Memenuhi kebutuhan pasar, alat musik yang di-display di toko saya sudah semakin banyak dan lengkap. Belum lagi yang di gudang. Rumah kontrakan yang saya jadikan toko dan baru ditempati 6 bulanan ini langsung penuh sesak dalam sekejap (nggak sekejap juga sih, emangnya sulapan? :p). Tapi itu pun ternyata belum cukup memenuhi permintaan pelanggan karena belakangan saya baru sadar, produk alat musik itu jenis dan merknya sangat beragam. Sebetulnya saya tahu banget cara membuat toko alat musik yang lengkap dan banyak variasi barangnya. Asak kita siap modal uang dalam jumlah besar itu gampang diatasi, Masalahnya dana saya cekak, cuma semangatnya aja yang luar biasa besar hehe..
Soalnya buka toko alat musik ternyata banyak ‘godaannya’. Awalnya saya cuma jualan gitar, bass, ampli, drum dan aksesoriesnya. Tapi pembeli yang datang ke toko suka tanya yang lain-lain. Misalnya, “Ada mixer 32 channel nggak?” Padahal toko saya punya persediaannya yang 12 dan 16 channel. Begitu saya stock mixer yang 32 channel, datang pelanggan lain yang cari mixer 24 channel.. tapi merk A. Sementara saya punya merk-nya C doang.. Walaaah.. ^_^
Sebagai pedagang yang baik dan benar, saya tentunya nggak pengen mengecewakan pelanggan. Setiap ada yang nanya barang tertentu yang belum ada di toko, saya segera cari informasi tentang barang tersebut di internet atau langsung ke distributornya, lalu buru-buru menyediakannya di toko. Tapi kalau diikutin terus, upaya melengkapi barang dagangan di toko ternyata nggak tamat-tamat. Apalagi belakangan toko saya mulai dikunjungi orang-orang yang berbelanja perangkat sound system. Modal buat belanja gitar atau ampli biar kelihatan ada stock di toko mungkin cukup Rp 10-20 jutaan. Lah, kalau sound system? Sudah merogoh kantong Rp 100 juta juga masih kurang. Kalau langsung ada yang beli sih lumayan. Tapi kalau nggak laku-laku dan barang itu nangkring di toko berbulan-bulan? Ya, duit segitu terpaksa mandek, nggak bisa diputar.
Kalau ingin toko berkembang, saya memang harus bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dan menjadi toko alat musik yang bisa diandalkan. Pelanggan bisa ilfil duluan dong kalau setiap kali datang untuk cari alat musik, ternyata di toko saya nggak ada dan saya nggak bisa menyediakan? Jadi, memang perlu modal untuk melengkapi barang dagangan di toko, kecuali saya cukup senang dengan kondisi toko yang segitu-segitu aja. Kebetulan saya bukan orang yang cepat puas dalam hal bermain uang. Kalau ada kesempatan untuk membuat uang saya berkembang menjadi lebih banyak lagi, saya pasti tergoda untuk mengusahakannya.. Terlanjur basah, ya udah nyebur sekalian. Dalam hal ini saya harus mengakui, syair lagu dangdut pun kadang-kadang inspiratif.. ^_^
Seperti yang sudah saya tulis di awal, nggak ada masalah kalau saya adalah pengusaha kaya dengan modal besar. Usaha perlu dikembangkan, tinggal mengucurkan dana untuk tambahan modal. Apalagi saya dan suami melihat prospek usaha ini cukup bagus. Sayang kan kalau nggak dikembangkan secara maksimal? Tapi berhubung uang yang saya punya pas-pasan, saya harus pintar-pintar mengatur strategi –dan uang tentu saja- agar tujuan saya punya toko yang lengkap tercapai dengan modal seminimal mungkin. Kayaknya saya memang akrab banget nih dengan situasi kayak gini; keinginan besar, tapi kemampuan keuangan pas-pasan hehe.. Dan dalam situasi seperti ini, saya sungguh terselamatkan oleh kalimat andalan tentang uang yang konsisten saya terapkan, ‘yang penting bukan berapa banyaknya tapi bagaimana mengelolanya’.. :-D
Saya lalu ganti taktik; nggak lagi stock segala macam barang untuk melengkapi toko, tapi jadi lebih rajin mengumpulkan brosur-brosur alat musik yang biasanya disediakan oleh distributor. Suami juga lebih rajin cari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk yang banyak diminati orang dan curi-curi ilmu dari teman-teman distributor alat musik. Inilah untungnya kalau kita selalu menjaga hubungan baik dengan banyak pihak. Begitu buka alat musik, saya merasa terbantu banget karena teman-teman dari distributor berbagai alat musik tersebut men-support saya dan suami dalam banyak hal dan nggak pelit bagi-bagi ilmu.
Nah, kalau ada pembeli datang menanyakan alat musik yang kebetulan nggak tersedia di toko, langsung saja saya dan suami bagi tugas. Sementara suami menyodorkan brosur atau foto dan spec barang yang biasanya ada di internet, saya blingsatan menelpon ke distributornya untuk menanyakan kesediaan barang sekaligus mengecek harga (kadang sedang ada promo turun harga atau sebaliknya kenaikan harga untuk produk tertentu). Kalau pembeli sepakat dengan harga yang kami tawarkan dan barang di distributor ready, karyawan toko langsung berangkat mengambil barang tersebut (kalau distributornya ada di sekitar Jakarta). Tapi kalau distributornya di luar Jakarta? Saya jelaskan ke pembeli bahwa barang baru datang besok, dan kalau memang serius membeli, saya minta si pembeli meninggalkan sejumlah uang sebagai tanda jadi.
Ternyata cara itu cukup efektif. Saya nggak perlu modal uang ratusan juta untuk melengkapi toko, tapi pelanggan puas karena setiap kali datang mencari alat musik tertentu saya bisa memenuhi meskipun barangnya nggak selalu ready di toko. Bisa dibilang, pelanggan cari alat musik apa aja saya punya deh! (Kecuali stock barang di distributor memang lagi kosong). Terbukti kan, uang bukan satu-satunya modal penting dalam mengelola usaha? Relasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan usaha kita juga merupakan modal yang nggak bisa diabaikan. Dan benda yang kelihatannya sepele seperti brosur, ternyata justru bisa tampil sebagai penyelamat. ^_^
Minggu, 23 Mei 2010
Rabu, 05 Mei 2010
TUKANG NGUTANG
Masih seputar kegiatan berhutang, setelah saya ingat-ingat ternyata saya punya pengalaman ngutang yang luar biasa banyaknya. Saking banyaknya, saya kadang curiga jangan-jangan di kening saya ada stempel bertuliskan ‘Tukang Ngutang’ hehe..
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, dulu saya paling ogah kalo disuruh ngutang. Padahal di awal-awal menikah godaannya luar biasa banget tuh. Saya sempat 2 tahun tinggal di rumah petak kontrakkan yang terletak di gank sempit di daerah Mampang. Setiap hari ada aja tukang jualan yang keliling kampung menawarkan barang dagangan yang bisa dibeli secara kredit. Mulai dari barang elektronik, taplak meja, sprei, baju tidur sampai panci. Barang-barang itu bisa dicicil harian, mingguan, atau bulanan, tergantung kesepakatan dengan si penjual. Tetangga saya pada hobi banget beli segala macam barang dengan cara kredit. Tapi sedikit pun saya nggak tergoda untuk ikut-ikutan.
Tapi belakangan saya mulai membuka mata dan hati untuk coba-coba ngutang. Saya ingat, pertama kali kepikiran untuk ngutang waktu pengen punya rumah sendiri. Tahu dong, sebuah rumah yang sederhana sekalipun harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah? Dengan gaji saya dan suami saat itu yang nggak lebih dari Rp 3 juta sebulan, rasanya mustahil banget kalau saya nekat berniat beli rumah dengan cara tunai. Katakanlah waktu akan dibeli harga rumah idaman, contoh aja nih, Rp 100 juta. Saya sudah menabung mati-matian, begitu tabungan saya mencapai Rp 100 juta, harga rumah pasti udah keburu naik. Nabung lagi, eh harga rumahnya naik lagi. Begitu seterusnya. Kalau diikutin, bisa sampai botak berjengger nggak kebeli-kebeli deh tuh rumah.. ^_^
Dengan berhutang, impian saya beli rumah jadi lebih masuk akal untuk diwujudkan. Saya cukup mengumpulkan uang untuk DP rumah, sisa pembayarannya bisa memanfaatkan fasilitas KPR yang banyak ditawarkan oleh bank hingga bisa dicicil sampai 20 tahun. Memang saya jadi dikenai bunga pinjaman. Rumah seharga Rp 181 juta, misalnya, kalau dicicil 10 tahun total uang yang akhirnya harus saya bayar pasti lebih dari Rp 250 juta, tergantung suku bunga bank yang sedang berlaku. Tapi daripada nggak jadi beli rumah gara-gara nggak bisa bayar tunai, ya mendingan nyicil ke bank kan? Toh bank memang menyediakan fasilitas itu untuk kita gunakan. Nggak usah malu ngutang ke bank untuk keperluan membeli rumah karena bukan kita satu-satunya orang di dunia ini yang melakukannya. Banyak temennya gitu loh hehe…
Sukses memanfaatkan fasilitas KPR untuk membeli rumah impian, saya lalu memperluas wawasan ngutang untuk memiliki mobil dengan cara kredit. Waktu beli mobil pertama saya, Toyota Kijang LSX tahun 2003, saya terhitung masih pemula dalam hal ngutang. Jam terbang saya belum tinggi, jadi belum jago-jago amat. Target saya waktu datang ke showroom mobil cuma satu; bagaimana caranya agar saya dipercaya untuk mengkredit mobil. Soalnya saya masih trauma gara-gara pernah ditolak waktu mengajukan KPR rumah pertama sampai harus pindah-pindah bank. Ternyata proses kredit mobil jauh lebih gampang daripada rumah. Setelah mengisi formulir dan melengkapi data yang diminta, ada petugas yang survey ke rumah saya untuk menyelidiki kemampuan keuangan saya -sanggup nggak nyicil mobil. Dalam waktu relatif singkat kredit saya langsung disetujui. Dulu saya pikir rumah saya di-survey petugas saat mengajukan kredit mobil karena saya bertampang ‘miskin’ dan nggak meyakinkan.. :-p Ternyata nggak loh. Itu memang proses standar yang harus dilewati semua orang yang akan mengkredit mobil, kecuali mungkin yang udah bolak-balik beli mobil memakai jasa leasing yang sama dan reputasi pembayaran cicilannya bagus.
Begitu usaha saya berkembang, saya makin akrab dengan yang namanya utang. Nggak tanggung-tanggung, saya nekat membeli 3 rumah dan 3 mobil dengan cara kredit dalam waktu nyaris bersamaan. Begitu cicilan mobil pertama hampir lunas, langsung saya sambung dengan nyicil mobil kedua. Cicilan mobil yang satu hampir lunas dan saya lagi butuh tambahan modal untuk mengembangkan usaha? Mobil lain yang sudah lunas cicilannya saya gadaikan lagi ke leasing. Begitu juga dengan rumah. Bisa dibilang, dari pertama punya rumah dan mobil saya hampir nggak pernah ngeliat wujud sertifikat atau BPKP-nya. Lah, wong setiap kali hampir lunas sertifikat rumah dan BPKB mobil rajin banget saya ‘titipin’ lagi di bank atau leasing.. ^_^.
Mertua saya sempat terkaget-kaget waktu suatu ketika saya dan suami buka kartu tentang jumlah cicilan utang yang harus kami bayar setiap bulannya.
“Kalian apa nggak pusing mikirin utang sebanyak itu?” tanyanya.
Saya cuma mesem-mesem.
Buat saya utang bukan untuk dipikirin, tapi untuk dibayar. Dan kalau mau mikirin utang seharusnya justru sebelum kita ngutang, bukan setelah terlanjur ngutang. Saat memutuskan untuk ngutang, kita harus memperhitungkan dan memikirkan betul bagaimana cara membayarnya. Kita sanggup nggak melunasinya, entah dengan cara dicicil atau langsung dilunasi semua? Kalau nggak sanggup, ya jangan nekat ngutang. Tapi kalau sanggup, langsung aja.. hajar bleh! ^_^
Pengusaha dengan modal dengkul seperti saya memang harus berani ngutang, asalkan tujuan berhutang untuk mengembangkan usaha, bukan untuk kebutuhan konsumtif. Kalau nggak ngutang, dari mana saya punya uang untuk menambah modal usaha atau bahkan membuat usaha baru? Ngutang bisa macam-macam caranya. Pengusaha lain mungkin mengandalkan kredit usaha kecil yang banyak ditawarkan oleh bank. Tapi saya mengkombinasikan usaha yang saya tekuni dengan hobi yang saya sukai untuk saling mendukung satu sama lain. Dengan mengelola usaha sendiri, saya jadi punya uang –dari keuntungan usaha- untuk membeli rumah (masih ingat kan, saya hobinya beli rumah loh..^_^). Dengan membeli rumah, saya jadi punya aset untuk menambah modal usaha. Gampangnya gini, kalau lagi punya uang saya beli rumah. Tapi kalau lagi butuh uang, saya ngutang dengan cara menggadaikan rumah ke bank. Perpaduan yang sip markusip kaaaan…
Apa saya nggak malu punya utang di mana-mana? Sejauh ini sih nggak. Soalnya saya ngutang untuk tujuan yang baik dan jelas. Hutang saya terukur, terencana dan saya mampu membayarnya (kecuali mendadak terjadi hal-hal di luar kuasa saya –misalnya kena musibah bencana alam, kerusuhan, dan sejenisnya yang membuat usaha saya terpaksa tutup dan nggak bisa jalan lagi). Kalau nekat ngutang sana-sini terus nggak bisa bayar, apalagi sama sekali nggak punya gambaran untuk membayarnya, baru deh saya malu banget.. hehe..
Lagipula, meski utang saya banyak, piutang saya di luar lebih banyak lagi kok. Agen-agen yang membantu memasarkan majalah saya kan pakai sistem konsinyasi, setelah majalah edisi terbaru terbit baru dia setor hasil penjualan majalah 2 edisi sebelumnya setelah dipotong retur. Begitu juga pemasang iklan. Begitu iklan dimuat di majalah saya, biasanya mereka baru membayar biaya pemasangan iklan 1-2 minggu kemudian. Tuh kan, bukan cuma saya satu-satunya di dunia ini yang tukang ngutang? ^_^
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, dulu saya paling ogah kalo disuruh ngutang. Padahal di awal-awal menikah godaannya luar biasa banget tuh. Saya sempat 2 tahun tinggal di rumah petak kontrakkan yang terletak di gank sempit di daerah Mampang. Setiap hari ada aja tukang jualan yang keliling kampung menawarkan barang dagangan yang bisa dibeli secara kredit. Mulai dari barang elektronik, taplak meja, sprei, baju tidur sampai panci. Barang-barang itu bisa dicicil harian, mingguan, atau bulanan, tergantung kesepakatan dengan si penjual. Tetangga saya pada hobi banget beli segala macam barang dengan cara kredit. Tapi sedikit pun saya nggak tergoda untuk ikut-ikutan.
Tapi belakangan saya mulai membuka mata dan hati untuk coba-coba ngutang. Saya ingat, pertama kali kepikiran untuk ngutang waktu pengen punya rumah sendiri. Tahu dong, sebuah rumah yang sederhana sekalipun harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah? Dengan gaji saya dan suami saat itu yang nggak lebih dari Rp 3 juta sebulan, rasanya mustahil banget kalau saya nekat berniat beli rumah dengan cara tunai. Katakanlah waktu akan dibeli harga rumah idaman, contoh aja nih, Rp 100 juta. Saya sudah menabung mati-matian, begitu tabungan saya mencapai Rp 100 juta, harga rumah pasti udah keburu naik. Nabung lagi, eh harga rumahnya naik lagi. Begitu seterusnya. Kalau diikutin, bisa sampai botak berjengger nggak kebeli-kebeli deh tuh rumah.. ^_^
Dengan berhutang, impian saya beli rumah jadi lebih masuk akal untuk diwujudkan. Saya cukup mengumpulkan uang untuk DP rumah, sisa pembayarannya bisa memanfaatkan fasilitas KPR yang banyak ditawarkan oleh bank hingga bisa dicicil sampai 20 tahun. Memang saya jadi dikenai bunga pinjaman. Rumah seharga Rp 181 juta, misalnya, kalau dicicil 10 tahun total uang yang akhirnya harus saya bayar pasti lebih dari Rp 250 juta, tergantung suku bunga bank yang sedang berlaku. Tapi daripada nggak jadi beli rumah gara-gara nggak bisa bayar tunai, ya mendingan nyicil ke bank kan? Toh bank memang menyediakan fasilitas itu untuk kita gunakan. Nggak usah malu ngutang ke bank untuk keperluan membeli rumah karena bukan kita satu-satunya orang di dunia ini yang melakukannya. Banyak temennya gitu loh hehe…
Sukses memanfaatkan fasilitas KPR untuk membeli rumah impian, saya lalu memperluas wawasan ngutang untuk memiliki mobil dengan cara kredit. Waktu beli mobil pertama saya, Toyota Kijang LSX tahun 2003, saya terhitung masih pemula dalam hal ngutang. Jam terbang saya belum tinggi, jadi belum jago-jago amat. Target saya waktu datang ke showroom mobil cuma satu; bagaimana caranya agar saya dipercaya untuk mengkredit mobil. Soalnya saya masih trauma gara-gara pernah ditolak waktu mengajukan KPR rumah pertama sampai harus pindah-pindah bank. Ternyata proses kredit mobil jauh lebih gampang daripada rumah. Setelah mengisi formulir dan melengkapi data yang diminta, ada petugas yang survey ke rumah saya untuk menyelidiki kemampuan keuangan saya -sanggup nggak nyicil mobil. Dalam waktu relatif singkat kredit saya langsung disetujui. Dulu saya pikir rumah saya di-survey petugas saat mengajukan kredit mobil karena saya bertampang ‘miskin’ dan nggak meyakinkan.. :-p Ternyata nggak loh. Itu memang proses standar yang harus dilewati semua orang yang akan mengkredit mobil, kecuali mungkin yang udah bolak-balik beli mobil memakai jasa leasing yang sama dan reputasi pembayaran cicilannya bagus.
Begitu usaha saya berkembang, saya makin akrab dengan yang namanya utang. Nggak tanggung-tanggung, saya nekat membeli 3 rumah dan 3 mobil dengan cara kredit dalam waktu nyaris bersamaan. Begitu cicilan mobil pertama hampir lunas, langsung saya sambung dengan nyicil mobil kedua. Cicilan mobil yang satu hampir lunas dan saya lagi butuh tambahan modal untuk mengembangkan usaha? Mobil lain yang sudah lunas cicilannya saya gadaikan lagi ke leasing. Begitu juga dengan rumah. Bisa dibilang, dari pertama punya rumah dan mobil saya hampir nggak pernah ngeliat wujud sertifikat atau BPKP-nya. Lah, wong setiap kali hampir lunas sertifikat rumah dan BPKB mobil rajin banget saya ‘titipin’ lagi di bank atau leasing.. ^_^.
Mertua saya sempat terkaget-kaget waktu suatu ketika saya dan suami buka kartu tentang jumlah cicilan utang yang harus kami bayar setiap bulannya.
“Kalian apa nggak pusing mikirin utang sebanyak itu?” tanyanya.
Saya cuma mesem-mesem.
Buat saya utang bukan untuk dipikirin, tapi untuk dibayar. Dan kalau mau mikirin utang seharusnya justru sebelum kita ngutang, bukan setelah terlanjur ngutang. Saat memutuskan untuk ngutang, kita harus memperhitungkan dan memikirkan betul bagaimana cara membayarnya. Kita sanggup nggak melunasinya, entah dengan cara dicicil atau langsung dilunasi semua? Kalau nggak sanggup, ya jangan nekat ngutang. Tapi kalau sanggup, langsung aja.. hajar bleh! ^_^
Pengusaha dengan modal dengkul seperti saya memang harus berani ngutang, asalkan tujuan berhutang untuk mengembangkan usaha, bukan untuk kebutuhan konsumtif. Kalau nggak ngutang, dari mana saya punya uang untuk menambah modal usaha atau bahkan membuat usaha baru? Ngutang bisa macam-macam caranya. Pengusaha lain mungkin mengandalkan kredit usaha kecil yang banyak ditawarkan oleh bank. Tapi saya mengkombinasikan usaha yang saya tekuni dengan hobi yang saya sukai untuk saling mendukung satu sama lain. Dengan mengelola usaha sendiri, saya jadi punya uang –dari keuntungan usaha- untuk membeli rumah (masih ingat kan, saya hobinya beli rumah loh..^_^). Dengan membeli rumah, saya jadi punya aset untuk menambah modal usaha. Gampangnya gini, kalau lagi punya uang saya beli rumah. Tapi kalau lagi butuh uang, saya ngutang dengan cara menggadaikan rumah ke bank. Perpaduan yang sip markusip kaaaan…
Apa saya nggak malu punya utang di mana-mana? Sejauh ini sih nggak. Soalnya saya ngutang untuk tujuan yang baik dan jelas. Hutang saya terukur, terencana dan saya mampu membayarnya (kecuali mendadak terjadi hal-hal di luar kuasa saya –misalnya kena musibah bencana alam, kerusuhan, dan sejenisnya yang membuat usaha saya terpaksa tutup dan nggak bisa jalan lagi). Kalau nekat ngutang sana-sini terus nggak bisa bayar, apalagi sama sekali nggak punya gambaran untuk membayarnya, baru deh saya malu banget.. hehe..
Lagipula, meski utang saya banyak, piutang saya di luar lebih banyak lagi kok. Agen-agen yang membantu memasarkan majalah saya kan pakai sistem konsinyasi, setelah majalah edisi terbaru terbit baru dia setor hasil penjualan majalah 2 edisi sebelumnya setelah dipotong retur. Begitu juga pemasang iklan. Begitu iklan dimuat di majalah saya, biasanya mereka baru membayar biaya pemasangan iklan 1-2 minggu kemudian. Tuh kan, bukan cuma saya satu-satunya di dunia ini yang tukang ngutang? ^_^
Langganan:
Komentar (Atom)