Sudah lama sebetulnya saya pengen bikin tulisan ini. Idenya udah ada di kepala, tapi belum sempat-sempat menuangkannya dalam bentuk tulisan karena sibuk ngurusin segala macem. Tadi pagi, SMS seorang teman bikin saya semangat untuk buru-buru nulis mumpung lagi nggak sibuk dan lagi mood untuk nulis..
Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol sama seorang teman tentang kartu kredit. Teman saya ini, sebut saja namanya EM, mengaku kalau ia dan suaminya sama-sama nggak pernah punya kartu kredit. Bukan karena nggak memenuhi persyaratan untuk itu, tapi lebih pada alasan takut.
“Takut kenapa?” tanya saya heran.
“Takut diuber-uber dept collector,” sahut teman saya ini lugu. “Mungkin karena aku nggak terlalu ngerti tentang kartu kredit ya, Mbak. Aku cuma sering denger orang kelilit utang kartu kedit juta-jutaan, nggak mampu bayar, terus diuber-uber dept collector. Makanya aku dan suami nggak mau punya kartu kredit.”
Sebagian orang memang beranggapan kalau punya kartu kredit bukanlah ide yang menarik, bahkan kalau bisa dihindari sejauh-jauhnya. Soalnya kalau sudah terjerat hutang kartu kredit memang mengerikan. Hutang kita dikenai bunga berbunga yang membuatnya bertambah besar setiap bulannya, meskipun kita rutin membayar sebagian tagihan (tapi nggak sampai lunas). Yang paling nyebelin tentu saja berurusan dengan tukang tagih alias dept collector yang nggak kenal sopan santun waktu meneror nasabah yang pembayarannya bermasalah. (Kebayang nggak kalau dept collector sopan dan mesra ke nasabah yang bandel nggak bayar-bayar tagihan? Kayak gini, misalnya,
‘Say, tagihan kartu kreditnya tolong dibayar dooong.. Sorry ya, bukan maksudnya saya ngejar-ngejar atau bikin kamu tersinggung.. Saya sih seneng-seneng aja nelpon kamu tiap hari, abis kamu suaranya lembut banget.. Pasti orangnya juga manis.. Tapi kalau kamu nggak bayar-bayar, nanti saya ditegur atasan.. Masa sih kamu tega? Bantuin saya ya, Cin.. Pliiisss…’ :-D)
Dulu saya juga termasuk salah seorang yang anti kartu kredit. Nggak usah deh kartu kredit, ngutang aja saya paling ogah. Prinsip saya, kalau pengen sesuatu dan kebetulan punya uang ya dibeli. Kalau nggak punya uang ya udah, diem aja jangan nakal ^_^ Untung saya bukan orang yang gampang ‘panas’. Lihat teman, tetangga, saudara beli ini itu, saya bisa menahan diri untuk nggak ikut-ikutan beli –meskipun kadang-kadang sebetulnya pengen juga punya barang itu.. Untunglah saya gadis jujur yang teguh beriman.. ^_^
Balik lagi ke soal kartu kredit yaaa.. Saya mulai berpikir ulang untuk memakai kartu kredit setelah punya usaha sendiri. Itu juga saya nggak mengajukan permohonan untuk dibuatkan kartu kredit ke bank lho.. Suatu hari, tiba-tiba saya dikirimi 2 buah kartu gold -1 Visa dan 1 lagi Mastercard- oleh salah satu bank penerbit kartu kredit setelah sekian lama saya menjadi nasabah di sana. Suami awalnya kurang setuju saya punya kartu kredit –alasannya kurang lebih sama dengan teman saya EM- tapi akhirnya membiarkan saja karena tahu saya bukan tipe orang yang hobi belanja tak terkendali. Kan udah saya bilang, saya gadis jujur yang teguh beriman.. *huueeeek…* :-D
Kalau tahu cara memanfaatkannya, punya kartu kredit itu sebetulnya menguntungkan. Tapi kalau nggak dipakai dengan bijak memang bisa-bisa malah menyesatkan. Nggak sedikit orang terlena lalu kebablasan karena cara pakainya gampang banget. Tinggal gesek dan diminta tanda tangan, barang idaman bisa langsung berpindah tangan. Tapi begitu tagihan datang, baru deh keliyengan liat jumlah yang harus dibayar..
Makanya, pertama-tama pakai kartu kredit dulu saya masih agak malu-malu karena masih mempelajari celahnya. Paling-paling kartu saya gesek untuk belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket atau membayar sesuatu yang memang menjadi kewajiban saya, misalnya tagihan listrik, telepon, HP, iuran member di gym dan sejenisnya. Dulu saya mikirnya sederhana aja, mau sekarang atau bulan depan, toh saya memang harus mengeluarkan uang untuk membayar atau membeli kebutuhan yang tadi saya sebutkan. Saya cuma memundurkan waktu pembayaran untuk mengawet-awet uang tunai yang saya punya agar di rekening tabungan saya selalu ada uang untuk kebutuhan mendadak yang pembayarannya nggak bisa menggunakan kartu kredit. Selain itu, malas juga kan kalau kemana-mana saya harus bawa-bawa uang tunai? Menjelang jatuh tempo pembayaran kartu kredit, saya selalu melunasi semua tagihan tanpa sisa. Nggak kena bunga deh!
Setelah beberapa bulan semua berjalan lancar dan aman, saya mulai lebih berani memakai kartu kredit. Waktu ruangan kerja saya di kantor butuh AC baru, saya melipir ke salah satu hypermarket yang sedang menawarkan promo bunga 0% untuk cicilan 6 bulan. Dibayar tunai atau dicicil saya tetap harus beli AC kan? Daripada harus seketika membayar tunai AC yang harganya Rp 3-4 jutaan, mendingan dicicil 6 kali dong kalau bunganya 0%. Uang tunai bisa diawet-awet untuk kebutuhan lain. Begitu juga kalau lagi ada urusan pekerjaan ke luar kota. Kartu kredit kan suka tuh kerja sama dengan hotel, rumah makan, toko, travel atau merchant lain untuk memberikan promo diskon atau penawaran special bagi nasabahnya. Saya manfaatin deh kartu kredit untuk menginap di hotel-hotel yang lagi promo kalau pembayarannya menggunakan kartu kredit yang saya punya. Lumayan lho, saya pernah nginep di hotel dengan harga special, makan di resto dengan diskon 50%, dan masih dapat diskon lagi waktu beli baju di sebuah toko yang semuanya menggelar promo bareng kartu kredit yang saya punya. Habis itu saya mash dapat reward dari kartu kredit yang bisa ditukarkan dengan hadiah pilihan atau kesempatan memenangkan undian berhadiah mobil atau rumah, eh bayar tagihannya masih bulan depan lagi! Enak banget kaaan…
Belakangan saya mendapat ide kalau punya kartu kredit ternyata sangat tepat dikombinasikan dengan asuransi kesehatan pribadi. Saya sudah pernah cerita kan kalau saya sekeluarga ikut asuransi kesehatan? Kalau satu anggota keluarga saya sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, perpaduan asuransi kesehatan dan kartu kredit ini sungguh amat menguntungkan buat saya. Kalau diikutkan asuransi oleh perusahaan kan enak, begitu harus opname tinggal menunjukkan kartu anggota dan bisa langsung masuk kamar perawatan. Tapi asuransi kesehatan perorangan seperti saya harus bayar di muka, baru kemudian bisa mengajukan klaim ke asuransi dengan menunjukkan kwitansi asli dan data-data yang diminta. Kalau lagi megang duit sih nggak masalah. Lah, kalau nggak? Udah pusing ngurusin penyakit, masih harus ngotot-ngototan sama pihak RS karena uang yang kita punya nggak cukup untuk membayar deposit yang harus dibayar dimuka. Kalau punya kartu kredit kan tinggal gesek aja. Setelah uang penggantian dari asuransi cair (asuransi saya kurang lebih 2 mingguan), langsung bayarin deh tuh tagihan kartu kredit. Nggak kena bunga deh!
Makin ke sini, saya makin pintar dan berani menggunakan kartu kredit. Saya rajin menggesek kartu kredit hampir di semua transaksi yang bisa saya bayar dengan kartu kredit pasti. Pedoman saya cuma satu; yang penting pembayaran atau pembelian menggunakan kartu kredit itu memang benar-benar wajib saya lakukan, nggak bisa nggak dan sebelum jatuh tempo sudah harus dilunasi sepenuhnya. Makanya biar hobi gesek sana gesek sini, saya tetap mengontrol penggunaan kartu kredit supaya jangan sampai bulan depannya saya melet-melet melunasi tagihannya. Dan hasilnya, sudah empat tahun pakai kartu kredit saya belum pernah tuh berurusan sama dept collector. Yang ada malah saya dikejar-kejar marketing kartu kredit yang berebut menawari saya untuk memakai kartu kredit keluaran bank lain dengan berbagai tawaran seperti bebas iuran tahunan seumur hidup, langsung disetujui untuk dapat kartu platinum, dapet hadiah langsung berupa VCD Player, HP, dll. Tapi saya nggak tergoda punya kartu kredit banyak-banyak. Belum lupa kan, saya gadis jujur yang teguh beriman? Pletak! *aduh! siapa yang ngelempar sendal nih?* :-D
Jumat, 30 April 2010
Rabu, 28 April 2010
PENGALAMAN MENJUAL RUMAH
Selasa, 27 April lalu untuk pertama kalinya saya menjual salah satu rumah yang saya punya. Pengalaman baru tuh! Kalau beli rumah sih saya udah bolak-balik, udah cukup pengalaman deh. Tapi baru kali ini saya tahu seluk beluk cara menjual rumah.
Ternyata jual rumah gampang-gampang susah ya.. Saya udah niat jual rumah dari pertengahan tahun 2009 lalu, tapi baru berhasil melepasnya April 2010 ini. Dulu saya sempat mencoba memasarkan rumah itu sendiri dengan cara menempel kertas bertuliskan ‘DIJUAL’ dan nomer telepon saya di depan rumah yang akan dijual. Saya juga sempat pasang iklan di koran dan internet. Nggak pakai nunggu lama, respon langsung bermunculan dari mana-mana, tapi paling banyak justru dari marketing agen property yang menawarkan diri untuk membantu memasarkan rumah saya, tentu saja dengan imbalan komisi yang prosentasenya disesuaikan dengan harga rumah. Ada sih satu dua pembeli langsung yang menelpon saya, malahan udah liat-liat rumah dan tawar menawar harga tapi belum ada yang deal.
Awalnya, karena belum terlalu paham dan berpengalaman dalam urusan jual menjual rumah, saya setuju aja waktu sebuah agen property menawarkan untuk kontrak ekslusif dengan agen itu. Maksudnya, saya hanya mengijinkan agen property ini aja yang membantu memasarkan rumah saya, agen property lain nggak boleh ikut-ikutan. Keuntungan sistem ekslusif ini, saya jadi nggak perlu berhubungan dengan banyak agen, cukup mempercayakan semua proses penjualan rumah kepada agen property yang saya tunjuk secara ekslusif. Enaknya lagi kalau kebetulan ketemu marketing yang gencar menawar-nawarkan rumah dan punya banyak buyer alias calon pembeli. Tapi yang terjadi, marketing yang saya pilih ternyata kurang agresif. Saya tunggu beberapa bulan, rumah saya belum laku-laku juga. Boro-boro laku, buyer yang dibawa si marketing untuk dateng ngeliat rumah saya aja jarang-jarang.
Atas saran seorang teman, akhirnya saya ganti taktik dengan mengijinkan semua agen property ikut membantu memasarkan rumah saya (istilahnya ‘open’). Jadi, siapa aja boleh membantu memasarkan, tapi yang berhasil cepat menjuallah yang dapat komisinya. Ribetnya, karena rumah yang akan saya jual dalam kondisi kosong dan kunci rumah saya pegang (nggak mungkin kan semua agen property yang membantu memasarkan saya pinjemin kunci rumah), saya jadi harus bolak-balik ke rumah itu setiap kali ada marketing datang membawa buyer untuk melihat rumah. Mending kalau saya lagi nggak ada kerjaan. Lagi meeting sama klien atau nonton bioskop sama Hugo, tiba-tiba ditelpon marketing diminta mengantar kunci rumah saat itu juga karena ada buyer datang sempet beberapa kali bikin saya bĂȘte.
O ya, waktu memutuskan untuk memakai jasa agen property, saya diminta mengisi dan menanda tangan formulir yang berisi data property yang akan dijual, seperti alamat property, luas tanah, luas bangunan, status sertifikat (hak guna bangunan atau hak milik) dan sejenisnya. Untuk harga rumah di bawah Rp 1 milyar, biasanya agent property menetapkan komisi sebesar 3% dari harga jual rumah saat transaksi dan 2,5% untuk harga rumah di atas 1 milyar, tapi bisa berubah, tergantung kesepakatan antara pemilik rumah dan si marketing.
Sama seperti waktu beli, jual rumah pun saya kena pajak. Dulu saya cuma kenal istilah pajak penjual dan pajak pembeli tapi nggak terlalu ngerti hitung-hitungannya (waktu beli rumah kan selalu langsung ke pengembang, jadi pasrah aja disuruh bayar ini itu karena saya anggap udah bagian dari biaya beli rumah). Nah, gara-gara jual rumah, sekarang saya jadi ngerti maksudnya istilah itu. Pajak pembeli adalah pajak yang harus dibayarkan seseorang saat ia membeli rumah, jumlahnya dihitung dari total NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) – Rp 30 juta x 5%. Sementara pajak penjual dibayarkan oleh si penjual rumah, jumlahnya lebih besar karena dihitung total NJOP x 5%. Buat yang belum tahu, NJOP rumah kita (tanah dan bangunan) bisa dilihat di lembaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan).
Selain pajak penjual, biaya yang harus disiapkan saat kita menjual rumah adalah biaya legalisir pajak, cek sertifikat, dan komisi untuk marketing kalau kita menggunakan jasa agen property. Buat pembeli rumah jangan keburu GR dulu.. Biarpun pajak yang harus dibayar lebih kecil dibandingkan pajak penjual, tapi pembeli rumah kena biaya AJB + balik nama, legalisir pajak, PNBP untuk AJB, SPS APHT, dan APHT + SHT. Ribet ya? Sebetulnya nggak juga sih karena semuanya sudah diurus sama notaris. Kita tinggal duduk manis dan bersiap pegal-pegal tangannya karena harus menanda tangan segepok berkas pada saat proses jual beli berlangsung.
Ternyata bener kata banyak orang selama ini, beli dan jual rumah itu cocok-cocokkan, jodoh-jodohan. Harga udah cocok dan pembeli udah suka rumah saya, kalau nggak jodoh adaaaa aja halangannya. Sebaliknya, kalau memang udah jodohnya, rumah bisa begitu gampang dan cepat berpindah tangan.
Itu yang terjadi dengan rumah saya. Suatu hari salah satu marketing agen property mengantar marketing seorang buyer keliling-keliling di komplek perumahahan tempat saya tinggal. Si buyer memang lagi cari-cari rumah di sekitar situ. Dibawa ke beberapa rumah, si mbak belum merasa sreg. Tapi begitu melihat rumah saya, dia langsung suka, bahkan sebelum melihat bagian dalam rumah karena marketingnya belum janjian sama saya untuk melihat rumah pada hari itu dan kebetulan saat itu saya lagi di luar kota. Begitu esoknya ia melihat bagian dalam rumah saya, ia langsung mantap untuk membeli dan langsung mentransfer tanda jadi tanpa harus melewati proses tawar menawar yang alot. Proses pengajuan KPR berjalan lancar. Maka, jadilah 27 April kemarin salah satu hari bersejarah buat saya karena untuk pertama kalinya saya punya pengalaman menjual rumah.
Langganan:
Komentar (Atom)