Kamis, 26 Februari 2009

JANGAN TAKUT UNTUK BERBAGI

Saya paling anti bilang nggak punya uang, seperti apa pun kondisi keuangan saya. Kebetulan sih saya memang nggak pernah bener-bener nggak punya uang. Inget, saya hobi nabung lho… :) Jadi, saya selalu punya uang di tabungan. Tapi kalaupun toh uang di tabungan saya sedang menipis (biasanya kalau habis saya kuras untuk membeli sesuatu), dan uang di dompet pun tinggal beberapa ribu, saya pantang banget bilang nggak punya uang. Kalau ada yang tanya, “Kamu punya uang?” Pasti saya jawab, “Punya.” Kalau memang uang yang saya punya sedikit, saya akan bilang, “Ada sih, tapi nggak banyak.”

Jangan dikira saya bisa ngomong begitu karena selalu banyak uang. Nggak juga. Saya pernah kok ngalamin yang namanya hidup pas-pasan, sampai rela berantem sama kondektur bis cuma gara-gara si kondektur ngasih uang kembaliannya kurang dua ratus perak :D Atau beli makan di warteg sebungkus dimakan berdua suami –yang saat itu masih berstatus pacar- untuk menghemat pengeluaran. Tapi dalam kondisi seperti itu pun saya pantang banget bilang nggak punya uang.

Kalau memang kita punya uang (biarpun sedikit), jangan pernah sekali-sekali bilang nggak punya. Bukannya saya sombong atau gengsinya gede. Nggak, sama sekali saya nggak bermaksud seperti itu. Saya cuma menerapkan pikiran positif dalam diri saya bahwa saya SELALU punya uang. Saya berharap, saya NGGAK PERNAH nggak punya uang. Dan kenyataannya saya memang jadi nggak pernah kekuarangan uang. Ada saja uang yang mengalir ke kantong saya dan saya selalu merasa cukup, berapapun jumlahnya. Sebaliknya, kalau kita terus-terusan merasa nggak punya uang, kita pasti akan selalu merasa kekurangan.

Pikiran bahwa saya selalu punya uang membuat saya lebih nyaman berbagi dengan orang lain. Saya nggak pernah takut membagi uang yang saya punya dengan orang lain, sepanjang orang tersebut memang betul-betul membutuhkan. Salah satu keajaiban uang yang saya tahu, semakin ketat kita memegang uang ternyata bukanlah jaminan bakal semakin cepat juga kita mengumpulkan banyak harta. Begitu juga sebaliknya. Kalau kita gampang mengeluarkan uang, belum tentu akan membuat kita makin cepat jatuh miskin –selama kita menggunakan uang tersebut untuk hal-hal yang baik. Apalagi untuk menolong orang lain. Berdasarkan pengalaman, biasanya saya justru memperoleh ganti yang jauh lebih besar daripada yang saya keluarkan untuk membantu sesama yang memerlukan. Tapi bukan berarti saya menolong orang karena berharap dapat gantinya yang lebih besar lho… :D

Uang yang kita miliki sebaiknya memang dibiarkan mengalir. Bukan berhenti di satu tempat saja; di kantong atau rekening pribadi kita. Dengan begitu uang jadi punya nilai lebih, jadi memberi manfaat untuk banyak orang. Kalau kita mampu membuat sedikit uang yang mampir ke tangan kita mengalir dan memberi manfaat untuk banyak orang, saya percaya akan lebih banyak lagi uang yang datang menghampiri kita. Sebaliknya, kalau kita nggak mau berbagi dan ingin menguasai sendiri uang yang kita miliki, rejeki yang kita dapat biasanya ya juga cuma segitu-segitu aja. Saya sudah membuktikan, uang jadi lebih membawa berkah, lebih benilai kalau digunakan untuk kepentingan banyak orang.

Tiga tahun terakhir ini, setiap hari saya menyediakan makan siang untuk seluruh karyawan di kantor saya, meskipun sebetulnya mereka sudah saya beri uang makan. Selain biar para karyawan nggak repot beli makanan untuk makan siang, saya pikir seru aja kalau satu kantor bisa makan sama-sama dengan menu yang sama, apa pun jabatannya. Di akhir bulan, saat uang di dompet mulai menipis, setidaknya karyawan saya nggak pusing mikirin makan siang. Udah terjamin, kecuali kalau mereka nggak suka menunya dan memilih makan di luar (tapi ini hampir nggak pernah terjadi, karena mereka pasti lebih milih yang gratisan doooong… Lagian kan masakan yang saya sediain nggak asal-asalan, soalnya saya juga setiap hari makan makanan itu... :p)

Setiap Sabtu, saya membuat menu masakan untuk seminggu lalu Mpok, salah seorang ART saya, belanja ke pasar untuk keperluan masak seminggu. Sebulan kurang lebih saya mengeluarkan uang sebesar Rp 1.800.000 untuk kegiatan masak memasak tersebut, sudah termasuk beras, gas, minyak goreng, kecap, terigu… pokoknya sudah semuanya deh. Dengan uang sejumlah itu, saya sudah menyediakan makan untuk 15 orang di kantor selama 5 hari kerja, Mpok bisa membawa pulang makanan untuk makan suami dan anak-anaknya di rumah (Mpok nggak nginep di rumah saya, cuma datang pagi pulang siang), dan masih ada sisa di lemari makan saya untuk makan Hugo –jagoan kecil saya- dan Mbak, ART saya yang menginap di rumah. Total makanan yang dimasak setiap hari adalah 21 porsi. Kalau dihitung-hitung, biaya masak saya sehari Rp 1.800.000 : 22 (hari kerja) = cuma Rp 82 ribuan!

“Masa sih? Aku aja masak buat sekeluarga yang cuma berlima sehari belanja Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu. Kamu masak apaan tuh?” tanya kakak saya heran.

“Ya, biasa… masakan rumah gitu. Setiap hari Mpok masak 3 menu, misalnya nih, Senin ; sayur lodeh, ikan kembung goreng, tempe goreng tepung, dan sambal terasi. Selasa : orak-arik buncis, telor balado, dan pepes tahu. Rabu : Sop, ayam goreng, bakwan jagung, kerupuk dan sambal… dan seterusnya gitu deh. Pokoknya dalam seminggu itu biasanya 2 hari menunya telor, 2 hari ikan, dan 1 hari ayam atau daging..”

“Cukup tuh 82 ribu buat makan 15 orang?”

“Kok 15 orang sih? 21 dong. Kan Mpok selalu bawa pulang makanan dan di rumah juga masih ada buat Hugo dan Mbak. Aku pulang kantor pun masih ada kok lauk untuk makan malam. Cukup-cukup aja tuh…” jawab saya yang kadang suka heran juga, uang sejumlah itu cukup untuk memberi makan sebegitu banyak orang. Tapi semua pengeluaran selalu saya catat di komputer kok…

Kenyataan itu membuat saya semakin percaya bahwa uang yang kita punya memang harus dibiarkan mengalir. Saya yakin, saya nggak bakal jatuh miskin gara-gara memberi makan orang banyak. Dan saya nggak akan jadi bangkrut karena berbagi rejeki dengan orang lain. Ketika uang berputar, kita nggak bisa seratus persen mengendalikannya. Ada faktor-faktor lain di luar kuasa kita yang membuat hitung-hitungan yang kita pakai nggak selamanya akurat. Jadi, jangan pernah takut berbagi karena justru dengan berbagi kita akan menerima lebih dan lebih banyak lagi...

Selasa, 24 Februari 2009

OGAH RUGI

Entah karena saya dan suami memang cocok berbisnis majalah, atau majalah yang kami buat memang bagus dan saat itu belum banyak kompetitor, atau Tuhan memang baik sekali sama kami berdua... nggak tahu deh. Yang jelas, majalah pertama kami (Guitar Magazine, disingkat G-Magz yang berisi chord-chord lagu) cukup laku di pasaran. Di edisi-edisi awal oplah majalah kami hanya 10.000 eksemplar dan lebih dari 90%-nya laku terjual. Artinya, returnya nggak sampai 10%. Padahal kalau majalah cuma laku 60% saja saya sudah balik modal.

Karena permintaan jatah majalah di agen bertambah, pelan-pelan saya menaikkan oplah majalah sampai pernah mencapai 50.000 eksemplar setiap edisi dan masih tetap laris manis. Akibatnya, dalam waktu singkat, keuangan perusahaan meningkat pesat. Tapi saya tetap berhati-hati memegang uang, nggak mau bersenang-senang dulu karena kondisi keuangan saya anggap belum cukup stabil. Biar uang di rekening menumpuk, saya tetap hidup biasa-biasa saja. Lagipula kan memang dari awal saya memisahkan mana uang kantor, mana uang rumah... :)

Kami pindah ke Bintaro saat masa sewa rumah di Mampang habis. Rumah mungil yang terdiri dari 2 kamar tidur itu langsung saya sulap jadi kantor merangkap rumah. Kamar di bagian depan untuk ruang kerja karyawan, sementara kamar yang satunya lagi jadi kamar tidur saya sekeluarga. Nggak ada kamar ART, makanya saya mempekerjakan ART yang datang pagi dan pulang menjelang sore setelah semua pekerjaannya selesai.

Rumah pertama yang merangkap kantor itu saya biarkan kosong melompong saat awal-awal saya menempatinya. Saya nggak buru-buru membeli segala macam perabotan rumah tangga untuk melengkapi rumah mungil itu meskipun sebetulnya saya sudah mampu membelinya. Belum saatnya. Lagipula, kalau majalah selesai dicetak di percetakkan dan diantar ke kantor untuk dipak sebelum didistribusikan ke agen-agen di seluruh Indonesia, rumah saya mendadak penuh sesak oleh majalah. Wah, nggak kebayang deh kalau perabotan di rumah saya sudah lengkap. Bisa-bisa rumah merangkap kantor itu nggak muat menampung semua majalah.

Selain karena alasan itu, saya juga menunda membeli perabotan karena buat saya barang-barang seperti meja makan, sofa, kursi tamu dan lain-lain bukanlah prioritas utama. Artinya, tanpa memiliki barang-barang yang saya sebutkan itu pun hidup saya masih nyaman-nyaman saja, nggak ada masalah. Saya ingat, saat itu saya punya 2 buah karpet andalan; yang satu saya gelar di ruang tamu dan satu lagi di ruang nonton teve merangkap ruang makan. Kalau ada tamu datang, si tamu saya persilakan duduk di karpet di ruang tamu. Kalau mau makan atau nonton teve, tinggal duduk di karpet yang ada di depan teve. Santai dan praktis!

Ih, apa nggak gengsi tuh sama tamunya? Untungnya sih saya nggak. Dari awal saya sudah menanamkan pada diri sendiri untuk membuang jauh-jauh yang namanya gengsi dan sejenisnya dari kamus hidup saya. Buat apa gengsi kalau pada kenyataannya kemampuan kita memang baru segitu? Buat apa malu-malu kalau pada saat itu keadaan memang membuat kita masih harus menahan diri, menahan keinginan-keinginan kita?

Bukan berarti saya nggak pengen punya rumah yang nyaman, dengan penataan interior yang apik dan indah dipandang mata. Saya rasa semua orang juga pengennya begitu. Tapi untuk mencapai suatu tahap tertentu di dalam hidup kadang kita harus belajar bersabar dan menikmati semua proses yang harus kita lewati. Saya yakin, kalau saya tetap konsisten mengelola uang dengan bijak, akan ada saatnya saya bisa melewati semua proses dan keadaan yang penuh dengan keterbatasan. Dan saat ini saya sungguh bersyukur karena diberi kesempatan untuk melewati proses berliku itu sebelum mencapai posisi saya sekarang karena perjalanan itu ternyata telah membentuk mental saya menjadi lebih kuat dan memberi saya pengalaman hidup yang lebih ‘kaya’, lebih berwarna.

Kembali ke soal uang perusahaan ya... Saat uang di rekening perusahaan makin banyak, saya dan suami pelan-pelan berbenah membeli tambahan komputer, AC, meja, kursi kantor, rak-rak dan laci-laci penyimpanan berkas-berkas kantor. Setelah itu, barulah kami memutuskan membeli mobil untuk kendaraan operasional perusahaan dengan cara kredit.

Mobil pertama saya Kijang kapsul tipe LSX warna silver. Saat saya membelinya tahun 2003, harganya kurang lebih Rp 140 jutaan. Saya membandingkan ke beberapa dealer dulu sebelum memutuskan membeli mobil itu di salah satu dealer. Kurang kerjaan? Mungkin iya. Tapi pengalaman itu membuat saya tahu satu hal; harga mobil di semua dealer (sepanjang masih berada di satu kota) memang sama, tapi masing-masing dealer punya kebijakan berbeda soal diskon. Nggak tanggung-tanggung, beda diskon antara satu dealer dengan dealer lain bisa sampai 3 jutaan lho!

Saya juga suka iseng menghitung-hitung total uang yang harus saya keluarkan kalau saya memakai perusahaan leasing A atau perusahaan leasing B. Ternyata, meskipun bunga kreditnya mirip-mirip, hitungan antar satu leasing dengan leasing lain bisa mempengaruhi total jumlah uang yang akhirnya harus saya bayarkan, meskipun selisihnya mungkin nggak sampai juta-jutaan.

Saya nggak tahu, apa di dunia ini banyak orang yang sekurang kerjaan saya, tapi saya memang senang membanding-bandingkan harga sebelum membeli sesuatu dan puas banget kalau bisa dapat harga yang lebih murah. Beli minyak goreng di pasar saja saya senang kok kalau bisa dapat barang yang sama dengan harga lebih murah (meskipun selisih harganya mungkin hanya beberapa ribu rupiah), apalagi beli mobil yang selisih harganya sampai beberapa juta rupiah. Kakak saya bilang, saya orangnya ogah rugi. Biarin aja, kalau memang bisa untung ngapain milih rugi? Lagian memangnya ada orang yang senangnya rugi? :p