Musik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen, Fakultas Seni Musik Unimed, SMM Negeri Medan, dan lain-lain. Satu per satu saya kunjungi sekolah dan kampus musik tersebut untuk menawarkan kerja sama. Ada yang langsung menyambut baik tawaran saya, tapi ada juga yang ogah-ogahan, memasang tampang judes, bahkan ada juga yang bahkan ketemu saya pun nggak mau. Ya udah, nggak apa-apa, saya ngajak kerja sama yang mau doang kok. Untung saya udah biasa ditolak dan nggak gampang sakit hati dijudesin orang. Jadi ya cuek dan hajar bleh teruuuss! :-D
Ada beberapa kejadian lucu waktu saya menelepon salah satu sekolah musin untuk saya ajak bekerja sama menyukseskan acara ini.
"Saya mau bikin konser gitar klasik di Medan dan mau menawarkan siswa di sekolah musik ini untuk tampil sepanggung dengan Mas Jubing di acara itu," ujar saya baik-baik.
Eh, malah dijawab dengan ketus, "Maaf, saya lagi sibuk! Coba kalau mau minta sumbangan proposalnya diajukan dulu."
"Saya bukan mau minta sumbangan, saya justru menawarkan peluang. Saya kasih kesempatan siswa di sekolah ini untuk tampil sepanggung dengan salah satu maestro gitar klasik Indonesia dan saya sudah siapkan semuanya. Venue, panggung, lighting, sound system, publiasi, artis.. semuanya gratis! Siswa sekolah ini tinggal datang, main, dan pulangnya saya kasih sertifikat yang menyatakan kalau siswa tersebut sudah pernah tampil sepanggung dengan Mas Jubing. Kapan lagi mereka punya kesempatan seperti ini? Acaranya diliput media nasional lagi!" balas saya tegas. Enak aja saya dikira minta sumbangan! :p
Belakangan, orang dari sekolah musik itu berubah jadi ramah dan baik sekali sama saya, dan nggak putus-putus mengucapkan terima kasih karena saya sudah bersedia melibatkan siswa-siswanya.
Ada lagi guru sekolah musik yang awalnya ogah-ogahan menanggapi tawaran saya. "Tempat kursus kami sudah sering bikin konser siswa sendiri, Bu," tolaknya dengan tampang judes.
"Ok, sekolah musik ini mungkin bisa setiap minggu bikin konser siswa sendiri. Tapi yang mendatangkan bintang tamu Jubing Kristianto dan acaranya diliput di majalah nasional? Kesempatan seperti ini belum tentu datang setahun sekali. Sekolah musik lain berebutan ingin memanfaatkan kesempatan ini, masa sekolah musik ini justru melewatkannya? Tapi terserah Anda sih, saya nggak maksa. Permisi ya, saya masih banyak urusan." Lalu saya tinggalin guru yang masih bengong-bengong kaget karena saya galakin. Emang situ doang yang bisa judes hahahaa.. Nggak disangka, sorenya beliau menelpon saya dan menyatakan kesediaan untuk mengirim siswanya tampil di acara saya.
"Saya harus bayar berapa untuk setiap siswa yang ikut tampil?" tanyanya.
"Gratis! Kan tadi saya udah bilang, saya nggak minta dana sepeser pun dari sekolah maupun siswa yang tampil.." sahut saya sabar. Hmmm.. kadang-kadang orang memang harus dibantu untuk mengubah cara pandangnya biar bisa melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Ini jelas bikin pekerjaan saya tambah banyak; bukan sekadar menawarkan kerja sama dan menyiapkan acara, tapi sekaligus 'mencuci otak' orang yang akan saya ajak bekerja sama agar bisa lebih jernih melihat niat baik saya hahahahaa..
Nah, kalau yang tampil gratis, dari mana saya dapat dana untuk sewa venue, lighting, honor artis dan lain-lain? Dari tiket yang saya jual ke penonton dong! Memangnya kalau anaknya (yang siswa di salah satu sekolah musik yang saya ajak bekerja sama) tampil di panggung, orang tuanya bakal cuek-cuek aja? Pasti papa-mama-kakak-adek-kakek-nenek-oom dan tante rame-rame pengen nonton semua. Yang main gratis, yang nonton bayar, fair kan? :p
Di acara ini saya berhasil mengumpulkan 45 orang siswa dari berbagai sekolah musik dan kampus jurusan musik di Medan untuk ikut tampil satu panggung bersama Mas Jubing. Nah, tinggal dihitung saja tuh berapa banyak keluarga atau teman yang pengen ikut menyaksikan mereka tampil.
Di sini lagi-lagi saya mengalami kejadian ajaib yang belum pernah saya alami di acara-acara yang lain. Kalau di acara Guitar For Fun, jual tiket harga Rp 30.000 aja susah, di konser Mas Jubing ini lain lagi ceritanya. Saya bahkan sudah berhasil menjual 100 lembar tiket –sebagian besar tiket kelas termahal- sebelum poster acaranya dibuat! Kok bisa? Ya, bisalah. Begitu dapat nama siswa sekolah musik yang akan tampil, langsung saya –dibantu pihak sekolah musik yang bersangkutan- konfirmasi ke keluarganya berapa orang yang mau beli tiket untuk nonton. Rata-rata anak yang ikut kursus musik berasal dari keluarga mampu, jadi biasanya mereka dengan senang hati akan menonton dan kalau bisa duduk di kursi paling depan, nggak perduli berapa pun harga tiketnya. Beda pasar memang harus beda cara menanganinya kan? Hehehe..
Konser gitar klasik yang pertama kali saya selenggarakan ini akhirnya menjadi konser gotong royong. Kenapa saya sebut begitu? Soalnya biaya acara akhirnya ditanggung rame-rame oleh berbagai pihak. Untuk tiket pesawat Mas Jubing Jakarta-Medan pp, saya mendapat support dari IMC Records selaku perusahaan rekaman yang merilis album solo gitar Mas Jubing dari album pertama sampai yang keempat. Akomodasi Mas Jubing disupport oleh Farabi Music School Medan, sound system disupport oleh Tango dan Brothers Musik Medan, publikasi dibantu oleh Dunia Musik dan radio Trijaya FM, dan sisa biaya saya tutup dari penjualan tiket yang saya jual dalam tiga kelas; Rp 30.000, Rp 50.000 dan Rp 100.000. Lumayan lho, penonton yang memadati Royall Room Hotel Danau Toba malam itu mencapai 300 orang, termasuk siswa-siswi yang ikut tampil satu panggung dengan Mas Jubing. Nggak kalah rame dari acara ‘Guitar For Fun’ Medan yang saya persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya!
Konser gitar klasik ini saya buat nyaris tanpa media publikasi. Untuk menghemat biaya, saya cuma bikin poster dan flyer sekadarnya yang saya sebar ke sekolah-sekolah musik, kampus-kampus, serta beberapa SMP SMA swasta di Medan. Selebihnya, saya gencar berpromosi lewat internet dan langsung gerilya ke pasar penonton yang tepat; sekolah-sekolah dan kampus-kampus jurusan musik. Bikin acara kan juga harus pakai strategi. Dan dengan pendekatan yang berbeda, acara yang persiapannya mepet banget serta cuma dikerjakan oleh dua orang ternyata bisa terselenggara dengan sukses dan lancar jaya. Hidup nekat! ^_^
CERITA KONSER JUBING KRISTIANTO DI MEDAN
Salah satu hal gila yang pernah saya lakukan adalah menggelar konser gitar klasik Jubing Kristianto, hanya berselang dua hari setelah saya mengadakan acara Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’ di Medan, awal Juni 2011 lalu. Jadi, 1 Juni saya bikin ‘Guitar For Fun’ di Hall Garuda Plaza Hotel Medan, tanggal 2 Juni istirahat sehari, langsung tanggal 3 Juni saya hajar lagi dengan bikin konser Jubing Kristianto di Hotel Danau Toba Medan. Acara yang kedua ini saya lakukan nyaris tanpa tim, cuma berdua suami doang! Saya dan suami memang partner in crime. Hahahaa..
Ketika Jubing Kristianto mengeluarkan album solo gitar keempatnya yang berjudul 'Kaki Langit' Februari 2011 lalu, saya tiba-tiba ingin membuat konser gitar klasik untuk Mas Jubing, begitu saya biasa memanggilnya. Pertimbangannya sederhana, Majalah GitarPlus sebagai majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia punya misi merangkul gitaris dari berbagai aliran dan golongan, tapi gitaris klasik selama ini kurang tersentuh karena di setiap acara GitarPlus, saya lebih banyak mengangkat gitaris rock dan metal. Sekali-sekali saya pengen juga dong bikinin acara untuk gitaris klasik..
Berhubung saya adalah kombinasi antara tukang mimpi dan tukang nekat yang udah kronis, begitu muncul ide bikin konser gitar klasik saya nggak mau tanggung-tanggung; pengen bikin di 5 kota sekaligus! Saya memantapkan tekad dan menguatkan hati untuk rencana besar itu dan pelan-pelan mulai mempersiapkan pelaksanaan acara, mulai dari mencari jadwal kosong Mas Jubing, menghubungi musisi lain yang akan diajak kerja sama untuk tampil bareng di konser Mas Jubing, survey tempat ke kota-kota yang direncanakan akan menjadi tempat penyelenggaraan acara, bikin proposal, cari sponsor, dan lain-lain. Kalau mengerjakan sesuatu saya memang nggak mau nanggung-nanggung. Total dan niat banget deh pokoknya.
Tapi bahkan niat yang besar dan kemauan untuk mati-matian bekerja keras saja ternyata nggak cukup, kalau Tuhan memang belum mengijinkan acara itu terselenggara. Dalam perjalanannya, rencana besar saya terkendala banyak sekali halangan, tapi masalah dana-lah yang akhinya membuat saya pelan-pelan mundur serta memutuskan menyimpan mimpi ini dulu untuk sementara waktu. Awalnya saya memang berharap bisa memperoleh support dana dari sponsor, tapi ternyata sampai batas waktu yang saya tentukan sendiri, saya belum juga menemukan sponsor yang mau men-support acara ini. Daripada kalau diteruskan saya jadi tekor karena harus nombok habis-habisan, ya mending saya tunda dulu dong. Tapi bukan berarti saya melupakan atau mengubur niat saya untuk menyelenggarakan acara ini. Saya bukan orang yang gampang menyerah. Saya hanya sedang menunggu saat yang tepat.
Waktu mengajukan proposal konser Mas Jubing ke berbagai perusahaan, saya juga sekaligus megajukan proposal acara Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’ di dua kota, Medan dan Makassar. Saya memang tipikal orang yang suka mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam waktu bersamaan. Seru aja! Soalnya saya orangnya bosenan kalau dalam satu waktu harus fokus pada satu pekerjaan tertentu. Enakan melompat-lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain pada waktu yang sama. Lebih mendebarkan, tantangannya juga lebih memacu semangat hahahaa..
Balik lagi ke soal dua proposal yang saya ajukan sekaligus ke beberapa perusahaan, eh, ternyata ada perusahaan rokok yang justru tertarik men-support acara ‘Guitar For Fun’. Saya langsung diundang ke kantornya untuk presentasi dan membicarakan tekhnis kerja sama sponsorship ini, lalu nggak pakai lama saya sudah tanda tangan kontrak kerja sama dan bersiap menyelenggarakan event ‘Guitar For Fun’ di Medan dan Makassar.
Cerita tentang jatuh bangunnya saya mempersiapkan acara ‘Guitar For Fun’ di Medan dan Makassar ada di tulisan saya yang lain. Yang belum saya ceritakan, begitu saya berada di Medan untuk mempersiapkan acara ‘Guitar For Fun’ beberapa minggu sebelum hari H dan bertemu pihak-pihak yang akan saya ajak bekerja sama, tiba-tiba impian untuk menggelar konser gitar klasik itu menyeruak lagi ke permukaan tanpa bisa saya tahan. Ah, udahlah mumpung saya di Medan, sekalian aja saya jalan untuk persiapan dua acara sekaligus.
Segera saya melontarkan ide gila ini ke suami tercinta di Jakarta dan seperti saya duga dia sama sekali nggak keberatan. Langsung deh saya memanfaatkan waktu saya yang cuma empat hari di Medan untuk gerilya cari-cari celah agar acara kedua ini bisa terselenggara dengan baik meskipun nggak ada panitianya. Lho, kok nggak ada panitianya? Ya iyalah, sponsornya aja nggak ada! Kalau pakai panitia, nanti mau bayar honor panitia pakai apa? Bisa aja sih saya bayar pakai dana pribadi, tapi jadi nggak seru aja kalau bikin acara harus keluar banyak dana dari kantong sendiri. Kalau kayak gitu sih semua orang juga bisa! Justru yang menantang kan kalau saya bisa meyakinkan orang untuk mengeluarkan dana untuk membiayai acara karena menganggap konsep yang saya buat memang bagus dan layak disupport. Atau sebalinya, bisa bikin event besar dengan budget minim. Kepuasannya beda banget!
O ya, saya sengaja bikin acara ini hanya berselang 2 hari dari ‘Guitar For Fun’ dengan pertimbangan untuk menghemat biaya. Iya dong, 1 Juni kan saya, suami dan Andy Owen yang saya daulat menjadi MC di ‘Guitar For Fun’ dan ‘Konser Gitar Klasik Jubing Kristianto’ sudah berada di Medan atas biaya dari sponsor ‘Guitar For Fun’. Lumayan kan tuh udah hemat tiket pesawat 3 orang? Promosi dan publikasinya juga bisa sekali jalan. Coba, udah berapa banyak biaya yang sudah berhasil saya hemat dari situ? :-D
Singkat cerita, konser Jubing Kristianto yang saya persiapkan dengan sangat mendadak itu akhirnya berjalan lancar meski sangat menguras energi saya. Banyak pihak yang memuji keberhasilan acara ini. Nggak sedikit yang berterima kasih karena saya mau repot-repot membuat konser gitar klasik yang berbeda dengan acara sejenis yang pernah ada di Medan (di tangan saya konser gitar Mas Jubing memang jadi tontonan yang berbeda, terutama karena kehadiran Andy Owen sebagai MC yang kocak yang membuat konser yang biasanya formal menjadi cair dan penuh gelak tawa). Ada juga yang heran-heran, kok bisa-bisanya orang yang nggak bisa main musik dan nggak ngerti musik bikin dua acara musik sekaligus –yang satu ngumpulin 7 gitaris rock dalam satu panggung GFF, acara satunya lagi melibatkan puluhan pemain gitar klasik dan biola- TANPA PANITIA! Bahkan di akhir konser, Mas Jubing sempat bilang kalau ini adalah salah satu konsernya yang paling berkesan.
Buat saya semua pujian itu nggak terlalu penting. Yang lebih penting, dengan berhasil menggelar konser ini sekali lagi saya berhasil membuktikan kalau nggak ada hal yang mustahil di dunia ini sepanjang kita mau berusaha mewujudkannya. Dan tentu saja, sepanjang Tuhan mengijinkannya.
Ketika Jubing Kristianto mengeluarkan album solo gitar keempatnya yang berjudul 'Kaki Langit' Februari 2011 lalu, saya tiba-tiba ingin membuat konser gitar klasik untuk Mas Jubing, begitu saya biasa memanggilnya. Pertimbangannya sederhana, Majalah GitarPlus sebagai majalah gitar pertama dan satu-satunya di Indonesia punya misi merangkul gitaris dari berbagai aliran dan golongan, tapi gitaris klasik selama ini kurang tersentuh karena di setiap acara GitarPlus, saya lebih banyak mengangkat gitaris rock dan metal. Sekali-sekali saya pengen juga dong bikinin acara untuk gitaris klasik..
Berhubung saya adalah kombinasi antara tukang mimpi dan tukang nekat yang udah kronis, begitu muncul ide bikin konser gitar klasik saya nggak mau tanggung-tanggung; pengen bikin di 5 kota sekaligus! Saya memantapkan tekad dan menguatkan hati untuk rencana besar itu dan pelan-pelan mulai mempersiapkan pelaksanaan acara, mulai dari mencari jadwal kosong Mas Jubing, menghubungi musisi lain yang akan diajak kerja sama untuk tampil bareng di konser Mas Jubing, survey tempat ke kota-kota yang direncanakan akan menjadi tempat penyelenggaraan acara, bikin proposal, cari sponsor, dan lain-lain. Kalau mengerjakan sesuatu saya memang nggak mau nanggung-nanggung. Total dan niat banget deh pokoknya.
Tapi bahkan niat yang besar dan kemauan untuk mati-matian bekerja keras saja ternyata nggak cukup, kalau Tuhan memang belum mengijinkan acara itu terselenggara. Dalam perjalanannya, rencana besar saya terkendala banyak sekali halangan, tapi masalah dana-lah yang akhinya membuat saya pelan-pelan mundur serta memutuskan menyimpan mimpi ini dulu untuk sementara waktu. Awalnya saya memang berharap bisa memperoleh support dana dari sponsor, tapi ternyata sampai batas waktu yang saya tentukan sendiri, saya belum juga menemukan sponsor yang mau men-support acara ini. Daripada kalau diteruskan saya jadi tekor karena harus nombok habis-habisan, ya mending saya tunda dulu dong. Tapi bukan berarti saya melupakan atau mengubur niat saya untuk menyelenggarakan acara ini. Saya bukan orang yang gampang menyerah. Saya hanya sedang menunggu saat yang tepat.
Waktu mengajukan proposal konser Mas Jubing ke berbagai perusahaan, saya juga sekaligus megajukan proposal acara Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’ di dua kota, Medan dan Makassar. Saya memang tipikal orang yang suka mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam waktu bersamaan. Seru aja! Soalnya saya orangnya bosenan kalau dalam satu waktu harus fokus pada satu pekerjaan tertentu. Enakan melompat-lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain pada waktu yang sama. Lebih mendebarkan, tantangannya juga lebih memacu semangat hahahaa..
Balik lagi ke soal dua proposal yang saya ajukan sekaligus ke beberapa perusahaan, eh, ternyata ada perusahaan rokok yang justru tertarik men-support acara ‘Guitar For Fun’. Saya langsung diundang ke kantornya untuk presentasi dan membicarakan tekhnis kerja sama sponsorship ini, lalu nggak pakai lama saya sudah tanda tangan kontrak kerja sama dan bersiap menyelenggarakan event ‘Guitar For Fun’ di Medan dan Makassar.
Cerita tentang jatuh bangunnya saya mempersiapkan acara ‘Guitar For Fun’ di Medan dan Makassar ada di tulisan saya yang lain. Yang belum saya ceritakan, begitu saya berada di Medan untuk mempersiapkan acara ‘Guitar For Fun’ beberapa minggu sebelum hari H dan bertemu pihak-pihak yang akan saya ajak bekerja sama, tiba-tiba impian untuk menggelar konser gitar klasik itu menyeruak lagi ke permukaan tanpa bisa saya tahan. Ah, udahlah mumpung saya di Medan, sekalian aja saya jalan untuk persiapan dua acara sekaligus.
Segera saya melontarkan ide gila ini ke suami tercinta di Jakarta dan seperti saya duga dia sama sekali nggak keberatan. Langsung deh saya memanfaatkan waktu saya yang cuma empat hari di Medan untuk gerilya cari-cari celah agar acara kedua ini bisa terselenggara dengan baik meskipun nggak ada panitianya. Lho, kok nggak ada panitianya? Ya iyalah, sponsornya aja nggak ada! Kalau pakai panitia, nanti mau bayar honor panitia pakai apa? Bisa aja sih saya bayar pakai dana pribadi, tapi jadi nggak seru aja kalau bikin acara harus keluar banyak dana dari kantong sendiri. Kalau kayak gitu sih semua orang juga bisa! Justru yang menantang kan kalau saya bisa meyakinkan orang untuk mengeluarkan dana untuk membiayai acara karena menganggap konsep yang saya buat memang bagus dan layak disupport. Atau sebalinya, bisa bikin event besar dengan budget minim. Kepuasannya beda banget!
O ya, saya sengaja bikin acara ini hanya berselang 2 hari dari ‘Guitar For Fun’ dengan pertimbangan untuk menghemat biaya. Iya dong, 1 Juni kan saya, suami dan Andy Owen yang saya daulat menjadi MC di ‘Guitar For Fun’ dan ‘Konser Gitar Klasik Jubing Kristianto’ sudah berada di Medan atas biaya dari sponsor ‘Guitar For Fun’. Lumayan kan tuh udah hemat tiket pesawat 3 orang? Promosi dan publikasinya juga bisa sekali jalan. Coba, udah berapa banyak biaya yang sudah berhasil saya hemat dari situ? :-D
Singkat cerita, konser Jubing Kristianto yang saya persiapkan dengan sangat mendadak itu akhirnya berjalan lancar meski sangat menguras energi saya. Banyak pihak yang memuji keberhasilan acara ini. Nggak sedikit yang berterima kasih karena saya mau repot-repot membuat konser gitar klasik yang berbeda dengan acara sejenis yang pernah ada di Medan (di tangan saya konser gitar Mas Jubing memang jadi tontonan yang berbeda, terutama karena kehadiran Andy Owen sebagai MC yang kocak yang membuat konser yang biasanya formal menjadi cair dan penuh gelak tawa). Ada juga yang heran-heran, kok bisa-bisanya orang yang nggak bisa main musik dan nggak ngerti musik bikin dua acara musik sekaligus –yang satu ngumpulin 7 gitaris rock dalam satu panggung GFF, acara satunya lagi melibatkan puluhan pemain gitar klasik dan biola- TANPA PANITIA! Bahkan di akhir konser, Mas Jubing sempat bilang kalau ini adalah salah satu konsernya yang paling berkesan.
Buat saya semua pujian itu nggak terlalu penting. Yang lebih penting, dengan berhasil menggelar konser ini sekali lagi saya berhasil membuktikan kalau nggak ada hal yang mustahil di dunia ini sepanjang kita mau berusaha mewujudkannya. Dan tentu saja, sepanjang Tuhan mengijinkannya.
Rabu, 29 Juni 2011
SAYA BISA KARENA SAYA BERANI MENCOBA
Hidup saya penuh dengan coba-coba. Dalam keseharian saya, saya senang mencoba melakukan banyak hal baru yang membuat hidup saya berwarna. Hal-hal yang bagi sebagian orang dianggap nekat, ajaib, atau terkesan kurang kerjaan. Hal-hal yang orang lain mungkin nggak ingin atau mungkin nggak kepikiran untuk mencobanya. Saya memang suka mencoba, nggak perduli seperti apa pun hasil dari coba-coba saya. Kalau berhasil saya senang. Kalau gagal? Ya dicoba lagi aja. Saya nggak takut gagal sepanjang masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Saya pernah mencoba membuat acara di sebuah cafe besar dan sangat terkenal. Sebelum bertemu dengan manager cafe itu, beberapa teman sudah mengingatkan saya dengan kalimat yang hampir seragam, "Bikin acara di tempat itu bagus, tapi sewa venue-nya mahal."
Semahal apa? Saya berusaha cari tahu dengan mencoba menemui manager cafe. Saya ingat, waktu itu saya belum membuat janji dan belum pernah mengenal si manager sebelumnya. Kira-kira dia ada di tempat nggak ya? Coba aja ditanya dulu, toh saya sudah berdiri di depan pintu cafe-nya. Kalau ada syukur, nggak ada ya besok coba ditemui lagi. Nggak ada ruginya kok buat saya.
Ternyata manager cafe itu ada di tempat dan bersedia menemui saya meskipun belum ada janji. Dan ternyata, setelah saya menyampaikan maksud saya sambil sedikit bernegosiasi, si manager malah mengijinkan saya mengadakan acara di tempatnya tanpa saya harus mengeluarkan uang untuk sewa tempat. Saya hanya menawarkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak dan tawaran saya sepertinya cukup masuk akal sehingga langsung disambut baik oleh manager cafe. Padahal beberapa teman saya sebelumnya sudah nakut-nakutin duluan kalau pakai tempat di cafe ini mahal. Untung saya berani mencoba!
Saya juga pakai jurus coba-coba waktu akan menerbitkan buku 'Bermain Dengan Uang'. Coba-coba menawarkan naskah ke penerbit, ternyata ditanggapi dengan positif. Waktu buku sudah dalam proses terbit, saya kembali coba-coba meminta endorsement dari beberapa orang yang sudah punya nama, yang sebetulnya nggak saya kenal secara pribadi sebelumnya. Sebagian menolak, bahkan mengangkat telpon dan membalas SMS saya pun nggak mau. Tapi ternyata ada juga tuh yang bersedia mampir ke blog saya dan memberikan komentar positif, seperti yang akhirnya dimuat di buku saya. Untung saya berani mencoba. Kalau nggak dicoba, mana saya tahu bisa apa nggak?
Saya bikin Majalah GitarPlus, GH Music & Studio, Guitar For Fun serta acara-acara yang berhubungan dengan gitar, kursus gitar dan banyak hal lagi, mulainya juga dengan coba-coba. Awalnya saya jelas nggak tahu apakah coba-coba saya akan berhasil atau nggak. Tapi saya memilih untuk mencobanya daripada penasaran setengah mati kalau nggak dicoba sama sekali. Saya nggak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan saya dan apakah saya bisa melakukan sesuatu atau nggak, sebelum saya mencobanya kan?
Saya bisa buka toko alat musik karena coba-coba
Sudah pasti saya nggak selalu berhasil waktu mencoba. Saya pernah, bahkan berkali-kali gagal, ditolak, atau dicuekin. Coba-coba nawarin ke calon klien untuk pasang iklan di majalah saya, ternyata ditolak. Coba-coba merencanakan bikin acara, ternyata gagal. Coba-coba bikin usaha sampingan, ternyata hitung-hitungannya meleset sehingga saya jadi rugi. Coba-coba mengajukan proposal ke sebuah perusahaan, minta sponsor untuk acara yang saya buat, ternyata dicuekin.. Masih banyak kegagalan lain yang pernah saya alami, yang pasti bakal menuh-menuhin tempat kalau saya tulis semuanya di sini. Tapi toh saya nggak kapok. Saya masih berani mencoba meskipun saya tahu nggak selalu berhasil.
Saat mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, saya cuma akan dihadapkan pada 2 kemungkinan; berhasil atau gagal. Kalau berhasil, saya bersyukur karena sudah berani mencoba sehingga saya jadi tahu ternyata saya mampu. Tapi kalau nggak berhasil, ya tinggal dicoba lagi. Semua orang pernah gagal, jadi jangan takut dan malu kalau kita pun sesekali mengalami kegagalan. Banyak temennya gitu loh. Coba, coba, coba dan coba terus melakukan lagi hal yang sama sambil dievaluasi apa penyebab kegagalannya, kalau perlu dengan cara yang berbeda sampai akhirnya kita ketemu celahnya. Kalau masih gagal terus, kita bisa coba belajar dari orang lain yang sudah pernah berhasil melakukannya. Jangan malu bertanya dan meniru ilmunya. Saya percaya, kalau kita terus mencoba melakukan hal yang pernah gagal kita lakukan, suatu saat akan ada jalannya kita bisa berhasil. Tapi kalau nggak pernah dicoba, kita akan tetap di situ-situ aja, nggak akan pernah sampai kemana-mana. Berani mencoba? ^^d
Saya pernah mencoba membuat acara di sebuah cafe besar dan sangat terkenal. Sebelum bertemu dengan manager cafe itu, beberapa teman sudah mengingatkan saya dengan kalimat yang hampir seragam, "Bikin acara di tempat itu bagus, tapi sewa venue-nya mahal."
Semahal apa? Saya berusaha cari tahu dengan mencoba menemui manager cafe. Saya ingat, waktu itu saya belum membuat janji dan belum pernah mengenal si manager sebelumnya. Kira-kira dia ada di tempat nggak ya? Coba aja ditanya dulu, toh saya sudah berdiri di depan pintu cafe-nya. Kalau ada syukur, nggak ada ya besok coba ditemui lagi. Nggak ada ruginya kok buat saya.
Ternyata manager cafe itu ada di tempat dan bersedia menemui saya meskipun belum ada janji. Dan ternyata, setelah saya menyampaikan maksud saya sambil sedikit bernegosiasi, si manager malah mengijinkan saya mengadakan acara di tempatnya tanpa saya harus mengeluarkan uang untuk sewa tempat. Saya hanya menawarkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak dan tawaran saya sepertinya cukup masuk akal sehingga langsung disambut baik oleh manager cafe. Padahal beberapa teman saya sebelumnya sudah nakut-nakutin duluan kalau pakai tempat di cafe ini mahal. Untung saya berani mencoba!
Saya juga pakai jurus coba-coba waktu akan menerbitkan buku 'Bermain Dengan Uang'. Coba-coba menawarkan naskah ke penerbit, ternyata ditanggapi dengan positif. Waktu buku sudah dalam proses terbit, saya kembali coba-coba meminta endorsement dari beberapa orang yang sudah punya nama, yang sebetulnya nggak saya kenal secara pribadi sebelumnya. Sebagian menolak, bahkan mengangkat telpon dan membalas SMS saya pun nggak mau. Tapi ternyata ada juga tuh yang bersedia mampir ke blog saya dan memberikan komentar positif, seperti yang akhirnya dimuat di buku saya. Untung saya berani mencoba. Kalau nggak dicoba, mana saya tahu bisa apa nggak?
Saya bikin Majalah GitarPlus, GH Music & Studio, Guitar For Fun serta acara-acara yang berhubungan dengan gitar, kursus gitar dan banyak hal lagi, mulainya juga dengan coba-coba. Awalnya saya jelas nggak tahu apakah coba-coba saya akan berhasil atau nggak. Tapi saya memilih untuk mencobanya daripada penasaran setengah mati kalau nggak dicoba sama sekali. Saya nggak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan saya dan apakah saya bisa melakukan sesuatu atau nggak, sebelum saya mencobanya kan?
Saya bisa buka toko alat musik karena coba-coba
Sudah pasti saya nggak selalu berhasil waktu mencoba. Saya pernah, bahkan berkali-kali gagal, ditolak, atau dicuekin. Coba-coba nawarin ke calon klien untuk pasang iklan di majalah saya, ternyata ditolak. Coba-coba merencanakan bikin acara, ternyata gagal. Coba-coba bikin usaha sampingan, ternyata hitung-hitungannya meleset sehingga saya jadi rugi. Coba-coba mengajukan proposal ke sebuah perusahaan, minta sponsor untuk acara yang saya buat, ternyata dicuekin.. Masih banyak kegagalan lain yang pernah saya alami, yang pasti bakal menuh-menuhin tempat kalau saya tulis semuanya di sini. Tapi toh saya nggak kapok. Saya masih berani mencoba meskipun saya tahu nggak selalu berhasil.
Saat mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, saya cuma akan dihadapkan pada 2 kemungkinan; berhasil atau gagal. Kalau berhasil, saya bersyukur karena sudah berani mencoba sehingga saya jadi tahu ternyata saya mampu. Tapi kalau nggak berhasil, ya tinggal dicoba lagi. Semua orang pernah gagal, jadi jangan takut dan malu kalau kita pun sesekali mengalami kegagalan. Banyak temennya gitu loh. Coba, coba, coba dan coba terus melakukan lagi hal yang sama sambil dievaluasi apa penyebab kegagalannya, kalau perlu dengan cara yang berbeda sampai akhirnya kita ketemu celahnya. Kalau masih gagal terus, kita bisa coba belajar dari orang lain yang sudah pernah berhasil melakukannya. Jangan malu bertanya dan meniru ilmunya. Saya percaya, kalau kita terus mencoba melakukan hal yang pernah gagal kita lakukan, suatu saat akan ada jalannya kita bisa berhasil. Tapi kalau nggak pernah dicoba, kita akan tetap di situ-situ aja, nggak akan pernah sampai kemana-mana. Berani mencoba? ^^d
Langganan:
Komentar (Atom)
































