Ini cerita kisah nyata yang saya alami sendiri, sama sekali nggak ada rekayasa di sini. Saya membagikan cerita ini sekadar untuk sharing, ternyata nggak semua marketing kredit di bank cukup cerdas untuk diajak bekerja sama. Maka berhati-hatilah kalau mau cari pinjaman ke bank. Bank-nya boleh jadi besar dan bonafit, tapi kalau ketemu oknum petugas yang culun, bisa-bisa tujuan awal kita mengajukan pinjaman bisa berubah menjadi keinginan untuk menimpuk si petugas pakai sendal hehe…
Beberapa waktu lalu, saya sempat mengajukan pinjaman modal usaha ke bank dan sungguh apes, saya dibantu marketing yang nggak cuma lemot tapi juga dogolnya minta ampun. Saya bukan baru sekali ini ngutang ke bank. Sebelum-sebelumnya, proses pengajuan pinjaman sampai akhirnya dana cair bisa dibilang selalu berjalan lancar. Tapi baru kali ini saya nemu petugas bank yang bikin saya emosi jiwa membara di dalam dada.
"Alamat percetakan Ibu dimana?" tanya Mas marketing kredit dari sebuah bank swasta yang penampilannya doang rapi dan selalu berdasi, tapi kayaknya otaknya sering ditinggal-tinggal di taksi. Busyet deh, padahal dia sudah tiga kali bolak-balik survey ke tempat usaha saya.
"Saya nggak punya percetakan. Usaha saya penerbitan dan distribusi majalah," sahut saya sabar. Hari itu cuaca cerah. Sebelum berangkat ke kantor saya juga nggak dapat firasat apa-apa.
"Tapi majalahnya dicetak kan, Bu?" tanya si marketing dengan tampang sok tahu.
"Ya iyalah, tapi proses cetaknya saya order ke percetakan."
"Berarti Ibu punya percetakan dong?”
“Nggak, percetakannya punya orang lain. Saya cuma order cetak di situ.”
“Kalau begitu berarti bukan Ibu yang bikin majalah?”
“Loh, yang bikin majalah saya dan karyawan saya di kantor. Mereka cari berita dan mendesain lay out-nya, setelah itu baru dibawa ke percetakan untuk dicetak jadi majalah. Selesai cetak, majalah yang sudah jadi dikirim balik ke kantor saya untuk didistribusikan ke agen-agen.”
“Tapi kan bukan Ibu yang mencetak..” Si Mas masih ngotot..
“Ya memang bukan saya. Dari awal kan saya juga nggak pernah ngaku-ngaku kalau usaha saya percetakan.” Saya mulai emosi.
“Kalau begitu, berarti usaha ibu bukan bikin majalah. Kan bukan Ibu yang mencetak majalahnya...” Tanpa merasa bersalah, si Mas marketing mengucapkan kalimat yang bikin saya heran, kok bisa-bisanya ya bank swasta sebesar itu mempekerjakan marketing seculun ini?
“Mas, nggak semua penerbit buku juga punya percetakan sendiri. Mereka cari naskah yang layak dijadikan buku, setelah selesai diedit dan di-lay out naskahnya juga dicetak di percetakan punya orang lain. Tapi kalau pemilik penerbitannya ditanya usahanya apa, ya penerbitan buku, bikin buku. Makanya ada istilah ‘isi di luar tanggung jawab percetakan’ segala. Karena percetakan juga belum tentu menerbitkan sendiri buku yang mereka cetak,” jawab saya panjang lebar.
“Ooo.. saya tahu…” ujarnya dengan nada riang. Saya menarik nafas panjang sambil ngipas-ngipasin kepala yang mulai berasap. Tapi kalimat selanjutnya si lemot bin dogol ini bener-bener bikin saya sulit mengendalikan emosi. “Berarti Ibu usahanya bukan bikin majalah, tapi pencetus ide doang. Kan Ibu cuma mencetuskan ide apa aja isi majalahnya. Tapi yang bikin majalah percetakan. Begitu kan, Bu?”
Saya langsung naik darah beneran. Terserah elo dah, gerundel saya dalam hati. Mau dibilang usaha saya jualan kacang bawang, semir sepatu, apa tambal panci juga suka-suka elo!
Percakapan siang itu seketika memantapkan niat saya untuk cari pinjaman ke bank lain. Bank kan mitra pengusaha untuk maju bersama. Gimana usaha saya mau maju kalau bermitra sama bank yang marketing kreditnya bahkan nggak paham bidang usaha calon nasabahnya!