Senin, 12 Oktober 2009

MEMBUKA TOKO ALAT MUSIK



Setelah 7 tahun mengelola 4 majalah musik, sekarang saya membuat lompatan kecil dengan melebarkan sayap usaha ke penjualan alat-alat musik. Nggak jauh-jauh dari musik, sebetulnya. Tapi tantangannya beda. Dan karena masih baru, saya jadi masih harus banyak belajar dan 'meraba-raba'. Justru di situ serunya.

Saya mengawali usaha baru ini dengan cara yang unik. Tanggal 15-16 Agustus 2009 lalu saya iseng-iseng sewa stand di bazzar 17 Agustusan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Nah, kalau ibu-ibu lain pada jualan kue-kue, tas, baju, kerudung, somay, bakso, es jus, dan sejenisnya, saya dengan nekatnya jualan ALAT MUSIK! Iya, alat musik beneran, bukan main-mainan. Ada gitar akustik, gitar elektrik, bass, ampli gitar, ampli bass, ampli keyboard, drum, dll.

Padahal awalnya suami ragu jualan alat musik di bazzar komplek.
"Itu kan cuma bazzar komplek, yang dateng paling juga cuma orang-orang komplek sini," katanya.
"Ya biarin aja. Kan nggak ada ruginya. Bayar stand cuma Rp 125 ribu untuk 2 hari ini. Kalau nggak laku ya udah. Paling nggak kan kita udah nyoba dan orang2 jadi tahu kalo kita jualan alat musik," sahut saya.

Kebetulan di kantor ada beberapa gitar, bass, efek gitar, dan ampli berbagai merk yang dipinjamkan oleh distributor2 alat musik rekanan saya untuk ditulis di majalah. Sebelumnya saya minta ijin dulu ke mereka, boleh nggak barangnya saya jualin dan kalau boleh berapa diskon yang saya dapat? Jawaban mereka seragam, "Boleh dong... Kalau mau, besok dikirimin barang lagi biar dagangannya banyak..." Tak lupa, 1 set drum milik Hugo di rumah juga ikut saya display di stand kami yang mungil banget, ukurannya cuma 1,5 x 3 m.

Sayangnya, moment 17-an kali ini jatuh di long weekend, jadi banyak warga komplek yang keluar kota. Jadi bazzar relatif sepi, nggak seramai tahun kemaren. Tapi ternyata dagangan saya ada yang laku juga lho.. Nggak banyak sih, cuma 1 gitar elektrik, 1 ampli gitar, 1 set drum (berhubung yang didisplay punya Hugo, saya pesan dulu ke distributornya dan baru 3 hari kemudian barang diantar ke pembeli), 2 stick drum, dan 5 majalah. Tapi buat saya itu lumayan banget dan nambah semangat untuk serius terjun ke bisnis ini.


Bersyukur banget, setelah sekian lama cuma bisa bermimpi pengen punya toko alat musik, akhirnya saya dibukakan jalan untuk merintis usaha ini. Ajaib memang, setelah sekian lama berpikir kalau jualan alat musik harus punya toko dan modal uang yang cukup, hari itu saya dapat pencerahan kalau sebetulnya modal terpenting bukan toko atau uang dalam jumlah banyak. Saya punya jaringan, punya banyak kenalan, pengalaman, dan sedikit-sedikit tahu seluk beluk berjualan (selama ini kan juga jualan majalah). Tunggu apa lagi?

Saya juga merasa sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang hebat yang memberi banyak inspirasi. Orang-orang baik yang nggak pelit berbagi ilmu dan pengalaman, juga tanpa ragu membukakan jalan. Saya nggak terlalu peduli seperti apapun hasil dari usaha yang saya rintis sekarang ini karena jauh sebelum saya tahu hasilnya, saya sudah sangat menikmati proses yang harus saya jalani.

Rabu, 09 September 2009

JANGAN GAMPANG PERCAYA

Seorang teman cerita ke saya sambil ngomel-ngomel. Dia baru saja kena tipu. Ceritanya, dia menerima sms yang memintanya sms balik ke sebuah nomor dan 40 sms pertama akan mendapat pulsa gratis senilai Rp 50.000 yang langsung akan diisikan ke ponselnya. Setelah bolak-balik SMS dan mengikuti petunjuk yang diberikan, yang terjadi adalah, "Boro-boro dapet pulsa gratis, yang ada pulsa saya malah hilang Rp 50.000," keluh teman saya kesal.

Beberapa waktu yang lalu, kakak saya cerita kalau temannya -sebut saja namanya Ibu A- juga habis mengalami penipuan. Ibu A itu berniat menyewakan sebuah rumahnya. Lalu seorang laki-laki meneleponnya, bertanya ini itu tentang rumah yang disewakan, lalu langsung setuju menyewa sesuai harga yang diminta Ibu A tanpa menawar. Ia juga bilang akan segera mentransfer DP sewa rumah ke rekening bank Ibu A sore itu juga sebagai tanda jadi, dengan alasan dia butuh buru-buru menempati rumah sewaan tersebut.

Ibu A memberikan nomor rekening bank-nya, lalu beberapa saat kemudian si bapak calon penyewa rumah menelepon lagi, mengabarkan kalau dia sudah mentransfer DP sebesar Rp 5 juta yang ia janjikan. Ibu A diminta segera ke ATM untuk mengecek apakah uang sudah masuk ke rekeningnya atau belum. Dengan hati senang karena rumah yang disewakannya laku begitu mudah, Ibu A buru-buru ke ATm. Tapi saat dicek ternyata jumlah uang di rekening tabungan Ibu A belum bertambah. Maka ia pun menelepon balik si calon penyewa rumahnya untuk konfirmasi.

Si Bapak (katanya) menelepon ke call center bank bersangkutan, lalu bilang ke Ibu A kalau uang yang ia transfer sebetulnya sudah masuk ke rekening Ibu A. Tapi karena transfernya dari bank yang berbeda, Ibu A diminta menghubungi call center bank bersangkutan untuk melakukan aktivasi.

Cerita yang terjadi kemudian gampang ditebak. Ibu A menelepon ke nomor yang diberikan oleh calon penyewa rumahnya, lalu oleh seseorang yang mengaku sebagai operator bank ia dipandu untuk melakukan aktivasi di mesin ATM. Disuruh pencet beberapa angka dan kode, tiba-tiba Ibu A baru sadar kalau ternyata ia baru saja melakukan transfer sebesar Rp 10 juta. Ibu A lemas seketika saat menyadari kecerobohannya, tapi nasi sudah menjadi bubur.

Banyak kasus penipuan lain yang terjadi di sekitar saya, baik menimpa orang-orang yang saya kenal dekat ataupun hanya temannya kenalan saya. Menurut saya, semua itu terjadi karena banyak orang mudah percaya saat diiming-imingi mendapat keuntungan dengan cara gampang dan cepat.

Kalau saya kok dari dulu nggak percaya ya sama segala cara untuk memperoleh keuntungan yang kedengarannya terlalu gampang? Buat saya, cari uang itu susah. Saya harus bekerja, harus berusaha untuk mendapatkannya. Nggak mungkin saya tiba-tiba kaya kalau setiap hari cuma duduk diam-diam sambil berharap uang jatuh dari langit. Nggak masuk akal kalau tiba-tiba ada yang nawarin cara gampang dapat uang banyak dalam waktu sekejap. Menurut saya bisnis dengan prospek sebagus apa pun baru akan mendatangkan hasil kalau kita tekun dan serius menjalankannya.

Saya nggak percaya segala tawaran usaha yang terlalu enak, yang terlalu gampang dan cepat memberikan keuntungan besar tanpa saya harus bekerja atau melakukan usaha apa pun untuk memperolehnya. Saya malah curiga kalau tiba-tiba ada orang tak dikenal yang bilang akan memberi saya barang mahal atau uang dalam jumlah besar, padahal saya nggak ngapa-ngapain. Dan saya nggak pernah menggubris semua SMS atau pemberitahuan yang mengabarkan saya mendapat hadiah ini atau menang undian itu padahal nggak merasa pernah ikut undian. Apalagi kalau untuk mendapatkan hadiahnya saya sampai diminta mentransfer sejumlah uang dulu atau harus me-reply SMS ke nomor yang diminta. Biarpun belum tentu penipuan, saya udah ogah duluan.. Biarin deh nggak menang undian kalau cara dapat hadiahnya aneh dan mencurigakan gitu.. D

Dalam hal memperoleh uang atau keuntungan, saya memang bukan orang yang gampang dibuat percaya. Pengalaman mengajarkan pada saya, uang yang gampang didapat pasti lebih gampang habis juga. Tapi kalau untuk mendapatkannya kita harus jungkir balik dan bekerja keras, kita pasti akan lebih menghargai uang yang kita punya.