Kamis, 03 Maret 2011

SAYA MENYEBUTNYA UKM

(tulisan ini sebetulnya sudah saya buat lama banget, tapi nggak sempat2 diposting sampai akhirnya mau diterbitin di calon buku saya.. :p)


Saya menyebutnya UKM; Usaha Kecil Menyenangkan. Menyenangkan karena pada awalnya, saya menerbitkan GitarPlus hanya untuk kesenangan pribadi yang terkesan idealis. Saya melihat belum pernah ada majalah musik di Indonesia yang memiliki misi mengedukasi pembacanya. Saya bercita-cita ingin membuat majalah musik yang berbeda. Yang nggak cuma berisi berita musik atau profil musisi, namun juga menyuguhkan tips dan cara-cara bermain alat musik, termasuk memilih alat musik yang tepat.

Saya ingin di majalah ini pembaca bisa berinteraksi dan berbagi pengalaman bermusik dengan gitaris-gitaris senior. Juga belajar memainkan gitar dengan panduan teks lagu yang dilengkapi tablatur. Dengan penuh kesadaran saya membidik pasar yang sempit dengan mengangkat gitar sebagai alat musik yang mendapat porsi utama untuk dibahas di majalah ini, meskipun nggak menutup kemungkinan untuk mengulas alat musik lain -tentunya dengan porsi yang lebih kecil. Itulah sebabnya saya memberi nama majalah ini GitarPlus dengan jargon ‘Majalah Gitar Pertama di Indonesia’. (Karena memang belum ada majalah di Indonesia yang mengkhususkan diri mengulas tentang dunia gitar dan gitaris saja)

Sejak awal saya sadar, bermain di pasar yang sempit bukan perkara gampang. Apalagi sambil membawa-bawa idealisme. Saya merasakan betul betapa sulitnya menjalankan GitarPlus di tahun-tahun awal. Apalagi saya bukan pemilik modal besar, sementara biaya produksi tinggi, oplah susah naik (karena segmentasinya sempit), dan pemasang iklan nggak ada (karena saya bukan siapa-siapa dan nggak berada di bawah naungan grup besar). Sampai tahun ketiga keuangan GitarPlus kembang kempis nggak karuan.

Tapi saya senang-senang saja menjalaninya. Dari awal niat saya membuat GitarPlus memang bukan semata untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi lebih mencari lahan baru untuk bermain-main dengan uang; lebih untuk mengejar kepuasan pribadi. Saya ingin membuktikan kalau orang yang nggak punya modal besar pun bisa bikin majalah yang berkualitas. Hanya dengan kemampuan mengelola uang dan membaca peluang, saya ingin menunjukkan kalau orang yang bahkan nggak bisa main musik pun bisa menerbitkan majalah musik. Tapi karena setiap bulan merugi terus, pernah juga sih saya hampir menutup GitarPlus. Bukan karena saya menyerah, tapi nggak kuat modalnya! :-D

Lalu suatu hari saya bertemu Pak JH, bekas bos sekaligus guru yang banyak mengajari saya jadi pengusaha. Waktu saya curhat tentang GitarPlus, beliau malah balik bertanya, “Bisnismu bisnis yang salah bukan?”

“Maksudnya?” tanya saya nggak ngerti.

“Misalnya begini; kamu dagang es krim di Kutub Utara atau jualan jaket di daerah yang cuacanya panas. Kalau begitu kondisinya, biarpun kamu ngotot setengah mati mempertahankan usahamu, nggak bakal berhasil karena itu bisnis yang salah. Nah, kalau kamu jualan jaket di daerah dingin tapi usahamu nggak jalan, berarti ada yang salah dengan caramu mengelola usaha. Itu yang harus kamu evaluasi terus menerus sampai menemukan celahnya, sampai kamu menemukan cara terbaik untuk menangani usahamu.”

Nasehat Pak JH ternyata sangat menginspirasi saya. Saya bertekad nggak mau menyerah dan harus bisa menemukan celah untuk membawa GitarPlus ‘ke jalan yang benar’. Saya mulai mengevaluasi sistem distribusi, memperbaiki isi dan tampilan majalah, membuat inovasi-inovasi baru sambil nggak lupa terus berdoa. Kuncinya ternyata memang saya harus kreatif!

Dan inilah hal-hal ‘kreatif’ yang pernah saya lakukan dalam upaya membenahi GitarPlus agar bisa diterma pasar :

1. Mengganti nama dan logo majalah. Di awal penerbitannya, Majalah GitarPlus muncul dengan nama G+ dan logo itulah yang ditampilkan di cover majalah. Sebagai orang yang punya ide membuat majalah ini saya tahu banget kalau G+ itu maksudnya GitarPlus, tapi tidak dengan para pembaca. Kalau cuma ngeliat cover G+ terpajang di toko buku atau pengecer majalah, orang nggak langsung sadar kalau G+ adalah majalah musik yang isinya khurus membahas tentang dunia gitar dan gitaris. Baru terbit beberapa edisi untunglah saya keburu sadar (emang tadinya pingsan? :p) dan buru-buru mengganti logo di cover majalah menjadi GITARPLUS seperti yang terlihat sampai saat ini. Penggantian nama dan logo itu ternyata efeknya besar untuk kemajuan GitarPlus karena orang jadi lebih ngeh dan tahu ini majalah apa hanya dengan melihat cover-nya.

2. Menghilangkan chord lagu dari isi majalah. Kira-kira sepuluh edisi pertama, GitarPlus hampir nggak ada bedanya dengan majalah-majalah musik berisi chord lagu yang banyak beredar saat itu. Sebetulnya saya sudah bisa membayangkan seperti apa idealnya bentuk Majalah GitarPlus yang ingin saya buat. Tapi untuk mewujudkannya menjadi seperti yang saya mau memang butuh waktu dan dana. Saya juga harus menyamakan ide dan persepsi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan majalah ini.

3. Mengubah tampilan majalah. Di awal-awal terbit, halaman isi GitarPlus masih banyak memakai kertas koran dan dicetak hitam putih pula. Pelan-pelan saya meningkatkan kualitas kertas menjadi HVS dan dicetak berwarna sehingga tampilan majalah menjadi lebih menarik. Resikonya, biaya produksi jadi meningkat. Terpaksa saya menaikkan harga.

4. Pertama terbit, GitarPlus saya jual dengan harga Rp 9.000 karena kebanyakan majalah musik yang terbit saat itu harga jualnya berkisar di angka Rp 8.000 – Rp 9.000. Ternyata setelah saya menaikkan harga GitarPlus malah menemukan positioning yang tepat. Nggak disangka-sangka setelah saya mematok harga Rp 20.000 (tentu saja sambil meningkatkan kualitas majalah) penjualan GitarPlus malah meningkat.

5. Memakai musisi cewek sebagai model cover. Majalah gitar kan identik dengan majalah cowok. Biar tampil beda dan menarik perhatian pembaca, saya sempat menampilkan musisi-musisi cewek yang berpose memegang gitar sebagai cover Majalah GitarPlus. Musisi yang pernah jadi model cover GitarPlus di antaranya Syahrini, Prisa Adinda, Ussy Sulistiowati, Sherina, Melanie Subono, Pia ‘Utopia’, Kikan ‘Coklat’, Tere, dan lain-lain. Tapi ternyata malah dikira majalah cewek atau malah majalah fashion :-p. Saya ganti taktik lagi deh pakai cover gitaris cowok dan ternyata GitarPlus malah jadi lebih disukai.

6. Bikin promo berbudget rendah. Misalnya rajin jadi media partner di setiap acara-acara musik lalu sampling majalah di lokasi acara. Atau bikin event gitaris dengan menggandeng distributor alat-alat musik sebagai sponsor. Salah satu event Majalah GitarPlus yang rutin digelar di beberapa kota besar di Indonesia adalah ‘Pesta Gitaris Guitar For Fun’. Event ini bertujuan menjadi ajang berkumpulnya gitaris-gitaris senior dan junior untuk bertukar wawasan dan pengalaman seputar gitar yang dikemas dalam suasana yang akrab dan santai. Dan mempromosikan Majalah GitarPlus, tentu saja! ^_^

Sebetulnya masih banyak hal yang saya lakukan untuk membuat GitarPlus menjadi seperti sekarang ini. Tapi saya memilih untuk nggak menceritakan semuanya karena selain sudah ada yang lupa, saya juga nggak mau bikin orang yang tadinya pengen menerbitkan majalah jadi putus asa duluan setelah tau betapa berat perjuangannya hehe…

Yang pasti, setelah melakukan berbagai perubahan dan perbaikan, lambat laun Gitar Plus bisa diterima pasar. Eksistensinya pun mulai diakui oleh berbagai kalangan. GitarPlus akhirnya juga berhasil mendapatkan kontrak iklan dari beberapa distributor dan toko alat musik di Indonesia. Bahkan beberapa gitaris ternama memberikan dukungan dengan menjadi pengasuh rubrik –tetap ataupun tentatif- di GitarPlus, di antaranya Abdee ‘Slank’, Jubing Kristianto, Eet Syahranie, Coki ‘Netral’, John Paul Ivan, Ezra Simanjuntak, I Wayan Balawan, Dewa Bujana, Andy Owen, dan banyak lagi. Saat ini GitarPlus bahkan sudah mendapat pengakuan dari gitaris-gitaris dunia berkat kepiawaian S.A Pralim Mudya, Editor in Chief majalah ini yang punya andil besar dalam menutupi kekurangan saya. Terbukti, mereka mulai mengajukan diri untuk diwawancara secara langsung untuk dimuat di Majalah GitarPlus.

Perjuangan membesarkan GitarPlus membuat saya harus terus menerus mengasah otak dan kreatifitas. Melelahkan sekaligus menegangkan. Tapi sekarang saya mulai bisa memetik hasilnya, meskipun saya sadar bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi. Nggak apa-apa, buat saya itu menyenangkan kok. Namanya juga UKM.. ^_^

Rabu, 02 Maret 2011

MENCIPTAKAN PELUANG

Selesai liburan di Bali, Hugo dan suami saya pulang ke Jakarta sementara saya lanjut ke Yogyakarta. Ngapain? Jalan-jalan.. eh, kerja lagi dooong! Dalam waktu bersamaan dengan persiapan GUITAR FOR FUN, saya juga merencanakan acara lain yang juga merupakan program rutin Majalah GitarPlu, yaitu ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’, di Yogyakarta. Semua acara yang saya bikin memang berbau gitar-gitaran. Iyalah, kan majalah saya majalah gitar. ^^

Awalnya saya bikin ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’ untuk mempromosikan semua usaha saya; toko alat musik, studio musik, kursus musik, dan majalah musik. Itulah enaknya punya berbagai usaha di bidang yang sama, sekali bikin acara semua dapat promonya. Sekali capek, semua kena dampaknya hehe..

Konsep acara ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’ sendiri saya rancang sebagai program pengenalan profesi musisi untuk siswa-siswi SMP dan SMA. Selama ini mungkin mereka mengenal beragam profesi seperti guru, dokter, pengacara, bankir, pilot, polisi dan sebagainya. Nah, dengan membuat acara ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’ ini saya membuka wawasan mereka bahwa selain profesi yang mereka kenal, ternyata ada lho profesi yang menjanjikan di bidang musik.



Saya bikin konsep acara seperti itu karena menyadari belakangan ini minat remaja untuk bermain musik sangat besar. Sekarang sudah bukan hal yang aneh lagi melihat anak SD, bahkan TK, sudah mulai belajar main musik. Kesadaran orang tua untuk memberi kebebasan pada anak untuk main musik juga sudah jauh lebih besar dibandingkan dulu. Bukti nyatanya nih, kalau orang tua dulu mungkin ngomel-ngomel melihat anaknya genjrang-genjreng main gitar, sekarang malah didaftarin les dan dibelikan gitar bagus. Orang tua dulu melarang anak main musik karena takut mengganggu belajar, orang tua sekarang justru mendorong anak main musik sejak dini untuk mendukung proses belajar. Pergeseran nilai inilah yang saya tangkap sebagai peluang. Saya jadi lebih leluasa masuk ke sekolah-sekolah mengusung program ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’ ke sekolah-sekolah.


Di ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’, program pengenalan profesi saya kemas dalam acara musik yang ringan dan menghibur. Biasanya saya membawa musisi yang sukses berkarir di bidang musik untuk menjadi bintang tamu, contohnya Iman J-Rocks, Bengbeng PAS Band, Gugun Blues Shelter, Arya Setiadi, Irul Five Minutes dan lain-lain. Selain menunjukkan kebolehan bermain gitar, si gitaris akan bercerita tentang seluk beluk dunia gitaris. Ada sessi tanya jawab dan games berhadiah juga untuk memeriahkan suasana. Dengan mengadakan acara ini, saya ingin memotivasi siswa-siswi yang punya minat di bidang musik bahwa hobi main musik pun kelak bisa dijadikan profesi yang bisa menghidupi, asalkan ditekuni dengan serius dan fokus. Tapi sekolah tetap penting. Jangan sampai gara-gara keasyikan main musik terus jadi malas belajar dan mengabaikan sekolah. Jadi, selain untuk senang-senang, acara ini juga ada unsur edukasi dan motivasinya..

Kalau waktu yang disediakan pihak sekolah cukup lama, saya akan menambah pengisi acara lain di luar si gitaris tadi untuk membuka kesadaran mereka bahwa berprofesi di bidang musik nggak melulu harus jadi musisi. Bisa jadi wartawan musik, pembuat alat musik, penyelenggara acara musik, dan banyak lagi. Salah satu contohnya saya nih, nggak bisa main musik tapi bikin majalah musik dan buka toko alat musik. :-D
Setelah selesai, liputan acaranya akan dimuat di Majalah GitarPlus sehingga informasi tentang adanya acara ini diketahui oleh semua pembaca Majalah GitarPlus di seluruh pelosok tanah air, yang pastinya juga menjadi nilai tambah untuk pihak sekolah dan sponsor yang mendukung acara ini.

Dengan konsep seperti itu, ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’ jadi lebih mudah diterima oleh pihak sekolah dibandingkan kalau saya ucluk-ucluk datang ke sekolah minta waktu untuk promosi toko dan majalah. Pihak sekolah untung karena dapet acara bermutu yang gratis dan diliput di majalah berskala nasional. Makanya dengan senang hati mereka akan menyediakan tempat -di aula atau lapangan di dalam sekolah-, mengosongkan waktu sekitar 2 sampai 3 jam, dan mewajibkan semua siswa untuk mengikuti program ini. Distributor alat musik yang saya gandeng untuk mendukung acara juga senang karena bisa promo produk tanpa harus repot-repot menyiapkan tempat dan mengundang penonton. Kan semuanya sudah beres saya urus. Saya juga senang bisa berpromo dengan budget rendah karena nggak harus menanggung semua biaya yang dibutuhkan. Promosi terselubung yang menyenangkan dan menguntungkan semua pihak deh judulnya. ^^d

Di Jakarta, hampir setiap bulan saya mengadakan ‘GUITAR GOES TO SCHOOL’ di sekolah yang berbeda-beda dan untuk pertama kalinya, 22 Februari 2011 lalu saya mengadakan acara serupa di Yogya, dengan menggandeng toko alat musik setempat (Diana Musik), komunitas musisi Yogya (Delicore Corp) dan dimeriahkan oleh kedatangan Iman J-Rocks yang merupakan gitaris endorsee Fernandes Guitar.

Melihat gencarnya saya mengadakan acara ini, seorang teman sempat bertanya, “Kamu untungnya gede ya kalau bikin acara di sekolah gitu?”

Wah, boro-boro untung! Yang ada justru saya harus keluar uang untuk biaya acara. Tapi di sini saya memang bukan lagi cari untung. Saya sedang menciptakan peluang. Saat acara berlangsung, tanpa malu-malu saya akan menyebar brosur dan mencatat nama plus nomer telepon siswa-siswi yang menonton acara ini (khusus untuk Guitar Goes to School yang saya adakan di Jakarta. Di kota lain, saya memberi kesempatan promosi ini pada toko yang terlibat dalam acara ini). Dengan begitu pihak sekolah dan siswa-siswinya kan jadi kenal sama saya (yang lebih penting sih kenal toko dan majalah saya :-p), jadi kalau suatu saat mereka butuh alat musik pasti inget saya. Mau rental studio musik? Inget saya! Mau bikin acara dan butuh media partner? Inget saya! Pengen kursus gitar? Inget saya juga! Halah, udah kayak lagu aja mau ngapa-ngapain inget saya..^^

Foto : Shandy Delicore