Kalo lagi bermain-main dengan uang, saya berusaha banget untuk nggak main hati. Maksudnya, apa pun yang terjadi dengan uang saya, sebisa mungkin nggak saya masukkin ke dalam hati, nggak terlalu saya pikirin. Dari awal saya menanamkan kesadaran pada diri sendiri bahwa uang datang dan pergi nggak sepenuhnya bisa saya kendalikan. Ada faktor lain di luar kuasa saya yang ikut mempengaruhi perputaran uang, dan tugas saya cuma menikmati permainan.
Dengan kesadaran itu, bermain dengan uang jadi menyenangkan buat saya. Saya nggak pernah ragu mengambil langkah sepanjang itu berpeluang menjadikan uang saya berkembang. Saya nggak punya keterikatan emosi dengan uang atau harta saya dalam bentuk yang lain seperti rumah atau mobil, sehingga saya lebih ringan membuatnya berputar. Waktu akan membelinya, lalu kemudian harus melepasnya, saya berusaha nggak melibatkan perasaan. Niatnya mau mengembangkan uang, ya bener-bener cuma mikirin untung doang hehehe…
Tahun 2007, misalnya. Waktu itu, komplek perumahan tempat saya tinggal menggelar program ‘Great Sale’ (jual kavling-kavling sisa dengan diskon gede). Saya langsung blingsatan di kantor pemasaran nyari-nyari kavling diskon yang luas dan posisinya cukup oke. Ketemulah sebuah kavling seluas 262 m2. Harga pasaran tanah di komplek saya waktu itu Rp 1,8 juta per meter. Setelah diskon 35%, jadi tinggal 1,3 jutaan per meter setelah ditambah PPN. Total harganya kurang lebih Rp 337 jutaan.
Yang jadi masalah, beli kavling nggak bisa pakai fasilitas KPR.
Sama marketing perumahan itu saya dikasih keringanan mencicil kavling idaman tersebut selama 3 bulan saja. Walah, saya langsung susah tidur mikirin gimana caranya punya uang Rp 112 juta-an sebulan selama 3 bulan. Setelah bertapa di bukit kapur *halah!*, akhirnya saya nekat menjual mobil Kijang kapsul saya (padahal itu mobil pertama yang punya nilai sejarah luar biasa buat saya sekeluarga), menggadaikan rumah yang saya tempati ke bank, dan sisanya ngorek-ngorek tabungan sampe licin.. Saya sama sekali nggak menyesal harus melepas mobil kijang dan menggadaikan rumah karena awal tahun ini harga pasaran kavling saya sudah meroket jadi Rp 2,3 juta per meter! (NJOP-nya Rp 2,1 juta per meter). Mau iseng-iseng langsung saya jual lagi pun saya udah untung Rp 265 jutaan, cukup buat beli mobil baru atau melunasi hutang KPR rumah yang saya gadaikan untuk membeli kavling ini. Coba waktu itu saya sayang-sayang ngelepas si kijang, pasti sekarang saya ngiler tiap kali ngelewatin kavling idaman itu.. :-D
Nggak terlalu main hati sama uang juga berguna banget lho buat pengusaha seperti saya. Namanya orang usaha kan pasti mengalami pasang surut. Nggak sekali dua kali saya rugi puluhan, bahkan ratusan juta rupiah atau sebaliknya, meraup untung besar-besaran. Saya selalu berusaha untuk nggak sedih atau justru gembira berlebihan saat mengalaminya. Biasa-biasa saja..
Uang lepas dari genggaman, ya sudah direlakan... Punya uang banyak pun setiap saat bisa aja hilang. Saya sudah sangat berhati-hati menjaga dan menggunakannya, tetep aja kok uang bisa lenyap dari genggaman kalau kita memang lagi apes. Dirampok, ditipu, kena bencana alam, disimpan di bank ternyata bank-nya bermasalah, dibelikan saham ternyata nilainya anjlok, diputar untuk mengembangkan usaha ternyata merugi… dan banyak lagi hal lain yang bisa bikin kita kehilangan uang. Kalau saya punya keterikatan emosi sama uang, bisa-bisa saya udah gila dari dulu-dulu. Atau sebaliknya, mungkin saya malah nggak bakalan pernah berani bermain-main dengan uang kalau belum apa-apa bawaannya sudah takut kehilangan duluan. Iya nggak? :-)
Tampilkan postingan dengan label investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label investasi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 April 2010
Selasa, 03 Februari 2009
PERJUANGAN MEMBELI RUMAH PERTAMA
Setelah berhasil membiasakan diri untuk disiplin menabung, saya mulai kepikiran untuk bisa punya rumah sendiri. Dari awal nikah, saya dan suami memang sudah sepakat kalau yang harus kami miliki pertama kali adalah rumah, bukan mobil. Soalnya kalau sudah punya rumah sendiri kan tenang, ada tempat berteduh dan nggak pusing pindah-pindah kontrakan. Lagian dari segi investasi juga lebih menguntungkan. Jarang banget denger ada harga rumah turun, sementara kalau mobil baru, begitu keluar dari show room aja harganya langsung jatuh...
Tahun 2001 akhir, saya dan suami naksir rumah di Bintaro (LT/LB 96 m2/50m2) seharga Rp 181 juta-an. Dengan DP 30%, saya harus siap uang muka Rp 54 juta (belum termasuk biaya akad kredit, asuransi, dan surat-surat) dan bersiap terikat cicilan 10 tahun sebesar Rp 2,1 juta-an dengan asumsi bunga KPR 20% setahun. Waktu itu bunga KPR memang masih tinggi.
Awalnya saya pikir mustahil banget saya bisa beli rumah itu, dengan cara KPR sekalipun. Gaji kami berdua cuma Rp 3 juta sebulan. Nggak masuk akal kan kalau yang Rp 2,1 juta-nya harus disisihkan untuk mengangsur cicilan? Sepuluh tahun lagi! Tapi berdasarkan banyak pengalaman sebelumnya, dimana saya selalu berhasil lolos dari 'lubang semut' (hidup dengan gaji pas-pasan tapi nggak pernah kekurangan dan selalu berhasil menyisihkan sebagian untuk ditabung), saya dan suami nekad mengambil rumah itu. Kebetulan saya sudah punya tabungan Rp 30 juta-an dan DP bisa dicicil sampai 3 kali (3 bulan). Saya percaya, kalau niat kami baik dan mau kerja keras mewujudkan impian, pasti akan ada saja jalannya.
Untuk menutup DP dan biaya surat-surat, kami bekerja lebih keras dan mati-matian mengencangkan ikat pinggang. Saya jadi lebih rajin bikin cerpen dan artikel untuk dikirim ke majalah serta tulisan-tulisan lain yang menghasilkan uang. Suami juga lebih sigap menangkap side job berupa proyek-proyek desain. Ajaibnya, begitu kami mantap membeli rumah, rejeki mengalir seperti air. Ada saja job yang mampir, sehingga dalam waktu relatif singkat kami bisa mengumpulkan uang untuk membayar DP dan biaya surat-surat.
Lega? Belum.. Ternyata permohonan KPR kami ditolak bank. Bank memang punya penilaian sendiri sebelum setuju untuk memberikan fasilitas KPR kepada seseorang. Dan kami dianggap kurang memenuhi syarat (hitung-hitungannya, maksimal cicilan nggak boleh lebih dari 1/3 gaji). Saya langsung pindah ke bank lain, tapi karena dimana-mana kebijakan bank mirip-mirip, lagi-lagi saya menemui kendala.
Akhirnya ada juga bank yang mau memberi kredit, tapi cuma Rp 100 juta. Itu artinya kami harus punya uang Rp 27 juta-an lagi untuk menutup kekurangan DP. Buat kami, uang segitu bukan jumlah yang sedikit. Pusing banget, karena saat itu kami jadi berada di posisi maju kena mundur kena. Kalau mau diterusin, nggak punya duit. Dibatalin, kami bakal kena denda dari pihak pengembang yang jumlahnya juga nggak sedikit (kalo nggak salah sekitar 20% dari uang yang sudah kami bayarkan). Lumayan gede kan?
Berbekal surat persetujuan kredit dari bank (yang cuma mau ngasih kredit Rp 100 juta itu), saya dan suami datang ke kantor pemasaran perumahan yang akan kami beli dan minta keringanan untuk mencicil kekurangan DP yang Rp 27 juta. Akhirnya kami diberi tempo 3 bulan –yang akhirnya molor jadi 5 bulan :p- untuk melunasi Rp 27 juta itu… Yuk mari, kerja keras lagiiii… Syukurlah, akhirnya kami berhasil menutup kekurangan DP meski siang malam jadi harus banting tulang hahaha…
Setelah dijalani, mengangsur rumah Rp 1,8 juta sebulan (iya, jadi 1,8 juta karena DP-nya saya tambah Rp 27 juta) ternyata nggak bikin saya sengsara-sengsara amat. Memang sih saya jadi harus sangat berhemat, apalagi saya sempat berhenti kerja setelah putra saya lahir. Untunglah suami selalu punya penghasilan tambahan dari side job dan saya punya kemampuan menulis yang bisa menghasilkan uang.
Yah, memang selalu ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Meskipun perjuangannya berat dan saya masih harus mencicil selama sekian tahun, setidaknya saya sudah berhasil punya rumah sendiri. Buat saya itu sebuah pencapaian besar yang patut disyukuri... :-)
Tahun 2001 akhir, saya dan suami naksir rumah di Bintaro (LT/LB 96 m2/50m2) seharga Rp 181 juta-an. Dengan DP 30%, saya harus siap uang muka Rp 54 juta (belum termasuk biaya akad kredit, asuransi, dan surat-surat) dan bersiap terikat cicilan 10 tahun sebesar Rp 2,1 juta-an dengan asumsi bunga KPR 20% setahun. Waktu itu bunga KPR memang masih tinggi.
Awalnya saya pikir mustahil banget saya bisa beli rumah itu, dengan cara KPR sekalipun. Gaji kami berdua cuma Rp 3 juta sebulan. Nggak masuk akal kan kalau yang Rp 2,1 juta-nya harus disisihkan untuk mengangsur cicilan? Sepuluh tahun lagi! Tapi berdasarkan banyak pengalaman sebelumnya, dimana saya selalu berhasil lolos dari 'lubang semut' (hidup dengan gaji pas-pasan tapi nggak pernah kekurangan dan selalu berhasil menyisihkan sebagian untuk ditabung), saya dan suami nekad mengambil rumah itu. Kebetulan saya sudah punya tabungan Rp 30 juta-an dan DP bisa dicicil sampai 3 kali (3 bulan). Saya percaya, kalau niat kami baik dan mau kerja keras mewujudkan impian, pasti akan ada saja jalannya.
Untuk menutup DP dan biaya surat-surat, kami bekerja lebih keras dan mati-matian mengencangkan ikat pinggang. Saya jadi lebih rajin bikin cerpen dan artikel untuk dikirim ke majalah serta tulisan-tulisan lain yang menghasilkan uang. Suami juga lebih sigap menangkap side job berupa proyek-proyek desain. Ajaibnya, begitu kami mantap membeli rumah, rejeki mengalir seperti air. Ada saja job yang mampir, sehingga dalam waktu relatif singkat kami bisa mengumpulkan uang untuk membayar DP dan biaya surat-surat.
Lega? Belum.. Ternyata permohonan KPR kami ditolak bank. Bank memang punya penilaian sendiri sebelum setuju untuk memberikan fasilitas KPR kepada seseorang. Dan kami dianggap kurang memenuhi syarat (hitung-hitungannya, maksimal cicilan nggak boleh lebih dari 1/3 gaji). Saya langsung pindah ke bank lain, tapi karena dimana-mana kebijakan bank mirip-mirip, lagi-lagi saya menemui kendala.
Akhirnya ada juga bank yang mau memberi kredit, tapi cuma Rp 100 juta. Itu artinya kami harus punya uang Rp 27 juta-an lagi untuk menutup kekurangan DP. Buat kami, uang segitu bukan jumlah yang sedikit. Pusing banget, karena saat itu kami jadi berada di posisi maju kena mundur kena. Kalau mau diterusin, nggak punya duit. Dibatalin, kami bakal kena denda dari pihak pengembang yang jumlahnya juga nggak sedikit (kalo nggak salah sekitar 20% dari uang yang sudah kami bayarkan). Lumayan gede kan?
Berbekal surat persetujuan kredit dari bank (yang cuma mau ngasih kredit Rp 100 juta itu), saya dan suami datang ke kantor pemasaran perumahan yang akan kami beli dan minta keringanan untuk mencicil kekurangan DP yang Rp 27 juta. Akhirnya kami diberi tempo 3 bulan –yang akhirnya molor jadi 5 bulan :p- untuk melunasi Rp 27 juta itu… Yuk mari, kerja keras lagiiii… Syukurlah, akhirnya kami berhasil menutup kekurangan DP meski siang malam jadi harus banting tulang hahaha…
Setelah dijalani, mengangsur rumah Rp 1,8 juta sebulan (iya, jadi 1,8 juta karena DP-nya saya tambah Rp 27 juta) ternyata nggak bikin saya sengsara-sengsara amat. Memang sih saya jadi harus sangat berhemat, apalagi saya sempat berhenti kerja setelah putra saya lahir. Untunglah suami selalu punya penghasilan tambahan dari side job dan saya punya kemampuan menulis yang bisa menghasilkan uang.
Yah, memang selalu ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Meskipun perjuangannya berat dan saya masih harus mencicil selama sekian tahun, setidaknya saya sudah berhasil punya rumah sendiri. Buat saya itu sebuah pencapaian besar yang patut disyukuri... :-)
Langganan:
Komentar (Atom)