Tampilkan postingan dengan label toko alat musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label toko alat musik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2011

BEGINILAH CARA SAYA MERAYAKAN ULTAH SUAMI.. ^^

Kayaknya nggak banyak deh istri seromantis saya di dunia ini. Bayangin aja, untuk ngerayain ulang tahun suami, saya menyiapkan acara di sebuah kafe dengan mengundang relasi dan teman-teman dekatnya. Yang lebih keren, saya juga mendatangkan –nggak tanggung-tanggung- 3 orang musisi papan atas untuk tampil memeriahkan acara, yaitu Bengbeng gitaris PAS Band, Eno drummer Netral, dan Arya Setyadi bassist Wolf Gangs. Pake bikin poster, brosur, dan baliho segala lagi! Mantap kaaan…

Di postingan sebelumnya saya cerita kalau mulai Maret 2011 ini saya menjadi dealer resmi sebuah merk alat musik. Sebagai dealer baru, saya perlu dong kasih pengumuman ke para pelanggan toko dan warga di wilayah seputaran toko saya supaya mereka tahu, mulai sekarang kalau pengen beli alat musik merk tersebut nggak usah jauh-jauh keluar Bintaro. Di GH Music & Studio udah ada kok.. Gimana cara ngasih pengumumannya? Saya bikin acara bertajuk ‘Bintaro Music For Fun’, yaitu klinik gitar, bass, dan drum yang dimeriahkan oleh penampilan band-band yang suka latihan di GH Studio dan siswa-siswa kursus gitar di GH Music, terus iklan acara dan liputannya dimuat di Majalah GitarPlus. Kebetulan 1 April suami saya ulang tahun.. Daripada repot-repot menyiapkan 2 acara, saya gabung aja acara ulang tahun dan klinik di hari yang sama. Biar meriah dan biar sekalian capeknya!

Buat ngerayain ultah suami, saya bikin poster kayak gini :


Berapa biaya yang saya keluarkan untuk acara ini? Hampir nggak ada! Kok bisa? Saya gitu looh.. ^^d

Untuk acara ini saya mengajak distributor alat musik merk bersangkutan untuk bekerja sama. Saya sudah menyiapkan tempat, konsep acara, promosi, panitia, konsumsi, penonton sekaligus mengadakan pameran dan penjualan alat musik merk tersebut di lokasi acara. Maka saya minta pihak distributor menyiapkan artis untuk demo klinik alat musik yang dipamerkan (sekaligus dijual) di acara itu. Mau nggak distributornya? Mau dong! Kan mereka bisa promo produk tanpa perlu repot-repot bikin acara karena semuanya sudah saya siapkan. Lagian kalau barangnya banyak yang laku kan distributornya juga yang senang. Saya sebagai toko juga untung, tentu saja. Hehe..

Beres kan tuh urusan artis pengisi acara? Saya lalu mulai ‘celamitan’ cari sponsor untuk membiayai sewa tempat, sound system, bikin materi promosi, dokumentasi, konsumsi artis + panitia, dan lain-lain. Dihitung-hitung, luamayan juga lho biaya yang harus saya keluarkan untuk itu kalau nggak menggandeng sponsor. Saya coba-coba mengajukan proposal ke salah satu perusahaan rokok, eh ternyata direspon. Dari mereka saya di-support sejumlah uang untuk membayar sewa tempat, sound system, konsumsi, dan biaya-biaya lain yang harus saya keluarkan plus dibikinin baliho, spanduk serta brosur acara.

Dan inilah baliho untuk merayakan ultah suami yang dipasang di pinggir jalan besar :p


Urusan tempat, sound system, promosi, dan konsumsi aman kan? Yah, kalau pun akhirnya saya harus keluar uang untuk membayar kekurangan-kekurangan biaya, pasti jumlahnya nggak sebesar kalau saya harus membiayai sendiri semua pengeluaran untuk acara ini. Hmmm… jadi ini judulnya acara ulang tahun apa klinik musik? Nggak penting! Yang penting, ayo kita pestaaaa! Hahaha..

Rabu, 23 Maret 2011

AMBIL DULU HATINYA, BARU KEMUDIAN ROGOH DOMPETNYA :-D

Beberapa waktu lalu toko musik saya kedatangan pembeli yang 'antik'. Iyalah, cuma beli senar 1 biji aja cerewetnya setengah mati. Nawarnya nggak kira-kira lagi!

"Senar merk anu harganya berapa, Mas?" Tanya si bapak ke penjaga toko saya.

"Enam puluh ribu, Pak," jawab pegawai saya sopan.

"Mahal amat! Enam puluh ribu 3 ya!" Si bapak menawar dengan kejam tanpa perasaan. Dikira jualan senar untungnya banyak banget kali ya.. Kalo iya kan udah dari kemaren-kemaren orang pada rame-rame alih profesi jualan senar. ^^d

"Nggak bisa, Pak," jawab pegawai saya lagi.

"Kalo ampli kayak gini berapaan nih?" Si bapak ganti nunjuk sebuah ampli keyboard.

"Price list-nya 3 juta.." Belom selesai pegawai saya ngomong, udah langsung disamber sama si bapak, "Mahal! Di toko lain saya pernah liat harganya cuma sejutaan. Kalo jualan jangan mahal-mahal, nanti orang kapok dateng ke sini!"

Tanda-tandanya pegawai saya mulai nyolot nih denger omongan si bapak. Wajahnya udah berubah, kepalanya pun mulai berasap *kartun banget* :-D Melihat situasi yang mulai 'memanas', saya dan suami langsung ikut turun tangan.

"Di toko mana, Pak, liat ampli kayak gini harganya sejutaan?" Tanya saya ramah sambil senyum-senyum tanpa dosa.

"Ada, di deket rumah saya."

Ampun deh, ketauan amat bo'ongnya! Kalo di toko deket rumahnya ada ampli persis sama seperti yang dijual di toko saya dengan harga jauh lebih murah, ngapain juga si bapak jauh-jauh ke toko saya? Pasti cuma main gertak aja. Dan saya nggak mau kalah gertak. "Kalo harganya sejutaan, saya mau dong pesen selusin. Soalnya yang ini saya modalnya aja udah di atas 2 juta.."

Hening. Si bapak mati gaya. Hahaha..

Selama buka toko alat musik, nggak sekali dua kali saya ketemu pelanggan bawel yang suka ngerjain penjual. Semua barang ditunjuk, dicobain, dikomentarin.. buntutnya nggak ada yang dibeli. Ada juga yang hobi nawar gila-gilaan, ngalah-ngalahin semangat emak-emak kalo lagi nawar belanjaan di pasar. Belom lagi yang resehnya minta ampun. Beli stick drum sepasang aja gayanya kayak yang mau borong toko.

Menghadapi berbagai karakter orang yang datang ke toko, saya dan suami kompak untuk tetap sabar dan murah senyum. Kan pelanggan adalah raja. Jadi, biarpun mereka bertingkah aneh-aneh, tetap harus dilayani sebaik-baiknya dong. Soalnya sejak awal saya sadar, bisnis yang saya jalani saat ini adalah bisnis layanan. Kalau orang senang dan puas dengan pelayanan kami, mereka pasti datang dan datang lagi. Sebaliknya, kalau kecewa ya langsung ngilang ke toko sebelah yang bisa jadi lebih ramah atau lebih murah. Syukurlah nggak semua pelanggan toko saya suka cari perkara. Banyak juga yang baik, nggak banyak nawar, royal, ramah, dan setia bolak-balik belanja lagi di toko saya.

Dan inilah beberapa percakapan antara saya dan calon pembeli di toko yang rata-rata berujung dengan semakin mesranya relasi kami :

"Beli pick gitar bonusnya apa nih?" Ujar salah seorang pelanggan toko saya suatu hari. Yaelah, beli pick tiga rebu perak minta bonus.

"Boleh pilih, Mas, bonusnya mau dicium Arman apa Tego?" Sahut saya spontan sambil menunjuk ke 2 pegawai toko saya. Bisa ditebak, si Mas memilih untuk nggak mengambil bonusnya.. :-p

"Mba, beli gitarnya bisa dicicil nggak?" Kata pelanggan yang lain lagi.

"Bisa aja, pake kartu kredit."

"Saya nggak punya kartu kredit. Saya langsung nyicil ke Mbak aja deh."

"Boleh.. Cicil 3 kali, tapi bayar cicilannya 5 menit sekali ya!"

"Biola kecil gini aja kok mahal sih?" Ini komentar pelanggan yang lain lagi.

"Kalo mau yang besar dan murah, beli papan penggilesan aja, Bu."

Sejauh ini sih nggak ada pihak yang sakit hati. Paling si Arman dan Tego aja yang agak deg-degan, takut ada pelanggan cowok yang -siapa tau- beneran pengen dapet bonus cium hahaha..

Kembali ke si bapak super cerewet yang saya curigai kebanyakan makan pepaya sebelum berangkat ke toko saya, daripada memusuhinya saya memilih untuk tetap melayaninya dengan sebaik-baiknya. Terserah si bapak mau ngomong apa, saya dan suami tetap melayani dengan baik sambil membawa serta 'Mbok Sabar'. Prinsip kami, siapa pun yang datang ke toko saya sebisanya kami buat merasa senang dan nyaman. Jadi beli atau nggak urusan belakang. Tapi berdasarkan pengalaman, orang kalau sudah merasa senang dan nyaman biasanya lebih gampang dirayu untuk beli barang atau membuat kesepakatan-kesepakatan. Saya menyebutnya jurus 'Ambil dulu hatinya, baru kemudian rogoh dompetnya'.

Begitu juga dengan si bapak yang tega-teganya nawar senar sepertiga dari harga awal ini. Hari itu si bapak memang nggak beli apa-apa dari toko saya. Tapi beberapa hari kemudian dia balik lagi dan memborong alat musik untuk melengkapi studio musik yang baru dibuatnya dengan total belanja hampir Rp 100 juta. Sampai sekarang, setiap kali butuh alat musik si bapak pasti datang ke toko saya. Mungkin setelah survey kemana-mana dia baru sadar toko saya paling murah. Atau bisa jadi, cuma di toko saya dia selalu disambut dengan ramah dan meriah hahaha..

Kamis, 10 Maret 2011

BABAK BARU GH MUSIC & STUDIO

Beberapa bulan terakhir ini hidup saya rada nggak tenang gara-gara keingetan uang saya yang nganggur di bank hahaha.. Buat saya jumlahnya lumayan; Rp 500 juta. Jarang-jarang tuh saya punya uang tunai sebanyak itu! Soalnya setiap punya uang sedikit bawaannya pasti pengen cepat-cepat saya putar. Memang saya hobinya bermain dengan uang sih.. ^^

O ya, biar nggak dicurigai abis ngerampok bank, saya kasih tahu dulu dari mana saya dapat uang sebanyak itu. Di postingan sebelumnya, saya cerita kalau saya pernah mengajukan pinjaman rekening koran di bank gara-gara dapat order pengadaan alat musik senilai Rp 300 juta-an dan harus memodali duluan (saya belanja dulu alat musiknya, setelah lengkap baru saya terima pembayaran dari pembeli). Waduh, terus terang waktu itu saya sampai hampir gila jumpalitan cari Rp 300 juta dalam waktu sebulan. Berbagai upaya saya coba, salah satunya dengan mengajukan pinjaman rekening koran ke bank.

Tapi ternyata proses pengajuan pinjaman ini cukup lama, dan secara ajaib (nggak ajaib juga sih karena saya jadi terpaksa menggadaikan mobil, mencairkan tabungan investasi, bahkan sampai jual perhiasan :p) kebutuhan Rp 300 juta itu berhasil teratasi sebelum pinjaman dari bank cair. Alhasil waktu pinjaman akhirnya turun, saya sudah nggak butuh uang sebanyak itu lagi. Nganggur deh di bank..

Untunglah saya bukan tipe perempuan tukang belanja atau suka ngabis-abisin uang nggak jelas. Punya uang segitu banyak di bank, saya sama sekali nggak tergoda memakainya untuk liburan ke luar negeri atau beli barang-barang mewah, misalnya. Masalahnya, saya paling nggak bisa liat uang nganggur. Gatel banget pengen buru-buru membuatnya berputar dan berkembang. Pengen bikin usaha lagi! Tapi kalau mau bikin usaha nggak bisa juga cuma modal berani doang. Harus direncanakan dan diperhitungkan juga untung ruginya kan?

Awalnya saya dan suami sempat mau buka cabang toko alat musik kami, GH MUSIC & STUDIO, di tempat lain. Uang segitu cukuplah untuk bikin toko musik satu lagi kalau dicukup-cukupin. Jaringan udah punya, pelanggan udah mulai ada, strategi promosi juga sudah tahu celahnya. Hmm.. kayaknya keren kalau dalam waktu singkat bisa punya beberapa toko musik sekaligus.. :-D

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kami akhirnya membatalkan rencana itu. Bukannya apa-apa, nanti kalau buka toko alat musik satu lagi, saya dan suami pasti bakalan jadi tambah sibuk. Iya sih, ada karyawan. Tapi tetep aja kan harus dipantau dan diawasi, mengingat usaha kami yang satu ini masih terbilang baru. Ah, jadi nggak seru lagi dong kalau saya jadi kelewat sibuk bermain uang! Kapan waktu untuk santai-santai dan seneng-senengnya? Buat saya, punya uang banyak kalau jadi nggak punya waktu untuk menikmatinya sama juga bohong. Nggak ada asyik-asyiknya, nggak ada enak-enaknya. Yang paling nggak enak, kalau punya toko satu lagi saya dan suami harus pisah kerja di tempat yang lumayan berjauhan. Kalau sekarang kan toko dan kantor majalah saya letaknya deket-deketan (saya kebagian jatah mengurusi majalah dan event-eventnya, sementara suami mengelola toko & studio). Jadi, kalau kangen, setiap saat saya dan suami bisa saling mengunjungi, cuma dengan cara lompat kodok doang saking deketnya :-p

Sempat juga muncul tawaran dari beberapa distributor alat musik untuk jadi dealer resmi merk-merk tertentu. Beberapa merk alat musik memang mensyaratkan toko menyetor sejumlah uang untuk bisa menjadi dealer resmi, yang masing-masing berbeda kebijakannya. Merk alat musik A, misalnya, mengharuskan saya menyetor dana sekian ratus juta untuk pembelanjaan awal saat memutuskan untuk menjadi dealer resminya, sementara merk alat musik B menetapkan jumlah dua kali lipatnya. Aturan main dan diskon-diskonnya juga beda, tentu saja.

Setelah hampir dua tahun buka toko musik, saya dan suami mulai bisa membaca pasar. Ternyata alat musik yang laku di daerah sekitar toko saya adalah merk ini, ini dan ini, lalu kebanyakan pelanggan biasanya cari seri yang begini begitu. Belajar dari pengalaman dan menyesuaikan dengan kemampuan finansial, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menjadi dealer resmi sebuah merk gitar dan drum. Selama ini toko saya sebetulnya sudah menjual kedua merk tersebut. Tapi sebelum jadi dealer resmi, saya nggak bisa ambil barang langsung ke distributornya. Harus lewat toko-toko lain yang sudah jadi dealer resmi merk bersangkutan. Akibatnya diskon yang saya dapat juga nggak bisa besar, keuntungan saya sebagai penjual tipis banget. Orang jualan maunya dapet untung lebih gede dong.. :-D

Dengan menjadi dealer resmi, selain dapat diskon maksimal, saya juga bisa minta support distributor dalam hal promosi untuk meningkatkan penjualan merk tersebut di toko saya. Kalau bikin acara untuk promo toko, misalnya, saya bisa minta didatangkan artis endorsee merk bersangkutan untuk memeriahkan acara. Tapi sebetulnya point kedua sudah saya dapat tanpa harus menjadi dealer resmi karena jauh sebelumnya saya sudah aktif bikin acara-acara untuk promo toko sekaligus majalah, dan sudah sering di-support distributor dalam hal mendatangkan artis. Nah, kalau belum jadi dealer saja sudah bisa dapet fasilitas ini, apalagi kalau sudah? *Peringatan buat distributor yang baru saja menjadikan GH MUSIC sebagai dealer resminya; bersiap-siaplah saya todong dari berbagai sisi* :-D

Proses untuk jadi dealer resmi nggak ribet-ribet amat kok. Saya tinggal mengajukan ke distributor, nanti mereka akan survey lokasi untuk memastikan apakah letak toko saya nggak terlalu dekat dengan dealer lain. Ada juga syarat-syarat administratif yang harus dipenuhi, seperti menyerahkan foto kopi NPWP, SIUPP, Akta Pendirian PT, dan sejenisnya. Setelah itu saya dan suami diminta memilih barang apa saja yang akan dibeli sebesar uang yang harus kami setorkan di awal, terus tinggal nunggu barang diantar ke toko saya deh!

Fiuuuhh... Setelah mengambil keputusan itu, akhirnya saya bisa tidur nyenyak lagi deh.. ^^

Senin, 13 Desember 2010

KEJAR-KEJARAN DENGAN UANG DAN WAKTU

Beberapa minggu terakhir ini, saya mengalami banyak sekali kejadian ajaib. Semuanya bermula waktu seorang teman saya mendapat proyek pengadaan seperangkat alat musik dalam jumlah cukup banyak. Berhubung nggak paham alat musik, dia berbaik hati bagi-bagi rejeki ke saya dengan melempar proyek itu ke toko saya. Tapi karena sesuatu dan lain hal teman saya ini cuma bisa memberi uang muka sebesar 10% dari total nilai alat musik yang dipesannya dari saya.

Berita buruknya, sebagian besar merk dan tipe alat musik yang diminta kliennya nggak tersedia di toko saya. Saya bahkan belum punya kerja sama dengan distributor merk tersebut. Itu artinya saya harus bayar di muka kalau mau membeli barang itu karena distributornya belum kenal saya, belum percaya kalau saya ambil barang duluan dan baru bayar belakangan. Padahal saya baru akan menerima pembayaran dari teman saya kalau seluruh barang pesanan sudah bisa saya siapkan.

Di sinilah masalah dimulai. Total nilai pemesanan barang yang harus saya siapkan kurang lebih Rp 300 jutaan. Beberapa teman distributor memang percaya mengirimkan barangnya ke toko saya tanpa harus membayar DP. Tapi setelah ditambah DP 10% yang diberikan teman saya, total nilainya cuma Rp 100 jutaan. Jadi, kemana saya harus mencari uang tunai sebesar Rp 200 juta dalam waktu kurang lebih sebulan?

Kalau saya punya pohon uang di belakang rumah sih enak.. Masalahnya, selama ini saya jarang menyimpan uang tunai dalam jumlah banyak. Habis, kalau punya uang sedikit saya pasti gatel pengen beli rumah sih. Tapi justru situasi ini membuat saya jadi punya banyak pengetahuan baru dalam hal ngutang hahaha…

Dalam kondisi butuh uang tunai, saya nelpon orang bank untuk cari-cari info cara cepat dapat utangan. Kebetulan ada salah satu rumah saya yang sudah lunas sehingga sertifikatnya nganggur di lemari. Bisa dijadikan agunan kan? Nah, kalau dulu saya tahunya KPR (Kredit Pemilikan Rumah), KPM (Kredit Pemiikan Mobil), dan pinjaman multiguna doang, kemarin ini saya baru tahu ada pinjaman untuk pengusaha yang namanya Pinjaman Rekening Koran.

Kalau ngutang dengan fasilitas pinjaman multiguna, setiap bulan saya harus membayar cicilan pokok hutang ditambah bunganya selama jangka waktu yang sudah disepakati di awal. Padahal saya kan nggak perlu ngutang dalam jangka waktu lama. Pertengahan bulan Desember ini kan saya sudah menerima pembayaran penuh dari klien teman saya. Jadi, saya bisa langsung menutup seluruh pinjaman, nggak usah nunggu setahun dua tahun, apalagi sampai lima tahun.

Pinjaman Rekening Koran lebih pas buat situasi saya saat ini. Saya bisa dapat pinjaman sebesar kurang lebih 80% dari nilai rumah yang saya agunkan. Jadi, kalau misalnya rumah saya dianggap harganya Rp 450 juta, saya bisa dapat pinjaman Rp 360 juta. Dari jumlah itu, saya hanya harus membayar bunga untuk uang yang saya pakai. Kalau uangnya saya diem-diemin di bank doang saya nggak kena bunga. Cuma kena biaya provisi, akad, notaris, appraisal, dan asuransi yang jumlahnya nggak sampai 2% dari total nilai pinjaman. Bunga yang ditawarkan pun cukup masuk akal; 12% setahun dan dihitung harian.

Misalnya begini, saya dapat pinjaman Rp 360 juta yang langsung masuk ke rekening giro saya. Kalau saya lagi butuh uang terus memakai uang itu Rp 100 juta selama 1 bulan, misalnya, waktu jatuh tempo saya harus membayar bunga Rp 100 juta x 1% = Rp 1 juta. Jadi, total yang harus saya bayar Rp 101 juta. Kalau pinjamnya 5 bulan? Tiap bulan saya hanya harus bayar bunga Rp 1 juta. Pokok hutang yang Rp 100 juta nggak harus langsung dibayar di bulan pertama atau dicicil. Yang penting bayar bunganya dulu setiap bulan sampai saya bisa melunasi pokok hutangnya.

Enaknya lagi, karena bunga dihitung harian, saya bisa saja pinjam Rp 100 juta tanpa kena bunga sama sekali. Kok bisa? Iya dong! Misalnya nih, pagi-pagi saya ambil uang di bank Rp 100 juta untuk belanja alat musik pesanan klien, setelah itu alat musik tersebut saya antar ke klien dan saya langsung menerima pembayaran. Nah, kalau hari itu juga sebelum bank tutup uang saya setorkan lagi, kan berarti saya pinjamnya nggak sampai 1 hari? Nggak kena bunga doong..

Kalau alat musik pesanan itu dibayarnya sore setelah bank tutup gimana? Ya, setorkan saja uangnya ke bank besok pagi. Kena bunganya cuma 1 hari doang kok. Hitungan kasarnya untuk pinjaman dengan bunga 12% setahun atau 1% sebulan kurang lebih begini 1% : 30 hari = 0,033%. Jadi kalau pinjam 1 hari saya cuma harus bayar Rp 100 juta + bunga Rp 33.000. Kalau 5 hari? Ya, tinggal dikalikan saja. O ya, kontrak Pinjaman Rekening Koran ini berlaku 1 tahun dan bisa diperpanjang setiap masa kontrak berakhir,

Begitu tahu ada pinjaman model begini, saya langsung mengajukan dokumen-dokumen yang diminta. Standar sih, ada foto kopi KTP suami istri, Kartu Keluarga (KK), Akta Perusahaan, Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU), NPWP Pribadi, NPWP Perusahaan, rekening tabungan, laporan keuangan perusahaan 3 bulan terakhir dan foto kopi sertifikat rumah yang akan dijadikan agunan.

Setelah menyerahkan semua berkas, pihak bank datang untuk mensurvey tempat usaha saya. Beres urusan survey dan wawancara, giliran orang appraisal datang untuk menilai harga rumah yang saya jadikan agunan. Normalnya seluruh proses tersebut memakan waktu kurang lebih 14 hari kerja. Tapi kayaknya saya lagi sial dapet marketing bank yang lemot banget. Sampai sebulan lebih, pinjaman saya belum ada tanda-tanda bisa dicairkan. Ngaco banget deh..

Saya sebetulnya sudah melihat gelagat jelek ini di awal. Jadi, di minggu ketiga saya bikin plan B dengan mengajukan pinjaman yang sama ke bank lain. Bunganya beda-beda tipis, tapi marketingnya jauh lebih bersemangat membantu dan sangat memudahkan saya. Tapi saya sudah kehilangan banyak waktu gara-gara berurusan dengan marketing lemot di bank pertama.

Mendekati waktu penyerahan barang pesanan yang sudah disepakati, yaitu 6 Desember 2010 lalu, pinjaman saya belum juga cair, padahal saya harus melunasi barang-barang yang saya beli untuk proyek ini. Kalau nggak dibayar, barang nggak dikirim. Nah, kalau barang nggak dikirim-kirim, proyeknya nggak selesai-selesai dan saya nggak bisa-bisa melakukan penagihan. Pusing kan?

Mulailah saya kejar-kejaran dengan uang dan waktu. Di satu sisi saya dikejar tenggat waktu penyerahan barang ke klien, tapi di sisi lain usaha saya mengejar-ngejar uang tunai untuk membeli barang pesanan belum juga membawa hasil. Inilah kenapa di awal tulisan saya bilang saya banyak mengalami kejadian ajaib belakangan ini. Bayangin aja, dalam seminggu terakhir menjelang penyerahan barang, setiap hari saya harus punya uang tunai dalam jumlah besar. Tanggal 30 November ‘10 Rp 30 juta, besoknya Rp 59 juta, lusanya Rp 28 juta, dan besoknya lagi Rp 16 juta.. semuanya dalam jumlah besar dan harus ada hanya dalam waktu 1 minggu!

Saya menggadaikan apa saja yang bisa digadaikan dengan bunga rendah, mencairkan semua simpanan uang yang bisa dicairkan, dan memaksimalkan penggunaan kartu kredit. Ajaib, setiap kali harus melakukan pembayaran, ada aja uang di tangan sehingga akhirnya semua kewajiban yang mendesak harus segera dipenuhi berhasil saya atasi. Padahal sampai tulisan ini saya buat (13 Desember ’10) Pinjaman Rekening Koran saya belum juga cair karena di bank kedua prosesnya baru jalan 8 hari kerja.

Di postingan saya sebelumnya, saya pernah menulis tentang pentingnya punya aset. Tapi kejadian kemarin bikin saya sadar kalau punya uang tunai juga penting karena nggak semua aset bisa sewaktu-waktu dicairkan pada saat kita butuh uang tunai. Itu yang bikin saya tetap melanjutkan proses pengajuan Pinjaman Rekening Koran, meskipun untuk saat ini bisa dibilang masalah keuangan saya sudah teratasi. Terus kalau Pinjaman Rekening Korannya cair mau buat apa dong? Hehe.. saya udah mulai mikir-mikir, pengen bikin usaha apa lagi yaa.. Asal yakin keuntungannya lebih dari 12% setahun, boleh juga dicoba kan? Kayaknya saya memang nggak kapok-kapok deh bermain dengan uang meskipun kemarin sempat ngos-ngosan kejar-kejaran dengan uang dan waktu.. ^_^

Selasa, 25 Mei 2010

JADI BISANYA APA?

Seorang klien bertanya pada saya dengan nada yakin, “Punya 4 majalah musik, dan toko alat musik pasti Bu Intan jago main musik ya?”

“Nggak juga…” jawab saya kalem.

“Ya, paling nggak main gitar pasti bisa dong?”

“Wah, nggak tuh. Saya dan suami sama sekali nggak bisa main musik.”

“Oh, kalau gitu pasti ngerti banget soal musik ya? Bu Intan kan yang bikin-bikin artikel di majalah?”

“Jangan nuduh gitu dong, Pak. Masing-masing majalah saya ada penanggung jawab redaksinya dan saya nggak ikut-ikutan nulis karena saya nggak ngerti-ngerti banget tentang musik dan alat musik..”

“Lho, nggak bisa main musik dan nggak ngerti musik kok punya majalah musik?”

“Emang nggak boleh ya?”

“Boleh sih.. cuma aneh aja… Atau mungkin Bu Intan generasi kedua usaha ini ya? Hmm…maksudnya gini, dulunya orang tua Bu Intan atau Pak Eka usaha majalah dan toko musik, terus Bu Intan yang melanjutkan?”

“Nggak, Pak.. Saya dan suami merintis dari awal usaha ini. Kami yang memulainya dari nol, dari belum ada bentuknya…”

“Oh… “ Si bapak menatap saya dengan tatapan yang sulit saya tangkap maknanya. Mungkin dia lagi terheran-heran dan dalam hati bertanya-tanya, “Jadi Bu Intan bisanya apa?”

Sejujurnya, nggak sekali dua kali pertanyaan seperti ini mampir ke telinga saya. Sejauh ini sih saya selalu berusaha menjawab dengan sabar dan bijaksana (cuih! :-p). Tapi saat saya mencoba menjawab sejujur-jujurnya, nggak sedikit teman yang lalu geleng-geleng kepala antara heran, nggak percaya dan pengen nimpuk.. ^_^

Sejak awal menggeluti usaha majalah dan toko alat musik, saya memang nggak bisa main musik, nggak punya pengetahuan yang sangat luas tentang musik, dan nggak jago menulis artikel-artikel musik. Saya juga bukan ahli manajemen, nggak pernah kursus keuangan, dan belum sekalipun mengikuti pelatihan dasar-dasar kepemimpinan. Bahkan modal uang dalam jumlah besar pun saya nggak ada. Saya cuma punya keberanian untuk mewujudkan mimpi, kemauan untuk selalu belajar, kejelian menangkap peluang, serta sedikit keberuntungan.

Nggak heran, kalau karir saya sebagai pengusaha yang bergelut di bidang musik diwarnai beberapa ‘insiden’ yang mungkin buat orang lain memalukan. Saat melayani pelanggan di toko musik, misalnya, saya sebagai penjual seringkali kalah pinter sama pembeli. Si pembeli sudah tahu bentuk alat musik yang dicarinya, fitur-fiturnya, keunggulannya serta cara memakainya, saya kadang ngeliat barangnya aja belum pernah, cuma tahu harganya (karena pegang price list dari distributor). Begitu ada yang nanya alat musik tertentu yang bentuknya pun belum pernah saya lihat, Oom Google-lah andalan saya. Dari Oom Google saya tahu seperti apa alat musik yang dimaksud pelanggan, lengkap dengan spec dan harganya, tapi tetep aja nggak tahu cara memakainya. Sampai-sampai teman-teman distributor alat musik suka ngeledek, “Jualan kok nggak tahu barang tapi tahu harga...” Tapi anehnya, “Kok bisa laku juga ya?” komentar mereka.. Hehe.. *Belakangan saya malah jadi akrab sama pelanggan itu dan banyak belajar tentang alat musik dari dia*

Seorang teman saya, dia adalah gitaris band rock ternama, sempat merasa amat sangat ‘tertipu’. Gara-garanya, di awal-awal kami berkenalan dulu dia mengaku hati-hati banget ngobrol soal gitar dengan saya dan suami.

“Takut salah ngomong. Ngobrol sama yang punya majalah musik, pasti pengetahuan tentang musik dan gitarnya luas banget,” ujarnya.

Setelah kami kenal lebih lama, barulah saya ketahuan ‘belangnya’. Ternyata orang yang selama ini dianggapnya sakti mandraguna dalam hal pergitaran sama sekali nggak bisa main alat musik dan pengetahuan musiknya pun pas-pasan. Langsung deh dia merasa kena tipu.. ^_^

Saat memutuskan untuk menekuni suatu usaha kita memang HARUS PAHAM bidang yang akan kita geluti, tapi NGGAK HARUS BISA mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Banyak orang yang nggak terlalu jago masak tapi bisa buka restoran. Dan nggak sedikit yang sama sekali nggak bisa menjahit tapi sukses mengelola usaha konveksi atau buka toko pakaian.

Orang yang ahli di satu bidang bukan jaminan pasti mampu menjalankan usaha. Seorang koki, misalnya, mungkin jago banget bikin aneka masakan tapi belum tentu berani dan mampu bikin restoran sendiri. Sementara orang yang nggak begitu pintar masak bisa jadi malah sukses buka restoran karena memahami betul seluk beluk usaha tersebut secara detil. Satu hal yang saya pahami belakangan, seorang pengusaha dituntut untuk mampu melihat setiap permasalahan di usaha yang digelutinya dari semua sisi, secara menyeluruh. Seorang pengusaha harus punya kemampuan untuk mengelola, memimpin, mengatur strategi, dan mengambil keputusan, bukan sekadar mampu melakukan sendiri semua pekerjaan di tempat usahanya.

Barangkali banyak pengusaha lain yang selain memahami seluk beluk usahanya secara detil dan punya kemampuan mengelola usaha yang baik, juga mampu mengerjakan semua jenis pekerjaan di usaha yang digelutinya, meskipun akhirnya bukan dia sendiri yang kemudian melakukannya. Tapi dengan keterbatasan kemampuan yang saya miliki, saya harus mengakui kalau saya bukan termasuk salah satu di antara mereka. Apakah saya malu dan jadi minder dengan keterbatasan saya? Nggak juga tuh. Saya mungkin nggak bisa menulis artikel musik yang cihuy, tapi saya paham proses produksi dan distribusi majalah serta cara menjalankan usaha ini secara keseluruhan, bukan hanya per bagian saja. Yang lebih penting saya mampu menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat serta mengelola orang-orang tersebut –juga unsur-unsur lain di usaha yang saya tekuni- agar bersama-sama bisa mencapai hasil yang diharapkan.

Jadi, jangan keburu putus asa duluan kalau kita ingin buka usaha di bidang tertentu, tapi nggak punya kemampuan untuk turun tangan langsung menangani semua pekerjaan di kantor. ^_^

Minggu, 23 Mei 2010

JUALAN BERMODAL BROSUR

Memenuhi kebutuhan pasar, alat musik yang di-display di toko saya sudah semakin banyak dan lengkap. Belum lagi yang di gudang. Rumah kontrakan yang saya jadikan toko dan baru ditempati 6 bulanan ini langsung penuh sesak dalam sekejap (nggak sekejap juga sih, emangnya sulapan? :p). Tapi itu pun ternyata belum cukup memenuhi permintaan pelanggan karena belakangan saya baru sadar, produk alat musik itu jenis dan merknya sangat beragam. Sebetulnya saya tahu banget cara membuat toko alat musik yang lengkap dan banyak variasi barangnya. Asak kita siap modal uang dalam jumlah besar itu gampang diatasi, Masalahnya dana saya cekak, cuma semangatnya aja yang luar biasa besar hehe..

Soalnya buka toko alat musik ternyata banyak ‘godaannya’. Awalnya saya cuma jualan gitar, bass, ampli, drum dan aksesoriesnya. Tapi pembeli yang datang ke toko suka tanya yang lain-lain. Misalnya, “Ada mixer 32 channel nggak?” Padahal toko saya punya persediaannya yang 12 dan 16 channel. Begitu saya stock mixer yang 32 channel, datang pelanggan lain yang cari mixer 24 channel.. tapi merk A. Sementara saya punya merk-nya C doang.. Walaaah.. ^_^

Sebagai pedagang yang baik dan benar, saya tentunya nggak pengen mengecewakan pelanggan. Setiap ada yang nanya barang tertentu yang belum ada di toko, saya segera cari informasi tentang barang tersebut di internet atau langsung ke distributornya, lalu buru-buru menyediakannya di toko. Tapi kalau diikutin terus, upaya melengkapi barang dagangan di toko ternyata nggak tamat-tamat. Apalagi belakangan toko saya mulai dikunjungi orang-orang yang berbelanja perangkat sound system. Modal buat belanja gitar atau ampli biar kelihatan ada stock di toko mungkin cukup Rp 10-20 jutaan. Lah, kalau sound system? Sudah merogoh kantong Rp 100 juta juga masih kurang. Kalau langsung ada yang beli sih lumayan. Tapi kalau nggak laku-laku dan barang itu nangkring di toko berbulan-bulan? Ya, duit segitu terpaksa mandek, nggak bisa diputar.

Kalau ingin toko berkembang, saya memang harus bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dan menjadi toko alat musik yang bisa diandalkan. Pelanggan bisa ilfil duluan dong kalau setiap kali datang untuk cari alat musik, ternyata di toko saya nggak ada dan saya nggak bisa menyediakan? Jadi, memang perlu modal untuk melengkapi barang dagangan di toko, kecuali saya cukup senang dengan kondisi toko yang segitu-segitu aja. Kebetulan saya bukan orang yang cepat puas dalam hal bermain uang. Kalau ada kesempatan untuk membuat uang saya berkembang menjadi lebih banyak lagi, saya pasti tergoda untuk mengusahakannya.. Terlanjur basah, ya udah nyebur sekalian. Dalam hal ini saya harus mengakui, syair lagu dangdut pun kadang-kadang inspiratif.. ^_^

Seperti yang sudah saya tulis di awal, nggak ada masalah kalau saya adalah pengusaha kaya dengan modal besar. Usaha perlu dikembangkan, tinggal mengucurkan dana untuk tambahan modal. Apalagi saya dan suami melihat prospek usaha ini cukup bagus. Sayang kan kalau nggak dikembangkan secara maksimal? Tapi berhubung uang yang saya punya pas-pasan, saya harus pintar-pintar mengatur strategi –dan uang tentu saja- agar tujuan saya punya toko yang lengkap tercapai dengan modal seminimal mungkin. Kayaknya saya memang akrab banget nih dengan situasi kayak gini; keinginan besar, tapi kemampuan keuangan pas-pasan hehe.. Dan dalam situasi seperti ini, saya sungguh terselamatkan oleh kalimat andalan tentang uang yang konsisten saya terapkan, ‘yang penting bukan berapa banyaknya tapi bagaimana mengelolanya’.. :-D

Saya lalu ganti taktik; nggak lagi stock segala macam barang untuk melengkapi toko, tapi jadi lebih rajin mengumpulkan brosur-brosur alat musik yang biasanya disediakan oleh distributor. Suami juga lebih rajin cari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk yang banyak diminati orang dan curi-curi ilmu dari teman-teman distributor alat musik. Inilah untungnya kalau kita selalu menjaga hubungan baik dengan banyak pihak. Begitu buka alat musik, saya merasa terbantu banget karena teman-teman dari distributor berbagai alat musik tersebut men-support saya dan suami dalam banyak hal dan nggak pelit bagi-bagi ilmu.

Nah, kalau ada pembeli datang menanyakan alat musik yang kebetulan nggak tersedia di toko, langsung saja saya dan suami bagi tugas. Sementara suami menyodorkan brosur atau foto dan spec barang yang biasanya ada di internet, saya blingsatan menelpon ke distributornya untuk menanyakan kesediaan barang sekaligus mengecek harga (kadang sedang ada promo turun harga atau sebaliknya kenaikan harga untuk produk tertentu). Kalau pembeli sepakat dengan harga yang kami tawarkan dan barang di distributor ready, karyawan toko langsung berangkat mengambil barang tersebut (kalau distributornya ada di sekitar Jakarta). Tapi kalau distributornya di luar Jakarta? Saya jelaskan ke pembeli bahwa barang baru datang besok, dan kalau memang serius membeli, saya minta si pembeli meninggalkan sejumlah uang sebagai tanda jadi.

Ternyata cara itu cukup efektif. Saya nggak perlu modal uang ratusan juta untuk melengkapi toko, tapi pelanggan puas karena setiap kali datang mencari alat musik tertentu saya bisa memenuhi meskipun barangnya nggak selalu ready di toko. Bisa dibilang, pelanggan cari alat musik apa aja saya punya deh! (Kecuali stock barang di distributor memang lagi kosong). Terbukti kan, uang bukan satu-satunya modal penting dalam mengelola usaha? Relasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan usaha kita juga merupakan modal yang nggak bisa diabaikan. Dan benda yang kelihatannya sepele seperti brosur, ternyata justru bisa tampil sebagai penyelamat. ^_^