Beberapa waktu lalu saya menemani anak dan 3 keponakan saya liburan ke salah satu tempat wisata air di daerah serpong. Kami datang agak kesiangan dan karena kebetulan hari itu hari libur, tempat wisata tersebut penuh sesak dengan pengunjung yang ingin berenang. Setelah beberapa saat berkeliling mencari tempat duduk dan nggak juga menemukan tempat yang kosong, akhirnya saya nekat duduk di sebuah kursi yang sebetulnya saya tahu ada pemiliknya, tapi sedang ditinggal berenang. Kok bisa tahu ada pemiliknya? Iya dong, kan di meja dekat kursi itu ada handuk dan makanan yang pastinya ditinggalkan si pemilik waktu dia mau berenang. Tapi daripada anak dan keponakan-keponakan saya jadi nggak berenang-berenang gara-gara nggak ada tempat untuk meletakkab handuk dan tas bawaan kami, saya cuek aja duduk di salah satu kursi di sekitar meja itu.
"Boleh main ke kolam yang mana aja, tapi kalau ada yang terpisah dari yang lain nanti nyari Tante di sini ya.." Pesan saya ke anak dan keponakan yang sudah nggak sabar ingin main air. Tempat wisata yang kami kunjungi memang sangat luas dan ada beberapa kolam renang di dalamnya. Saya sengaja nggak ikut berenang dan menunggu di satu tempat biar kalau salah satu dari anak-anak itu terpisah, mereka tahu dimana harus mencari saya.
Baru sekitar sepuluh menit saya duduk sambil baca buku, tiba-tiba muncul seorang ibu dengan anaknya mendatangi kursi yang sedang saya duduki. Dia menatap saya jutek sambil bilang, "Maaf ya, ini tempat duduk saya." Ngusir ceritanya hehe..
"Wah, maaf ya, Mbak saya ikut duduk di sini soalnya dimana-mana penuh,"jawab saya.
"Nggak bisa, kursinya udah pas buat saya sekeluarga." Si lbu tetep ngotot ngusir saya. Untung dia nggak bilang, 'O tidak bisa!' Kayak Sule, jadi saya tahu dia marah beneran..
Saya jelasin aja, saya ke sini bawa beberapa anak kecil yang sekarang lagi asyik berenang entah di kolam yang sebelah mana. Anak-anak itu taunya saya nunggu di sini, jadi kalau saya pindah tempat mereka bakal kesulitan mencari saya di tempat seluas ini. Akhirnya si ibu diam, membiarkan saya menduduki salah satu kursinya. Dia duduk persis di depan saya dengan wajah cemberut, masih nggak rela kursinya saya embat. ^^
Duduk berhadap-hadapan, nggak enak juga dong kalau cuma diem-dieman dan dicemberutin pula? Mulai deh saya ajak si ibu ngobrol ngalor ngidul sok akrab, meskipun si ibu sebetulnya masih jutek dan ogah-ogahan saya ajak ngobrol. Nggak lama tiba-tiba nongol suami plus anaknya yang satu lagi yang langsung ikut saya ajak ngobrol juga. Dari ngobrol-ngobrol itu saya jadi tau kalau ternyata si bapak punya usaha ekspedisi dan biasa mengirim barang serta dokumen ke seluruh Indonesia, sementara si bapak juga jadi tahu kalau saya punya usaha majalah dan toko alat musik yang rutin melakukan pengiriman barang atau dokumen, juga ke seluruh Indonesia.
"Kalau kirim barang pakai jasa ekspedisi saya aja," kata si bapak menawarkan jasa ke saya.
"Boleh aja kalau Bapak bisa kasih penawaran lebih baik daripada ekspedisi yang selama ini saya pakai," jawab saya.
Si bapak langsung semangat nanya-nanya biasanya saya pakai ekspedisi apa, berapa harga yang saya dapat dan bagaimana sistem pembayarannya. Saya jawab dengan jujur apa adanya. Nggak disangka-sangka si bapak menawarkan untuk mengirim barang saya dengan harga 30% lebih murah daripada di ekspedisi langganan saya dan pembayaran boleh mundur satu bulan.
"Ah, jangan-jangan nanti nggak nyampe barang saya," jawab saya setengah bercanda.
"Saya jamin barang Ibu sampai lebih cepat dari ekspedisi yang sekarang," balas si bapak.
"Ok, kalau gitu tolong kirim dulu surat penawarannya ke kantor saya. Nanti saya pelajari dulu."
Sampai di rumah saya langsung googling di laptop nyari nama ekspedisi milik si bapak yang saya temui di kolam renang tadi. Ternyata cukup besar dan sudah cukup lama beroperasi juga. Reputasinya juga bagus. Jadi, waktu besok paginya si bapak datang membaewa surat penawaran kerja sama, saya langsung setuju aja. Orang jelas-jelas lebih menguntungkan dan memudahkan usaha saya kok!
Tuh, di kolam renang pun kita bisa menemukan peluang kan? :D
Minggu, 06 Februari 2011
Minggu, 30 Januari 2011
PELUANG SEBETULNYA ADA DIMANA-MANA (1)
Beberapa minggu belakangan ini dagangan saya nambah lagi. Di depan studio merangkap toko alat musik saya 'nangkring' dengan manisnya mesin pembuat kopi otomatis. Dengan memasukkan uang logam Rp 500 sebanyak 5 buah, pelanggan toko dan studio bisa memilih minuman hangat yang disukainya; mau kopi 3 in 1 atau cokelat panas. Ternyata peminatnya lumayan. Tiap hari ada aja yang beli kopi atau cokelat panas, entah karena memang doyan atau cuma pengen nyobain 'mainan baru' itu. Yang pasti, rata-rata per hari saya bisa jual 30-50 cup minuman hangat ini.
"Kok bisa-bisanya sih di GH Music ada mesin kayak gini?" Tanya salah seorang pelanggan toko saya.
"Ya bisa doong.." Jawab saya sambil cengar-cengir. Geli juga kalo mengingat-ingat awal mula mesin kopi itu bisa nangkring di depan toko -dan memberikan penghasilan tambahan untuk toko saya.
Ceritanya, awal bulan lalu saya dan suami nungguin ibu mertua yang sedang menjalani operasi di salah satu Rumah Sakit di Jakarta. Di ruang tunggu itu saya lihat orang bolak-balik mendatangi mesin kopi otomatis yang terletak di sudut ruangan. Lumayan laris karena saya lihat ada petugas yang beberapa kali datang mengisi kopi dan air minum galon di dalam mesin tersebut. Saya langsung melihatnya sebagai peluang untuk mendatangkan uang, apalagi setelah saya dekati ada nomer telepon costumer care-nya nempel di mesin itu. Saya catat dong..^^
Besok paginya, saya sudah dapat surat penawaran kerja sama dari perusahaan pembuat mesin kopi sekaligus kopinya yang saya lihat dI RS kemarin. Sambil menemani ibu mertua yang masih dirawat di RS, saya merespon penawaran yang diajukan sales mesin kopi itu. Awalnya saya diminta membeli mesin kopi tersebut seharga Rp 6,5 juta, nanti mereka yang akan secara rutin menservis mesin dan mensuplay kopi (bayar lagi untuk beli kopinya, tapi service mesin gratis). Ogah! Orang bantu jualin minuman dingin aja saya dikasih pinjam kulkas gratis 2 pintu, masa jual kopi yang masih terhitung produk baru malah disuruh bayarin mesinnya? Setelah saya nego, akhirnya mbak sales mau meminjamkan mesin itu secara gratis ke saya, dengan syarat di awal saya harus melakukan pembelian kopi dan cup kertas (harus dari mereka) senilai jumlah tertentu dan mereka juga menetapkan minimal pembelian bahan baku setiap bulannya. Wah, pusing juga kalau ditarget harus jual kopi sebanyak itu.. Usaha saya kan toko alat musik, majalah musik dan studio musik. Bukan tukang jualan kopi! :-D
Saya lalu minta bicara dengan atasannya si mbak sales dan ternyata bisa. Langsung deh jiwa marketing saya nongol, si bos saya tawarin kerja sama barter. Saya minta mesin kopi, bubuk kopi, dan cup kertas gratis, sebagai gantinya si tukang kopi ini saya kasih iklan gratis jugaa di Majalah GitarPlus senilai harga yang seharusnya saya bayar di awal kerja sama. Saya untung-untungan aja nawarinnya; dia mau syukur..kalau nggak mau ya udah. Toh saya nggak rugi apa-apa. :p
Ternyata si tukang kopi setuju dengan usul saya. Ya pakai dibujuk-bujuk sedikit gitu deh. Tapi kan memang sebetulnya dia nnggak rugi karena bisa berpromo di majalah saya yang beredar di seluruh Indonesia. Lagian pas juga kan, iklan kopi di majalah musik? Rata-rata musisi doyan ngopi meskipun nggak semuanya juga. Kalau iklan beha tuh, baru nggak nyambung nongol di majalah saya yang mayoritas pembacanya laki-laki dan musisi.. ^^
Jadi begitulah. Dalam waktu relatif singkat, mesin kopi itu udah nangkring di depan toko saya dan menjadi sumber penghasilan baru untuk saya. Berapa sih untung yang saya dapat dari penjualan kopi per cup-nya? Nggak banyak sih.. Tapi dikumpul-kumpulin lumayan juga, bisa buat bayar gaji pegawai toko. Lagian kan semua bahan baku di awal penjualan kopi ini saya dapat gratis (barter iklan). Beberapa bulan ke depan baru saya harus beli kopi bubuk untuk mengisi ulang. Ah, biarin aja.. masih lama ini.. Siapa tahu si bos tukang kopi mau diajak barter iklan lagi, kan jadi bisa dapet kopi gratis lagi hehe..
"Kok bisa-bisanya sih di GH Music ada mesin kayak gini?" Tanya salah seorang pelanggan toko saya.
"Ya bisa doong.." Jawab saya sambil cengar-cengir. Geli juga kalo mengingat-ingat awal mula mesin kopi itu bisa nangkring di depan toko -dan memberikan penghasilan tambahan untuk toko saya.
Ceritanya, awal bulan lalu saya dan suami nungguin ibu mertua yang sedang menjalani operasi di salah satu Rumah Sakit di Jakarta. Di ruang tunggu itu saya lihat orang bolak-balik mendatangi mesin kopi otomatis yang terletak di sudut ruangan. Lumayan laris karena saya lihat ada petugas yang beberapa kali datang mengisi kopi dan air minum galon di dalam mesin tersebut. Saya langsung melihatnya sebagai peluang untuk mendatangkan uang, apalagi setelah saya dekati ada nomer telepon costumer care-nya nempel di mesin itu. Saya catat dong..^^
Besok paginya, saya sudah dapat surat penawaran kerja sama dari perusahaan pembuat mesin kopi sekaligus kopinya yang saya lihat dI RS kemarin. Sambil menemani ibu mertua yang masih dirawat di RS, saya merespon penawaran yang diajukan sales mesin kopi itu. Awalnya saya diminta membeli mesin kopi tersebut seharga Rp 6,5 juta, nanti mereka yang akan secara rutin menservis mesin dan mensuplay kopi (bayar lagi untuk beli kopinya, tapi service mesin gratis). Ogah! Orang bantu jualin minuman dingin aja saya dikasih pinjam kulkas gratis 2 pintu, masa jual kopi yang masih terhitung produk baru malah disuruh bayarin mesinnya? Setelah saya nego, akhirnya mbak sales mau meminjamkan mesin itu secara gratis ke saya, dengan syarat di awal saya harus melakukan pembelian kopi dan cup kertas (harus dari mereka) senilai jumlah tertentu dan mereka juga menetapkan minimal pembelian bahan baku setiap bulannya. Wah, pusing juga kalau ditarget harus jual kopi sebanyak itu.. Usaha saya kan toko alat musik, majalah musik dan studio musik. Bukan tukang jualan kopi! :-D
Saya lalu minta bicara dengan atasannya si mbak sales dan ternyata bisa. Langsung deh jiwa marketing saya nongol, si bos saya tawarin kerja sama barter. Saya minta mesin kopi, bubuk kopi, dan cup kertas gratis, sebagai gantinya si tukang kopi ini saya kasih iklan gratis jugaa di Majalah GitarPlus senilai harga yang seharusnya saya bayar di awal kerja sama. Saya untung-untungan aja nawarinnya; dia mau syukur..kalau nggak mau ya udah. Toh saya nggak rugi apa-apa. :p
Ternyata si tukang kopi setuju dengan usul saya. Ya pakai dibujuk-bujuk sedikit gitu deh. Tapi kan memang sebetulnya dia nnggak rugi karena bisa berpromo di majalah saya yang beredar di seluruh Indonesia. Lagian pas juga kan, iklan kopi di majalah musik? Rata-rata musisi doyan ngopi meskipun nggak semuanya juga. Kalau iklan beha tuh, baru nggak nyambung nongol di majalah saya yang mayoritas pembacanya laki-laki dan musisi.. ^^
Jadi begitulah. Dalam waktu relatif singkat, mesin kopi itu udah nangkring di depan toko saya dan menjadi sumber penghasilan baru untuk saya. Berapa sih untung yang saya dapat dari penjualan kopi per cup-nya? Nggak banyak sih.. Tapi dikumpul-kumpulin lumayan juga, bisa buat bayar gaji pegawai toko. Lagian kan semua bahan baku di awal penjualan kopi ini saya dapat gratis (barter iklan). Beberapa bulan ke depan baru saya harus beli kopi bubuk untuk mengisi ulang. Ah, biarin aja.. masih lama ini.. Siapa tahu si bos tukang kopi mau diajak barter iklan lagi, kan jadi bisa dapet kopi gratis lagi hehe..
Langganan:
Komentar (Atom)