Setelah 7 tahun mengelola 4 majalah musik, sekarang saya membuat lompatan kecil dengan melebarkan sayap usaha ke penjualan alat-alat musik. Nggak jauh-jauh dari musik, sebetulnya. Tapi tantangannya beda. Dan karena masih baru, saya jadi masih harus banyak belajar dan 'meraba-raba'. Justru di situ serunya.
Saya mengawali usaha baru ini dengan cara yang unik. Tanggal 15-16 Agustus 2009 lalu saya iseng-iseng sewa stand di bazzar 17 Agustusan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Nah, kalau ibu-ibu lain pada jualan kue-kue, tas, baju, kerudung, somay, bakso, es jus, dan sejenisnya, saya dengan nekatnya jualan ALAT MUSIK! Iya, alat musik beneran, bukan main-mainan. Ada gitar akustik, gitar elektrik, bass, ampli gitar, ampli bass, ampli keyboard, drum, dll.
Padahal awalnya suami ragu jualan alat musik di bazzar komplek.
"Itu kan cuma bazzar komplek, yang dateng paling juga cuma orang-orang komplek sini," katanya.
"Ya biarin aja. Kan nggak ada ruginya. Bayar stand cuma Rp 125 ribu untuk 2 hari ini. Kalau nggak laku ya udah. Paling nggak kan kita udah nyoba dan orang2 jadi tahu kalo kita jualan alat musik," sahut saya.
Kebetulan di kantor ada beberapa gitar, bass, efek gitar, dan ampli berbagai merk yang dipinjamkan oleh distributor2 alat musik rekanan saya untuk ditulis di majalah. Sebelumnya saya minta ijin dulu ke mereka, boleh nggak barangnya saya jualin dan kalau boleh berapa diskon yang saya dapat? Jawaban mereka seragam, "Boleh dong... Kalau mau, besok dikirimin barang lagi biar dagangannya banyak..." Tak lupa, 1 set drum milik Hugo di rumah juga ikut saya display di stand kami yang mungil banget, ukurannya cuma 1,5 x 3 m.
Sayangnya, moment 17-an kali ini jatuh di long weekend, jadi banyak warga komplek yang keluar kota. Jadi bazzar relatif sepi, nggak seramai tahun kemaren. Tapi ternyata dagangan saya ada yang laku juga lho.. Nggak banyak sih, cuma 1 gitar elektrik, 1 ampli gitar, 1 set drum (berhubung yang didisplay punya Hugo, saya pesan dulu ke distributornya dan baru 3 hari kemudian barang diantar ke pembeli), 2 stick drum, dan 5 majalah. Tapi buat saya itu lumayan banget dan nambah semangat untuk serius terjun ke bisnis ini.
Bersyukur banget, setelah sekian lama cuma bisa bermimpi pengen punya toko alat musik, akhirnya saya dibukakan jalan untuk merintis usaha ini. Ajaib memang, setelah sekian lama berpikir kalau jualan alat musik harus punya toko dan modal uang yang cukup, hari itu saya dapat pencerahan kalau sebetulnya modal terpenting bukan toko atau uang dalam jumlah banyak. Saya punya jaringan, punya banyak kenalan, pengalaman, dan sedikit-sedikit tahu seluk beluk berjualan (selama ini kan juga jualan majalah). Tunggu apa lagi?
Saya juga merasa sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang hebat yang memberi banyak inspirasi. Orang-orang baik yang nggak pelit berbagi ilmu dan pengalaman, juga tanpa ragu membukakan jalan. Saya nggak terlalu peduli seperti apapun hasil dari usaha yang saya rintis sekarang ini karena jauh sebelum saya tahu hasilnya, saya sudah sangat menikmati proses yang harus saya jalani.