Belakangan ini, hidup saya penuh kejutan yang menyenangkan. Di bulan Februari ini, misalnya. Terlepas tanggal 14 Februari sebagian orang merayakan Valentine’s Day, buat saya pribadi bulan Februari memang bulan penuh cinta. Kenapa? Karena saya jadian sama suami tercinta (dulu masih pacar) 20 Februari 1999, menikah 11 Februari 2001, dan melahirkan Hugo 16 Februari 2002. Jadi, di bulan Februari 2012 ini saya merayakan banyak peristiwa penting dalam hidup saya. Betul-betul bulan yang sip markusip kaaan...
Nah, Februari 2012 ini juga menjadi penting buat saya karena untuk pertama kalinya saya berencana merayakan HUT ke 8 GitarPlus. Pertama kali? Iya, seumur-umur menerbitkan GitarPlus, saya memang belum pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya dalam pesta beneran. Biasanya dirayakan sederhana antar karyawan aja dengan makan bersama dan tiup lilin. Tapi tahun ini kan GitarPlus 8 tahun. Pengen dong sekali-sekali dirayakan dengan lebih meriah. Apalagi mengingat GitarPlus berhasil eksis dan bahkan makin berkibar, di saat banyak majalah musik lain yang justru berguguran.
Saya memilih tanggal 22 Februari sebagai waktu untuk perayaan HUT GitarPlus. O ya, ulang tahun GitarPlus sendiri sebetulnya jatuh pada tanggal 15 Januari lalu. Tapi karena berbagai pertimbangan, perayaannya baru akan diadakan 22 Februari. Setelah ketemu tanggal yang pas, mulailah saya sibuk mempersiapkan acara mulai dari menggandeng sponsor, mengatur jadwal dengan bintang tamu yang akan mengisi acara, tempat penyelenggaraan acara, undangan, mengurus konsumsi dan sebagainya.
Tim redaksi yang dikomandani oleh Mudya pun mempersiapkan Majalah GitarPlus edisi ulang tahun secara khusus. Untuk cover, misalnya, di edisi ini Mudya menetapkan gitaris-gitaris yang pernah menjadi kontributor di Majalah GitarPlus yang akan dimunculkan. Sebetulnya banyak gitaris yang pernah mengisi rubrik di GitarPlus, tapi karena sulit mempertemukan semuanya dalam satu jadwal, akhirnya pada tanggal yang ditentukan hanya ada 5 gitaris yang berhasil dikumpulkan; Eet Sjahranie, Andy Owen, Jubing Kristianto, Ezra Simanjuntak, dan John Paul Ivan. Buat yang belom tau, inilah tim kecil Majalah GitarPlus :
Pemotretan cover rencananya dilakukan di redaksi GitarPlus, Jl. Maleo IV JB 3 No. 1 Bintaro Sektor 9 pada hari Minggu, 5 Februari 2012. Sehari sebelum hari pelaksanaan foto cover itu, saya mendadak teringat kalau 3 Februari-nya Mas Eet berulang tahun yang ke 50. Saya langsung kepikiran untuk memberi kejutan buat Mas Eet dan langsung mengabari Mudya soal ide itu. Mudya setuju, lalu segera mengabari teman-teman yang lain. Yang sempat, silakan datang ke Redaksi GitarPlus untuk ikut meramaikan suasana. Ternyata yang datang lumayan banyak. Selain 5 gitaris yang akan difoto untuk cover, juga ada Pupun RoR dan Rara istrinya, Tyo Zi Factor, Medi Suckerhead, Puguh Kribo, Iwan Cummie, Fajar dan Rizal perwakilan dari Paguyuban Gitaris Jogja yang kebetulan lagi beredar di Jakarta, Eben Andreas dan Lucky dari Bekasi, dan masih banyak lagi. Saya memang senang mengumpulkan gitaris dan sepertinya saya berbakat ‘ngomporin’ gitaris untuk ngumpul. Seru aja hehe..
Inilah suasana perayaan HUT Mas Eet yang disiapkan hanya dalam waktu sehari
Dan inilah hasil foto cover untuk majalah edisi HUT ke 8 GitarPlus :
Di tengah persiapan perayaan HUT GitarPlus, saya ditelepon oleh Mbak Inez dari program Coffe Break TV One. diundang menjadi nara sumber di acara yang ditayangkan setiap hari Senin-Jumat jam 10.00 – 11.00. Ini pengalaman pertama saya tampil di TV nasional. Ketika ditelpon oleh Mbak Inez, saya langsung kepikiran untuk membagi kebahagiaan dengan mengajak teman-teman yang lain ikut tampil di program ini. Atas persetujuan pihak TV One, akhirnya saya mengajak Mudya (Editor In Chief Majalah GitarPlus) dan Aji Broken Bones (Ketua Indonesian Guitar Community) untuk menemani tampil sebagai narasumber (soalnya pengetahuan musik saya pas-pasan banget. Nanti kalau ditanya yang susah-susah kan jadi ada yang bantuin jawab ;p).
Saya juga mengajak 2 gitaris, yaitu Pupun RoR-D’Bandhits dan Andy Owen untuk ikut tampil bermain solo gitar. Tujuannya, saya ingin menunjukkan pada masyarakat umum kalau penampilan solo gitar saja bisa menjadi tontonan yang asyik dan menghibur. Ya, siapa tau aja setelah Pupun dan Owen main solo gitar di TV, nantinya bakal ada program-program TV lain yang berminat mengundang gitaris untuk tampil di TV.
Pupun memainkan lagu 'Playing with the money' yang khusus diciptakannya untuk launching buku saya 'Bermain Dengan Uang' di acara Coffe Break TV One
Dan beginilah suasana live interview di program Coffe Break TV One yang diambil di Epicentrum Walk Kuningan.
Kembali ke HUT GitarPlus, akhirnya perayaan ulang tahun dengan tema ‘8 Years of Dedication’ itu berjalan dengan lancar dan meriah. Gitaris yang tampil sebagai bintang tamu malam itu adalah I Wayan Balawan, Bengbeng Pas Band, Aria Baron, Piyu, Coki Netral, Adrian Adioetomo, Jubing Kristianto, Pupun RoR, Ezra Simanjuntak, John Paul Ivan, Andy Owen. Pemain bass yang ikut tampil adalah Ahmad Sebastio, drummer Anton Canga, dan ada 3 band berorientasi pada gitar yang ikut tampil, yaitu RoR, Zi Factor dan Noxa.
Teman-teman dari Indonesian Guitar Community yang dikomandani Aji Broken Bones ikut hadir meramaikan suasana.
Berita tentang acara HUT GitarPlus muncul di berbagai media, baik cetak maupun online. Di antaranya Koran Republika, Antara News, Rollingstone.com, Femina online, centroone.com dan lain-lain.
Liputan acara Specta Guitar 8 Years of Dedication di Koran Republika
O ya, gara-gara bikin acara ini saya jadi kepikiran untuk mulai aktif di twitter. Sebetulnya saya punya akun twitter udah lama, sejak 16 Mei 2011. Tapi selama ini saya diemin aja tanpa follower dan saya hampir nggak pernah ngetwitt. Sejak 23 Februari 2012, saya mulai aktif ngetwitt di twitter. Yang mau follow saya boleh loooh.. Akun twitter saya @intangitarplus yaaa... :)
Sabtu, 25 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
SAYA NGGAK TAKUT MEMBUAT SESUATU YANG BERBEDA
Saya nggak takut membuat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang orang lain nggak kepikiran untuk mencobanya. Atau mungkin sebetulnya kepikiran, tapi ogah melakukannya karena berbagai pertimbangan. Bikin Majalah GitarPlus, misalnya. Sampai saat ini, GitarPlus masih menjadi majalah pertama dan satu-satunya di Indonesia yang khusus mengulas seluk beluk dunia gitar dan gitaris. Nggak ada penerbit lain yang tertarik membidik pasar ini karena segmentasinya yang sempit. Tapi saya membuatnya dengan misi yang sangat idealis, seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan saya yang dimuat di buku, ‘Bermain Dengan Uang’. Bikin majalah yang segmented, kita sulit berharap bakal mengeruk keuntungan besar dalam sekejap, kecuali kalau sebelum menerbitkan majalahnya kita sudah betul-betul memegang pasarnya dan menguasai jaringan pemasang iklannya. Dan gilanya, dua hal itu sama sekali nggak saya miliki di awal-awal saya menerbitkan GitarPlus. Modal saya cuma nekat dan hajar bleh doang!
Saya nekat bikin Majalah GitarPlus, majalah gitar pertama di Indonesia
Bisa ditebak, perjuangan saya menerbitkan GitarPlus diwarnai adegan berdarah-darah dan nyungsep-nyungsep nggak karuan. Untunglah saya menikmatinya, menganggapnya sebagai bagian dari proses belajar yang harus saya jalani untuk menjadi pengusaha yang lebih baik dan lebih memahami bisnis ini. Biarpun bolak-balik jatuh, keinjek-injek, nyungsep, kebentur-bentur sampai babak belur, saya selalu berusaha bangun lagi dan nggak mau menyerah sebelum memenangkan pertempuran. Sampai kemudian akhirnya saya ketemu celahnya dan berhasil membuktikan bahwa majalah dengan segmentasi sempit seperti GitarPlus bisa juga eksis dan diakui keberadaannya di kalangan gitaris dan penggemar gitar di Indonesia, bahkan di beberapa negara di dunia.
Begitu juga saat membuat event gitar-gitaran. Selama ini sebetulnya banyak distributor alat musik yang membuat acara gitar, tapi formatnya lebih ke klinik demo produk yang bertujuan untuk mempromosikan sebuat produk alat musik tertentu. Kalau bukan klinik demo produk, acara gitar-gitaran biasanya berbentuk konser. Saya nekat memadukan keduanya. Ada sessi tanya jawab interaktif seperti di klinik demo produk –tapi pertanyaannya lebih luas, tidak hanya seputar seputar alat musik. Ada kesempatan untuk saling sharing seputar dunia gitar antara bintang tamu dan penonton. Dan ada penampilan para gitaris di panggung yang diselingi games berhadiah yang membuat suasana akrab dan hangat. Untuk acara Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’, saya bahkan memberlakukan tiket masuk untuk setiap penonton yang ingin menikmati acara ini. Sebuah ide yang membuat saya dianggap ‘ajaib’ oleh banyak orang karena acara klinik gitar biasanya gratis, bahkan ketika bintang tamunya adalah gitaris dunia seperti Paul Gilbert, Kiko ‘Angra’, Herman Lee ‘Dragon Force’, Jeff Loomis, Mattias IA Eklund, dan lain-lain.
Saya akui, pada awalnya banyak pihak yang sulit menerima konsep acara yang saya sodorkan. Distributor alat musik biasa membuat acara sendiri, khusus untuk mempromosikan satu atau beberapa merk alat musik yang bernaung di bawah perusahaan yang sama. Nggak ada ceritanya gitar merk A klinik produk bareng ampli gitar merk B, misalnya. Tapi di acara yang saya buat, saya mengajak beberapa distributor untuk ikut berpartisipasi men-support acara. Yang ada saya ditolak, dicuekin, dan diketawain. “Masa klinik bareng kompetitor?” ujar beberapa teman dari distributor alat musik di awal-awal saya membuat konsep ‘Guitar For Fun’.
Langsung saya jawab, “Tolong sudut pandangnya diubah dulu ya. Saya bikin acara yang mengumpulkan banyak gitaris. Yang tampil di panggung gitaris, penontonnya juga gitaris dari berbagai komunitas gitar di kota itu. Saya menawarkan ke perusahaan Anda untuk berpromo di acara ini karena menurut saya acara ini adalah tempat yang tepat untuk promosi produk alat musik, khususnya yang berhubungan dengan gitar. Kalau nggak mau, Anda rugi sendiri karena kompetitor Anda berpromo di situ.”
Nggak gampang meyakinkan orang untuk setuju dengan pola pikir dan cara pandang saya. Apalagi yang saya tawarkan adalah sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelum-sebelumnya. Tapi saya yakin dengan apa yang saya lakukan. Biarpun dicuekin dan diketawain, saya maju terus dengan keyakinan saya. Sejalan dengan waktu, terutama setelah saya bisa membuktikan bahwa acara yang saya buat memang bagus dan bermanfaat bagi gitaris serta pihak-pihak yang berkepentingan di dunia gitar, akhirnya pelan-pelan beberapa distributor alat musik bisa menerima konsep yang saya tawarkan, bahkan kemudian ikut berpartisipasi men-support acara tersebut secara bersamaan. Saat ini, penyelenggaraan event Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’ selalu disupport oleh beberapa distributor alat musik.
Setelah pihak-pihak yang berkecimpung di dunia musik bisa menerima dan memahami konsep acara yang saya buat, saya tertantang untuk meyakinkan pihak lain di luar dunia musik. Bagi orang awam yang bukan penggemar gitar, acara gitar-gitaran seringkali dianggap kurang menarik dan menghibur. Apa serunya beberapa gitaris ganti-gantian tampil di panggung? Beberapa perusahaan besar yang saya kirimi proposal untuk diajak kerja sama sponsorship rata-rata mempertanyakan, di mana sisi komersilnya acara ini?
Siapa bilang acara gitar doang nggak menarik? Nih, buktinya penontonnya sebanyak ini!
Tapi saya pantang menyerah. Ditolak di satu perusahaan, saya coba ke perusahaan yang lain. Proposal saya nggak ditanggapi, saya kirim lagi proposal ke lebih banyak perusahaan lain. Saya selalu berpikir positif bahwa konsep yang saya buat tidak jelek. Kalau tawaran kerja sama saya ditolak mungkin hanya karena kurang cocok dengan perusahaan yang saya ajak kerja sama. Saya yakin dengan apa yang saya lakukan dan tekun memperjuangkannya, nggak peduli orang bilang apa. Lama-lama ada juga tuh hasilnya. Akhirnya ada sebuah perusahaan yang rajin mensponsori acara gitar-gitaran saya yang awalnya dianggap kurang menarik.
Membuat sesuatu yang berbeda memang nggak mudah. Butuh kreatifitas dan keberanian lebih untuk memulainya, serta ketekunan dan keyakinan untuk menjalaninya sebelum akhirnya apa yang kita buat bisa diterima oleh orang-orang di sekitar kita. Sulit pada awalnya, tapi kalau sudah terbukti hasilnya tentu akan memberikan kepuasan yang berbeda juga. Dan saya memilih melakukan yang beda itu karena kalau hanya selalu melakukan yang biasa-biasa saja saya akan jadi begitu-begitu saja. Dengan penuh kesadaran saya memilih jalan yang sempit dan sulit untuk menjadi berbeda daripada melaju di jalan yang sering dilalui orang hanya untuk menjadi sama dengan yang lain. Dan saya percaya, Majalah GitarPlus serta acara gitar-gitaran yang saya buat bisa bertahan sampai sejauh ini justru karena berbeda dengan yang pernah ada.
Saya nekat bikin Majalah GitarPlus, majalah gitar pertama di Indonesia
Bisa ditebak, perjuangan saya menerbitkan GitarPlus diwarnai adegan berdarah-darah dan nyungsep-nyungsep nggak karuan. Untunglah saya menikmatinya, menganggapnya sebagai bagian dari proses belajar yang harus saya jalani untuk menjadi pengusaha yang lebih baik dan lebih memahami bisnis ini. Biarpun bolak-balik jatuh, keinjek-injek, nyungsep, kebentur-bentur sampai babak belur, saya selalu berusaha bangun lagi dan nggak mau menyerah sebelum memenangkan pertempuran. Sampai kemudian akhirnya saya ketemu celahnya dan berhasil membuktikan bahwa majalah dengan segmentasi sempit seperti GitarPlus bisa juga eksis dan diakui keberadaannya di kalangan gitaris dan penggemar gitar di Indonesia, bahkan di beberapa negara di dunia.
Begitu juga saat membuat event gitar-gitaran. Selama ini sebetulnya banyak distributor alat musik yang membuat acara gitar, tapi formatnya lebih ke klinik demo produk yang bertujuan untuk mempromosikan sebuat produk alat musik tertentu. Kalau bukan klinik demo produk, acara gitar-gitaran biasanya berbentuk konser. Saya nekat memadukan keduanya. Ada sessi tanya jawab interaktif seperti di klinik demo produk –tapi pertanyaannya lebih luas, tidak hanya seputar seputar alat musik. Ada kesempatan untuk saling sharing seputar dunia gitar antara bintang tamu dan penonton. Dan ada penampilan para gitaris di panggung yang diselingi games berhadiah yang membuat suasana akrab dan hangat. Untuk acara Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’, saya bahkan memberlakukan tiket masuk untuk setiap penonton yang ingin menikmati acara ini. Sebuah ide yang membuat saya dianggap ‘ajaib’ oleh banyak orang karena acara klinik gitar biasanya gratis, bahkan ketika bintang tamunya adalah gitaris dunia seperti Paul Gilbert, Kiko ‘Angra’, Herman Lee ‘Dragon Force’, Jeff Loomis, Mattias IA Eklund, dan lain-lain.
Saya akui, pada awalnya banyak pihak yang sulit menerima konsep acara yang saya sodorkan. Distributor alat musik biasa membuat acara sendiri, khusus untuk mempromosikan satu atau beberapa merk alat musik yang bernaung di bawah perusahaan yang sama. Nggak ada ceritanya gitar merk A klinik produk bareng ampli gitar merk B, misalnya. Tapi di acara yang saya buat, saya mengajak beberapa distributor untuk ikut berpartisipasi men-support acara. Yang ada saya ditolak, dicuekin, dan diketawain. “Masa klinik bareng kompetitor?” ujar beberapa teman dari distributor alat musik di awal-awal saya membuat konsep ‘Guitar For Fun’.
Langsung saya jawab, “Tolong sudut pandangnya diubah dulu ya. Saya bikin acara yang mengumpulkan banyak gitaris. Yang tampil di panggung gitaris, penontonnya juga gitaris dari berbagai komunitas gitar di kota itu. Saya menawarkan ke perusahaan Anda untuk berpromo di acara ini karena menurut saya acara ini adalah tempat yang tepat untuk promosi produk alat musik, khususnya yang berhubungan dengan gitar. Kalau nggak mau, Anda rugi sendiri karena kompetitor Anda berpromo di situ.”
Nggak gampang meyakinkan orang untuk setuju dengan pola pikir dan cara pandang saya. Apalagi yang saya tawarkan adalah sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada sebelum-sebelumnya. Tapi saya yakin dengan apa yang saya lakukan. Biarpun dicuekin dan diketawain, saya maju terus dengan keyakinan saya. Sejalan dengan waktu, terutama setelah saya bisa membuktikan bahwa acara yang saya buat memang bagus dan bermanfaat bagi gitaris serta pihak-pihak yang berkepentingan di dunia gitar, akhirnya pelan-pelan beberapa distributor alat musik bisa menerima konsep yang saya tawarkan, bahkan kemudian ikut berpartisipasi men-support acara tersebut secara bersamaan. Saat ini, penyelenggaraan event Pesta Gitaris ‘Guitar For Fun’ selalu disupport oleh beberapa distributor alat musik.
Setelah pihak-pihak yang berkecimpung di dunia musik bisa menerima dan memahami konsep acara yang saya buat, saya tertantang untuk meyakinkan pihak lain di luar dunia musik. Bagi orang awam yang bukan penggemar gitar, acara gitar-gitaran seringkali dianggap kurang menarik dan menghibur. Apa serunya beberapa gitaris ganti-gantian tampil di panggung? Beberapa perusahaan besar yang saya kirimi proposal untuk diajak kerja sama sponsorship rata-rata mempertanyakan, di mana sisi komersilnya acara ini?
Siapa bilang acara gitar doang nggak menarik? Nih, buktinya penontonnya sebanyak ini!
Tapi saya pantang menyerah. Ditolak di satu perusahaan, saya coba ke perusahaan yang lain. Proposal saya nggak ditanggapi, saya kirim lagi proposal ke lebih banyak perusahaan lain. Saya selalu berpikir positif bahwa konsep yang saya buat tidak jelek. Kalau tawaran kerja sama saya ditolak mungkin hanya karena kurang cocok dengan perusahaan yang saya ajak kerja sama. Saya yakin dengan apa yang saya lakukan dan tekun memperjuangkannya, nggak peduli orang bilang apa. Lama-lama ada juga tuh hasilnya. Akhirnya ada sebuah perusahaan yang rajin mensponsori acara gitar-gitaran saya yang awalnya dianggap kurang menarik.
Membuat sesuatu yang berbeda memang nggak mudah. Butuh kreatifitas dan keberanian lebih untuk memulainya, serta ketekunan dan keyakinan untuk menjalaninya sebelum akhirnya apa yang kita buat bisa diterima oleh orang-orang di sekitar kita. Sulit pada awalnya, tapi kalau sudah terbukti hasilnya tentu akan memberikan kepuasan yang berbeda juga. Dan saya memilih melakukan yang beda itu karena kalau hanya selalu melakukan yang biasa-biasa saja saya akan jadi begitu-begitu saja. Dengan penuh kesadaran saya memilih jalan yang sempit dan sulit untuk menjadi berbeda daripada melaju di jalan yang sering dilalui orang hanya untuk menjadi sama dengan yang lain. Dan saya percaya, Majalah GitarPlus serta acara gitar-gitaran yang saya buat bisa bertahan sampai sejauh ini justru karena berbeda dengan yang pernah ada.
Langganan:
Komentar (Atom)









